
"Kamu kenal sama Dokter Kinan, Ndra??" tanya Binkes penasaran.
"Siap, kenal Bang. Dia pacar saya." jawab Indra tanpa ragu.
Dia seakan ingin menegaskan status Kinan di depan pria yang ingin mencari perhatian pada sang kekasih.
Sontak Kinan pun tersedak saat mendengar ucapan Indra itu.
"Uhukkk...uhukkk!!!"
Kinan sejenak melihat ke arah Indra. Namun dia juga tak bermaksud mengklarifikasi kata kata Indra itu.
Setelah selesai acara.
"Kenapa Mas tadi ngomong kayak gitu??" tanya Kinan penasaran.
"Ngomong yang mana??"
"Ya tadi, yang bilang kalo aku ini pacarnya Mas Indra."
"Emang salah ya??" tanya Indra bingung.
"Kapan pacarannya coba??" gurau Kinan.
"Ya, sejak dua hari yang lalu."
"Kapan?? Kayaknya nggak inget deh kalo Mas Indra nembak aku." goda Kinan.
"Ya kalo nembaknya sih udah lama, tapi di kasih kesempatannya baru dua hari yang lalu."
"Ehm, tapi kan saat itu aku nggak bilang mau pacaran. Cuma bilang kalo mau ngasih kesempatan ke Mas." goda Kinan lagi.
"Ohh gitu. Jadi Mas nggak di anggap nih jadi pacar??" Indra kesal.
"Ya udah kalo gitu." Indra jutek.
"Hahahahahah." melihat ekspresi Indra itu, Kinan pun tertawa lepas. "Ternyata tentara bisa ngambek juga ya??" sindir Kinan.
"Apaan sih?? Kalo emang nggak di anggap, ya udah nggak apa apa. Yang jelas aku nganggapnya gitu." ucap Indra.
"Ihh, lucu deh kalo lagi ngambek. Gemesin." gurau Kinan. "Ya udah kalo gitu aku mau pulang dulu ya Mas??" pamit Kinan.
"Ehh tunggu dulu." cegah Indra. "Kamu beneran nggak anggap aku pacar ya??" Indra penasaran.
"Ehmm, gimana ya??" Kinan berpura pura ragu.
"Ya udah kalo nggak mau jadi pacarnya Mas, kita langsung nikah aja." ajak Indra serius.
"Widihh, baru juga di kasih kesempatan dua hari yang lalu udah mau nikah aja." sahut Kinan terseyum.
"Lagian Adek sih bilangnya gitu. Jadi sekalian aja deh Mas halalin, biar semua orang tau kalo kamu itu miliknya Mas." jelas Indra.
Mendengar itu Kinan pun tersenyum.
"Sabar ya Mas. Kita jalani aja dulu yang ada sekarang. Toh yang namanya jodoh nggak akan pergi kemana." nasihat Kinan.
"Kalo nggak jodoh??" tanya Indra ragu.
"Ya kalo gitu minta tolong di cek lagi di buku jodoh, kali aja namanya kita nyempil di pojokkan." gurau Kinan seraya tersenyum.
Indra pun ikut tersenyum seraya mengusap lembut kepala Kinan yang tertutup hijab. Dia menatap Kinan dan berkata dalam hati.
Mudah mudahan kamulah yang akan menjadi jodohku. Menjadi istriku dan ibu dari anak anakku kelak.
"Ya udah kalo gitu aku pulang dulu ya Mas." pamit Kinan.
"Mas antar pulang ya??" tawar Indra.
"Nggak usah, Mas kan masih harus ngantar Ibu Komandan pulang ke kediaman."
"Ya habis ngantar Ibu Komandan baru Mas antar pulang Adek."
"Nggak usah, Mas istirahat aja. Pasti Mas capek."
"Apanya yang capek?? Seharian ini Mas nggak ngapa ngapain kok. Cuma duduk duduk aja ngeliatian kamu." goda Indra.
"Ihh, apaan sih?? Genit tau." Kinan tersenyum. Indra pun ikut tersenyum.
__ADS_1
"Gimana?? Boleh ya Mas antar pulang??" tanya Indra lagi.
"Nggak usah Mas. Mas kan lagi kerja, belum waktunya pulang." tolak Kinan.
"Ya udah deh kalo gitu." jawab Indra sedikit kecewa.
"Jangan gitu dong ekspresinya. Aku cuma nggak mau ganggu Mas kerja."
"Iya, iya Mas tau." jawab Indra. "Tapi nanti sore Mas boleh kan main ke rumah??"
"Boleh." sahut Kinan tersenyum.
"Ya udah kalo gitu hati hati pulangnya, nanti kalo udah sampe rumah jangan lupa kabari Mas ya??" pinta Indra.
"He em." Kinan menganggukkan kepalanya.
Kinan beserta rombongan pulang meninggalkan Batalyon. Indra yang menatap kepergian Kinan pun melepasnya dengan senyuman.
Setelah mengantar Komandan beserta Ibu Komandan pulang ke kediaman, seperti biasa Indra pun membersihkan mobil dinas yang tadi dia pakai.
Saat membersihkan mobil, banyak penghuni asrama yang melihat ke arah Indra. Namun Indra berusaha cuek. Hingga suatu ketika ada sekumpulan ibu ibu yang lewat di depan mess ajudan.
"Om Indra??" sapa mereka.
Indra hanya menganggukkan kepala namun tetap fokus membersihkan mobil.
"Om itu kan cakep, keren ya nggak?? Kenapa nggak nyari yang single aja Om??" tanya mereka bertubi tubi.
"Maaf Bu, maksudnya apa ya??" tanya Indra heran.
"Semua orang di asrama ini udah pada tau kok Om." ucap ibu yang berhijab.
"Iya Om. Kita kita aja sampe kaget dengar kabar itu." sahut ibu yang berambut panjang.
"Iya nih Om. Kenapa sih nggak nyari yang single aja. Yang single loh banyak Om, di asrama ini aja banyak ibu ibu yang punya anak gadis. Cantik cantik lagi."
"Iya, Om. Kenapa harus merebut cewek yang udah punya tunangan sih??" imbuh mereka.
Indra yang mendengar pertanyaan itu baru paham apa yang sedang mereka bahas. Namun Indra tidak ingin banyak berkomentar. Dia membalas pertanyaan ibu ibu itu dengan sangat tenang.
"Mungkin sudah jodoh Bu." jawab Indra santai yang akhirnya membuat para ibu ibu itu menjadi semakin penasaran.
"Iya nih Om indra. Padahal di sekitar sini juga banyak cewek yang masih single, tapi kenapa harus memilih cewek orang sih. Jadi bikin perkara kan akhirnya."
Sekali lagi, Indra hanya membalas mereka dengan tersenyum. Bukannya Indra tidak ingin mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi. Hanya saja dia enggan untuk membeberkan tentang kehidupan pribadinya.
Lagi pula mereka bukan siapa siapa, apa yang mereka bicarakan tak berpengaruh sedikit pun bagi Indra.
Sebanyak apa dia beralibi jika orang tersebut memang dari awal sudah membencinya, itu akan percuma saja. Orang yang membencimu tidak akan pernah membenarkan apa yang Indra lakukan, dan sebaliknya.
Sore hari saat Indra hendak berangkat menemui Kinan.
"Ndra??" panggil Aris.
"Hem." jawab Indra seraya memakai baju.
"Kamu mau nemuin Kinan lagi??" tanya Aris heran.
"Kenapa emangnya??"
"Kamu nggak tau gosip yang ada di luar sana?? Semua pada nyeritain kamu. Bahkan parahnya lagi ada yang nyebut kamu Pebinor." jelas Aris.
"Terus masalahnya apa??" tanya Indra cuek.
"Ya..., masa kamu nggak risih sih di bicarain terus kayak gitu. Kemana mana di perhatikan, kemana mana semua mata tertuju pada kamu."
"Wihh, artis dong aku." gurau Indra.
"Ndra, aku ini lagi serius." ucap tegas Aris.
"Udahlah nggak usah di pikirin. Toh yang di bicarain aku, kenapa kamu yang ribet??"
"Ya bukannya gitu, aku cuma kasian aja sama kamu. Banyak beredar kabar yang nggak bener tentang kamu. Bahkan aku udah mencoba jelaskan pada mereka, namun seakan akan mereka nggak percaya."
"Ya udah biarin aja." ucap Indra santai.
"Lagian ngapain juga kamu jelasin ke mereka?? Percuma aja Ris. Mau jelasin sampe mulutmu berbusa pun mereka nggak akan ada yang percaya. Jadi ya udah biarin aja."
__ADS_1
Mendengar jawab Indra, Aris pun menyenggol lengan Erwan. Berusaha meminta bantuan.
"Tapi setidaknya kan ada klarifikasi dari kamu biar beritanya nggak semakin menyebar." imbuh Erwan.
"Udah, biarin aja. Kalo kita merespon kata kata mereka, nggak akan ada habisnya. Jadi ya udah biarin aja, toh lama kelamaan berita ini juga akan mereda dengan sendirinya." ucap Indra bijak.
"Lagian gosip ini nggak akan selesai hanya dengan aku mengklarifikasinya. Malahan akan semakin meluas kemana mana. Jadi ya udah sekarang diemin aja, nanti mereka juga pasti akan bosen dan capek capek sendiri." imbuh Indra.
Erwan dan Aris pun saling melempar pandangan. Entah bagaimana lagi harus membuka mata Indra. Sepertinya dia sudah terjangkit penyakit Bucin Akut.
Sesampainya di rumah Kinan. Seperti biasa, Indra menelpon Kinan yang masih berada di dalam rumah. Dan tak lama berselang Kinan pun keluar membukakan pintu pagar.
Saat mereka sedang duduk di teras.
"Lagi tidur ya tadi??" tanya Indra membuka pembicaraan.
"Nggak. Habis selesai sholat Ashar. Mas sendiri sudah sholat??"
"Sudah, tadi sebelum kesini Mas sholat dulu."
"Hemm."
"Oh iya, hari minggu ini kamu ada acara nggak??" tanya Indra.
"Kenapa emangnya Mas??"
"Mas mau ngajak Adek jalan jalan ke Wisata Batu."
"Kemananya??"
"Terserah Adek deh mau kemana. Mas ngikut aja."
"Loh gimana sih?? Yang ngajak siapa, yang nentuin siapa." celetuk Kinan seraya tersenyum. Indra pun ikut tersenyum.
"Intinya Mas mau ngajak Adek keluar."
"Hemm, gimana ya??" ucap Kinan ragu.
"Tenang, nanti Mas ijin sama Bapak."
"Emang Mas berani??"
"Ya sedikit takut sih sebenarnya." sahut Indra. "Tapi mau gimana lagi, mau ngajak jalan anaknya orang masa nggak ijin dulu."
"Ya udah sana gih ijin sama Papa."
"Bapak ada di dalam??"
"Ada." jawab Kinan.
Sejenak Indra merasa canggung untuk meminta ijin. Sejujurnya dia nggak percaya diri untuk berbicara dengan seseorang yang notabennya seorang Jenderal. Namun dengan tekad kuat, dia pun memberanikan diri masuk ke dalam rumah Kinan dan menemui Papanya yang sedang duduk santai sambil meminum kopi.
"Mohon ijin menghadap, Bapak." sikap tegap Indra.
"Iya." jawab dingin Papanya Kinan. "Ada apa??"
"Siap. Saya....saya, mau meminta ijin Bapak."
"Ijin apa??"
"Siap. Ehmm. Ijin, mau mengajak Adek Kinan keluar."
"Kemana??"
Sang Jenderal, over protective mode on.
"Siap ijin, ke Batu Malang Bapak."
"Kapan??"
"Siap, in shaa Allah hari minggu."
"Jam berapa??"
"Siap ijin, pagi Bapak. Sekitar jam 8."
Indra berusaha bersikap tegas, namun dalam hatinya seakan mau meledak karena harus berhadapan langsung dengan sang Jenderal.
__ADS_1
Selama menjadi ajudan Jenderal saat di Jakarta dulu, Indra tidak pernah sama sekali berbicara dalam waktu yang lama. Bahkan hampir tidak pernah berbicara di luar hal dinas.