
Saat perjalanan pulang.
"Mama denger kamu tadi udah ketemu sama Niko ya?" Mama penasaran.
"Iya Ma." Jawab Kinan singkat.
"Tambah ganteng dia ya? Mama tadi sampai pangling."
"Iya Ma, Papa juga ngerasa gitu. Dia sekarang makin keren. Salah satu lulusan akmil terbaik loh dia Nak." Puji Papa.
"Biasa aja." Ucap Kinan lirih.
"Katanya dia sekarang bertugas di Batlyon ***** ya Pa?"
"Iya Ma. Jenjang karirnya bagus. Baru baru ini juga katanya dia baru pulang tugas luar negeri loh."
"Masa sih Pa?" Mama semakin kagum.
"Itu sih pasti karena koneksi bapaknya." Jawab Kinan lirih. Namun ternyata sang Papa mendengar ucapannya itu.
"Kinan." Papa menegur. "Nggak boleh ngomong seperti itu."
"Tapi memang itu bener kan Pa? Papanya Niko itu kan Jenderal, otomatis punya banyak koneksi. Jadi mudah bagi golongan mereka untuk ikut penugasan." Jelas Kinan.
"Setidaknya kamu nggak boleh meremehkan orang lain Nak. Mungkin aja itu memang hasil dari kemampuan Niko sendiri, makanya dia terpilih." Sahut Mama.
"Ya mudah mudahan saja." Jawab Kinan malas.
Kinan paling malas membahas tentang para pria dari kalangan atas. Dalam mindsetnya, mereka itu mendapatkan karir dengan mudah karena embel embel nama orang tuanya. Bukan dari hasil kerja keras mereka sendiri.
Sepanjang perjalanan Kinan lebih banyak diam, dia malas mendengar orang tuanya yang sedang membahas anak laki laki dari para jenderal.
"Oh iya Nak kamu besok ada acara nggak?" Tiba tiba Mama bertanya.
"Kenapa Ma?"
"Nggak. Besok Mama ada acara arisan, kamu ikut ya?"
"Maaf Ma, besok Kinan sudah ada acara."
"Acara apa?" Mama heran.
"Besok Kinan mau ke Rumah Sakit di Malang Ma."
"Kamu besok mau langsung kerja?"
"Nggak juga sih Ma. Mungkin beberapa hari ini cuma orientasi ruangan saja."
__ADS_1
"Kok nyari di Malang? Di dekat sini kan juga banyak Rumah Sakit." Sahut Papa protes.
"Itu aja aku dapat tawaran Pa. Lagian nggak ada salahnya juga ganti suasana, katanya Malang itu terkenal dengan Kota Dingin kan?"
"Iya dulu, tapi sekarang udah nggak dingin dingin banget kok. Sudah padat kendaraan." Ucap Mama.
"Ya nggak apa apa juga sih, disana kan juga ada banyak tempat wisata. Jadi pulang kerja bisa mampir kesana deh, refreshing." Ucap Kinan.
"Terus kamu kesananya gimana?"
"Ya di antar sama Pak Rachmat (sopir rumah)."
"Antar jemput??" Mama terkejut.
"Ya awalnya antar jemput, nanti kalo aku udah hafal jalan baru deh berangkat sendiri."
"Malang itu jauh loh Nak."
"Nggak jauh kok Ma, paling cuma satu setengah jam dari rumah nenek." Bantah Kinan.
Sejenak kedua orang tua Kinan terdiam mendengar ucapan sang anak.
"Ya udah kalo gitu, besok hati hati berangkatnya ya?" Ucap Mama.
"Iya Ma."
.
"Nanti pulang jam berapa?" Tanya Nenek.
"Nggak tau juga nek, mungkin siang atau sore." Jawab Kinan sembari mencium tangan sang nenek. "Ya udah kalo gitu Kinan berangkat dulu ya Nek. Pak Rachmatnya tak pinjem dulu ya??" Gurau Kinan. Nenek hanya tersenyum.
"Bawa mobilnya hati hati ya Pak?" Pinta Nenek.
"Baik Bu." Ucap pria yang usianya hampir setegah abad itu.
Pak Rachmat adalah sopir di rumah nenek. Dia bersama sang istri sudah lama ikut dengan nenek. Sang istri sendiri bekerja sebagai ART.
Selama perjalanan banyak yang mereka obrolkan.
Sekitar satu setengah jam pun berlalu. Mobil Kinan berhenti di sebuah rumah sakit Kota Malang yang cukup megah. Halaman parkir yang luas. Arsitektur bangunan yang memudahkan pasien untuk mengakses setiap poliklinik yang mereka tuju.
"Saya turun disini saja Pak." Ucap Kinan dengan sopan.
Pak Rachmat pun memberhentikan mobilnya di depan lobi poliklinik rumah sakit.
"Nanti kalo udah pulang, saya hubungi Pak Rachmat."
__ADS_1
"Baik Mbak." Balasnya.
Kinan pun langsung masuk ke dalam rumah sakit. Dan menanyakan ruang manajemen pada seorang security.
Tok...tok...tok...
"Iya masuk." Jawab seorang wanita dari dalam ruangan.
"Permisi Bu." Kinan membuka pintu tersebut dan menyapa si empunya ruangan.
"Iya, siapa ya?" Tanya wanita tersebut tanpa beranjak dari kursinya.
"Maaf Bu, saya Kinan yang beberapa hari lalu menghubungi Ibu."
"Oh, Kinan. Iya iya saya ingat. Masuk, masuk." Wanita tersebut langsung tersenyum bahagia dan menyambut Kinan.
"Silahkan duduk."
"Terima kasih Bu."
"Saya itu awalnya kaget loh waktu kamu nerima tawaran dari saya untuk kerja di rumah sakit ini."
"Kenapa Bu?" Kinan heran.
"Ya.., karena secara kamu itu kan lulusan dari luar negeri, nilai nilaimu pun bagus. Sebenarnya kamu bisa dapat rumah sakit swasta yang notabennya bisa ngasih kamu upah yang jauh lebih besar dari pada disini." Jelas Ibu Direktur.
"Tapi kamu malah memilih rumah sakit pemerintah yang mungkin gajinya hanya sebatas UMR saja." Imbuh si Ibu. "Saya salut sekaligus bangga."
"Saya memilih rumah sakit bukan dari upahnya Bu. Tapi dari seberapa besar saya di butuhkan di rumah sakit itu." Jawab Kinan. "Karena saya pikir kalo yang namanya rumah sakit swasta jelas dokternya pasti bagus bagus, punya jam terbang tinggi dan bahkan ada juga yang lulusan dari luar negeri."
"Jawaban yang cerdas." Puji si ibu direktur sembari tersenyum. "Sekarang udah siap untuk kerja disini kan?" Ibu Direktur penasaran.
"Iya Bu, In Shaa Allah sudah siap."
"Saya sebenarnya ingin menemani untuk orientasi ruangan, tapi tidak lama lagi saya ada rapat. Jadi tidak apa apa kan di temani sama staf lain??"
"Iya Bu tidak apa apa." Si Ibu Direktur pun memanggil seorang perempuan yang usianya tidak jauh berbeda dengan Kinan.
Perempuan itu mengajak Kinan berkeliling untuk memperkenalkannya ke setiap bagian rumah sakit.
Hingga mereka tiba di sebuah lorong panjang, di penuhi banyak kamar di setiap sisinya. Bahkan hampir tidak ada kamar yang kosong.
("Ruangan yang cukup padat.") Batin Kinan.
"Ini Ruang Rawat Inap khusus kasus Maternal (ibu bersalin dan nifas), baik itu yang fisiologis (normal) atau pun patologis." Jelasnya.
Kinan memperhatikan setiap detail tempat itu. Namun tiba tiba saja seorang pria yang sedang duduk dan menulis advis pasien bersuara.
__ADS_1
"Siapa dia?" Tanya pria itu dingin. Matanya menatap tajam Kinan, seakan dia tak suka.
"Ehh, Dokter Adam." Si mbaknya salah tingkah. "Ini dokter, pegawai baru. Dia baru masuk hari ini, jadi saya di suruh untuk menemani dia orientasi ruangan."