Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Kepulangan Mertua


__ADS_3

"Mas boleh nggak cium Adek??" tanya Indra meminta persetujuan.


"Cium apa dulu nih??"


"Kalo cium bibir boleh??"


"Ihh, nggak mau ahh. Lagi di tempat umum." tolak Kinan.


"Jadi kalo di tempat sepi boleh??" goda Indra.


"Tetep nggak boleh." jawab Kinan tersenyum.


"Terus suaminya ini bolehnya ngapain??"


"Ehm, ngapain ya?? Pegangan tangan aja deh." jawab Kinan seraya memegang tangan sang suami. Indra pun tersenyum.


"Iya, iya Mas paham." jawab Indra mengusap kepala sang istri.


Untung aja masih ada perjanjian yang udah Mas ucapkan pada Papa. Kalo nggak, mungkin sekarang Mas udah tancap gas Dek. Gumam Indra.


"Ya udah kalo gitu pulang yukk, udah mau malam ini." ajak Indra.


"Ayukk." jawab Kinan mengiyakan.


Mereka pun menjemput Bapak dan Ibu yang ada di dalam cafe, kemudian beranjak pulang.


Saat di dalam mobil.


"Mungkin Ibu sama Bapak besok pulang, Nak." ucap Ibu.


"Kok cepat sekali Bu??"


"Ini tadi ada telpon dari kebun, katanya ada pengusaha yang mau lihat lihat kebunnya Bapak. Sepertinya dia ingin membeli hasil coklat dari perkebunan kita."


"Ohh. Terus apa Ibu sudah pesan tiket??"


"Sudah. Tadi Bapak sudah minta tolong sama temennya untuk memesankan dua tiket pesawat untuk besok siang."


"Besok siang jam berapa Bu??"


"Sekitar jam 11 an, Nak." jawab Ibu.


"Kamu nggak usah ngantar, besok kan kamu kerja. Biar Bapak sama Ibu naik taksi saja."


"Nggak apa apa Pak. Besok biar aku yang ngantar, aku akan ijin sama Komandan."


"Nggak apa apa kalo sering ijin, Nak??" Bapak kuatir.


"In Shaa Allah nggak apa apa kok Pak. Komandan saya itu orang yang sangat baik." jawab Indra. "Toh saya ijin juga bukan untuk main main, tapi karena mau mengantar orang tua pulang."


"Besok Adek juga ikut ngantar kan??" tanya Indra memastikan


"Iya, Mas."


"Ya udah kalo gitu besok pagi Mas jemput ya??" ucap Indra.


Kinan pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


Keesokan harinya. Terlihat Indra sudah berada di depan rumah Kinan.


"Loh, Mas bawa mobilnya siapa itu??" tanya Kinan saat melihat Indra datang dengan membawa mobil.


"Itu mobil Komandannya Mas. Waktu tau kalo Mas mau ngantar orang tua pulang, beliau langsung nyuruh Mas untuk bawa mobil itu. Mas mau nolak, ya gimana Dek. Nggak enak. Jadi ya Mas bawa aja." jelas Indra.


"Ohh gitu. Beliau baik ya Mas??"


"Baik banget malahan." sahut Indra.


"Ya udah kalo gitu kita bawa mobilnya Komandan aja nih??"


"Iya, naik mobilnya Komandan aja Dek." jawab Indra.


"Ya udah ayo kita berangkat." ajak Indra.


"Tunggu sebentar." cegah Kinan.


"Kenapa??"


"Mama sama Papa katanya mau ngasih oleh oleh buat Bapak sama Ibu. Sebentar, aku panggil dulu."


Kinan pun segera berlari ke dalam rumah untuk memanggil orang tuanya. Tak lama berselang, terlihat Papa keluar dengan membawa sebuah kardus yang sepertinya lumayan berat. Indra yang melihat itu pun dengan sigap membantu membawa kardusnya.


"Tolong kasihkan ke Bapakmu ya?? Oleh oleh buat dia." ucap Papa.


"Siap, Bapak."

__ADS_1


"Papa nggak ikut ngantar teman lamanya??" tanya Kinan.


"Nggak, Nak. Nanti Papa masih ada urusan. Tapi semalam Papa udah telpon telponan sama dia dan bilang kalo Papa nggak bisa ngantar."


"Ehm, ya udah kalo gitu. Aku berangkat dulu ya Pah??" pamit Kinan mencium tangan sang Papa.


"Assalamuallaikum."


"Waallaikumsalam." jawab Papa.


Saat memasuki mobil, terlihat Kinan juga membawa sebuah bungkusan.


"Itu apa Dek??"


"Ini?? Ini oleh oleh khusus buat Ibu."


"Apa isinya??" Indra penasaran.


"Ada deh. Mau tau aja." Kinan tersenyum.


"Mulai main rahasia rahasiaan nih sama suami sendiri."


"Biarin." sahut Kinan seraya tersenyum. Terlihat Indra sangat bahagia berada di dekat sang istri.


Setelah menjemput orang tua Indra, mereka pun langsung melaju menuju Bandara.


Sekitar satu setengah jam berselang mereka sudah tiba di Bandara.


"Jaga diri baik baik ya, Nak." Ibu memeluk Kinan.


"Iya Bu. Ibu juga hati hati di jalan ya?? Nanti kalo ada waktu, aku pasti akan kesana sama Mas Indra." ucap Kinan.


"Janji ya??" Ibu memastikan.


"Iya Bu, In Shaa Allah." jawab Kinan tersenyum.


"Ndra, jaga istrimu." pinta Bapak tegas.


"Iya Pak, itu pasti."


"Jangan pernah membuatnya menangis." nasihat Bapak.


"Iya Pak, saya usahakan." jawab Indra.


"Kok masih di usahakan?? Itu harus." tegas Bapak.


"Iya Pak."


"Kinan, tolong jaga Indra juga ya?? Meski keras kepala, tapi dia pria yang baik kok." imbuh Bapak.


"Iya Pak." jawab Kinan tersenyum.


"Ya udah kalo gitu kami pulang dulu ya, Nak. Jaga diri kalian baik baik. Dan kalo bisa secepatnya mengurus pengajuan pernikahan ya, biar kami bisa segera menggendong cucu dari kalian." pinta Ibu berharap.


"Iya Bu."


"Dan terima kasih oleh olehnya ya?? Nanti kalo udah sampe, baru Ibu buka."


Kinan pun tersenyum. Mereka melepas kepergian orang tua Indra dengan suasana haru. Mata Kinan yang mulai berkaca kaca membuat Indra tersadar.


"Sudah, jangan nangis. Nanti kalo Mas ada cuti, kita mudik kesana ya??" ajak Indra.


"Iya Mas."


Mereka pun pergi meninggalkan bandara.


"Adek hari ini libur??"


"Nggak Mas. Hari ini Adek masuk malam."


"Ehm, jadi seharian ini Adek nggak ada rencana mau kemana mana??"


"Nggak, Mas. Adek pengen istirahat aja di rumah. Capek sekali rasanya."


"Iya juga sih." sahut Indra mengiyakan.


"Oh iya Adek belum jahitkan kain Persitnya kan?? Mas antar yukk." ajak Indra untuk mengisi waktu luang mereka.


"Sekarang??"


"Iya."


"Tapi kainnya kan ada di rumah."


"Ya udah kalo gitu kita mampir ke rumahnya Adek dulu, abis itu baru ke penjahit."

__ADS_1


"Tapi aku nggak tau dimana penjahit disini Mas."


"Tenang, Mas tau kok." jawab Indra percaya diri.


Mendengar itu, Kinan memicingkan alisnya.


"Mas sering ngantar Ibu Komandan ke tempat penjahit itu. Bahkan penjahit itu adalah langganan para Ibu Ibu Persit juga kok." jelas Indra berusaha memudarkan kecurigaan Kinan.


"Hemm." Kinan paham.


"Kita kesana saja ya??"


Kinan pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Setelah mampir ke rumah untuk mengambil kain Persit, mereka pun segera pergi ke penjahit yang Indra sarankan.


Sesampainya disana.


"Assalamuallaikum, Bu." ucap Indra.


"Waallaikumsalam." jawab seorang wanita paruh baya.


"Ehh, Om Indra. Kayaknya Ibu Komandan nggak ada pesanan jahitan deh Om."


"Nggak kok Bu. Saya kesini bukan mau ngambil pesanannya Ibu Komandan. Saya kesini mau ngantar dia." tunjuk Indra pada Kinan.


"Dia?? Siapa Om?" tanya si penjahit penasaran.


"Ibu Persit saya." jawab tegas Indra.


"Wihh, akhirnya ada juga perempuan yang bikin Om Indra klepek klepek. Mana cantik banget lagi." ungkap Ibu.


Mendengar hal itu Indra tersenyum sekaligus bangga. Sebaliknya, Kinan malah terlihat tersipu malu.


"Nemu dimana nih Om, kok bisa bisanya nemu yang bentukannya kayak gini." canda si penjahit.


"Nggak nemu Bu. Tapi sepertinya dia jatuh dari langit." sahut Indra.


Kinan yang mendengar hal itu, seketika langsung melirik tajam sang suami.


"Ciee, cieee. Om Indra lagi bucin." celetuk si penjahit.


"Sini, sini tee. Saya ukur dulu ya." si penjahit mulai mengukur tubuh Kinan.


Indra hanya duduk memperhatikan dan sesekali tersenyum melihat sang istri.


Jadi nggak sabar pengen lihat dia pakai baju Persitu itu, dan di panggil Bu Indra. Gumam Indra.


Namun di tengah tengah pengukuran, tiba tiba saja ada beberapa Ibu ibu yang datang dan juga ingin menjahit baju.


"Ehh, Om Indra juga ada disini ternyata." ucap seorang Ibu yang berhijab.


"Ngapain Om?? Lagi ambil pesanan Ibu Komandan ya??"


"Tidak Bu. Saya sedang mengantar calon istri saya." tegas Indra.


"Calon istri?!!" Ibu ibu tersebut sontak sama sama terkejut.


Seketika pandangan mereka beralih pada gadis yang sedang di ukur tubuhnya. Untungnya saja Kinan berada agak jauh dari Indra, jadi Kinan tak memperhatikannya.


"Itu calonnya??" tunjuk Ibu yang berambut pendek.


"Iya Ibu." jawab Indra.


Mereka melihat sosok Kinan dari atas ke bawah, dari bawah ke atas lagi. Seakan ingin menyelidik bagian apa yang kurang dari Kinan.


"Biasa aja tuh." ucap si ibu berhijab.


"Iya, biasa aja kok." balas ibu berambut pendek.


"Apa perempuan itu yang katanya Om Indra rebut dari seorang Perwira ya?? Kalo nggak salah denger sih, dia sempat bertunangan sama Perwira kan??"


"Iya, saya juga pernah denger itu."


"Apa perempuan itu orangnya Om??" tanya mereka penasaran.


Namun Indra tak terlalu menanggapi kata kata Ibu ibu biang gosip itu.


"Kirain secantik apa sih kok sampe Om Indra berani jadi Pebinor, ehh ternyata biasa aja tuh si perempuan."


"Standar rupanya."


"Nggak ada bagus bagusnya."


Indra hanya diam saat mendengar para netizen yang sedang berkomentar itu.

__ADS_1


"Yukk ahh kita balik aja. Nanti sore aja kita kembali lagi kesini." ajak seorang Ibu pada teman temannya.


Mereka pun pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Indra. Sepertinya gosip bahwa Indra akan menikah dengan perempuan yang dia rebut dari seorang Perwira, akan semakin santer terdengar di Batalyon.


__ADS_2