Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Pertengkaran


__ADS_3

"Kenapa kayak gitu lihatnya??" tanya Dokter Adam.


"Dokter Adam ngapain duduk disini??" tanya Kinan sambil melirik ke arah kiri dan kanannya. Pandangan semua orang tertuju pada mereka.


"Emang aku nggak boleh duduk disini??" Dokter Adam dingin.


"Ya kan bisa nyari tempat lain. Lagian Dokter Adam kan nggak lagi makan."


"Emang kalo duduk disini harus makan ya?? Oke kalo gitu aku juga mau pesen makan." jawab Dokter Adam sambil memanggil seorang pramusaji dan memesan makanan yang sama dengan Kinan.


Kinan yang melihat itu memutar kedua bola matanya. Dia tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan Dokter Adam.


Dasar Dokter bossy...


"Kalo gitu saya duduk di tempat lain aja Dokter." ucap Kinan hendak bangkit dengan membawa semangkok sotonya. Namun Dokter Adam mencegah.


"Kalo kamu pergi, itu sama saja kamu nggak menghargai aku. Aku ini senior kamu disini." tegas Dokter Adam.


Kinan pun akhirnya mengurungkan niatnya. Dia duduk di tempatnya kembali.


"Dokter, anda tau sendiri kan gimana gosip yang beredar tentang kita??" tanya Kinan dengan suara yang rendah. "Jadi nggak usah nambah gosip lagi deh."


"Emang kenapa?? Memang kenyataan kita lagi dekat kan??"


"Kita nggak sedekat itu." tegas Kinan.


"Dekat kok. Bahkan aku sudah.........."


"Ssshhhhttt." Kinan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. "Jangan di terusin. Kalo ada yang dengar bakal heboh satu rumah sakit "


"Kenapa?? Apa ada yang salah?? Kita kan sama sama single."


"'Dokter Adam, saya sudah bilang alasannya pada anda. Jadi tolong jangan di perpanjang lagi. Anggaplah saya sebagai junior anda seperti hari hari kemarin." tegas Kinan.


"Jadi kamu beneran nolak aku??"


"Iya." tegas Kinan.


Kinan pun segera beranjak dari meja itu dan pergi dari kantin, dia tidak ingin seluruh rumah sakit gempar jika melihat mereka sedekat itu lebih lama lagi.


Dia itu nggak ada nyerah nyerahnya ya?? Untung aja dia nggak sampai ngeluarin kata kata yang fatal. Kalo tidak, bisa langsung malu aku.


Gerutu Kinan saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Dan ternyata disana pun sama, setiap orang seakan berbisik di belakang Kinan. Seakan membicarakan hubungan antara Kinan dan Dokter Adam.


Ini cuma perasaanku aja?? Atau memang mereka lagi merhatiin aku??

__ADS_1


Ucap Kinan dalam hati. Namun dia berusaha bersikap biasa saja meski sebenarnya hatinya risih.


.


Sepulang kerja.


"Saya sudah ada di depan." ucap seseorang dari ujung telpon.


"Oke, habis ini aku keluar. Mau ambil tas dulu di loker." jawab Kinan. Dia pun menutup telponnya. Dan bergegas membereskan les pasien yang berantakan di atas meja.


"Ciee, yang sudah di jemput sama ayang nih." sindir Ana.


"Apaan sih?? Comel banget mulutnya." ejek Kinan.


"Ayang yang mana dulu nih?? Si lelaki berjas putih atau yang berseragam loreng??" gurau Ana.


"Emang ada yang berseragam loreng??" tiba tiba Ratna muncul dari belakang Kinan.


"Ada lah. Aku liat sendiri loh." Ana mengiyakan. "Bahkan dia tiap hari antar jemput Dokter Kinan. So sweet banget nggak sih." puji Ana sambil memejamkan matanya, membayangkan jika dirinya ada di posisi Kinan.


Namun lamunan itu tiba tiba bubar karena Kinan memukul lembut wajah Ana dengan selembar les pasien.


"Dasar tukang halu." ejek Kinan.


"Ya nggak apa apa halu dikit, kali aja bisa kesampaian." imbuh Ana.


"Halu itu adalah salah satu semangat kita untuk bekerja." Ana membela diri.


"Kita?? Kamu aja sendiri." celetuk Ratna.


"Ya elah nih temen satu. Bukannya belain juga."


"Hahahah." Ratna tertawa. "Lagian yang terobsesi sama loreng kan kamu, bukan aku."


"Ya.., minimal di belain gitu kek." gerutu Ana.


Melihat kedua sahabatnya itu berdebat, Kinan pun tersenyum.


"Ya udah kalo gitu, aku balik dulu ya." pamit Kinan.


Dia pun bergegas pergi mengambil tas di loker dan menuju ke parkiran rumah sakit. Saat sedang berjalan menuju parkiran, tiba tiba saja ada seseorang yang menarik tangannya.


"Kinan. Aku antar pulang yukk." ajak Dokter Adam.


"Maaf Dokter, sudah ada yang jemput saya." jawab Kinan seraya hendak pergi. Namun sekali lagi Dokter Adam menahan tangan Kinan.

__ADS_1


"Ya sudah dia suruh balik aja. Nanti biar aku yang antar kamu pulang. Ada sesuatu yang mau aku omongin."


"Dokter, tolong jangan seperti ini. Semua orang pada ngeliatin kita." Kinan melihat ke sekeliling, banyak mata yang tertuju pada mereka. Kinan berusaha melepaskan tangan Dokter Adam, namun cengkeramannya begitu kuat.


"Apa nggak bisa kita ngobrol sebentar??" tawar Dokter Adam. "Sebentar saja."


"Maaf Dokter."


Saat Kinan sedang berusaha melepaskan tangan Dokter Adam, tiba tiba saja ada seseorang yang menahan tangan Dokter Adam. Dan dengan kasar melepaskan tangan Dokter Adam dari tangan Kinan.


"Maaf, anda siapa??" tanya Indra dingin.


"Kamu yang siapa?? Kenapa kamu ikut campur masalah orang lain??"


"Maaf. Bukannya saya mau ikut campur, namun sepertinya Kinan tidak nyaman dengan sikap anda tadi."


"Mas Indra, sudah. Jangan bertengkar. Ayo kita balik." Kinan berusaha mendinginkan suasana.


"Ohh..., jadi ini sopirmu itu??" tanya Dokter Adam.


"Berani sekali hanya seorang sopir tapi mencampuri urusan majikannya." Dokter Adam sinis. "Berapa sih gajimu??"


"Dokter Adam?!!" teriak Kinan. "Tidak seharusnya seorang Dokter bicara seperti itu dan merendahkan orang lain." tegas Kinan.


Kelihatan Dokter Adam begitu emosi dengan sikap Kinan yang malah membela Indra.


"Lagian..., mas Indra ini bukan hanya sopir." kata kata Kinan terhenti sejenak. "Tapi dia adalah pacar saya."


Sontak pengakuan itu membuat semuanya terkejut. Bahkan Indra yang sedari tadi stay cool untuk menjaga Kinan, tiba tiba saja ikut terkejut mendengar itu. Wajahnya tak bisa di pungkiri, antara senang dan bingung mendapat pengakuan yang mengejutkan.


Dokter Adam pun tak kalah terkejut. Ternyata benar yang di katakan Sinta, jika Kinan sudah memiliki kekasih. Namun dia tak langsung percaya begitu saja.


"Hahh??! Emang kamu pikir aku bisa langsung percaya kata katamu??"


"Kalo nggak percaya, ya sudah. Yang penting saya sudah terus terang." ucap Kinan. "Ayo kita pulang." ajak Kinan sambil menarik tangan Indra.


Indra pun mengikuti Kinan. Perasaannya campur aduk antara senang dan bingung. Terlihat wajah Indra senyum senyum sendiri.


Bolehkah aku berharap??


Ucap Indra dalam hati.


Selama perjalanan tak ada kata kata yang terucap dari bibir Kinan. Dia seakan malas untuk berbicara. Dia fokus pada ponselnya yang sedari tadi berbunyi. Banyak pesan yang masuk dan menanyakan kebenaran berita yang lagi beredar jika dia sedang jadi rebutan antara si loreng dan si jas putih.


Ana dan Ratna pun juga tak kalah heboh. Dia berkali kali mengirim pesan menanyakan tentang hubungan antara Kinan dan Indra. Apakah mereka benar benar berpacaran??

__ADS_1


Sesampainya di garasi rumah. Kinan tak langsung turun dari mobil. Indra yang melihat itu bingung, namun tak berani bersuara.


"Maaf ya, Mas." kata kata Kinan memecah kesunyian.


__ADS_2