Cinta Sang Ajudan

Cinta Sang Ajudan
Amarah


__ADS_3

Saat Indra hanya melihat Nenek yang masuk ke dalam mobil.


"Mbak Kinan tidak ikut naik Nek??" sontak Indra bertanya.


"Tidak. Kinan nanti pulang bareng sama Niko."


Niko?? Tadi ada Niko di dalam sana??


Indra pun melajukan mobilnya. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya, namun tidak mungkin jika dia bertanya langsung pada Nenek.


"Tadi selintas saya lihat sepertinya ada Bapak dan Ibu Jenderal juga ya Nek??"


"Iya. Tadi orang tuanya Kinan datang. Orang tuanya Niko juga datang."


Pertemuan dua keluarga?? Mau ngapain??


"Wahh, sepertinya mau ada acara besar ya Nek??" Indra mulai menggali.


"Iya. Acara pertunangan Kinan dan Niko."


DEGHH....


Pertunangan????


Seketika jantung Indra seakan berhenti. Dadanya mulai terasa sesak. Nafasnya mulai tersengal. Dia tak bisa berfikir logis. Pandangannya seakan mulai kabur. Tak ada yang bisa dia ungkapkan lagi. Indra berusaha keras menahan air matanya agar tidak keluar.


"Mereka memang sudah lama dekat. Dari awal Nenek udah ngira, suatu saat Niko bakal jadi suaminya. Kelihatan sekali Niko sangat perhatian sama Kinan. Bukan sekedar sebagai sahabat, namun perhatian dari orang yang mencintainya." pungkas Nenek.


Indra tak bisa berkata apa apa. Hatinya remuk mendengar kabar bahagia yang terasa sakit di hatinya. Namun dia memang tidak berhak untuk sakit hati, Kinan bukan siapa siapanya. Dia hanya seorang perempuan yang sekedar lewat dalam hidupnya. Satu satunya perempuan yang sangat ia sayangi, setelah sang Ibu.


"Semoga saja mereka bahagia." doa Nenek.


"Amin." jawab Indra.


Sebuah kata yang tak seharusnya keluar dari mulutnya. Kata kata doa namun seakan berat untuk ia ucapkan. Kata kata doa yang berarti sebaliknya bagi Indra.


Andaikan aku juga perwira seperti Niko. Andaikan aku juga dari keluarga terpandang seperti keluarga Niko. Akankah dia juga nerima aku?? Pasti saat ini aku juga akan sangat bahagia.


Indra tak bisa menutupi kesedihannya. Selama perjalanan, tak ada satu kata pun yang ia ucapkan. Bahkan saat Nenek bercerita, Indra hanya mendengar dan tersenyum. Senyuman yang penuh kesedihan.


Hingga sesampainya di rumah Nenek, Indra pun langsung bergegas pulang. Dia tak bisa berlama lama berada disana, dia khawatir air matanya tak bisa terbendung lagi.


Indra pun pergi menaiki motor merahnya. Dengan tatapan kosong dia menyusuri seluruh jalan. Membelah kesunyian malam itu.


ARRGHHH...!!!!


Dia berteriak di tengah jalan. Dia menumpahkan seluruh amarah dan kekesalannya. Tak sampai disitu. Tatkala melihat ada preman preman yang hendak memalak di pinggir jalan, dia pun mampir dan menghajar seluruh preman preman itu, hanya seorang diri. Sampai luka luka yang ada di tangannya sudah tak di rasakan lagi.

__ADS_1


"Ampun..., ampun Pak. Kami tidak akan memalak lagi. Ampun." ucap memohon seorang preman yang sudah terkapar bersimbah darah.


Indra tak menggubris kata kata preman itu. Dia melanjutkan perjalanannya. Menaiki motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan melebihi dari batas kecepatan yang di anjurkan.


Pikirannya saat itu benar benar kalut. Yang ada di pikirannya sekarang bagaimana cara benar benar bisa melupakan Kinan dari benaknya. Akhirnya dia pun mendatangi sebuah tempat hiburan malam. Baru pertama kalinya Indra datang kesana, berharap dia bisa sejenak melupakan sakit hatinya.


Di lain tempat terlihat Kinan dan Niko sedang menikmati pemandangan Kota Batu Malang dari atas bukit.


"Wahh, bagus sekali pemandangannya." Kinan sangat antusias melihat gemerlap lampu bertebaran di bawah sana.


"Pakai ini." Niko menyelimuti Kinan dengan sebuah jaket. "Nanti kamu bisa membeku kalo nggak pake jaket."


Kinan sedikit mengernyitkan dahinya.


Tumben sekali dia perhatian.


"Nggak usah mikir yang aneh aneh deh. Aku nggak mau nikah sama orang yang sudah beku." gurau Niko.


"Dasar." umpat Kinan seraya tersenyum.


"Hahhh." Kinan menghela napas. "Sudah lama nggak pernah liat pemandangan kayak gini. Tenang banget rasanya."


"Kalo kamu suka, aku bisa tiap hari ngajak kamu kesini." ajak Niko.


"Tiap hari?? Kayak kamu nganggur aja."


"Aku kan kerjanya pagi, paling lambat jam 5 sore udah pulang. Malamnya baru kesini."


"Terus kamu maunya kemana??"


"Ke gunung bromo." sontak Kinan menjawab.


"Gunung bromo??"


"Iya. Gunung bromo. Katanya sih pemandangan disana bagus."


"Kata siapa??" tanya Niko penasaran.


"Kata mas Indra."


"Ohh." jawab Niko malas.


"Katanya disana itu ada padang pasir, ada perbukitan dan ada kawah belerang gitu. Bagus deh. Malahan aku sempat di kasih liat foto fotonya pas dia kesana." jelas Kinan.


"Dia pernah kesana??"


"Sering. Dia sering sopirin perwira tinggi kesana. Tiap kali ada kunjungan dari atas, tempat wisata yang di tuju pasti salah satunya gunung bromo."

__ADS_1


"Ohh. Pantesan dia tau." ujar Niko. "Ya udah kalo gitu nanti biar Indra aja yang ngantar kita kesana."


"Nanti aku tanyakan dulu sama dia ya?? Takutnya dia ada jadwal."


"Jadwal apa?? Bukannya dia jadi sopir pribadimu, itu berarti dia udah siap ngantar kamu kemana aja."


"Iya sih. Cuma kan nggak enak kalo nggak ngomong dulu."


"Ya udah, atur atur deh enaknya gimana." jawab Niko pasrah.


Saat melihat sekeliling, tak sengaja Kinan melihat ada warung kecil di sudut jalan.


"Itu warung kopi ya??"


"Iya. Mau aku pesenin kopi??" tawar Niko.


"Boleh deh." jawab Kinan mengangguk.


"Seperti biasa ya, kopi capucino kan??" tanya Niko yang sudah paham apa yang di sukai Kinan.


"Sipp." Kinan mengacungkan jempol.


Niko pun berjalan menuju penjual kopi itu. Area yang saat itu mereka singgahi memang bukan suatu kawasan yang begitu ramai. Hanya beberapa orang saja yang ada disana, sekedar untuk melihat keindahan Kota Malang dari dataran tinggi Batu.


Meski saat itu malam hari, namun kecantikan Kinan tak bisa tertutupi. Gemerlap cahaya lampu dan terangnya rembulan, membuat wajahnya terlihat semakin cantik. Dan Niko tak memungkiri hal itu.


Dari kejauhan Niko menatap sang tunangan dengan begitu bangga. Perempuan yang baru saja bertukar cincin dengannya. Perempuan yang selama ini sudah mengisi hatinya, namun tak berani ia ungkapkan. Perempuan yang selama ini hanya bisa dia lihat, namun tak bisa ia miliki.


Sekarang kamu sudah menjadi milikku. Aku akan berjanji akan selalu setia menjaga dan melindungimu apapun yang terjadi. Menjadi sosok yang selalu ada di sampingmu, baik suka maupun duka. Menjadi sosok yang selalu kamu andalkan. Aku sayang kamu, Kinan.


"Nih kopinya." ucap Niko sambil memberikan segelas kopi hangat pada Kinan.


"Terima kasih." jawab Kinan lembut.


"Setelah ini kita pulang yukk." ajak Niko saat melihat jam yang sudah mendekati tengah malam.


"Kok pulang sih??" Kinan sedih.


"Udah jam 11 malam nih."


"Tunggu bentar lagi."


"Mau pulang jam berapa?? Apa mau nginep disini??" goda Niko.


"Enak aja." sahut Kinan.


"Ya nggak apa apa juga sih kalo kamu mau nginep. Nanti biar aku yang telpon orang tuamu." gurau Niko.

__ADS_1


"Ogah. Kita pulang sekarang aja." Kinan pun segera berbalik dan masuk ke dalam mobil Niko. Niko yang melihat itu pun tersenyum.


Dasar bocah polos.


__ADS_2