Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Canggung


__ADS_3

Keesokan harinya, Indra melakukan rutinitas seperti biasa. Dia pergi ke rumah nenek Kinan, dan mengantarnya bekerja. Tak ada obrolan yang spesial antara mereka berdua. Tak seperti hari hari sebelumnya. Kinan memilih lebih banyak diam. Kecanggungan antara mereka berdua masih lekat terasa.


Saat dalam perjalanan, tiba tiba ponsel Kinan berdering. Melihat nama kontak yg tertera di layar ponsel, dia menghela napas.


"Assalamuallaikum." ucap Kinan.


"Waallaikumsalam." jawab Niko. "Lagi dimana sayang??" tanya Niko genit.


"Lagi di jalan." jawab Kinan dingin, sebagai tanda dia tidak suka dengan kegenitan Niko itu.


"Udah sampe mana?? Kalo memang belum jauh, biar nanti aku aja yang ngantar."


"Nggak usah, ini aku udah mau sampe kok."


"Ohh ya udah kalo gitu nanti aja aku jemput ya??"


"Kamu nggak kerja??" Kinan heran.


"Ya kerja lah, ini lagi di kantor. Tapi nanti setelah apel sore kan udah pulang. Jadi nanti biar aku jemput ya??"


"Hemmm." Kinan berfikir sejenak.


"Ayolah." pinta Niko.


"Ya udah kalo gitu."


"Nah gitu dong." ucap Niko senang. "Nanti tunggu aku ya sayang??"


Kinan merasa sedikit geli saat panggilan genit itu keluar dari bibir Niko, dia pun langsung menutup telponnya.


Sebenarnya Kinan enggan pulang bersama Niko. Namun dia tidak punya pilihan lain, Kinan ingin sedikit menjauh dari Indra. Setidaknya dia bisa menjaga jarak dari Indra, dan tidak terus menerus bertemu.


"Nanti Mas Indra nggak perlu jemput aku, Niko yang akan jemput aku." Kinan mengeluarkan suaranya di tengah suasana yang hening.


Indra terdiam, dia tak berani berkata apa apa. Ingin sekali mencegah, namun dia tak punya hak apa apa. Ada rasa cemburu yang tiba tiba muncul, kecemburuan yang harus dia pendam hingga tak ada satu pun orang yang tahu bagaimana isi hatinya.


Sesampainya di rumah sakit, Kinan bekerja seperti biasa. Namun ada kalanya Kinan melamun, dia mengingat kejadian di Gunung Bromo kemarin.


Jadi selama ini cewek yang Mas Indra ceritakan itu adalah aku. Ahh nggak mungkin, nggak mungkin. Gimana bisa dia nembak aku?? Apa sikapku yang terlalu akrab membuatnya jadi seperti itu?? Apa memang seharusnya aku menjauh aja dari dia?? Apa benar yang di katakan Niko, seharusnya aku mencari sopir pribadi yang lain??


"Heiii." sebuah suara membuyarkan lamunan Kinan. Kinan sontak terkejut dan menoleh ke arah sunber suara.


"Apaan sih?? Ngagetin aja."


"Hehehe. Sorry, sorry Dokter." sesal Ana. "Lagian ngapain sih Dokter sampe ngelamun kayak gitu. Kesambet setan baru tahu rasa." celetuk Ana.


"Yang ada setan gundul."


"Tuyul dong??" canda Ana.

__ADS_1


Kinan tersenyum.


"Dokter kenapa sih?? Dokter lagi ada masalah ya??" tanya Ana penasaran.


"Nggak tuh. Kenapa emangnya??" jawab Kinan bersikap biasa.


"Nggak usah bohong deh. Dari raut wajah Dokter aja kelihatan banget kalo lagi ada yang di pikirkan." jelas Ana.


Kinan hanya terdiam. Paham akan situasi Kinan, Ana pun mengalah.


"Ya udah kalo memang Dpkter nggak mau cerita. Tapi kalo semisal butuh teman cerita, aku siap kok jadi pendengarnya." ucap Ana menenangkan.


Kinan pun tersenyum.


"Oh iya, ngomong ngomong Dokter Kinan kemarin ikut seminar gara gara Dokter Adam kan??"


"Ya, begitulah."


"Dasar tuh orang, suka sekali bikin orang susah. Hobinya mungkin ya??" ucap Ana berusaha membuat Kinan terhibur.


"Tapi syukur deh, sepertinya dia udah nggak cari masalah lagi sama Dokter Kinan." imbuh Ana.


"Dia udah nggak pernah cari cari aku lagi kan??"


"Udah nggak kok. Malahan dia udah nggak pernah ngunjungin IGD lagi."


"Syukur deh kalo gitu." sahut Kinan lega.


"Apaan sih??" Kinan malas mau menjawab.


"Sudah kuduga dari awal kalian emang pacaran sembunyi sembunyi." celetuk Ana. "Bukan hanya pernikahan yang di sembunyikan, tapi pacaran pun juga ada yang di sembunyikan."


"Aku sama dia cuma berteman saja kok."


"Hallah, nggak usah ngeles deh. Seisi rumah sakit ini udah tahu kejadian yang di parkiran itu."


Kinan hanya terdiam, dia tidak mungkin menjelaskan pada Ana jika yang terjadi saat itu hanya pura pura untuk menghindari Dokter Adam.


Sepulang kerja. Kinan sudah bersiap menuju ke parkiran bersama Ana.


"Oh iya teman temen mau ada acara makan makan nih. Ikut yukk Dokter." ajak Ana.


"Nggak deh, aku udah di jemput nih." tolak Kinan.


"Cieee, di jemput om loreng ya Dokter??" gurau Ana.


Kinan hanya tersenyum. Namun tak lama berselang tiba tiba sebuah mobil menghampiri mereka.


"Sayang." Sapa seseorang dari dalam mobil.

__ADS_1


Sontak panggilan itu membuat Ana dan Kinan terkejut.


"Niko." panggil Kinan.


Niko?? Siapa lagi tuh?? gumam Ana.


"Aku balik dulu ya??" pamit Kinan.


"Ehh tunggu Dokter." ucap Ana sambil menarik tangan Kinan.


"Itu siapa lagi Dokter??" tanya Ana penasaran.


"Dia........." saat akan menjawab, tiba tiba Niko turun dari mobil dan memotong kata kata Kinan.


"Kenalin, namaku Niko. Aku tunangannya Kinan." jawab tegas Niko.


"A..ap..appa??" ucap Ana terkejut.


Kinan yang mendengar hal itu pun terkejut. Dia melirik ke arah Niko dengan tatapan tajam.


"Tunggu, tunggu sebentar. Biar aku cerna semuanya." Ana sejenak berfikir.


"Kamu tunangannya Dokter Kinan?? Sejak kapan?? Sepertinya aku nggak pernah liat kamu deh." banyak pertanyaan dalam benak Ana.


"Yang sering aku lihat tuh om loreng yang bernama Indra, dan dia tiap hari menjemput Dokter Kinan. Kamu sendiri siapa??" imbuh Ana yang semakin penasaran.


Sebelum Niko menjawab, Kinan pun mencegah. Dia membelakangi Niko.


"Udah, nggak usah di pikirkan. Nggak usah banyak pertanyaan dulu. Dan tolong jangan sebarin berita yang nggak bener. Ceritanya panjang, kalau ada waktu nanti aku ceritain semuanya." jelas Kinan yang membuat Ana menganggukkan kepalanya.


Kinan pun pergi meninggalkan Ana dengan banyak pertanyaan yang ada dalam benaknya.


"Kenapa kamu ngomong kayak gitu??"


"Ngomong apa?? Soal tunangan??"


"Iya."


"Emang salah ya?? Kita kan memang tunangan."


"Iya. Tapi jangan ngomong langsung gitu di depan teman temanku, mereka akan berfikir yang macem macem."


"Macem macem gimana??"


"Ya, misal mereka akan bilang aku sombong karena nggak ngundang mereka ke acara tunangan kita."


"Nanti kalo udah di tetapkan tanggalnya, kita pasti akan ngundang mereka kok." jawab Niko santai. "Udah, jangan terlalu mikirin perkataannya orang. Anggap aja masa bodoh gitu loh."


Kinan hanya takut jika kabar itu akan tersebar lagi di dalam rumah sakit. Dia khawatir akan di cap sebagai seorang player. Karena kemarin dia sudah membuat kehebohan dengan mengaku sebagai pacar Indra, dan sekarang Niko malah mengaku di depan teman Kinan jika mereka sudah bertunangan.

__ADS_1


Apa yang nanti akan orang pikirkan tentang aku?? Semoga saja mulut Ana nggak ember. Bisa jadi bahan gunjingan orang serumah sakit nih.


__ADS_2