
Sore harinya. Terlihat Kinan, Indra dan keluarga besarnya sudah tiba di sebuah rumah bernuansa hijau mint itu.
"Rumahnya kelihatan asri ya??" puji Ibu.
"Iya, Bu." sahut Bapak.
"Ayo kita lihat ke dalam." ajak Kinan.
Mereka pun masuk ke dalan rumah itu, di ikuti oleh orang tua Kinan.
Semua orang bersemangat melihat ligat seisi rumah. Meski ada beberapa perabotan yang belum terpenuhi, namun mereka sangat bangga karena di umur yang masih muda mereka sudah bisa memiliki sebuah hunian.
"Sepertinya di sini harus ada kompor listrik." ucap Mama.
"Nggak perlu Ma, kami sudah punya kompor gas kok." tolak Kinan.
"Disini juga sepertinya harus di tempatkan home theatre biar bisa di buat nonton." sahut Ibu.
"Nggak perlu Bu, kami sudah punya televisi dan perangkat soundnya. Itu sudah cukup." jawab Indra.
"Tapi ini televisinya kayak kurang besar deh." ucap Bapak.
"Tidak Pak. 42 inch ini sudah cukup besar untuk kami yang hanya berdua." sahut Indra.
Namanya juga orang tua, mereka ingin yang terbaik untuk anaknya. Beberapa barang tak luput dari komentar mereka, namun Kinan dan Indra hanya membalas dengan tersenyum. Karena prinsip mereka tidak ingin merepotkan orang tua, mereka ingin berusaha dengan jerih payah mereka sendiri.
Setelah puas berkeliling rumah pengantin baru, mereka pun menyempatkan untuk makan di tempat makan lesehan yang cukup terkenal di Kota Malang.
Suasananya sangat asri. Ada kolam pancing di area tersebut. Mereka pun makan bersama dengan lahap.
"Besok kamu sudah pulang ya??" tanya Papa.
"Iya, besok aku pulang." jawab Bapak.
"Jam berapa pesawatnya??"
"Kalo pesawatnya sih sekitar jam sebelas siang, tapi tetap besok pagi kita berangkat ke bandara."
"Besok biar aku dan istriku yang ngantar. Sekalian kami juga ada urusan di Surabaya. Kinan dan Indra, kalian di rumah saja. Bukannya kalian akan segera pindah ke rumah baru??" jelas Papa.
"Tapi besok Kinan mau ngantar Ibu dan Bapak juga, Pa." tolak Kinan.
"Nggak usah, kamu di rumah aja. Toh sudah ada kami yang ngantar." Imbuh Papa.
"Iya, Nak. Lagian kalian kan mau segera pindah rumah, jadi banyak yang harus di persiapkan." imbuh Ibu.
"Harus di hemat tenaganya." goda Bapak.
Mendengar kata kata Bapak itu, Kinan hanya bisa terdiam. Dia paham betul maksud dari Bapak mertuanya itu. Lain dengan Indra, dia hanya tersenyum licik sembari memandangi sang istri. Seakan ada maksud terselubung dari tatapannya itu.
Saat perjalanan pulang.
__ADS_1
"Dek, besok kita jadi kan pindah rumahnya??" tanya Indra.
"Iya Mas, jadi."
"Adek besok sudah mulai masuk kerja??"
"Nggak Mas. Besok lusa baru Adek masuk kerja."
"Ohh, sama berarti. Mas juga baru besok lusa masuk kerjanya. Ya udah kalo gitu besok kita siap siapin semua barang yang mau di bawa. Apa perlu nyewa mobil pick up juga??"
"Nggak usah, Mas. Kita kan nggak bawa barang barang berat. Palingan cuma baju baju aja. Barang barang beratnya kan sudah langsung kita taruh di rumah."
"Iya juga sih."
"Lagian baju baju yang di bawa juga nggak perlu langsung semuanya di bawa. Bisa kita ambil lagi kapan kapan." imbuh Kinan.
"Iya, iya sayang." jawab Indra tersenyum.
Sesampainya di rumah, terlihat Ibu dan Bapak sedang membereskan semua barang barang yang akan di bawa. Kinan pun membantu mengemas barang barang sang mertua. Bahkan Kinan juga sudah menyiapkan beberapa oleh oleh untuk mertuanya itu.
"Nggak usah ngasih oleh oleh juga nggak apa apa, Nak." ucap Ibu.
"Nggak apa apa kok Bu. Lagian ini oleh olehnya juga nggak seberapa. Untuk keluarga disana."
"Repot repot aja nih menantunya Bapak."
"Nggak kok, Pak." jawab Kinan tersenyum.
Malam hari saat hendak tidur. Terlihat Kinan membereskan tempat tidurnya. Dengan nakalnya, Indra memeluk dan menciumi leher sang istri.
"Mas, tunggu dulu. Adek mau beresin tempat tidurnya."
"Nggak usah di beresin, sayang. Nanti juga berantakan lagi." goda Indra.
"Nggak ahh, Adek mau tidur. Besok masih harus beres beres buat pindahan."
"Nggak apa apa, beres beresnya masih bisa di tunda. Tapi amanah orang tua nggak bisa di tunda."
"Amanah apa maksudnya, Mas??"
"Amanah untuk punya cucu." jawab Indra seraya tersenyum.
"Ihh, Mas ini." Kinan membelai lembut pipi sang suami.
"Hari ini kita istirahat aja dulu. Seperti yang Adek bilang, kalo ingin cepat jadi nggak boleh terlalu sering berhubungannya Mas." balas Kinan.
"Ya udah kalo gitu Mas ganti kata katanya deh. Mas pengen, Dek." ucap Indra manja. "Nggak apa apa deh punya cucunya nanti aja, yang penting menjalankan kewajiban aja dulu."
Mendengar jawaban itu, Kinan pun tersenyum.
Bilang aja emang pengen main. Gumam Kinan.
__ADS_1
"Tapi ini di rumah orang tua loh, Mas. Nggak ada kedap suaranya lagi. Nggak enak kalo di dengar orang."
"Ya udah kalo gitu Adek harus berusaha nggak bersuara." goda Indra.
Seketika Indra pun langsung melancarkan aksinya. Dia menyentuh bagian bagian sensitif pada tubuh Kinan. Menjatuhkan tubuh sang istri ke tempat tidur, dan melucutinya.
Kinan dengan sekuat tenaga menahan suaranya. Gerakan gerakan eksotis Indra membuatnya tak bisa berkata apa apa, dia hanya bisa menikmati permainan sang suami yang membuatnya semakin candu.
Bahkan kini Kinan juga bisa mengambil alih permainan. Gerakan lembut yang Kinan berikan, membuat Indra semakin tak bisa menahan hasratnya. Mereka berdua pun terbuai dalam alunan gerakan yang semakin liar.
.
Keesokan shubuhnya, seperti biasa Indra terbangun duluan. Melihat wajah Kina yang kelelahan dan tertidur pulas, membuat Indra sadar jika semalam dia sudah menguras semua tenaga sang istri.
Kegiatan panas yang semalam mereka lakukan, seakan tidak cukup bagi Indra. Tubuh sang istri, membuatnya semakin dan semakin ketagihan. Namun tetap saja, dia tak ingin membuat Kinan sakit.
"Dek, bangun yukk. Kita mandi terus sholat Shubuh dulu sayang." ucap Indra membangunkan sang istri.
Kinan pun perlahan membuka matanya. Mereka bangun dan mandi bersama. Untungnya saat itu Indra bisa mengendalikan dirinya, jadi tak ada hal lain yang terjadi saat prosesi mandi bersama.
Setelah sholat berjamaah.
"Hoamm?!!"
"Adek masih ngantuk??" tanya Indra saat melihat sang istri yang bolak balik menguap.
Kinan hanya mengangguk.
"Ya udah Adek tidur lagi gih." suruh Indra.
"Eitss, Mas mau ngapain??" tanya Kinan waspada. Dengan sigap dia langsung menutupi tubuhnya.
"Gitu amat sama suami sendiri." celetuk Indra.
"Lagian, semalam kan sudah berkali kali. Masa pagi juga mau sih??"
"Namanya juga pengantin baru, Dek."
"Nggak ahh, Adek capek mandi terus." Kinan ngeles.
"Nanti Mas deh yang mandiin." goda Indra.
"Mas, Adek ngantuk." ucap Kinan dengan wajah memelasnya.
Melihat wajah sang istri, Indra pun mengalah.
"Hahh?? Ya udah deh, istirahat dulu kalo gitu." ucap Indra.
Kinan pun tersenyum mendengar jawaban sang suami.
"Suamiku baik deh." puji Kinan seraya memeluk dan mencium pipi Indra.
__ADS_1