Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Bab 98


__ADS_3

Keesokan paginya, terlihat Indra memasuki rumah dengan pakaian kokoh lengkap. Dia baru saja pulang dari menunaikan sholat Shubuh berjamaah di masjid yang ada di dekat rumah mereka.


Dia pun mulai mencari sang istri yang tak ada di dalam kamar.


"Kok disini sih, sayang??" peluk Indra saat melihat sang istri sedang sibuk di dapur.


"Iya, Adek mau masak dulu Mas. Biar nanti sebelum berangkat, kita bisa sarapan bareng dulu." ucap Kinan.


"Udah sholat??"


"Udah lah, Mas."


"Ehmm, ya udah kalo gitu yukk ikut Mas."


"Kemana??"


"Mas mau ngasih nafkah."


"Nafkah apaan??"


"Nafkah batin." goda Indra.


"Adek masih mau masak nih Mas."


"Nggak usah masak. Nanti aja kita mampir di warung pecel depan sana aja sayang." sahut Indra.


"Jangan beli beli terus. Boros itu namanya." jawab Kinan tersenyum.


"Hahh, ya udah deh kalo gitu." Indra pasrah.


Dia pun kembali ke kamar, berganti baju dan menonton tv sembari menunggu istrinya yang sedang memasak.


Selang satu jam, Kinan sudah menata semua masakannya di meja makan minimalisnya. Ada nasi, lauk, ikan dan lengkap dengan secangkir teh hangat.


Kinan pun berniat untuk mengajak sang suami sarapan, namun saat sampai di kamar. Ternyata Indra malah ketiduran.


Ini sih namanya televisi yang nonton Mas, bukan Mas yang nonton televisi. Gumam Kinan sembari mematikan televisinya.


"Mas, ayo bangun. Kita sarapan dulu yukk." Kinan berusaha membangunkan sang suami.


Namun segigih apa pun Kinan membangunkan sang suami, Indra sama sekali tak bergeming. Dia malah tertidur makin pulas.


Dengan tersenyum, Kinan pun mulai memandangi wajah sang suami. Wajah pria yang selama ini sangat mencintainya. Wajah pria yang sudah banyak berkorban hanya untuk mendapatkannya.


Dia lihat secara seksama wajah imamnya itu. Wajah manis nan tampan. Alis yang hitam tebal, hidung mancung. Bibir yang kelihatan eksotis itu, membuat wajahnya semakin sempurna.


Pantas saja banyak wanita yang tertarik dengan suamiku ini. Gumam Kinan.


Namun saat sedang menikmati ketampanan sang suami, tiba tiba saja.


"Udah puas lihatnya, Dek??" tanya Indra yang tiba tiba membuyarkan tatapan Kinan.


"Si...si..siapa yang lihat?? Ge er banget nih, Mas." Kinan canggung.


Melihat gelagat canggung sang istri, Indra pun tersenyum.


Sontak Indra pun langsung memeluk sang istri, dan menjatuhkannya ke atas ranjang.


"Mas, jangan gini. Ayo kita sarapan sekarang." ajak Kinan mengalihkan.


"Tunggu sebentar Dek, Mas masih pengen seperti ini dulu." Indra semakin merapatkan pelukannya.

__ADS_1


"Nanti kita terlambat loh. Mas juga harus ikut apel kan??"


"Nggak apa apa, ada Aris yang ngantar Komandan." jawab Indra santai.


"Ihh, nggak boleh malas malasan gitu dong."


"Habisnya, pengantin baru maunya di kamar terus. Nggak pengen keluar kemana mana." goda Indra.


"Dek, Mas nafkahin yukk." imbuh Indra.


"Nanti kesiangan loh, Mas."


"Sebentar aja." pinta Indra manja.


Melihat tatapan menggoda Indra, membuat Kinan tak tega untuk menolaknya. Sebenarnya sih dia juga pengen, cuman mungkin dia gengsi mau ngomong duluan. Namanya juga pengantin baru, lagi panas panasnya. Bahkan yang baca pun bisa ikutan panas.


Adegan panas pun Indra mulai dengan sangat liar. Dia sudah tak peduli lagi dengan hal di sekitar. Karena mereka sekarang ada di rumah sendiri. Seberapa banyak suara suara nakal yang Kinan lepaskan, membuat deru nafas Indra juga semakin kuat.


Dia memacu irama panggulnya semakin cepat. Butiran butiran keringat mereka pun bersatu, Indra tak membiarkan istrinya itu beristirahat. Kinan pun tak mau kalah, dia juga ingin memimpin permainan.


Gerakan lembut panggulnya, membuat Indra semakin candu. Terkadang suara suara nakal pun meluncur keluar dari bibirnya.


Bahkan tangan Indra mulai memegangi panggul Kinan, menggerakkannya untuk bergerak semakin cepat.


Dinginnya AC di kamar itu, tak bisa mengalahkan adegan panas yang dua sejoli itu lakukan. Bahkan mereka berdua malah berkeringat di tengah dinginnya suhu kamar pagi itu.


Setelah adegan panasnya, mereka berdua pun mandi bersama. Dan seperti biasa, Indra masih tak bisa mengontrol hasratnya terhadap sang istri. Dia pun kembali menggauli istrinya di kamar mandi, dengan posisi tubuh sang istri menghadap ke pintu.


Indra mulai menggoyangkan panggulnya dari arah belakang sang istri. Tangannya pun tak tinggal diam, dia menjelajahi bagian tubuh depan sang istri. Hingga membuat butiran air kehidupannya pun terlepas ke dalam rahim Kinan.


.


Sesampainya di depan rumah sakit. Terlihat Kinan mencium tangan sang suami. Tak lupa Indra pun melayangkan sebuah kecupan di dahi Kinan.


"Iya, sayang. Hati hati juga kalo kerja. Nanti pulangnya tunggu Mas ya??" pinta Indra.


"Iya Mas." jawab Kinan tersenyum.


Mereka pun saling melambaikan tangan.


Saat Kinan hendak memasukkan tas ke dalam loker.


"Ciee, ciee yang pengantin baru nih ye??" sindir Ana.


"Apaan sih?? Kalo iri, nikah juga dong." balas Kinan.


"Gimana mau nikah coba, belum ketemu om loreng nih." sahut Ana.


"Jodoh itu kan nggak harus om loreng. Mungkin aja ada pria lain yang sudah di tetapkan buat kamu."


"Iya, Bu Ustadzah." celetuk Ana. "Nih Dokter mentang mentang abis nikah, langsung panjang aja kata katanya. Mau alih profesi jadi penceramah ya Dok??"


Kinan hanya tersenyum mendengar kata kata candaan Ana itu.


Sesampainya di IGD, ternyata saat itu IGD sangat ramai karena ada kecelakaan beruntun. Bahkan semua tenaga di kerahkan untuk melakukan pertolongan pada korban kecelakaan tersebut.


Tanpa pikir panjang, Kinan pun langsung turun tangan untuk mengatasi kejadian itu.


Saat Kinan sudah selesai memberikan pertolongan pada korban kecelakaan yang seorang ibu hamil, tiba tiba saja dia mendengar ada tim yang butuh pertolongan CPR. Karena dia melihat semua dokter masih sibuk memberikan pertolongan pada pasien yang lain, dia pun bergegas menuju ke tempat itu.


"Ada apa ini??" tanya Kinan tegas. Dia pun segera memeriksa kondisi pasien itu tanpa mendengarkan penjelasan si perawat.

__ADS_1


Begitulah Kinan, dia tidak akan mau mendiagnosa seorang pasien sebelum melihat dan memeriksanya sendiri. Bukannya tidak percaya, namun dia berfikir alangkah baiknya jika langsung melihat terlebih dahulu kondisi pasien dari pada hanya mendengar penjelasan dari satu sisi.


"Ini Dokter, pasien ini datang kesini sudah mengalami Respiratory Arrest."


"Heart Ratenya??" tanya Kinan seraya memeriksa seluruh tubuh pasien, jikalau ada luka yang tidak dia ketahui.


"Makin menurun, Dokter." jawab seorang perawat.


Loh, ini apa?? Gumam Kinan saat melihat ada luka tusuk di bagian perut sebelah kiri.


"Siapkan CPR dan tolong hubungi ruang OK untuk melakukan Cito." pinta Kinan.


Si perawat itu pun langsung menuruti perintah Kinan. Dan terlihat Kinan sedang sibuk melakukan CPR selagi menunggu ruang OK siap.


Dan syukurlah selang beberapa saat, orang itu pun kembali bernafas. Denyut jantungnya pun sudah mulai kembali normal.


"Ruang OK nya sudah siap, Dokter."


"Baik. Bawa pasien ini ke atas." pinta Kinan kembali.


Kinan pun kembali memberikan pertolongan pada pasien yang lain.


Setelah semua pasien teratasi, Kinan pun sejenak duduk dan meminum air kemasan uang tadi dia bawa.


"Aduhh, gimana nih??" seorang perawat mondar mandir di depannya.


"Ada apa??" tanya Kinan heran.


"Itu Dokter, pasien yang tadi ke ruang OK."


"Kenapa sama dia??"


"Dia nggak membawa kartu identitas apa pun, bahkan ponsel pun tidak. Jadi kami kesulitan menghubungi keluarganya, padahal dia lagi membutuhkan kantung darah."


"Emang kantong darah di rumah sakit habis??"


"Kebetulan untuk golongan darah B Rh (+) sedang kosong, Dokter."


"Ohh, golongan darahnya dia B Rh (+)?? Ya udah kalo gitu ambil aja dari aku." ucap Kinan menyodorkan tangannya.


"Beneran Dokter??" si perawat tak percaya.


Kinan hanya mengangguk.


"Beneran nggak apa apa?? Dokter kan nggak tau siapa dia."


"Emang harus lihat identitas pasien dulu baru mau nolong??" celetuk Kinan.


"Ayoo kita langsung ke Bank Darah." ucap Kinan seraya bergegas menuju ruang yang di maksud.


Setelah selesai melakukan donor darah, Kinan pun mulai pusing. Biasalah, yang namanya donor memang seperti itu. Apa lagi pagi hari dia harus kerja rodi untuk kepuasan sang suami.


Saat sore hari, sang suami dengan setia menunggu Kinan di parkiran.


"Lama ya nunggunya??" tanya Kinan yang baru muncul.


"Nggak kok, Mas juga baru datang." jawab Kinan.


"Ya udah kalo gitu yukk pulang." ajak Kinan seraya naik di bangku belakang.


Selama bekerja, Indra memang lebih senang mengendarai motor. Menurutnya kalau motor bisa lebih cepat di banding mobil, bahkan motor mampu membelah jalanan yang saat itu sedang macet.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, mereka tak lupa langsung mandi dan berganti pakaian. Begitulah keseharian dua sejoli pengantin baru itu menghabiskan waktunya.


.


__ADS_2