
"SAHHHH!!!!" ucap semua orang serentak.
Seketika terlihat wajah Indra merasa sangat lega, dia menghela napas kasar.
Setelah prosesi ijab qobul selesai, barulah sang mempelai perempuan keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga dengan perlahan di temani sang Mama dan Ibu Indra. Gaun pink salem yang dia gunakan sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
Indra terpanah saat melihat perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya itu. Perempuan yang bisa meluluhkan hati Indra, perempuan yang dapat mengalihkan pandangannya, perempuan yang membuat Indra jadi bucin.
Perlahan sang mempelai mendekati Indra. Dengan tersenyum dia menatap sang istri. Indra pun menyerahkan seserahan secara simbolis ke Kinan. Dia mengeluarkan sebuah kotak kepada Kinan. Kotak yang berisi sebuah cincin yang indah.
Indra memakaikan cincin itu di jari manis Kinan. Kini, kedua jari manis Kinan sudah terisi oleh cincin yang Indra berikan. Setelah itu, Indra mengalungkan sebuah kalung pada Kinan. Kalung dengan gantungan mutiara itu sangat indah saat Kinan pakai.
Indra pun mengulurkan tangannya pada Kinan. Kinan menjabat tangan itu, dan perlahan mencium tangan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Semua orang merasa lega. Terlihat senyum manis terukir di pipi kedua mempelai.
Saat acara makan makan.
"Nggak nyangka, ternyata temenku ini anak perwira." celetuk Erwan saat sedang berdua dengan Indra.
"Apaan sih?? Biasa aja kali."
"Lagian kamu Ndra, anak perwira tapi kok malah jadi Tamtama. Kalo di lihat dari nilai akademis dan fisikmu, seharusnya kamu bisa dengan mudah daftar Perwira. Di tambah lagi Bapakmu yang dulunya seorang perwira."
"Itu kan dulu Wan. Lagian aku nggak mau menjadikan nama Bapakku sebagai tameng agar aku bisa di terima jadi Perwira. Aku pengen usaha sendiri Wan."
"Ya elahh Ndra, munafik banget sih. Denger ya, mana ada sih orang yang nggak mau jadi perwira."
"Aku nggak munafik kok Wan. Aku juga pernah daftar Capa (Calon Perwira), Caba (Calon Bintara), bahkan Catam (Calon Tamtama). Tapi ternyata rezekiku memang ada di Catam." jelas Indra.
"Bahkan dari awal aku lebih sering daftar Capa, Catam itu aja baru sekali daftar langsung di terima." imbuhnya.
"Tapi ya nggak apa apa juga sih jadi Tamtama, orang keluargamu aja tajir melintir." ucap Erwan.
"Itu kan punya orang tuaku, bukan punyaku. Aku pengennya tuh mendapatkan hasil dari kerja kerasku sendiri. Nggak mau nebeng dari nama orang tua. Lagian rezekinya juga bakal lebih barokah untuk istri dan anakku kelak." ucap Indra seraya melihat Kinan yang sedang mengobrol dengan anggota keluarga yang lain.
"Ya elahh, belum juga malam pertama udah ngomongin anak aja." celetuk Erwan.
"Udah dulu ya, aku kesana dulu." ucap Indra tak memperdulikan Erwan.
Dia pun perlahan mendekati Kinan.
"Kita ngobrol dulu yukk??" ajak Indra menarik tangan Kinan. Dia pun mengajak Kinan ke halaman belakang.
"Ada apa Mas??" tanya Kinan penasaran.
__ADS_1
"Nggak apa apa. Emang harus ada alasan ya untuk ngobrol sama istri sendiri??"
Mendengar panggilan 'istri' membuat pipi Kinan memerah. Dia masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
"Ya..., ya.. Nggak apa apa Mas." jawab Kinan canggung.
Melihat Kinan yang malu malu membuat Indra tersenyum.
Pemalu juga nih istriku. Pikir Indra.
"Dek." panggil Indra lembut.
"Iya, Mas."
"Nih, Mas kasih ini." Indra mengeluarkan dua buah kartu dari dalam dompetnya.
"Apa ini Mas??" tanya Kinan heran.
"Ini kartu ATM."
"Iya, aku tau. Tapi ATM untuk apa??"
"Ini kartu ATM untuk gajinya Mas, Dek."
"Sekarang kan Adek udah jadi istrinya Mas, jadi udah tanggung jawabnya Mas untuk memberikan nafkah. Ini adalah kartu ATM untuk gajinya Mas. Dan yang ini adalah ATM untuk tunjangan jabatannya Mas." jelas Indra satu per satu.
"Tapi kenapa semua di kasihkan ke Adek??"
"Ya karena Adek istrinya Mas." jawab Indra santai.
"Tapi kan nggak harus ATMnya langsung yang di kasihkan ke aku."
"Nggak. Adek pegang aja ATMnya."
"Terus kalo Mas butuh sesuatu gimana??"
"Nanti Mas minta uangnya ke Adek."
"Nggak ahh. Kalo gitu kan kasihan Masnya. Masa harus minta minta gitu?? Nggak deh, Mas bawa aja." tolak Kinan yang merasa tidak enak.
"Dek. Yang namanya rumah tangga, semua keuangan itu yang pegang adalah istri. Bahkan orang tuanya Mas sendiri yang mengajarkan seperti itu."
"Tapi kan kita baru nikah sirih, Mas."
"Tapi tetap aja nikah kan?? Tetap aja ini sah di mata Allah."
__ADS_1
Kinan tertunduk, dia bingung dengan cara apa lagi menolak kata kata Indra.
"Tapi kan setidaknya Mas pegang salah satu ini aja, biar kalo butuh sesuatu Mas nggak bingung." pinta Kinan.
Melihat Kinan yang murung, akhirnya Indra pun menyetujui permintaan istrinya itu.
"Ya udah kalo gitu, Mas pegang yang ini aja." Indra mengambil ATM yang berisi tunjangan jabatannya.
"Setidaknya uang di ATM ini nggak terlalu banyak." ungkap Indra.
"Emang uang yang di ATM ini banyak??" tanya Kinan heran.
"Alhamdulillah cukup lah untuk membeli sebuah perumahan sederhana untuk kita." jawab Indra seraya tersenyum.
Apa?? Sebuah perumahan sederhana?? Sesederhana apapun yang namanya perumahan kisaran harganya minimal 150 jutaan. Dari mana Mas Indra punya uang sebanyak itu??? Gumam Kinan.
Melihat ekspresi Kinan yang terkejut itu membuat Indra peka apa yang sedang sang istri pikirkan.
"Tenang aja. Uang itu uang halal kok Dek." ucap Indra.
"Dulu saat Mas ngelayani Jendral di Kementerian, Mas punya gaji double. Gaji tentara, dan gaji dari Kementerian. Selama itu, Mas nggak pernah pake gaji tentaranya Mas. Lagian kebutuhan makan kan sudah di tanggung sama kediaman Jendral, jadi ada sisa banyak dari gaji Kementrian Mas masukkan ke ATM gaji." jelas Indra.
"Berapa tahun Mas ngelayani Jendral di Kementrian??" tanya Kinan penasaran.
"Sekitar tujuh tahunan Dek."
"Ohh." Kinan baru paham.
Pantes aja tabungannya banyak.
"Jadi nanti kalo ada waktu, kita cari cari rumah ya?? Adek coba cari cari dulu aja di internet mana yang Adek suka, nanti kita kesana bareng." ajak Indra.
"Tapi ya gitu, mungkin sementara ini Mas cuma bisa ngasih rumah yang sederhana buat Adek. Untuk perabotan di dalamnya, nanti Mas kumpul kumpulin uang dulu." imbuhnya.
"Jangan ngomong gitu Mas. Adek udah bersyukur kok Mas udah punya pikiran untuk membeli sebuah rumah buat kita. Meski sederhana, tapi kita akan buat rumah itu jadi tempat ternyaman buat keluarga kita kelak." Kinan menenangkan Indra.
Mendengar itu, seketika Indra pun langsung memeluk Kinan. Kinan yang jatuh ke dalam pelukan Indra pun terkejut, matanya terbelalak.
Ingin menghindar, tapi dia suaminya. Ingin tetap berpelukan, namun jantung Kinan berdegup sangat kencang.
"Terima kasih ya, sayang." ucap Indra yang membuat pipi Kinan makin merona.
"I..ii...iya Mas." jawab Kinan gugup.
Setelah acara selesai, mereka semua pun pulang. Setelah mengantar orang tuanya ke penginapan, Indra kembali ke mess ajudan.
__ADS_1