Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Oleh oleh


__ADS_3

Indra pun bergegas turun ke bawah untuk mencari toko atribut yang di maksud oleh Komandan. Namun ternyata toko atribut yang di maksud tutup, akhirnya Indra terpaksa ke kota untuk mencari toko atribut.


Berbekal petunjuk jalan dari mbah G*ogle Indra bisa menemukan sebuah toko atribut, sekaligus penjahit express yang bisa selesai saat itu juga.


Saat sedang menunggu jahitan, Indra melihat ada sebuah toko aksesoris di seberang jalan. Dia pun berlari ke toko tersebut.


Banyak boneka yang terpampang disana.


Dia suka boneka apa ya?? Pikir Indra.


Dia pun ingat, saat di mobil dia pernah melihat bantal kepala berbentuk lumba lumba disana. Bahkan gantungan kunci mobil pun ada gambar lumba lumbanya.


Pilihan dia pun akhirnya jatuh ke boneka lumba lumba berwarna biru, warna kesukaan sang kekasih.


Saat kembali ke tempat latihan.


"Ijin, Komandan. Ini baju PDLnya sudah sekalian di pasang atribut." ucap Indra.


"Terima kasih ya, Ndra."


"Siap."


"Kamu nggak siap siap, Ndra??" tanya sang Komandan saat melihat Indra sedang bersantai.


"Siap, mau kemana ya Komandan??" tanya Indra bingung.


"Loh, kamu nggak tau??"


"Siap, tidak Komandan."


"Kita nanti sudah harus balik ke Jawa loh. Makanya sore ini ada apel penutupan." jelas Komandan.


"Balik Komandan??" Indra heran.


"Iya, balik."


"Bukannya katanya sekitar tiga atau empat bulanan??"


"Nggak. Ada sesuatu yang mendesak, makanya latihan gabungannya juga di percepat. Jadi nanti sore setelah apel penutupan kita langsung bertolak." jelas sang Komandan.


"Ohh, Siap Komandan." jawab Indra semangat seraya tersenyum.


Dengan langkah yang buru buru dia pun kembali ke tenda dan segera membereskan barang barangnya.


"Cee ilehh, yang mau balik. Udah buru buru aja kayak di kejar setan." sindir Wahyu.


"Emang kamu pernah di kejar setan??" tanya Indra sambil memasukkan pakaiannya ke dalam rangsel.


"Nggak."


"Ya udah deh kalo gitu aku doain nanti kamu di kejar sama setan." celetuk Indra.


"Hiiyyyy, amit amit deh." sahut Wahyu.


"Indra tuh bukannya lari di kejar setan, tapi lari karena nggak sabar mau ketemu ceweknya." jawab Aris.


"Eitss, bukan cewek Ris. Istri." sahut Wahyu.

__ADS_1


"Oh iya bener, istri. Ngaku ngaku punya istri, emangnya dia nganggap kamu suaminya apa??" sindir Aris.


"Emang kamu udah nikah sama dia?? Apa udah kawin??" tanya Wahyu penasaran.


Seketika Indra pun melempar sebuah botol air mineral kosong ke muka Wahyu.


"Jaga mulutmu. Dia itu cewek baik baik." bela Indra.


"Iya, dianya baik baik. Kamunya yang nggak baik baik." sahut Wahyu.


"Ngarang aja. Aku itu nggak kayak kamu, yang asal kenal sama cewek. Ehh, asal celup sana celup sini." sindir Indra.


"Hahahahahaha." Aris tertawa lepas. "Dasar alat kelamin berjalan."


"Ohh, gitu ya kalian berdua sekarang. Sama sama mau ngelawan aku." gurau Wahyu.


Seketika dia pun langsung menyerang Aris, namun serangan yang di lakukan hanya gurauan saja. Gurauan ala ala tentara.


Indra yang melihat mereka berdua berantem sampai guling guling di tanah, hanya bisa tersenyum.


Akhirnya kita bisa segera ketemu yaa. Setelah ini aku akan langsung meminangmu. Tunggu Mas pulang ya??


Meski tahu akan pulang, namun Indra enggan memberitahu Kinan. Dia ingin memberikan kejutan pada sang pujaan hati.


Sore harinya setelah apel penutupan, para rombongan pun bergegas untuk pulang. Saat menaikkan barang sang Komandan ke dalam bagasi, tak sengaja Komandan melihat boneka lumba lumba yang tadi dia beli.


"Itu punyamu, Ndra??"


"Siap, Komandan." jawab Indra malu.


"Kayak anak kecil aja di bawain boneka. Nggak sekalian di bawain balon??" sindir Aris.


Namun Indra hanya diam melototin Aris.


Indra bagai seorang pria yang baru merasakan yang namanya cinta. Semua perasaannya hanya tertuju pada Kinan. Kemana pun dia melangkah, kemana pun dia berjalan, yang ada di pikirannya selalu Kinan.


Sesampainya di pelabuhan. Ternyata kapal yang hendak mereka naiki tak bisa berlayar karena ombak terlalu tinggi. Alhasil malam itu mereka harus menginap di pelabuhan, esok paginya kapal baru bisa berlayar.


[Assalamuallaikum, Dek.] ucap Indra seraya bersandar di sebuah kursi.


[Waallaikumsalam Mas.]


[Adek lagi ngapain??]


[Lagi santai aja Mas. Nih lagi di kantin.]


[Oh iya, Adek sekarang dinas malam ya??]


[Iya, Mas]


[Adek sekarang lagi di kantin, mau makan ya?? Mas ganggu dong.]


[Nggak kok. Mas nggak ganggu. Aku cuma mau beli minuman aja.]


[Hemm.]


[Mas sendiri lagi ngapain??] tanya balik Kinan.

__ADS_1


[Lagi merindukan Adek.] goda Indra.


[Ihh, makin genit tau.] sahut Kinan.


[Ya nggak apa apa. Kan genitnya sama calon istri sendiri.]


[Emang pernah genit sama calon istrinya orang??] Kinan penasaran.


[Pernah.]


[Siapa??] Kinan penasaran.


[Adek.] jawab Indra.


[Ehm, mau mulai bahas bahas lagi nih?? Kalo memang mau, ya udah nanti aku mau balik aja ke Niko.]


[Ehh, jangan dong. Mas kan cuma bercanda, maaf yaa.] pinta Indra.


Namun Kinan diam, Indra paham jika Kinan sedang kesal.


[Calon Nyonya Indra, jangan ngambek ya??] goda Indra.


[Apaan sih??]


[Kamu itu akan jadi Ibu Persitnya Mas, dan akan di panggil Bu Indra. Di bayangin aja udah bikin Mas seneng.] ucap Indra.


[Tapi itu semua masih butuh proses yang panjang.] sahut Kinan.


[Nggak apa apa. Yang penting kan setelah ini kita nikah, baru deh ngurus pengajuan.] Indra berusaha menguatkan hatinya.


[Iya.] jawab Kinan seraya tersenyum.


Namun saat mereka mengobrol, tiba tiba saja.


"Kinan??" panggil seorang pria.


Sontak Indra yang mendengar suara pria itu pun penasaran.


[Siapa Dek??] tanya Indra.


[Bukan siapa siapa kok, Mas. Ya udah kalo gitu aku tutup dulu ya telponnya.] ucap Kinan tergesa gesa.


[Tung...tunggu dulu. Dek, halo.... Dek??]


Ternyata Kinan sudah menutup telpon itu. Indra pun berusaha menelponnya lagi, namun tiba tiba ponsel Kinan sudah tak bisa di hubungi.


Siapa ya cowok itu?? Kenapa Kinan buru buru menutup telpon?? Dari suara cowok itu manggil Kinan, sepertinya mereka akrab. Biasanya kan orang orang disana selalu memanggilnya dengan 'Dokter Kinan.' Tapi cowok itu langsung memanggil nama.


Indra tak tenang. Banyak pikiran yang bergelayut di dalam kepalanya. Di tambah lagi ponsel Kinan yang tiba tiba tidak bisa di hubungi. Membuat Indra makin curiga.


Namun securiga apapun, Indra berusaha berfikir positif. Dia tidak ingin bertengkar lagi dengan sang kekasih. Dia berusaha menghilangkan kecurigaan itu dengan kumpul bersama teman teman sesama ajudan.


Setidaknya, pikiran negatif yang tadi bisa sedikit menghilang saat bercanda dengan teman temannya.


Keesokan paginya, para rombongan pun mulai menaiki kapal dan berlayar menuju Pelabuhan Merak. Sayangnya, saat itu ponselnya Indra mati. Jadi dia tidak bisa menghubungi Kinan. Dan begitu juga sebaliknya, Kinan yang terlihat sudah sampai di rumah pun tak bisa menghubungi Indra.


Ternyata semalam ponselnya Kinan kehabisan baterai, itulah kenapa Indra tak bisa menghubungi Kinan.

__ADS_1


__ADS_2