Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
LDR


__ADS_3

Beberapa jam pun berlalu. Hingga keesokan sorenya.


[Dek, Mas mau nyebrang nih. Doain Mas ya??] ucap Indra mengabari Kinan.


[Cepet banget Mas.]


[Kan iring iringan, jadi ada mobil patrolinya buat buka jalan. Makanya cepat.] jelas Indra.


[Mobilnya Mas yang paling depan ya??]


[Nggak. Mobilnya Mas ada di tengah. Yang depan itu sebagian mobil pasukan, kemudian yang tengah mobilnya Komandan yang Mas sopiri. Di belakang ada rombongan Pasi dan logistik. Kadang ada Ambulance juga.]


[Ooh.] Kinan baru paham.


[Ya udah kalo gitu Mas nyebrang dulu ya Dek. Nanti kalo usah sampe di tempatnya, Mas hubungi lagi.]


[Iya, Mas.] jawab Kinan.


[Hati hati disana ya??]


[Hati hati?? Harusnya Adek yang bilang gitu.]


[Kalo Mas kan jelas pasti hati hati karena bawa Komandan. Lah Adek disana, takutnya ada kumbang yang pengen deketin.] gurau Indra.


[Hemm, mulai deh.] sindir Kinan. Indra pun tersenyum.


[Ya udah kalo gitu, Mas tutup dulu telponnya ya Dek. Jangan lupa jaga kesehatan dan jaga hati.] pinta Indra.


[Iya Mas.]


Di tempat lain. Terlihat seorang pria berbaju loreng hendak masuk ke dalam sebuah ruangan.


"Ijin menghadap Jenderal." ucapnya di depan pintu.


"Masuk."


Pria itu pun masuk ke dalan ruangan Papa Kinan.


"Mohon ijin melapor Jenderal."


"Silahkan."


"Siap, Jenderal. Para rombongan sudah tiba di Pelabuhan Merak. Dan kini mereka sudah mulai menyebrang ke Sumatera."


"Apa dalam rombongan itu juga ada Indra??"


"Siap, ada Jenderal.


"Terus??" tanya Papa Kinan penasaran.


"Siap. Tadi malam Pratu Indra menyempatkan datang ke rumah sakit untuk berpamitan langsung pada Mbak Kinan, Jenderal."


Namun Jendral hanya diam.


"Baik. Laporkan terus semua apa yang dia kerjakan. Sekarang kamu boleh kembali." ucap tegas sang Jendral.

__ADS_1


"Siap Jenderal."


Ternyata selama ini Papanya Kinan menyelidiki tentang Indra. Dia hanya tidak ingin sang anak mengenal orang yang salah. Dia tidak ingin kejadian saat bersama Niko itu terulang lagi.


.


Beberapa minggu pun berlalu, hingga tak terasa sudah hampir dua bulan Indra berada di Sumatera. Kerinduan yang mendalam pada sang pujaan hati, membuat Indra sesekali posesif dan curiga pada Kinan. Yang berujung dengan pertengkaran. Namun Indra sadar pertengkaran itu terjadi karena dia terlalu merindukan Kinan.


Hubungan yang baru saja terjalin antara mereka, harus di pisahkan oleh tugas dan tanggung jawab sebagai abdi negara. Namun jarak yang terpisah jauh itu malah membuat mereka makin erat. Dan berusaha menghargai masing masing. Saling percaya dan komunikasi, itulah kunci sebuah hubungan berjalan dengan baik.


Lokasi latihan gabungan itu berada di dataran tinggi. Indra disana bukan untuk mengikuti latihan juga, melainkan dia hanya sebagai ajudan sang Komandan.


Kebetulan tidak jauh dari tempat latihan, berjajar berbagai macam warung. Sepertinya tempat itu memang sering di jadikan untuk tempat latihan atau perkemahan anak sekolah. Jadi penjualnya pun musiman.


Di siang hari terlihat beberapa ajudan berkumpul di area warung itu. Indra pun mendekati salah satu warung. Disana sudah ada Aris dan Wahyu yang sedang meminum kopi dan menikmati pisang goreng yang masih hangat.


"Teh hangat satu ya Bu??" pinta Indra.


"Baik Om." jawab lembut si Ibu.


"Kayak anak kecil aja minum teh, Ndra." celetuk Wahyu.


"Dia dari dulu memang nggak suka kopi." sahut Aris.


Namun Indra tak memperdulikan teman temannya itu. Dia sedang asyik memainkan ponselnya, dan sesekali tersenyum.


Tak terlalu jauh dari sana terlihat seorang gadis sedang memperhatikan para ajudan yang sedang kumpul di warung itu.


"Ehh, ehh. Liat tuh. Ada cewek." celetuk Wahyu.


"Kenapa emangnya??" tanya Aris.


"Ke pedean banget." sahut Aris.


"Bu, Bu. Itu siapa??" tanya Wahyu pada si penjual.


"Ohh, itu anak saya Om." jawab si Ibu.


"Cantik juga ya Bu. Manis." puji Wahyu.


"Masih sekolah ya Bu??"


"Sudah nggak Om. Dia cuma lulusan SMA dan nggak nerusin kuliah karena nggak ada biaya." jelas si Ibu.


"Ohh." jawab singkat Wahyu.


"Kepo banget." celetuk Aris. "Mau kenalan??"


"Boleh juga idemu." sahut Wahyu.


"Aku tuh bukan ngasih ide, tapi cuma tanya. Dasar playboy." celetuk Aris.


Si Ibu pun memanggil sang anak.


"Nih ada yang mau kenalan." ucap si Ibu seakan mempromosikan anaknya.

__ADS_1


"Kenalin, namaku Wahyu." ucap Wahyu seraya mengulurkan tangannya.


Aris hanya menganggukkan kepalanya, namun Indra masih tetap fokus pada ponselnya tanpa memperdulikan si perempuan.


"Kalo Om ini namanya siapa??" si gadis menunjuk pada Indra.


Indra hanya diam. Dia sama sekali tak melihat si gadis.


"Ehh, Ndra. Di tanyain tuh." Wahyu menyenggol lengan Indra.


"Apaan sih??" kesal Indra. "Kalo kamu mau kenalan, kenalan aja sendiri. Ngapain tanya tanya tentang aku."


"Anak saya sepertinya tertarik sama Om. Dari awal datang kesini, dia selalu memperhatikan Om." jelas si Ibu penjual.


"Oh." jawab Indra cuek. "Tapi maaf Bu, saya sudah punya istri."


Sontak Wahyu dan Aris yang sedang menyeruput kopi pun tiba tiba menyemburkan kopinya. Dia terkejut dengan kata kata Indra barusan.


"Aku duluan ya??" pamit Indra pada teman temannya. Dia pun memberi selembar uang lima puluh ribu pada si ibu penjual.


"Nih untuk semuanya ya Bu, sama punya teman teman." ucap Indra sebelum beranjak.


"Loh, Ndra. Tehmu ini gimana??" tanya Wahyu.


"Ambil aja." jawab Indra seraya berlalu.


Di tempat itu Indra berusaha sekuat tenaga untuk menjaga hati. Karena bukan rahasia umum lagi, jika dimana pun tentara latihan pasti ada saja perempuan yang menggoda mereka. Dari yang masih gadis, janda, bahkan yang masih berstatus istri orang.


Bahkan beberapa hari yang lalu ada seorang gadis yang berani menggoda Indra dengan menampakkan tubuh seksinya dalam balutan baju yang ketat, namun Indra berusaha cuek dan tak memperdulikannya.


Seringkali gadis itu mengantarkan makanan dan minuman untuk Indra, padajal dia tidak memesan. Makanan dan minuman itu akhirnya dia kasihkan pada Aris dan Wahyu.


Itulah kenapa Indra jarang sekali pergi ke warung. Dia lebih banyak menitip makanan atau minuman pada teman temannya. Dia tidak ingin membuat skandal. Dan lagi pula, ada hati yang harus dia jaga.


Memang jika di lihat dari fisik, Indra itu sangat tampan. Badan yang tinggi dan gagah bak seorang Perwira. Di tambah dengan senyumannya yang manis, membuat hati semua wanita bisa meleleh.


"Ndra." tiba tiba sebuah suara menghentikan langkah kakinya.


"Siap, Komandan."


"Saya minta tolong dong, Ndra. Tolong carikan atribut yang seperti ini." ucap sang Komandan menunjukkan atribut yang menempel di bajunya.


"Nanti sore mau saya pakai. Saya bawa baju PDLnya, tapi lupa bawa atributnua. Sekalian tolong nanti carikan penjahit ya??" imbuh sang Komandan.


"Siap, saya cari dimana ya Komandan?? Saya tidak tahu jalan disini." jawab Indra bingung.


"Katanya sih di bawah sana ada yang jual atribut gitu. Jalan yang mau masuk ke tempat latihan ini."


"Siap, yang pertigaan jauh itu Komandan???" tanya Indra kaget.


"Iya. Disana katanya sih ada." ucap sang Komandan.


Wihh, itu mah jauh banget. Gumam Indra.


"Ohh, Siap. Baik Komandan, saya akan cari."

__ADS_1


Indra pun bergegas naik ke mobil dinasnya.


Apa nggak ada yang kurang jauh lagi ya?? Mana nggak paham tempat ini lagi. Pikir Indra.


__ADS_2