
Mereka pun beranjak pergi menuju kamar masing masing. Kamar Kinan ada di sebelah kamar Indra.
"Nanti jam 3 sore aku udah mulai acara, kalo Mas mau keluar jalan jalan nggak apa apa." ucap Kinan saat akan membuka pintu kamarnya.
"Nggak, saya disini saja. Mau istirahat." jawab Indra yang berada di seberang kamar Kinan.
"Ya udah kalo gitu."
Kinan pun masuk ke dalam kamar itu. Aroma khas kamar hotel itu langsung menyengat ke hidung. Sebuah single bed berukuran king size yang langsung menghadap ke arah televisi, dan sebuah lemari yang tertata rapi disana. Kamar yang cukup luas dengan balkon di sisi samping tempat tidur.
Kinan membuka pintu balkon itu. Pemandangan Kota Semarang terlihat jelas dari atas balkon itu. Setelah puas memandangi seluruh penjuru kota, Kinan pun meluangkan waktu untuk beristirahat sebentar dan menunaikan sholat.
Saat jam menunjuk pukul 3 sore. Setelah Sholat Ashar, Kinan pun bersiap untuk mengikuti acara seminar yang di adakan di Hall. Baju batik bernuansa biru dan celana hitam menutupi tubuh Kinan. Dan tak lupa sebuah tas ransel kecil menghiasi punggung Kinan. Dia pun siap menuju ruang pertemuan yang ada di lantai 1.
Sesampainya di dalam Hall. Tak ada satu pun orang yang Kinan kenal. Dia hanya berusaha ramah dengan menyapa peserta dari rumah sakit lain. Sebenarnya Kinan agak canggung. Ini adalah pertemuan Kinan yang pertama kali bersama para dokter senior. Dia pun berusaha berbaur disana.
Beberapa jam pun berlalu. Tepat pukul 5 sore, Kinan keluar dari Hall. Saat akan menuju kamar, tiba tiba seseorang menarik tangannya.
"Kinan." ucap orang itu.
"Niko." ucap Kinan terkejut. Dia tidak menyangka jika Niko benar benar menghampirinya sampai ke Semarang. "Ngapain kamu disini??"
"Emang aku nggak boleh main main kesini??"
"Ya ngapain juga kamu kesini?? Kamu lagi nggak ada kerjaan ya??" sindir Kinan. "Atau jangan jangan kamu kabur??"
"Enak aja." sahut Niko. "Aku kesini emang pengen nyamperin kamu."
Tatapan Kinan sinis. Dia memicingkan matanya. Dia tidak akan percaya pada kata kata cowok playboy yang ada di depannya itu.
"Kenapa ngeliatnya kayak gitu?? Ganteng ya aku??" ucap Niko pede.
Mendengar ke pedean Niko itu, Kinan merasa jengah. Terlihat dia menghela napas kasar dan hendak berlalu. Namun saat akan beranjak, Niko kembali menarik tangan Kinan.
"Ehh, tunggu dulu." cegat Niko.
"Apa lagi sih??" Kinan kesal.
"Aku pengen jalan jalan nih. Temenin aku yukk." ajak Niko.
"Jalan kemana??"
"Ya jalan kemana gitu kek. Wisata kuliner mungkin."
"Emang kamu tau jalan disini??"
"Pasti tau lah." ucap Niko pede. "Kan ada ini." Niko mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan aplikasi mbah G**gle.
"Ya elah, kirain beneran tau jalan. Ternyata sama aja buta jalan." celetuk Kinan.
Niko pun tersenyum.
"Kalo gitu ayo kita berangkat sekarang." Nik9 menarik tangan Kinan.
__ADS_1
"Ehh tunggu dulu. Aku mau ganti baju dulu lah." sahut Kinan.
"Jangan lama lama." protes Niko.
"Iya. Bawel."
Saat akan beranjak, Niko kembali menarik tangan Kinan.
"'Apa lagi??"
"Aku ikut deh." ucap Niko.
"Ikut kemana??" tanya Kinan heran.
"Ikut ke kamarmu."
"Ngapain?!!!" tanya Kinan dengan nada yang sedikit tinggi.
"Biasa aja kalo ngomongnya. Gak usah ngegas gitu." celetuk Niko.
"Lagian kamu ngapain mau ikut ke kamarku?? Kamu mau macem macem ya??" Kinan mulai curiga.
"Dari dulu tetap aja gak berubah. Masih aja negatif thinking mulu." jelas Niko. "Aku tuh cuma mau nemenin kamu sampai depan kamar aja, biar gak lelet. Kamu itu kebiasaan, kalo gak di teriakkin bolak balik pasti bakal lelet."
"Heheheh. Maaf maaf mas Bro." canda Kinan.
Mereka pun berjalan bersama memasuki lift dan kemudian menuju ke kamar Kinan. Sesuai kata katanya, Niko menunggu di depan kamar Kinan.
"Iya." jawab Niko singkat.
"Awas. Jangan ngintip, jangan macem macem."
"Nggak macem macem kok, cuma satu macem aja biar langsung di kawinin." canda Niko.
"Ngayal!!! Enak di kamu, nggak enak di aku." gurau Kinan.
Mereka memang sudah berteman sejak lama. Jadi segala celetukan yang terdengar pedas sudah biasa di telinga mereka.
Saat Kinan akan masuk ke dalam kamar, tiba tiba saja pintu kamar Indra terbuka. Mereka berdua pun saling menatap Indra. Indra yang melihat pemandangan itu pun juga tak kalah terkejut.
Ngapain dia sampai nyusul kesini? Pikir Indra.
"Mas Indra mau keluar??" tanya Kinan.
"Ohh. Nggak. Tadi saya dengar pintu kamarnya Adek terbuka, makanya saya langsung keluar." ucap Indra yang sengaja menekankan kata 'Adek' untuk menyinggung Niko. Niko yang mendengar itu pun terkejut.
"Adek?!!! Sejak kapan......"
"Ohh, kirain mau keluar." Kinan sengaja memotong kata kata Niko agar tidak berkepanjangan.
"Adek sendiri mau keluar??"
"Iya. Dia mau keluar sama aku, kenapa?!!" ucap Niko sinis.
__ADS_1
"Siap." jawab Indra yang masih menghargai Niko sebagai seorang perwira.
"Aku ganti baju dulu ya." pamit Kinan. Dia pun masuk ke dalam kamar, meninggalkan dua orang lelaki itu di depan lorong kamarnya.
"Aku tau sebenarnya kamu suka kan sama Kinan??" Niko menebak. Namun tebakannya memang benar adanya.
Indra hanya bisa terdiam, tak menjawab.
Bagaimana dia bisa tahu? Padahal kita baru bertemu dua kali ini saja.
Karena suasana agak tidak kondusif, Indra pun berbalik hendak pergi. Namun saat baru melangkahkan kakinya.
"Jangan bermimpi untuk dekat sama Kinan." ucap Niko dengan nada sedikit mengancam. "Kamu bukan levelnya."
Mendengar kata kata itu, hati Indra terasa sakit. Namun dia tak berani menjawab, dia terus saja melangkah menjauh dari kamar Kinan.
Tak lama berselang Kinan pun keluar dari kamar. Mengenakan sebuah sweater berwarna mocca dan celana jeans kulot. Tak lupa hijab yang senada dengan warna sweaternya.
"Lohh, mas Indra kemana??" tanya Kinan heran.
"Nggak tau. Mau cari makan kali."
Niko berusaha bersikap biasa saja. Namun Kinan paham situasi yang terjadi, dia pun melayangkan tatapan tajam pada Niko.
"Kok gitu sih ngeliatinnya?? Aku beneran nggak ngapa ngapain dia kok." jawab Niko.
"Udah ahh kita jalan sekarang. Laper banget nih." Niko mengalihkan pembicaraan dan langsung menarik tangan Kinan menuju parkiran hotel.
Mereka menuju sebuah mobil berwarna hitam dan kelihatan gagah. Niko membukakan pintu mobil untuk Kinan. Kinan yang melihat sikap Niko itu jadi merasa aneh.
"Tumben banget." celetuk Kinan.
"Seorang perempuan memang harus di istimewakan." jawab Niko sembari tersenyum.
Kinan pun hanya tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil. Duduk di samping kemudi.
"Kamu nyopir sendiri kesini?" tanya Kinan heran saat melihat Niko duduk di bangku kemudi.
"Terus mau sama siapa lagi??"
"Ya sopirlah."
"Aku nggak punya sopir. Lagian ngapain pake sopir. Aku sendiri juga bisa nyetir." jelas Niko.
"Ya bukannya gitu. Cuma kan sopir itu bisa di pakai saat kita perjalanan jauh, seperti sekarang ini."
"Nggak usah, nggak perlu. Masa mau ngajak sopir di saat mau kencan sih??" canda Niko.
"Siapa yang mau kencan??"
"Tuh nenek nenek yang lagi kencan." gurau Niko.
"Hahahahahahhaa." Kinan tertawa lepas.
__ADS_1