
Setelah satu setengah jam berlalu, Indra pun sudah sampai di Bandara. Dan kebetulan saat itu pesawat orang tuanya sudah landing.
Dia bergegas menuju pintu kedatangan untuk menyambut kedua orang tuanya.
Setelah lama menunggu, muncullah sepasang suami istri paruh baya keluar dari pintu kedatangan. Dengan senyum yang lebar, Indra mendatangi mereka dan memeluknya.
"Bapak, Ibu." panggil Indra haru.
"Nak, Ibu sampe kangen. Kamu lama nggak pulang."
"Maaf Ibu, selama pandemi ini kami tidak di ijinkan untuk cuti luar jawa. Tapi In Shaa Allah tahun depan aku udah bisa pulang cuti." jelas Indra.
"Cutinya bareng menantu Ibu ya Nak??" pinta Ibu seraya tersenyum.
"In Shaa Allah Ibu." jawab Indra.
Mereka pun berjalan menuju tempat mobil di parkir.
Saat di dalam perjalanan.
"Gimana kabar keluarga disana Pak??"
"Alhamdulillah baik semua."
"Terus kebunnya Bapak sekarang lagi produksi apa??"
"Masih sama sih Nak. Ada cengkeh, kelapa, teh." jawab beliau.
"Oh iya beberapa bulan yang lalu Bapakmu sempat membeli perkebunan karet milik Pak Karta."
"Pak Karta?? Maksudnya Ibu, Pak Karta yang katanya orang paling kaya di kampung sebelah itu?? Juragan tanah itu kan??" selidik Indra.
"Iya. Kemarin dia tuh bilangnya lagi butuh uang, katanya sih lagi punya banyak hutang. Karena Bapakmu kasian, akhirnya di beli deh. Padahal dulu dia kan pernah jelek sama keluarga kita. Bahkan dia pernah ngefitnah kita."
"Udah lah Bu. Namanya orang kan pasti ada waktunya dia bertaubat. Mungkin sekarang Allah sudah memberikan hidayah pada Pak Karta." ucap Bapak bijak.
"Tapi kan setidaknya jangan sebaik itu Pak, kalo di ingat ingat lagi Ibu kayak nggak terima dia dulu memfitnah keluarga kita." Ibu emosi.
"Udah lah Bu. Sabar." ucap Bapak.
"Tapi ada bagusnya juga sih Bapakmu beli kebun karet itu. Baru baru ini Bapakmu habis panen karet loh Nak. Dan hasilnya sangat banyak." ucap si Ibu.
"Oh ya??" Indra mendengar itu bahagia.
"Iya. Bahkan kita bisa ekspor ke luar negeri, seperti hasil panen teh dan cengkeh."
"Alhamdulillah kalo gitu Bu." ucap Indra tersenyum.
Mereka pun sama sama tersenyum bahagia.
Sejenak si Bapak memperhatikan mobil yang sedang dia naiki.
"Ini mobil punyamu sendiri Nak??" tanya si Bapak penasaran.
"Bukan Pak. Ini mobilnya Komandan saya, beliau yang minjemin saya."
__ADS_1
"Oalahh, kirain mobil sendiri." ucap Ibu.
"Dulu mau Bapak belikan mobil tapi malah nggak mau." ucap si Bapak.
"Nggak usah Pak. Nanti saya biar nabung nabung sendiri untuk membelinya. Lagian sekarang masih nggak terlalu butuh." jelas Indra.
"Tapi setelah ini kan kamu punya istri, anak Jendral lagi. Pasti kemana mana butuh mobil kan??"
"Nggak Pak. Calon istri saya bukan perempuan yang manja kok, dia perempuan yang baik sekali. Sholeha. Dan apa adanya. Kalo pun nanti kita butuh mobil, kita akan membelinya dengan hasil kerja kerasnya kita sendiri." jelas Indra.
"Kamu tuh memang selalu beda sama kakakmu yang lain. Nggak mau sama sekali menerima bantuan dari Bapak, maunya pengen usaha sendiri. Bahkan dulu mau daftar tentara aja, maunya daftar sendiri."
"Kalo hasil dari usaha sendiri itu pasti akan lebih berkesan Pak." jawab Indra.
"Oh iya, ngomong ngomong kenapa kakak nggak ada yang ikut, Pak??"
"Kamu kan tau sendiri bagaimana kesibukan kakakmu." ungkap si Bapak.
"Kak Dodi, dia kan kerja di Kantor Pemerintahan jadi setiap hari pasti sibuk. Apalagi sekarang musimnya penerimaan CASN, kantornya jadi yang paling sibuk. Lebih lebih Kak Nanang, dia mandor di tambang. Dia sangat sulit untuk minta cuti." jelas Ibu.
"Tapi mereka janji, nanti di saat pesta pernikahanmu mereka usahakan akan datang." imbuh Bapak.
"Hemm." Indra pun mengangguk.
"Nak." panggil Ibu yang tiba tiba serius.
"Iya Bu."
"Kamu beneran serius akan menikahi anak Jendral itu??" tanya Ibu ragu.
"Bukan Ibu yang nggak setuju. Ibu malah takut, mereka yang nggak setuju Nak. Apalagi dia anak seorang Jendral, apa nggak ada yang akan menentang hubungan kalian??"
"Bu. Ibu doakan aja yang terbaik buat kami. In Shaa Allah dengan doa Ibu, semua akan berjalan lancar dan nggak akan ada kendala apa pun." Indra berusaha menenangkan sang Ibu.
"Iya Nak, itu pasti. Ibu selalu mendoakan anak anak Ibu."
Indra pun melempar senyuman hangat pada sang Ibu.
Setelah beberap jam berlalu, mereka pun sampai di sebuah penginapan yang tak jauh dari rumah Kinan. Penginapan yang cukup terkenal di daerahnya.
Mereka pun masuk ke dalam penginapan itu. Sebuah kamar dengan king bed size menjadi pilihan mereka. Indra mengantarkan mereka masuk ke dalam kamar.
"Untuk beberapa hari ini Bapak dan Ibu tinggal disini dulu."
"Lumayan bagus sih." Ibu berkomentar.
"Oh iya, kita berangkat jam berapa ke rumah Kinan??" tanya Bapak.
"Terserah Bapak. Kalo Bapak capek, ya nanti sore saja kita kesana."
"Nggak Nak, Ibu nggak capek kok. Ibu ingin cepat cepat bertemu sama calon istrimu. Ibu pengen lihat seperti apa perempuan itu, sampai sampai bisa membuat anak Ibu ini bertekuk lutut." sindir Ibu. Indra pun tersenyum.
"Tapi apa Ibu nggak capek?? Bapak dan Ibu kan habis perjalanan jauh."
"Nggak Nak. Kami nggak capek kok. Kami kan naik pesawat, bukannya jalan kaki." bela si Bapak.
__ADS_1
"Jadi mau kesana sekarang nih??" tanya Indra memastikan.
"Iya." jawab Ibu yang bersemangat.
"Ya udah kalo gitu Bapak dan Ibu ganti pakaian aja dulu, aku mau ngabarin Kinan." pinta Indra.
Dia pun segera menuju lobi dan menelpon Kinan.
[Dek, Mas mau kesana sekarang ya??]
[Loh, emangnya Mas sekarang ada dimana??]
[Lagi di penginapan dekat rumahnya Adek.]
[Hemm..., gimana pendapat orang tuanya Mas??]
[Ya nggak apa apa. Malahan mereka semangat sekali mau ketemu sama Adek.] ucap Indra.
[Oh ya??]
[Iya. Ini aja tadi Mas suruh mereka untuk istirahat dulu, ehh beliaunya malah nggak mau. Mereka bilang nggak sabar mau ketemu calon menantu.]
Di ujung telpon nampak wajah Kinan yang merona. Dia malu saat Indra mengatakan 'Calon menantu'.
[Iy...Iya Mas.]
[Ya udah kalo gitu Adek disitu siap siap ya, setelah ini Mas mau kesana.]
[Iya Mas.]
Indra pun menutup telponnya.
"Sudah siap??" tanya Indra saat melihat orang tuanya sudah berganti pakaian.
"Siap lah." jawab Ibu.
"Ayo kita berangkat." ajak Indra.
"Bismillah, semoga semuanya berjalan lancar." Bapak berdoa.
Mereka pun berangkat menuju rumah Kinan.
Sesampainya di rumah Kinan. Mereka pun masuk ke dalam rumah itu.
Ting...Tong...
Indra membunyikan bel. Tak beberapa lama berselang, Kinan membukakan pintu rumah itu.
"Assalamuallaikum, Om. Tante." ucap Kinan sembari mencium tangan orang tua Kinan.
"Waallaikumsalam." jawab Ibu.
"Pantes aja anak Ibu sampai buru buru mau nikah, orang calonnya aja secantik ino." puji Ibu.
Kinan pun kembali tersipu malu. Dia mempersilahkan orang tua Indra masuk ke dalam rumah. Di dalam ruang keluarga, telah menunggu Papa dan Mama Kinan.
__ADS_1