
Dua bulan berlalu setelah kepulangan Kinan dari rumah sakit. Selama itu pula tak ada lagi kabar dari Indra. Bahkan sang Papa pun juga tak bisa menemukan informasi apa apa.
Hari itu adalah hari yang di tunggu tunggu oleh semua keluarga prajurit. Ya, saat dimana semua pasukan akan kembali ke Batalyon.
Namun tak begitu halnya dengan Kinan, Kinan tak datang ke Batalyon. Dia memutuskan untuk datang ke acara tersebut. Dia takut akan melihat kenyataan. Di dalam hatinya masih terngiang, jika sang suami masih pergi bertugas.
Hingga pada pagi harinya.
"Assalamuallaikum." sapa seorang lelaki dari pintu depan.
"Waallaikumsalam." jawab Mama yang bergegas membukakan pintu itu.
Terlihatlah sosok yang selama ini sudah lama tidak terlihat. Sosok lelaki dengan mengenakan baju loreng dan berpangkat Kapten itu terlihat sangat gagah dan semakin tampan.
"Niko??" ucap Mama.
"Hai, Tante. Apa kabar??" tanya Niko sopan.
"Baik, Nik. Kamu sendiri??"
"Alhamdulillah baik juga, Tante." jawab Niko.
"Oh iya, ayo sini masuk." pinta Mama mempersilahkan Niko masuk. Mereka pun duduk di ruang tamu.
"Mau minum apa??" imbuh Mama.
"Terserah, Tante." jawab Niko. Mama pun segera menyuruh ART untuk menyuguhkan segelas teh hangat untuk Niko.
"Tumben kamu datang kesini. Padahal udah lama banget kayaknya kita nggak pernah saling ketemu ya?? Mungkin ada setahunan kalo ya??" sahut Mama penasaran.
"Iya, Tante. Kebetulan saya juga lagi sibuk, Tante. Lagi sekolah untuk menjadi calon Komandan."
"Sesko?? Wihh, hebat ya kamu." puji Mama.
Niko hanya membalas dengan tersenyum.
"Apalagi mulai bulan kemarin saya sudah pindah tugas, Tante."
"Loh, pindah?? Kok Tante nggak denger kabar apa apa dari Om."
"Memang masih belum resmi kok, Tante. Acara pelepasannya masih minggu depan."
"Ooh." jawab Mama.
"Oh iya Tante. Ehmm, Kinan ada??" tanya Niko ragu.
"Ada, sepertinya dia lagi di taman. Sebentar, biar Tante panggilkan dulu." saat hendak beranjak.
"Ehh, nggak usah Tante. Biar saya saja yang kesana." ucap Niko.
Dengan sopan dia pun berjalan menuju taman.
Sesampainya di balik pintu, dari kejauhan dia melihat Kinan sedang asyik mengobrol santai bersama sang buah hati. Sang bayi dia letakkan di sebuah stroller dan memainkan tangan mungilnya.
Meski saat itu Kinan terlihat tersenyum, namun Niko sangat yakin hatinya tak begitu. Dia tahu jelas bagaimana sifat Kinan. Dia sangat pintar menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Perlahan Niko pun mendekat ke arah Kinan. Kinan yang merasakan kehadirannya pun menoleh.
"Niko??" ucap Kinan terkejut.
"Hai. Gimana kabarmu??" tanya Niko santai. Seakan akan tak pernah ada masalah di antara mereka.
"Ehmm..., Alhamdulillah baik." jawab Kinan berusaha santai.
Niko pun duduk di dekat stroller. Perlahan dia menyentuh bayi itu, tangan mungil itu menggenggam erat tangan Niko. Dia pun tersenyum melihat tingkah bayi mungil itu.
"Siapa namanya??" tanya Niko.
__ADS_1
"Arshaka."
"Nama yang bagus." puji Niko dengan tetap memandangi sang bayi.
"Maaf kalo kedatanganku kesini membuatmu terkejut. Aku kesini hanya ingin berpamitan."
"Berpamitan?? Emangnya kamu mau kemana??"
"Aku akan pindah tugas. Dan mungkin bisa jadi aku nggak bakal balik kesini lagi."
Sejenak Kinan terdiam.
"Nggak usah sok sedih." celetuk Niko yang bermaksud hanya bergurau. Kinan membalasnya dengan tatapan tajam.
"Maafin semua kesalahanku ya. Aku tau mungkin kesalahanku dulu sangatlah besar, bahkan bisa di bilang nggak pantas untuk di maafkan. Tapi setidaknya kali ini, aku mau meminta maaf dengan tulus sama kamu." jelas Niko.
Namun Kinan tak menjawab, dia hanya terdiam sembari memandangi Niko. Matanya mulai berkaca kaca.
"Setelah kepergianku ini, semoga kehidupanmu akan selalu bahagia ya Kinan. Semoga kamu dan anakmu bisa hidup penuh kegembiraan."
"Niko, kamu......"
"Aku nggak mau denger apa apa dari kamu. Aku hanya minta tolong jangan bersedih lagi. Arshaka masih membutuhkanmu, dia sangat butuh sosok seorang Ibu." sahut Niko.
"Aku tau, kamu itu adalah sosok wanita yang kuat dan sabar. Seorang wonder woman yang tak terkalahkan. Namun mempunyai hati yang sangat lembut." imbuh Niko.
"Berbahagialah bersama Arshaka, aku pasti akan selalu mengingatmu. Jaga diri baik baik. Dan tetaplah menjadi Kinan seperti yang aku kenal dulu." ucap Niko tersenyum.
Kinan pun menganggukkan kepalanya.
"Aku pamit dulu ya." ucap Niko mengakhiri pertemuannya dengan Kinan.
Niko pun pergi menjauh dari Kinan. Dia tak ingin air matanya jatuh di hadapan Kinan. Dia pun bergegas menaiki sebuah mobil.
"Kita langsung ke bandara." pinta Niko pada sopirnya. Sang sopir pun melajukan mobilnya menuju tempat yang Niko maksud.
Kenapa Niko balik lagi?? Apa ada yang ketinggalan?? Pikir Kinan.
Dia pun membuka pintu tersebut, dan alangkah terkejutnya Kinan yang saat itu membunyikan bel bukan Niko. Melainkan orang yang selama ini dia tunggu tunggu. Seorang lelaki yang selama ini dia rindukan. Sosok suami yang sempat dinyatakan menjadi korban ledakan.
Lelaki itu saat ini berdiri tepat di hadapan Kinan. Berdiri dengan sangat gagah sambil menggendong tas ransel di pundaknya.
"Mm...Mm.Mmm,,....Mas???" ucap Kinan ragu.
"Iya sayang, ini Mas." ucap Indra dengan senyuman yang lebar.
Sontak Kinan pun berlari dan langsung memeluk sang suami dengn sangat erat. Air matanya tak bisa terbendung lagi. Derasnya air mata yang keluar dari pelupuk mata Kinan, menandakan bahwa dia sangat merindukan sosok itu.
"Mas,,,mas....Mas Indra???!!" ucap Kinan histeris.
Dia tak ingin melepaskan pelukan itu. Andaikan jika saat itu dia sedang bermimpi, dia tak ingin terbangun dari mimpi itu.
"Mas..Mas....." Kinan menangis tersedu sedu.
"Sudah, sudah. Mas sudah disini. Jangan nangis lagi."
"Kenapa Mas nggak ngabarin Adek, kenapa Mas ngebiarin Adek disini seperti orang gila??? Mas jahat,, jahat,,jahat?!!!" ucap Kinan meluapkan semua emosinya.
"Iya, iya. Maaf. Maafin Mas ya, kondisinya Mas nggak memungkinkan ngasih kabar ke Adek. Mas janji nanti Mas bakal ceritain semuanya ke Adek." jelas Indra.
Tangisan Kinan yang histeris, membuat seisi rumah pun bergegas keluar dari kamarnya masing masing. Mereka berlari menuju ke pintu depan.
"Indra??!" ucap Mama tak percaya. "Kamu kembali, Nak??" Mama pun tak kuasa menahan air matanya.
"Iya, Ma." Indra pun mencium tangan kedua orang tua Kinan.
"Syukurlah kamu bisa pulang dengan selamat Ndra." ucap Papa.
__ADS_1
"Siap, Bapak." jawab Indra tegas.
Saking senangnya, Kinan pun kembali memeluk suaminya erat erat. Namun Indra memekik.
"Auww!!!"
"Loh, Mas kenapa??" tanya Kinan kuatir.
"Mas masih dalam penyembuhan akibat ledakan itu, Dek." jawab Indra tersenyum.
"Oh iya, dimana anak kita??" tanya Indra yang sangat ingin melihat sosok buah hati mereka.
Kinan pun menarik Indra masuk ke dalam rumah. Terlihat seorang bayi sedang tertidur di dalam box. Perlahan Indra meletakkan tas ranselnya. Menyentuh tangan sang bayi, dan membelainya.
"Anakku." ucap Indra berkaca kaca.
Dia pun perlahan menggendong sang anak ke dalam dekapannya. Rasa rindu yang menggebu membuat Indra tak kuasa meneteskan air mata. Kinan pun tersenyum melihat hal itu.
Setelah puas menimang sang buah hati, Indra pun meletakkannya kembali ke dalam box. Dia beralih memeluk sang istro yang berada di sampingnya.
"Mas kangen sekali sama Adek. Kenapa Adek nggak datang ke Batalyon?? Bukankah kita sudah berjanji akan bertemu kembali??"
'"Karena Adek takut, Mas. Adek takut menerima kenyataan kalo Mas nggak akan kembali." jawab Kinan sedih.
"Tapi buktinya Mas sekarang kembali kan??" Indra ingin menenangkan sang istri.
Kinan pun menganggukkan kepalanya, memeluk hangat tubuh sang suami.
Flashback :
Saat truk yang di kendarai Indra hendak memasuki desa, ban bagian belakang truk tidak sengaja menginjak granat. Sontak bagian belakang truk pun terbalik. Dan sesaat sebelum ledakan terlihat seseorang menyelamatkan Indra dan Wahyu dari dalam truk. Dia adalah Niko. Kapten Niko saat itu sedang berada tak jauh dari tempat kejadian. Dia pun bergegas membantu Indra dan Wahyu keluar dari dalam truk di bantu oleh warga desa.
Dan sesaat setelah berhasil mengeluarkan mereka, truk itu pun meledak. Niko yang melihat Indra dan Wahyu yang luka luka dan tak sadarkan diri itu pun segera melarikannya ke sebuah klinik kesehatan terdekat. Namun sayangnya, klinik itu tak mempunyai tim kesehatan yang memadai. Kondisi Wahyu masih bisa di selamatkan, namun kondisi Indra sempat menurun.
Di saat semua sudah pasrah dengan keadaan yang ada, tiba tiba muncullah seorang pria asing yang diam diam membawa Indra ke tempat pribadi miliknya. Bahkan di tempat itu, Indra di rawat beberapa dokter terkenal. Bukan hanya seorang dokter, namun ada 8 orang dokter spesialis yang terkemuka di dunia.
Ya, beliau adalah tuan Andrey. Dia hanya ingin membalas kebaikan Kinan yang telah menyelamatkan nyawanya. Di bawah pengawasan ketat Tuan Andrey, Indra dapat melewati masa masa krisisnya.
Dia pun sengaja tak mengabari kesatuan Indra, dia tak ingin keberadaannya di ketahui militer. Jika tidak, keberadaannya bisa jadi incaran beberapa negara.
Setelah beberapa bulan di rawat di mansion tuan Andrey, Indra pun kembali pulih dan hendak kembali.
Saat akan kembali, anak buah tuan Andrey mengabarkan jika rombongan Indra sudah berada di bandara untuk kembali ke Indonesia. Dengan kekuasaannya, Indra pun di antar oleh anak buah tuan Andrey agar tiba di bandara secepat mungkin.
Di saat saat akan berangkat, tiba tiba sosok Indra pun muncul. Komandan yang melihat hal itu sempat tak percaya. Dan memeluk bahagia sang ajudan.
Kembali ke kamar Kinan. Terlihat Indra sudah selesai mandi dan berganti pakaian, sedari tadi dia masih setia menggendong si buah hati. Dan mencumbuinya.
"Anak siapa sih ganteng ini??" ucap Indra.
"Dia mirip sekali sama Mas ya, Dek."
"Ya pastilah, dia kan anaknya Mas." jawab Kinan yang sedang merapikan box Arshaka.
Dengan perlahan Indra meletakkan Baby Arshaka ke dalam boxnya.
"Dek." panggil Indra manja.
"Bikin satu lagi yang mirip Adek yukk." rayu Indra.
"Ih, Arshaka masih kecil Mas. Nanti aja nunggu dia umur 4 atau 5 tahunan."
"Ya udah kalo gitu bikinnya aja yang sekarang."
Seketika Indra pun melepaskan seluruh kerinduannya pada sang istri. Meluapkan rasa cintanya yang menggebu gebu. Bayangkan saja, selama setahun dia tak bisa merengkuh kehangatan tubuh sang istri.
Di tempat lain, terlihat Niko sedang duduk di sebuah kursi pesawat. Dia memilih kelas bisinis dalam penerbangannya. Matanya mulai berkaca kaca, padangannya pun beralih ke sisi luar jendela. Berkali kali dia menghela napas. Berusaha keras agar air matanya tidak jatuh. Dia pun mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
...THE END...