
Andaikan aja udah nikah kantor, mungkin udah aku tarik masuk ke kamar Dek. Pikir Indra.
Namun tiba tiba dia menggelengkan kepalanya.
Apaan sih pikiranku ini?? Dasar mesum. Sabar Ndra, sabar. Belum waktunya. Indra memukul mukul kepalanya.
"Ekhem." Indra berdehem.
Suaranya itu sontak membuat Kinan panik. Dia buru buru mencari kain untuk menutupi kepalanya.
"Ngapain panik kayak gitu??" senyum Indra.
"Ehmm, itu..."
"Adek kan udah jadi istrinya Mas, jadi nggak apa apa kan Mas lihat Adek tanpa hijab."
"Ii...iya Mas." Kinan canggung.
Rambutnya yang masih basah terurai menuruni pundaknya. Pikiran Indra pun sejenak teralihkan lagi, namun dengan cepat akalnya bekerja untuk kembali normal.
"Adek lagi masak ya??"
"Iya Mas."
"Lagi masak apa?? Baunya enak banget." puji Indra.
"Cuma masak nasi goreng aja kok Mas." jawab Kinan melanjutkan acara masaknya.
"Nasi gorengnya buat Mas kan??"
"Terus mau buat siapa lagi?? Suaminya Adek kan cuma Mas." canda Kinan. "Kalo semisal Adek punya pria idaman lain, ya mungkin bisa jadi."
Kata kata gurauan itu sontak membuat Indra cemburu. Perlahan dia mendekati Kinan, dan memeluknya dari belakang. Kinan yang terkejut, langsung mematikan kompor dan membalikkan badannya.
"Ma..Mas." Kinan berusaha memberi jarak pada mereka dengan tangannya.
"Emang Adek ada niat punya cowok idaman lain??"
"Ngg...nggak Mas. Adek kan cuma bercanda."
Jarak mereka yang semakin dekat membuat Kinan makin gugup.
"Ki..kita...kita makan dulu ya Mas?? Ehmm, Adek...Adek udah buatkan teh hangat juga." Kinan berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Saat Kinan berusaha menghindar, tiba tiba Indra mengurung tubuh istrinya itu dengan tangannya yang kekar. Dia memperhatikan setiap lekuk wajah sang istri. Bibir merah mudah yang ranum membuat desiran panas mengalir di tubuh Indra. Rasa ingin memiliki bibir itu semakin kuat saat dia sadar jika yang di depannya itu adalah istrinya, istri sah yang memang dialah sang pemiliknya.
__ADS_1
Pelukan Indra semakin erat, membuat degup jantung Kinan semakin cepat. Indra pun meraba lembut wajah Kinan. Menjelajahi setiap sudut bibir Kinan.
"M..Mm...Mas??" Kinan semakin gugup. Nafasnya tak bisa membohongi jika saat itu dia sangat gugup.
"Dek, Mas boleh minta ini??" tanya Indra menyentuh lembut bibir Kinan.
"Ehmm..., itu..., itu..."
Kinan sangat gugup. Hanya untuk mengatakan 'Tidak' saja sangat sulit keluar dari mulutnya. Dia sadar yang meminta adalah suaminya sendiri.
"Boleh??" tanya Indra kembali sambil memandangi mata Kinan dengan penuh arti.
Tanpa menunggu persetujuan dari Kinan, Indra perlahan mendekatkan bibirnya. Indra mengikis jarak antara kedua bibir. Dan sebuah daging lembut menempel pada bibir Kinan.
Kinan yang tak pernah merasakan hal itu, hanya bisa pasrah mengikuti permainan Indra. Dengan lembut Indra menyesap dan ******* bibir Kinan. Bibir sang istri yang manis, membuat Indra makin dalam menyesapnya.
Merasa jika sang istri menahan nafas, Indra pun sejenak melepas ciuman itu. Dia memandangi sang istri dalam dalam.
"Bernafaslah seperti biasa saja, sayang." ucap Indra.
"Adek..., Adek belum terbiasa Mas."
"Lama kelamaan juga pasti terbiasa." ucap Indra lembut.
Indra pun melanjutkan aksi menyesap bibir sang istri. Kali ini terlihat Kinan sudah bisa mengimbangi permainan Indra. Meski matanya terpejam, namun dia bisa merasakan jika pria di depannya itu sangat mencintainya. Permainan bibir yang panas itu membuat Kinan larut di dalamnya.
Sentuhan bibir Indra di leher Kinan, membuat Kinan makin tak berdaya. Indra menyusuri setiap jengkal leher Kinan.
"Mas??" panggil Kinan yang ingin menghentikan aksi Indra.
"Mas sepertinya udah nggak bisa menahannya lagi Dek." ucap Indra pasrah.Tatapan matanya yang sendu seakan meminta sedikit harapan pada Kinan.
Memang tak bisa di pungkiri, beberapa hari ini Indra memang harus selalu berusaha kuat agar tidak kebablasan. Tapi entah setan apa yang saat itu merasuki Indra, pertahanannya bisa dengan mudah di bobol.
Saat bibir Indra hendak melanjutkan aksinya untuk menyusuri leher Kinan, tiba tiba saja.
"Mbak Kinan??" panggil seseorang dari dalam rumah.
Sontak Kinan pun langsung turun dari meja dan merapikan pakaiannya. Terlihat Indra masih terdiam dengan posisi yang sama. Dia menghela napas kasar.
"Iy...iya Bi. Aku di dapur." jawab Kinan. Ada sedikit perasaan lega dari hatinya.
"Ehh, Mbak Kinan. Bibi pamit pulang dulu ya Mbak." pamit si Bibi.
"Loh, Bibi kok pulang??" tanya Kinan.
__ADS_1
"Selama ini Bibi kan memang tidak pernah menginap Mbak. Jika sudah malam, Bibi pasti pulang. Besok pagi baru kesini lagi." jelas Bibi.
"Tapi, tapi kan Nenek belum pulang Bi."
"Tapi kan masih ada Mbak Kinan." ucap Bibi dengan senyum nakal.
Dia paham jika Kinan butuh waktu berdua dengan sang suami, itulah kenapa si Bibi tak ingin mengganggu mereka.
"Ya udah kalo gitu Bibi pamit pulang dulu ya Mbak. Assalamuallaikum."
"Wa...waallaikumsalam." jawab Kinan terpaksa.
Waduhh, mampus deh. Berduaan lagi sama Mas Indra. Gumam Kinan.
"Ehhm, Mas. Kita, kita makan dulu ya??" ajak Kinan sambil mengusap pundak sang suami yang saat itu masih membelakanginya.
Namun saat Kinan hendak mengambil piring di rak atas, tiba tiba saja tangan Indra memeluknya dari belakang. Dia meraih pinggang sang istri.
"Sayang??" panggil Indra lembut.
"Mas, makan dulu ya?? Nanti nasi gorengnya keburu dingin." Kinan berusaha mengalihkan.
"Tapi Mas masih kenyang. Tadi di acara resepsi kan sudah makan banyak."
"Tapi kan Adek sudah masak." Kinan ngeyel.
"Ya udah, ya udah Mas makan. Tapi makannya berdua ya??" ajak Indra.
Kinan menganggukkan kepalanya.
Saat Kinan hendak menuangkan nasi ke piring, tiba tiba saja Indra kembali memeluknya dan menaruh kepalanya di pundak Kinan.
"Dek, apa bisa yang tadi di lanjutkan??" ucap Indra lirih.
"Mas, makan dulu."
"Setelah makan??" tanya Indra berharap.
"Setelah makan, ya pulang." jawab Kinan santai.
"Jadi Mas di usir pulang nih."
Kinan pun tersenyum. Dia membelai lembut pipi Indra dari sisi samping.
"Makan dulu ya??" ucap Kinan tersenyum.
__ADS_1
Mereka pun makan bersama di ruang keluarga sambil menonton televisi. Kinan sesekali melihat keluar jendela, ternyata di luar sana hujan masih sangat deras.
Nggak tega juga kalo nyuruh dia pulang. Tapi kalo dia tetap berada disini, takutnya malah terjadi sesuatu. Dan bodohnya kenapa tadi aku malah ikut larut suasana sih?? Gumam Kinan yang mulai berfikir macam macam.