
Waktu terus bergulir, tak terasa sudah tiga bulan setelah sang suami berangkat ke tempat pendidikan. Kinan pun beraktifitas seperti biasa.
Pagi itu saat Kinan baru sampai di parkiran rumah sakit, tiba tiba muncullah seorang wanita cantik yang hendak menghampirinya. Perempuan cantik dan seksi itu pun langsung menampar pipi Kinan.
"Apa apaan ini??" ucap Kinan tersentak.
"Ohh, jadi kamu ya cewek gatel itu."
"Maksudnya?? Anda ini siapa??" Kinan heran.
"Kenalin, namaku Novi." ucap si perempuan dengan nada sombong.
"Novi?? Novi siapa??" Kinan merasa tak mengenal perempuan yang ada di hadapannya itu.
"Iya, kamu memang pastinya tidak akan mengenalku. Tapi Mas Indra, dia sangat mengenalku." ucap Novi seraya memainkan rambutnya.
"Mas Indra??" Kinan terkejut saat wanita itu menyebut nama suaminya.
"Iya, Mas Indra. Kamu, berani beraninya cewek kayak kamu ini ngerebut Mas Indra dari aku."
"Ehh, kalo ngomong jangan asal ya. Mas Indra itu nggak punya pacar."
"Hallaah, mau maunya di bego begoin. Dan kamu langsung percaya gitu?? Dasar cewek bego."
"Ehh, jaga mulutmu itu ya??" sentak Kinan.
"Hahh?? Dasar cewek murahan."
"Jaga mulutmu?!!!" bentak Kinan.
"Kalo bukan murahan, terus apa namanya?? Di saat kamu sudah punya tunangan, ehh kamu malah kabur sama cowok orang." celetuk Kinan.
"Denger ya?? Kamu itu nggak tau apa apa tentang kami, jadi nggak usah sok tahu tentang semuanya." ucap Kinan yang hendak berlalu.
"Kamu boleh saja menghindar dan nggak percaya tentang aku dan Mas Indra. Tapi yang jelas hubungan kami sangat dekat. Bahkan Mas Indra paham betul setiap inch tubuhku." ucapan Novi yang membuat Kinan menghentikan lengkahnya.
Sejenak Kinan mengambil nafas dalam dalam. Dia berusaha mengatur ulang nafas dan pikirannya yang sempat kacau saat mendengar pengakuan dari perempuan itu.
"Terus kenapa?? Toh itu semua masa lalu kalian. Yang kita lihat itu sekarang masa depan." Kinan berusaha berfikir positif.
"Ohh, tidak sayang. Kamu salah. Itu bukan hanya masa lalu, tapi juga masa sekarang."
"Maksudmu??"
"Kamu tahu, beberapa bulan yang lalu kami sempat menghabiskan malam panas bersama. Dan tanpa sengaja malam itu ada benih yang tertanam disini." perempuan ****** itu mengusap perutnya yang nampak masih datar.
"Nggak. Itu nggak mungkin. Mas Indra sekarang lagi pendidikan, dia nggak mungkin bisa keluar."
"Siapa bilang nggak bisa keluar?? Asal kamu tahu saja, setiap bulan pasti akan ada hari liburnya. Jangan terlalu polos deh jadi cewek." sahut Novi dengan bangganya.
Seakan akan dia tahu semuanya tentang aktifitas Indra, lebih dari yang Kinan tahu.
"Dan gara gara wanita ****** sepertimu, aku harus kehilangan bayi kami." bentak Novi. Dia pun melempar selembar hasil USG ke wajah Kinan.
"Ma..mak...maksudnya apa ini??"
"Mas Indra tidak mau bertanggung jawab, dia bilang dia akan segera menikah. Mas Indra menyuruhku untuk menggugurkannya, ini semua gara gara kamu. Dasar wanita ******!!!" teriak Novi seraya menangis.
Sejenak mata Kinan berkaca kaca. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar tentang suaminya.
"Kalian tidak tahu bagaimana susahnya menjadi aku. Aku harus bersusah payah menggugurkan bayi ini. Sampai sampai aku harus mengalami pendarahan hebat yang dapat mengancam nyawaku. Ini semua gara gara kehadiranmu. Bahkan Mas Indra pun sama sekali tak pernah menghubungiku lagi. Gara gara kamu dasar ******!!!"
Kinan tak bisa berkata apa apa lagi. Dia bingung harus merespon seperti apa. Antara percaya dan tidak, bercampur jadi satu.
"Andaikan kamu nggak ada, andaikan Mas Indra tidak pernah menjadi sopirmu. Pasti kami sekarang sudah bahagia bersama anak kami. Semua ini gara gara kamu!!!" bentaknya lagi.
"Aku...aku....."
__ADS_1
"Nggak usah ngomong apa apa lagi. Aku mau dia bertanggung jawab. Jika tidak, aku akan laporkan dia ke Batalyon. Dan yang jelas kamu tahu sendiri kan apa akibatnya, karir Mas Indra akan macet. Dia akan di beri hukuman, bahkan sampai penundaan pangkat." ancam Novi.
Sepeninggal Novi, tubuh Kinan terkulai lemas. Tak sadar dia meringkuh di tempat parkiran.
Apa yang sekarang harus aku lakukan?? Apakah aku harus mempercayai wanita yang tak pernah kukenal sebelumnya?? Atau aku harus lebih percaya pada suamiku??
Apa benar Mas Indra membohongiku selama ini?? Ya Allah, bagaimana ini??
Kinan sangat terpukul mendengar kabar itu. Namun dalam hati kecilnya dia tak ingin terlalu mempercayai kata kata itu.
Setelah kehadiran wanita itu, Kinan seakan tak bersemangat mengangkat telpon dari Indra. Bahkan Indra sampai berkali kali menghubunginya, namun dia sama sekali tak menggubris. Kinan berusaha menata kembali hatinya yang sedang kacau.
Saat malam harinya, dia pun akhirnya mengangkat telpon dari sang suami.
[Assalamuallaikum.] ucap Kinan lesu.
[Iya. Waallaikumsalam sayang.] jawab Indra bahagia. [Lagi sibuk ya?? Dari tadi pagi Mas telpon kok nggak di angkat.]
[Iya Mas. Maaf. Adek tadi lagi sibuk.]
[Ohh gitu, ya udah nggak apa apa kalo gitu. Sekarang Adek lagi di rumah kan??]
[Iya.] jawab Kinan dingin.
[Adek lagi ngapain?? Sudah makan??]
[Sudah Mas.] suara Kinan tak bersemangat.
[Dek, Mas kangen.] ucap Indra dari ujung telpon.
Namun tak ada jawaban dari Kinan. Mulutnya seakan berat untuk mengeluarkan kata kata bahwa dia juga merindukan sang suami.
[Mas pengen cepet ketemu Adek. Mas kangen, sayang. Pengen banget bisa meluk Adek. Megang tangannya Adek biar kita nggak terpisah lagi.] Indra berharap.
Kinan hanya bisa menangis dalam diam. Mulutnya terkunci rapat oleh tangannya. Tubuhnya bergetar saat mendengar kata kata sang suami. Air matanya mengalir deras dari pelupuk mata hingga membanjiri pipinya.
[Mas.] panggil Kinan.
[Iya, sayang.]
[Bisakah Adek mempercayai Mas??] tanya Kinan tanpa ragu.
[Kenapa tanya seperti itu?? Adek ada masalah??]
[Ngg...nggak Mas. Nggak ada apa apa, Adek cuma pengen tahu aja.] ucap Kinan yang berusaha keras menahan tangisannya.
Indra merasa aneh dengan suara sang istri, namun dia tidak ingin memaksanya untuk bercerita.
[Kalo memang ada masalah, Adek cerita aja sama Mas. Mas pasti akan jadi pendengar yang baik.] ucap Indra.
[Dan kalo masalah itu menyangkut dengan Mas, Mas pasti akan selalu jujur sama Adek. Karena Mas ingin jadi suami yang terbaik buat Adek.] imbuhnya yang ingin menenangkan sang istri.
Dia paham saat itu sang istri sedang menangis, tapi posisinya sekarang sangat tak bisa berkutik. Seandainya dia tidak di tempat pendidikan, dia pasti akan langsung berlari memeluk sang istri agar tak menangis lagi.
[Sayang.] panggil Indra. [Mas sayang sama Adek. Sangat.] ucap Indra.
Kinan pun membalas ucapan Indra dengan segera menutup telponnya. Dia tak sanggup terus menerus mendengar sang suami berkata manis seperti itu. Hatinya sakit, tapi tak bisa di pungkiri hatinya juga memiliki perasaan yang sama dengan Indra.
Keesokan harinya saat di rumah sakit.
"Ceilehhh, yang di tinggal pendidikan sampe ngelamun kayak gitu." sindir Ana.
"Kesepian ya Neng karena nggak ada Om loreng yang belai." imbuh Ana.
"Apaan sih??" sungut Kinan.
"Jangan ngelamun aja. Udah siang nih, laper. Yukk ke kantin." ajak Ana.
__ADS_1
"Nggak deh An, aku lagi nggak nafsu makan. Kamu sendirian aja ya??"
"Ye elahh Dok. Malu lah kalo mau ke kantin sendiri, ntar kalo aku di culik gimana?? Sekarang kan lagi marak tuh kasus penculikan."
"Yang di culik tuh anak kecil yang masih polos, bukan cewek genit kayak kamu." tiba tiba sebuah suara muncul.
"Ihh, syirik aja kamu Ratna."
"Lagian mana ada yang mau nyulik cewek genit kayak kamu." imbuh Ratna.
"Ratna?!!" Ana kesal.
"Udah gih sana buruan ke MNE, ada pasien tuh." ucap Ratna. Ana pun segera menuju ruang MNE. Meninggalkan Ratna dan Kinan berdua.
"Dokter??" panggil Ratna.
"Hemm." jawab Kinan dengan wajah datar.
"Dokter lagi ada masalah ya??" tanya Ratna.
Namun Kinan hanya terdiam.
"Maaf sebelumnya kalo aku lancang. Kemarin saat di parkiran, aku sempat mendengar pertengkaranmu dengan wanita itu." ucap Ratna membuka pembicaraan.
Sontak yang tadinya Kinan bersandar, tiba tiba dia langsung terduduk sambil memandangi Ratna.
"Nggak usah kuatir, aku nggak bakal cerita ke siapa siapa kok Dokter." ucap Ratna menenangkan Kinan.
Mendengar hal itu, Kinan pun bernafas lega.
"Kalo boleh ngasih saran sih ya, sebaiknya Dokter tanya langsung dulu aja ke Mas Indra."
"Tapi aku nggak berani ngomongnya. Aku takut."
"Apa yang Dokter takutkan?? Dokter kan cuma mau memperjelas semuanya. Apa yang di katakan perempuan itu benar atau tidak."
"Kalo benar bagaimana??" tanya Kinan yang kuatir.
"Ya udah kalo gitu semua terserah Dokter, tetap mau menjalin hubungan atau putus." ucap Ratna.
Bagaimana bisa putus, jika kenyataannya kami sudah menikah. Pikir Kinan.
Melihat Kinan yang terdiam, Ratna pun memutar otak untuk membantu temannya itu.
"Ya udah gini aja. Kemarin kan dia bilang sempat mengalami pendarahan karena menggugurkan bayi itu, gimana kalo kita lacak rumah sakit tempat dia di rawat. Apa benar kalo dia memang keguguran, atau dia hanya pura pura??" saran Ratna.
"Iya, itu ide bagus." Kinan menyetujui.
Ratna pun segera menelpon ke rumah sakit tempat Novi di rawat, mereka melacak rumah sakit itu dari hasil USG yang Novi lempar Untungnya jaringan pertemanan Ratna luas, jadi banyak teman temannya yang membantu memberikan info.
[Iya benar. Atas nama Novi. Apa dia memang datang kesana??"] tanya Ratna antusias pada temannya di telpon.
[Ohh gitu. Terus apa memang benar dia datang karena keguguran??] tanya Ratna menginterogasi.
Kinan yang berada di samping Ratna, hanya bisa mendengar dengan harap harap cemas.
[Ohh..., ya udah kalo gitu. Terima kasih.] Ratna menutup telponnya dengan nada lemas.
"Gimana, gimana?? Apa kata temanmu tadi?? Apa dia datang kesana?? Dia nggak beneran keguguran kan??" tanya Kinan yang tak sabar.
"Dokter. Dia.., dia memang pergi ke rumah sakit itu." ucap Ratna dengan nada yang berat.
Kinan pun menunggu kata kata selanjutnya yang akan Ratna ucapkan.
"Dia..., dia, dia memang datang kesana karena pendarahan hebat akibat kegugurannya."
Sontak harapan yang ada di wajah Kinan tiba tiba sirnah. Dia pun langsung terduduk lemas mendengar kata kata Ratna itu. Air matanya tak bisa terbendung lagi. Ratna yang melihat itu langsung memeluk Kinan erat, membenamkan kepalanya pada pundak Ratna. Saat itu mulut Kinan benar benar tak bisa berkata apa apa. Dia hanya bisa menangis menahan luka yang saat itu seakan menusuk jantungnya.
__ADS_1