
"Nah itu kamu bisa jalan bareng. Naik motor, berduaan lagi. Padahal saat itu kamu masih belum jadi sopir pribadinya kan??" tanya Aris penasaran.
"Ya belum. Cuma kita kan memang pernah kenal. Dulu aku pernah jadi sopirnya saat dia baru balik dari Singapura."
"Ohh, tamu VVIP yang dulu kamu pernah jemput di bandara itu??" sahut Erwan.
"Iya betul, yang itu." jawab Indra.
"Kami kenalnya disitu. Setelah itu udah nggak pernah komunikasi lagi. Dan tiba tiba beberapa minggu yang lalu Komandan menurunkan perintah kalo aku suruh ngelayani tamu VIP. Aku nggak ngira kalo ternyata yang harus aku layani adalah cewek itu."
"Mungkin aja perasaan itu cuma sementara karena kalian sering bertemu."
"Awalnya aku juga berfikir seperti itu. Namun semakin aku membohongi perasaanku, semakin aku menginginkan dia." jelas Indra.
"Bahkan kemarin saat dia bertemu dengan sahabat baiknya yang seorang Perwira, perasaan cemburu itu muncul."
"Perwira?? Loreng juga??" Aris makin penasaran.
"Iya."
"Dari kesatuan mana??"
"Dari Batalyon *****."
"Siapa namanya??"
"Niko." jawab Indra singkat. "Lettu Niko."
Sejenak kedua temannya itu terdiam, bibir mereka tertutup rapat. Seakan akan mereka mengenal Niko.
"Kita bukan levelnya dia Ndra." ucap Aris.
"Kalo nggak salah bapaknya dia Jenderal juga kan?" sahut Erwan.
"Kamu kenal dia??" Indra heran.
"Ya jelas kenal lah. Kalo nggak salah dia baru pulang dari tugas luar negeri kan?? Dia itu terkenal dengan segudang prestasinya. Bahkan di Akademi Militer dulu dia termasuk siswa yang cerdas." jelas Erwan.
"Tahu dari mana??"
"'Dari lettingnya."
"Kamu bukan lawannya dia Ndra." sahut Aris. "Mending kamu menyerah saja. Toh cewek itu juga sulit untuk di gapai."
"Aku juga nggak berniat untuk melawannya kok." ucap Indra kesal sembari masuk ke dalam mess.
Dia seakan marah dengan apa yang di katakan temannya itu. Dia tidak butuh untuk di support, minimal jangan menjatuhkan dirinya. Jangan membuat dirinya seakan tidak pantas untuk Kinan. Dari awal Indra memang sadar perasaan yang dia miliki itu tidak masul akal, tapi apa salah jika dia hanya memiliki rasa itu. Apa salah jika dia memendam rasa itu tanpa harus mengutarakannya? Dia hanya ingin tetap berada di samping Kinan, melindungi dan terus menjadi teman dekatnya.
__ADS_1
Keesokan paginya sekitar jam 5, terlihat Indra sudah berada di garasi dan membereskan semua barang yang akan Kinan bawa. Sebuah koper dan tas ransel, Indra masukkan ke dalam bagasi.
"Aku berangkat dulu ya Nek??" pamit Kinan.
"Iya Nak. Hati hati ya?? Jangan lama lama disana. Kalo udah waktunya pulang, ya pulang." pinta Nenek.
"Iya Nek." jawab Kinan mencium tangan Neneknya. "Assalamuallaikum."
"Waallaikumsalam." jawab Nenek saat melihat sang cucu hendak menaiki mobil.
"Barang bawaan Mas dimana??" tanya Kinan saat melihat Indra tidak membawa barang apapun.
"Sudah saya masukkan juga ke bagasi." jawab Indra seraya bersiap untuk berangkat.
"Indra, tolong jaga Kinan ya?" sebuah suara muncul dari balik kaca samping Indra.
"Siap Nek." jawab Indra tersenyum.
Mereka pun beranjak pergi dari garasi itu. Sepanjang perjalanan banyak yang mereka obrolkan. Kinan memang tidak bisa jika harus diam tanpa berbicara.
"Nanti kalo Mas capek, biar gantian aja sama aku." ucap Kinan.
"Nggak kok. Saya sudah biasa perjalanan jauh. Bahkan saya pernah ngelilingi jawa barat dalam sehari."
"Masa sih??" Kinan tak percaya.
"Iya. Dulu saat saya masih jadi ajudannya Jenderal di Jakarta." jawab Indra.
"Tapi beneran loh Mas, kalo capek biar aku aja yang gantiin." ucap Kinan serius.
"Nggak, nggak bakal capek kok. Lagian kita kan mau naik tol. Palingan 4-5 jam sampai." imbuh Indra.
"Jangan ngebut ngebut lah." pinta Kinan.
"Kalo nggak ngebut, ya nggak boleh lewat tol." Indra mulai membantah, namun dengan nada bergurau. "Naik bentor aja kan lambat."
"Iya. Nanti baru sampai setengah bulan kemudian." canda Kinan. "Keburu seminarnya udah bubar."
Indra tersenyum mendengar gurauannya dia di balas oleh Kinan.
"Tapi serius kok, saya nggak ngebut. Cuma agak sedikit kecepatan tinggi aja." imbuh Indra.
"Iya. Sedikitnya mas tuh minimal 100 km/jam." canda Kinan. "Sekalian aja tuh Mas ikutan F1 di Lombok sana."
"Jadi pembalap??"
"Bukan. Jadi pawang hujan." gurau Kinan.
__ADS_1
Mendengar itu, Indra tertawa lepas. Semua kecanggungan selama ini seakan sirna. Indra sudah bisa membaur pada diri Kinan. Kinan pun sama. Dia sudah bisa mengimbangi gurauan Indra.
"Sebenarnya semalam aku sempat kesal karena dapat kabar kalo pagi ini di suruh menghadiri seminar ke Semarang."
"Kesal kenapa?"
"Ya karena sebenarnya bukan aku yang berangkat, tapi Dokter Adam."
"Hmm, sepertinya dia dendam sama kamu." sindir Indra.
"Sindir karena aku nolak dia gitu??" celetuk Kinan. "Ihh, cowok cemen. Di tolak gitu aja udah dendam."
"Ya, saya kan cuma menduga saja. Karena kejadian terjadi setelah penolakanmu kemarin."
"Emang Mas pikir aku harus nerima dia gitu??" Kinan menanyakan saran.
"Ya..., kalo itu kan terserah kamunya." jawab Indra dengan nada yang masih stay cool, meski sebenarnya di dalam hati dia tidak rela.
"Hati itu kan nggak bisa di paksa. Kalo memang suka, ya di terima. Kalo nggak suka, ya nggak usah." Indra memperjelas.
"Nah itu lah yang aku lakukan." jawab Kinan tegas. "Tapi ya udahlah di jalani aja. Toh itung itung kita healing."
"Iya." Indra tersenyum.
"Mas tau nggak tempat wisata di Semarang ada apa aja??" tanya Kinan seraya mencari referensi dari mbah Google.
"Saya kurang paham soal itu. Yang saya tahu cuma wisata Yogyakarta saja."
"Yang candi candi itu kan??" tanya Kinan penasaran.
"Iya bener."
"Jauh nggak dari tempat kita menginap nanti??"
"Ya lumayan jauh sih. Tapi kalo memang mau kesana, waktu kita pulang aja mampir ke Yogya." saran Indra.
"Oke deh kalo gitu." Kinan menyetujui. "Terus terus, katanya disana ada tempat wisata untuk belanja ya?"
"Malioboro namanya. Bukan tempat wisata sih sebenarnya. Cuma memang di jalan itu berkumpul berbagai macam lapak jualan. Dari yang jual aksesoris khas Yogya, sampai baju dan kaos bertuliskan Yogya."
"Hemm..., kita nanti mampir disitu juga deh." Kinan memutuskan.
Indra hanya membalas dengan tersenyum.
"Oh iya acara seminarnya nanti jam berapa?? Biar saya bisa memperkirakan waktu tibanya." tanya Indra.
"Pembukaan seminarnya masih nanti sore kok Mas. Check in di hotelnya sekitar jam 1 siang. Masih lama kok, jadi santai aja." jelas Kinan dengan santai.
__ADS_1
"Ohh kirain pagi ini seminarnya."
"Nggak lah. Kalo di mulainya pagi ini, ya dari semalam kita berangkat." sahut Kinan.