Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Pertemuan


__ADS_3

Tak lama berselang. Mereka pun tiba di sebuah tempat makan di tengah Kota Semarang. Rumah makan yang cukup terkenal, banyak pengunjung yang datang kesana. Baik dari domestik maupun mancanegara.


Niko pun mengajak Kinan masuk ke rumah makan itu. Seorang pelayan sudah menyambut dan mengantarkan mereka ke sebuah ruangan privat. Melihat hal itu Kinan pun bertanya tanya.


"Kamu udah pesen tempat??" tanya Kinan.


Namun Niko hanya tersenyum tanpa menjawab. Mereka terus mengekor kemana pun pelayan itu membawanya.


Dan tibalah mereka di depan sebuah ruangan privat yang berada di lantai dua.


"Ini ruangannya pak." ucap si pelayan pada Niko.


"Baik, terima kasih."


Si pelayan pun pergi.


"Ayo masuk." ajak Niko sambil menjulurkan tangannya pada Kinan.


"Kesini??" tunjuk Kinan ke ruangan yang ada di hadapannya.


Niko pun mengangguk seraya tersenyum.


"Kita berdua di dalam sini??" tanya Kinan ragu.


"Nggak akan ada apa apa. Ayo masuk."


"Tapi......"


Namun kata kata Kinan terpotong. Niko langsung menarik paksa tangan Kinan untuk masuk ke dalam ruangan itu, hingga membuat tubuhnya hampir terjatuh. Dengan sigap Niko pun menangkap tubuh Kinan.


Dan tanpa di sangka, ternyata di dalam ruangan itu ada orang yang sedang melihat pemandangan mesra yang Niko lakukan.


Prokk..prokk...prokkk....


Suara tepuk tangan membuat Kinan terkejut. Dan kemudian melepaskan tubuhnya dari pelukan Niko.


"Om. Tante??" ucap Kinan terkejut. Kinan tidak menyangka jika ternyata ini adalah acara makan bersama keluarga Niko.


"Mesra sekali kalian. Iya kan Ma??" puji Pak Antok.


"Iya Pa. Mama sampe iri." imbuh Bu Antok.


"Hmm...Om..Tante..." ucap Kinan canggung. "Kenapa bisa ada disini??"


"Loh, Kinan nggak tau ya??" tanya Bu Antok heran.


Kinan pun menggelengkan kepala dan melihat ke arah Niko.


"Mama sama Papa kan tinggal disini. Papa kan dinas disini." jelas Niko.


"Ohhh." Kinan baru paham.

__ADS_1


"Jadi saat tahu kamu ke Semarang, ya sekalian aja aku kesini nemuin orang tuaku." imbuh Niko.


Kinan pun menatap Niko dengan tatapan tajam seakan berbicara Kenapa nggak ngomong sih kalo mau nemuin Om dan Tante??


"Silahkan duduk Kinan." Bu Antok mempersilahkan.


"Iya Tante." jawab Kinan sembari duduk di seberang Bu Antok. Dan Niko duduk di sampingnya.


"Mau pesan apa Nak??" tanya Bu Antok lembut pada Kinan.


"Apa aja Tante." balas Kinan seraya tersenyum.


"Ya udah kalo gitu pesenin piring sama sendok aja Ma. Nggak usah makanan." gurau Niko. Mendengar itu Kinan kembali menatap tajam Niko. Dia tak berani membalas kata kata Niko di depan orang tuanya.


"Ehh, nggak boleh gitu loh Nak." nasihat Bu Antok.


"Kamu suka steak?? Tante pesenin steak ya??"


"Iya Tante." jawab Kinan lembut.


Bu Antok pun memesan makanan untuk acara makan malam waktu itu.


"Bukannya waktu itu Tante ngadain acara nikahan anaknya di Malang ya? Aku kira Om Antok dinas di Malang."


"Nggak, Om dinas di Semarang. Acara kemarin memang sengaja di adakan di Malang. Kakaknya Niko kan kerja disana, jadi teman temannya lebih banyak di Malang. Dan lagian teman teman Om juga lebih banyak di Jawa Timur jadi ya udah sekalian aja bikin acara reunian bareng letting." jelas Pak Antok.


Kinan hanya merespon dengan mengangguk.


"Kinan sudah punya pacar??" pertanyaan dari Bu Antok itu membuat Kinan tersedak.


"Uhukk...uhukkk...."


Niko pun buru buru memberikannya segelas air putih.


"Makanya kalo makan tuh pelan pelan. Nggak usah buru buru, kayak ada yang mau ngambil makananmu aja." sindir Niko sambil menepuk nepuk punggung Kinan.


"Pah, Pah. Sepertinya mereka harus segera di nikahin deh." bisik Bu Antok pada suaminya.


"Iya Mah. Niko juga sepertinya udah nggak mau pisah lagi sama Kinan." balas Pak Antok.


"Sudah baikan Nak??" tanya Bu Antok khawatir.


"U..udah nggak apa apa Tante. Uhukkk.." jawab Kinan yang masih sesekali terbatuk batuk.


"Saya...saya pamit ke kamar mandi dulu Tante." Kinan pun beranjak pergi ke toilet.


Sepeninggal Kinan.


"Niko." panggil Bu Antok.


"Iya Mah."

__ADS_1


"Kamu suka sama Kinan??" pertanyaan yang tegas dari Bu Antok.


"Kenapa masih menanyakan hal itu Mah??"


"Mama cuma pengen memastikan saja."


"Kalo kamu memang suka, nanti biar Papa yang ngelamar dia langsung ke Papanya Kinan." timpal Pak Antok.


"Seharusnya pertanyaan itu nggak perlu di pertanyakan lagi. Papa dan Mama pun juga pasti tau perasaan Niko seperti apa."


"Kalo suka, kenapa kamu tidak menyatakannya langsung saja??" tanya Papa heran.


"Aku tau persis bagaimana sifat Kinan. Dia tipe yang nggak suka di paksa tentang perasaan. Sekali aku menyatakan, dia pasti akan menjauh." jelas Niko.


"Maka dari itu aku mendekati Kinan secara perlahan. Aku nggak mau tiba tiba dia ngilang gitu aja saat tau perasaanku." imbuhnya.


"Terus gimana dong?? Mama tadi sudah terlanjur tanya gitu lagi??" Bu antok merasa tidak enak hati.


"Ya nggak apa apa. Kan cuma nanya soal pacar, bukan hal yang terlalu privasi." jawab Niko santai.


"Terus gimana Papa mau ngelamar Kinan. Takutnya dia beneran malah menjauh dari kamu." sahut Pak Antok.


"Yang penting bukan aku langsung yang melamar dia. Aku kan bisa ngomong kalo kita di jodohin, gitu aja beres Pah. Jadi Kinan nggak akan tau perasaanku yang sebenarnya. Dan dia akan menganggap jika Papa melamarnya karena memang keingingan kalian, bukan keinginanku." jelas Niko.


Tiba tiba obrolan itu terhenti saat tahu jika Kinan sudah kembali dari toilet. Dia pun duduk di samping Niko.


"Udah kenyang belum?? Kalo belum, aku pesenin lagi." canda Niko.


"Enak aja." celetuk Kinan.


Mereka pun tertawa bersama.


"Setelah ini kamu mau langsung balik atau mau nginep di Semarang dulu??"


"Kemungkinan mau nginap dulu Pa. Capek habis perjalanan jauh. Nggak mungkin juga aku mau PP."


"Oh ya udah kalo gitu kamu nginep di rumah dinas Papa aja."


"Nggak Pa, aku mau nginep di hotel yang di tempati Kinan saja."


Mendengar itu, Kinan melotot.


"Ngapain??" tanya Kinan heran.


"Ya nggak apa apa, cuma pengen dekat kamu aja." canda Niko.


"Nggak mau ahh, entar malah ada gosip yang nggak bener lagi. Disana tuh bukan cuma aku yang nginep. Tapi para dokter dari daerah lain juga."


"Ya elah, kan nggak sekamar. Palingan sebelahan aja."


"Di sebelah kamarku udah ada mas Indra." jawab Kinan.

__ADS_1


"Siapa itu Indra??" tanya Bu Antok penasaran.


__ADS_2