
Sesampainya di rumah Kinan.
"Nanti malam Mas antar ke tempat kerja ya??" tawar Indra.
"Nggak usah, Mas. Mas istirahat aja. Besok kan masih kerja. Lagian akhir akhir ini sering hujan, kasian Mas kalo sampe kehujanan."
"Ehm. Tapi Mas pengen memastikan kalo istrinya Mas ini sampe ke tempat tujuan dengan aman."
"In Shaa Allah aman kok, Mas. Kan ada Pak Rachmad yang nganter." ucap Kinan.
"Ehm, ya udah deh kalo gitu. Nanti kalo mau berangkat, Adek telpon Mas ya??"
"Iya Mas."
"Nanti kalo udah sampe rumah sakit juga harus telpon Mas." pinta Indra.
"Iya Mas."
"Nanti kalo semisal ada sesuatu yang mencurigakan atau masalah di jalan langsung telpon Mas."
"Iya Mas." jawab Kinan sambil tersenyum.
"Kok malah senyum sih?? Mas lagi ngomong serius nih."
"Abisnya, Mas ini lucu. Padahal udah biasa aku berangkat kerja, tapi seakan akan kayak baru pertama kali aja berangkat kerja." jelas Kinan menahan senyum.
"Ya kan statusnya beda. Jadi Mas sebagai suami punya tanggung jawab demi keselamatan ibu dari anak anaknya Mas ini." goda Indra.
"Ihh, apaan sih?? Genit tau."
"Nggak apa apa, toh genitnya sama istri sendiri." balas Indra.
"Ya udah kalo gitu Mas balik dulu ya Dek. Nanti hati hati berangkat kerjanya."
"Iya Mas." ucap Kinan tersenyum seraya melambaikan tangannya.
Sore hari saat Kinan sedang duduk santai di halaman belakang.
"Kinan." panggil Mama.
"Iya, Mah."
"Kamu kok belum siap siap??"
"Siap siap?? Emang kita mau kemana, Mah??"
"Loh, kamu lupa?? Sepupumu kan mau menikah. Bukannya kamu sendiri yang kemarin nerima undangan itu??"
"Astaghfirullahaladzim." Kinan nyebut. "Kok aku bisa lupa sih??" sesal Kinan.
Ternyata beberapa hari yang lalu saat Kinan berada di rumah sakit, sepupunya datang untuk memberikan surat undangan pernikahannya.
"Terus gimana dong, Mah?? Kinan nanti masuk malam." Kinan bingung.
"Ya, coba aja kamu minta ganti shift sama dokter yang lain. Kali aja ada yang mau." saran Mama.
"Ehmm, iya deh. Aku coba telpon temenku dulu."
Kinan segera meraih ponselnya dan mnghubungi teman yang satu tim dengannya.
Selang beberapa menit.
"Sudah cari pengganti??"
"Sudah, Mah." jawab Kinan.
"Ya udah kalo gitu sana siap siap gih." suruh Mama.
Tanpa sadar Kinan pun lupa untuk mengabari Indra jika malam itu dia tidak jadi masuk malam.
Setelah bersiap siap, Kinan dan sang Mama pun segera berangkat menuju tempat resepsi. Karena terlalu buru buru, akhirnya Kinan lupa membawa ponselnya.
Saat di tengah perjalanan dan hendak mengabari Indra, Kinan merogoh tas yang sedang dia bawa. Namun dia tak mendapatkan apa yang dia cari.
"Nyari apa sih??" Mama penasaran.
__ADS_1
Kinan baru sadar jika ponselnya ketinggalan.
"Aduhh, Kinan lupa bawa ponsel Mah." keluh Kinan pada sang Mama.
"Emang tadi kamu taruh dimana??"
"Tadi Kinan taruh di atas nakas waktu lagi siap siap."
"Emang kamu mau hubungi siapa sih?? Bingung amat." Mama heran.
"Tadi Kinan lupa mau ngabarin Mas Indra kalo hari ini nggak jadi masuk malam."
"Ya udah nih pake ponselnya Mama aja." tawar Mama seraya menyerahkan ponsel yang ada di tas kecilnya.
"Hehehe, Kinan nggak hafal nomernya Mas Indra Mah." ucap Kinan tersenyum.
"Gimana sih?? Masa istrinya sendiri nggak hafal nomer suaminya." sindir Mama.
"Ya kan masih beberapa hari jadi istri, jadi nggak sempat ngafalin." Kinan ngeles.
"Terus gimana sekarang?? Mau balik ke rumah lagi apa gimana??" tawar Mama.
"Nggak usah Mah, nanggung. Udah setengah perjalanan juga, ntar lagi nyampe ke tempat resepsi. Nanti aja kalo udah sampe rumah baru Kinan kabari." jelas Kinan.
Sang Mama pun mengiyakan kemauan anaknya itu.
Sesampainya di tempat resepsi. Kinan dan sang Mama berjalan dengan sangat anggun ke dalam gedung itu.
Semua mata pria tertuju pada Kinan yang saat itu mengenakan gaun berwarna salem. Terlihat bak seorang putri bangsawan.
"Selamat ya, Rendi." ucap Mama menyalami sang mempelai pria.
"Terima kasih, Tante."
"Selamat ya, Kak." ucap Kinan menyalami si pria.
"Iya, sama sama." jawab mempelai pria. "Mana calonmu?? Kok nggak di bawa??"
"Kepo " celetuk Kinan.
"Kalo nggak ada calon, tuh temen temennya kakak banyak disana." tunjuknya pada beberapa pria yang sedang duduk di pojok belakang.
"Nggak tertarik." cuek Kinan.
Kinan pun menarik lengan Mamanya untuk turun dari atas panggung resepsi. Dia malas terlalu lama mengobrol dengan kakak sepupunya itu. Dari dulu dia paling hobi mengenalkan Kinan dengan teman temannya.
Memang pada saat acara ijab qobul kemarin kakak sepupunya itu tidak di undang, jadi dia tidak tahu jika Kinan sudah menikah.
Saat Kinan sedang menikmati hidangan, tiba tiba saja seseorang mendekatinya.
"Hai??" sapa seorang pria. Namun Kinan cuek dan tetap melanjutkan makan.
"Hai." pria itu berusaha menyapa Kinan kembali.
Kinan yang saat itu sendirian pun menoleh ke kanan dan ke kiri, pura pura tidak paham.
"Aku??" ucap Kinan dingin.
"Iya, kamu. Kenalin namaku Bima." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Maaf, tanganku lagi kotor." jutek Kinan yang tak memperdulikan pria itu.
"Its ok. Ehm, by the way namamu siapa ya?? Tadi kan aku ngenalin diriku."
"Gak tanya tuh." dingin mode on.
"Jutek amat." ejek si pria. "Tapi nggak apa apa deh. Aku tau nama kamu pasti Kinan kan?? Adik sepupunya Rendi."
Namun Kinan tak memperdulikan. Karena jengah, Kinan pun pergi keluar ke sisi gedung. Tak di sangka pria itu masih gigih mengikuti Kinan.
"Aku teman kuliahnya Rendi. Sekarang aku bekerja di salah satu maskapai penerbangan, sebagai pilot." jelas si pria.
Nggak tanya tuh. Gumam Kinan.
"Katanya kamu seorang dokter ya?? Kerja dimana?? Boleh dong kapan kapan kita jalan??" ucap si pria makin menjadi.
__ADS_1
Namun saat akan menjawab, tiba tiba saja.....
"Sayang." sapa seorang pria seraya memegang tangan Kinan.
"Mas Indra." Kinan terkejut.
"Kamu siapa??" ketus si pria.
"Seharusnya dengan aku memanggilnya Sayang saja kamu sudah pasti tahu aku ini siapanya Kinan." tegas Indra.
Mendengar kata kata tegas itu seakan mengatakan 'Kinan ini milikku' membuat si pria segera pergi jauh dari mereka.
"Mas Indra kok bisa ada disini??" tanya Kinan heran.
"Seharusnya Mas yang tanya, kenapa Adek bisa ada disini?? Bukannya Adek bilang hari ini masuk malam??" tanya Indra curiga.
"Iya Mas. Maaf, aku lupa kalo ternyata hari ini acara pernikahannya kakak sepupuku."
"Terus kenapa nggak ngabarin Mas??"
"Maaf, aku lupa. Tadi ponselnya ketinggalan di kamar, jadi nggak bisa ngabarin Mas deh." sesal Kinan.
"Apa Adek emang sengaja nggak mau ngabarin Mas, biar bisa bebas di lihatin dan di dekatin sama cowok cowok lain gitu??" tanya Indra makin curiga.
"Loh kok gitu sih pikirannya??" Kinan terkejut. "Adek itu beneran lupa bawa hp Mas."
"Bisa kan pake hpnya Mama??"
"Adek nggak ingat nomer hpnya Mas." ucap Kinan lirih.
"Apa?!! Kamu nggak ingat nomer hpnya Mas?!!" ucap Indra terkejut.
Kinan menganggukkan kepalanya pelan.
"Apa kamu juga lupa kalo sekarang statusnya Adek itu istrinya Mas??!"
"Kok ngomongnya gitu sih Mas??" Kinan kesal.
"Lah gimana coba?!! Nomornya Mas aja Adek nggak ingat. Apalagi yang lain?!!"
"Tau ahh."
Kinan pun hendak berbalik dan pergi, namun Indra meraih tangan Kinan dan menjatuhkannya dalam pelukan.
"Ihh, apaan sih?? Lepasin nggak?!!" Kinan meronta.
"Maaf, maafin Mas kalo Mas semarah itu. Mas cuma cemburu Dek. Mas cuma nggak suka ada cowok lain yang bisa ngeliatin istrinya Mas ini." jelas Indra memeluk hangat sang istri.
"Ya udah kalo gitu kurung aja Adek."
"Maunya Mas sih gitu." jawab Indra santai. Mendengar hal itu, Kinan pun menatap tajam sang suami seakan hendak protes.
"Tapi Mas nggak tega kalo harus ngurung perempuan yang Mas sayangi ini." Indra mengusap lembut kepala Kinan. "Adek juga punya kehidupan dan teman teman yang ingin Adek temui."
"Maafin Mas ya, kalo tadi Mas sempat marah."
Kinan tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Maafin aku juga ya Mas karena nggak ngabarin Mas." timpal Kinan.
"Iya sayang." ucap Indra mengecup kening sang istri.
"Mulai sekarang kita harus sama sama belajar introspeksi diri biar nggak ada yang tersakiti. Belajar untuk saling mengenal satu sama lain, karena cepat atau lambat kita akan tinggal bersama."
Kinan kembali menganggukkan kepalanya.
"Oh iya ngomong ngomong kenapa Mas bisa sampai disini??"
"Tadi Mas ke rumahnya Adek, niatnya sih mau nganterin Adek berangkat kerja. Tapi kata ART Adek lagi ke acara pernikahan keponakannya Mama, ya akhirnya Mas minta alamat resepsinya deh." jelas Indra.
"Terus Mas langsung kesini gitu??"
"Iya."
"Ngapain coba jauh jauh kesini." kesal Kinan.
__ADS_1
"Ya ingin menunjukkan sama kumbang kumbang diluar sana, kalo kamu udah ada yang memiliki." goda Indra.
"Ihh." sengit Kinan.