Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Puri Anyelir


__ADS_3

Tasya, Daffa dan baby Hima lalu menempati puri Anyelir yang lokasi nya bersebelahan dengan puri Anggrek.


Tasya memang sengaja meminta puri itu sebagai tempat hunian nya sementara ini. Ia tak ingin berada jauh dari kedua saudari nya, yakni Anna dan juga Zizi.


Zizi ikut menempati puri Anggrek bersama dengan Anna. Itu adalah permintaan Anna sendiri yang ingin ditemani oleh adik bungsu nya itu.


Kedatangan Tasya beserta suami, dan anak bayi nya menjadi berita terhangat di istana hari itu.


Beberapa orang yang mengenal Tasya langsung datang ke puri Anyelir untuk berjumpa dengan nya. Termasuk juga Patih Adda. Penasihat lama di masa Ratu Elva berkuasa.


Patih Adda kini tak lagi menjadi maha patih. Ia telah dicopot jabatan nya secara tidak hormat sejak Raja Jordan menghilang secara tiba-tiba pada tiga pekan yang lalu.


Kepada Tasya, Patih Adda menyertakan secarik kertas yang ia katakan sebagai surat dari sang raja untuk putri nya.


Raja Jordan jelas mengatakan kalau surat itu adalah untuk putri nya Tasya. Seolah ia telah mengetahui kalau Tasya akan kembali ke Nevarest dalam waktu dekat ini.


Segera setelah patih Adda pergi, Tasya langsung membuka surat itu. Dengan ditutupi oleh tubuh Daffa, Tasya leluasa membaca surat itu tanpa perlu khawatir akan ada yang ikut mengintip baca surat dari ayah nya.


Sementara itu baby Hima masih pulas tidur di atas kasur.


Isi surat nya berbunyi,


"Tasya, putri ku..


Jika surat ini sampai kepadamu, itu berarti Ayah telah tak berada di istana lagi.


Maafkan Ayah yang tak sempat bertemu dengan mu, Nak. Maafkan Ayah karena perpisahan yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu sehingga membuat kita tak bisa saling mengenal dengan lebih baik.


Ayah berharap kamu pun tumbuh cantik dan semakin anggun seperti Bunda mu, Ratu Elva. Ia adalah seorang ratu yang bijaksana dan dicintai oleh rakyat nya.


Tentang bunda mu, ada banyak yang sulit untuk dijelaskan dalam surat ini. Karena nya Ayah meninggalkan dua benda lain untuk mu, Nak.


Anggaplah ini adalah hadiah dari Ayah untuk mu.


Ini saja yang bisa Ayah sampaikan dalam surat ini. Selebih nya, kita jumpa lagi di lain kesempatan.


Ayahanda mu, Jordan."

__ADS_1


Tasya terharu usai membaca surat pertama yang ia terima dari ayah nya, baginda raja Jordan.


Ia lalu melihat pada dua benda yang ditinggalkan oleh ayah nya. Yakni sebuah gelang dari untaian biji bulat koka, serta sebuah kalung dengan bandul permata biru azzura.


Pada setiap biji di gelang itu Tasya melihat sebuah ukiran aksara seperti huruf "ha" Arab, dengan bentuk hati kecil di bagian pertengahan nya. Total nya ada 17 biji koka pada gelang tersebut.


"Boleh saya melihat gelang itu, Dear? Seperti nya saya pernah melihat nya di suatu tempat," ucap Daffa meminta ijin.


"Kamu pernah melihat gelang ini, Yang?"


"Ya," jawab Daffa dengan singkat.


Kemudian ia menambahkan lewat telepati.


'Sepertinya saya pernah mendengar nya dari baginda raja Jordan, dulu sekali. Dan saya juga pernah melihat gelang itu di buku jurnal milik kakek buyut saya, Rudolf Ethano Linsky,' ucap Daffa lewat telepati.


Tasya mula nya bingung kenapa Daffa mengajak nya bicara lewat telepati. Namun ia teringat dengan kemungkinan adanya pasukan bayangan milik musuh yang mengintai dalam diam.


Akhirnya perbincangan kedua nya pun berlanjut lewat telepati.


'Ya.. ada beberapa jurnal milik kakek buyut yang ada di perpustakaan di rumah Ayah. Dan saya dulu sering membaca nya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah. Seperti nya saya pernah melihat gambar gelang seperti gelang ini, Yang..' ujar Daffa seraya mengambil gelang koka dari tangan Tasya.


'Oh! Apa itu berarti gelang ini adalah salah satu penemuan hebat dari kakek buyut mu itu, Yang?' tanya Tasya bersemangat.


Kedua manik mata nya berkilau cantik. Dan itu membuatnya terlihat menggemaskan di mata Daffa.


Tanpa bisa menahan dirinya, Daffa lalu memberikan Tasya ciuman singkat di bibir nya. Membuat ibu muda itu tersipu malu jadi nya.


'Apa yang kamu lakukan, Yang? Kamu lupa ya kalau bisa saja ada pasukan bayangan di ruangan ini yang sedang mengintai kita?!' tegur Tasya dengan wajah bersemu merah.


'Biarkan saja dia mengintai. Lagipula, saya rasa orang itu gak akan bisa mengintai kita lebih lama lagi, Dear..' tutur Daffa dengan nada yakin.


'Kenapa bisa begitu, Yang?' Tasya bertanya keheranan.


'Tunggu sebentar. Akan saya tunjukkan langsung kepada mu. Ayo kita mendekati Hima terlebih dulu, Yang,' ajak Daffa kemudian.


Daffa lalu menuntun bahu Tasya hingga kedua nya kini duduk bersama di pinggir kasur.

__ADS_1


'Pangku lah Hima sebentar saja, Yang. Saya akan lebih merasa nyaman jika Hima ikut bersama kita,' ucap Daffa kemudian.


'Ikut? ikut ke mana, Yang? Memangnya kita mau ke mana?' tanya Tasya kebingungan.


'angkat saja Hima, Yang. Ayo cepat! Saya sudah penasaran sekali ingin membuktikan sesuatu ke kamu soal gelang koka ini!' ujar Daffa bersemangat.


Bagi orang sekitar yang melihat Daffa dan Tasya saat ini, mereka mungkin akan merasa janggal karena pasangan pasutri itu hanya terdiam saja sedari tadi.


Bahkan setelah keduanya duduk di pinggir kasur pun kedua nya hanya saling bertatapan saja. Hanya tampak perubahan ekspresi di wajah kedua nya. Daffa yang tersenyum-senyum. Serta Tasya yang terlihat bingung.


'Oke.. ku harap kamu tahu apa yang kamu lakukan ya, Yang!' Tasya mengingatkan.


'Tenanglah, Dear.. sekarang saya yakin dengan kekuatan tersembunyi di balik gelang koka ini,' tutur Daffa masih terlihat sangat yakin.


Kemudian Tasya memangku baby Hima sesuai perintah sang suami. Setelah itu Daffa merangkul bahu Tasya, sementara satu tangan nya yang lain memutar salah satu biji pada gelang koka dalam genggaman nya.


Lalu, Tasya mendengar Daffa membisikkan sebuah kalimat dalam bahasa asing dengan suara nyata. Bukan lewat telepati lagi.


"Nagned asauk halla, anyaumes asib idajret!" Ucap Daffa dengan suara bass nya.


Dan kemudian, keajaiban pun terjadi.


Tasya merasakan sesuatu menarik tubuh nya ke dalam dimensi yang lain. Meski begitu ia yakin kalau ia masih dalam posisi duduk.


Segala sesuatu di sekitar Tasya perlahan memudar. Terasa seperti ia yang menjauhi ruangan di tempat nya dan Daffa tadi berada.


Padahal ia masih lah duduk saat ini. Pun jua dengan Daffa yang masih duduk manis di samping nya.


Mata Tasya membuka lebar. Dan semakin takjub saat dunia di sekitar nya semakin menjauh. Hingga tahu-tahu mereka bertiga sudah berada di sebuah tempat yang sunyi.


Tasya, Daffa dan baby Hima di pangkuan nya kini tak lagi berada dalam ruangan di puri Anyelir. Karena mereka kini duduk di sebuah gazebo dari bambu yang berada di halaman berumput yang luas.


Sebuah rumah putih berdiri megah tak jauh dari tempat gazebo mereka berada.


"Daff! Apa yang terjadi?! Kita ada di mana?!!" Tasya bertanya dengan kegentingan yang terdengar nyata dalam suara nya.


***

__ADS_1


__ADS_2