
"Lapor pemimpin! Hamba sudah memastikan, kalau pemilik inner power telepati adalah Ratu Tasya," ucap Deril pada seorang lelaki paroh baya yang duduk santai beberapa meter di depan nya.
Deril adalah penguntit yang biasa mengawasi ratu Tasya dan raja Daffa bersama dengan Aro. Sejak satu bulan belakang ini ia memperhatikan raja dan ratu tersebut secara bergantian.
Deril ingin memastikan dugaan nya tentang kemampuan telepati yang entah dimiliki oleh ratu atau raja Nevarest tersebut. Dan dari hasil penyelidikan nya ternyata yang memiliki inner power telepati adalah ratu Tasya.
"Ratu Tasya? Bagaimana dengan Raja Daffa? Bukan kah katamu mereka melakukan telepati bersama-sama? Itu berarti raja juga melakukan telepati bersama ratu bukan setiap malam nya?" Tanya sang pemimpin.
Sebuah gundu diputar-putar dalam genggaman tangan lelaki itu. Pertanda ia sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Soal itu, hamba belum bisa menjelaskan nya, Tuan. Tapi hanya ratu Tasya saja yang melakukan telepati tak hanya kepada raja Daffa, melainkan juga kepada pelayan pribadi pangeran Hima, yakni Damsi dan Afni. Hamba pernah memergoki nya bersikap seperti sedang melakukan telepati dengan pelayan itu," lapor Deril kembali.
"Jadi begitu.. bagus. Untuk sementara, terus awasi raja dan ratu. Aku akan menyampaikan laporan mu ini ke pemimpin teratas," titah sang pemimpin.
"Baik, Tuan ku!"
Dan Deril pun berjalan mundur hingga keluar dari ruang tempat sang pemimpin berada.
Sementara itu pemimpin yang baru saja ditinggalkan Deril di ruangan nya kini terlihat semakin cepat memainkan gundu di tangan nya. Sebuah kebiasaan lama milik nya bila ia memikirkan sesuatu hal yang serius.
Wajah sang pemimpin tampak serius memikirkan sesuatu. Sehingga luka yang memanjang dari dagu hingga pipi nya membuat wajah nya semakin terlihat sangar. Dia adalah Alul Lazam. Sang Menteri Pertahanan.
Setelah beberapa lama berpikir, Alul Lazam lalu menulis sesuatu pada secarik kertas. Setelah selesai, dilipatnya kertas itu lalu dimasukkan nya ke dalam amplop.
Kemudian Alul Lazam memanggil ajudan nya yang setia.
"Hammar!" Panggil Alul.
Hammar, seorang lelaki berkulit hitam, lalu masuk ke dalam ruangan. Sedari tadi ia selalu berjaga di depan pintu. Karena memang tugas nya adalah menjadi pengawal pribadi dan orang kepercayaan Alul Lazam.
__ADS_1
"Hamba, Tuanku!"
"Ada tugas untuk mu. Pergi dan antarkan surat ini kepada Pemimpin Tertinggi. Tunggu perintah dari Pemimpin Tertinggi, baru segera lah kembali ke sini!" Perintah Alul pada Hammar.
"Siap, Tuan ku!"
Hammar lalu menerima amplop hitam tersebut. Lalu memasukkan nya ke dalam saku. Baru setelah nya ia pergi keluar menuju tempat Pemimpin Tertinggi berada.
Alul Lazam tak menyukai komunikasi lewat telepon. Karena kini telepon sudah dikuasai kembali oleh pihak raja Daffa.
Alul merasa geram. Karena selama lima tahun pemerintahan raja muda tersebut, kekuasaan yang telah diambil oleh nya sedikit demi sedikit telah kembali ke tangan sang raja muda. Padahal perjuangan Alul Lazam untuk bisa sampai ke titik ini sangatlah sulit.
Meski begitu, untuk ke sekian kali nya Sang menteri Alul menyabarkan diri nya. Toh semua kesusahan yang ia hadapi selama ini akan terbayar nanti manakala sang Pemimpin Tertinggi sudah berhasil menguasai Nevarest. Dan hal ini tak akan lama lagi terjadi.
Invasi dari kerajaan Goluth telah mempercepat keruntuhan kerajaan ini. Dan saat kedua kerajaaan itu telah payah akibat melewati masa peperangan yang panjang, Sang Pemimpin Tertinggi akan menyerang keduanya dalam satu serangan cepat.
Alul sungguh berharap, kejayaan itu akan segera mereka raih. Karena ia sudah mendambakan kekuasaan yang akan didapat nya nanti usai keluarga kerajaan berhasil dilenyapkan dari negeri ini.
Memikirkan tentang keluarga kerajaan, seketika membuat sang menteri dipenuhi oleh amarah dan dendam.
Aul memiliki dendam terhadap salah seorang keluarga kerajaan di pemerintahan yang silam. Karena ia terlahir sebagai anak dari hasil pernikahan ilegal seorang paman dari raja Jordan dengan ibu Alul.
Ibu Alul hanyalah seorang pelayan yang menerima 'anugerah' menjadi selir dari seorang bangsawan. Sehingga Alul pun menjadi anak tak resmi dari keluarga kerajaan.
Karena status ibu nya yang hanya seorang pelayan asing, terlebih lagi kulit Alul juga berwarna lebih gelap dibanding anggota keluarga kerajaan yang lain. Hal ini membuat Alul menerima perlakuan dan hinaan dari para sepupu bangsawan lain nya.
Alul muda sering kali di bully dan dihina dengan cara-cara yang tak manusiawi oleh mereka yang membanggakan status kebangsawan nya. Dalih mereka hanya karena status mereka yang bisa dibilang lebih murni dibandingkan Alul Lazam.
Perlakuan kasar dan menghina itulah yang akhirnya memunculkan ketidak puasan dalam diri seorang Alul Lazam. Sehingga ia pun bertekad untuk meruntuhkan kekuasaan keluarga kerajaan dari negeri kelahiran nya ini.
__ADS_1
Lalu ia bertemu dan mengenal sang Pemimpin Tertinggi dalam suatu kesempatan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Mereka bertukar pendapat tentang banyak hal. Dan Alul mendapati kalau pemimpin Tertinggi pun memiliki pemikiran yang tak jauh berbeda dengan nya.
Pada akhirnya, tawaran untuk bersekutu itu pun disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi kepada nya.
Sebuah kekuasaan tanpa memandang kasta. Sebuah kekuasaan yang hanya bisa diraih oleh mereka yang benar-benar dipilih berdasarkan kemampuan nya sebagai seorang pemimpin. Alul Lazam berharap bisa menjadi bagian dalam terbentuk nya negeri yang seperti itu. Sehingga Alul pun mengiyakan tawaran untuk bersekutu dengan sang Pemimpin Tertinggi. Itu terjadi sejak 12 tahun yang lalu.
"Tuan ku, ada utusan dari pasukan di perbatasan Timur datang," lapor seorang ajudan kepada Alul Lazam.
"Apa yang terjadi?" Tanya sang menteri.
"Menurut laporan, ada petisi dari rakyat di perbatasan sana yang menginginkan agar raja Daffa turun dari tahta nya," lapor sang ajudan.
Alul Lazam tanpa sadar tersenyum.
"Bagus sekali. Bukan kah ini berita yang sangat baik? Tak lama lagi, kota-kota lain pun akan melayangkan petisi serupa. Hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum raja yang sekarang lengser dari tahta nya. Hahaha!"
Sang ajudan hanya diam saja tak memberi komentar.
Setelah beberapa lama, Alul pun kembali memberikan perintah pada sang ajudan.
"Bawa utusan itu ke sini. Aku ingin mendengar sendiri apa yang terjadi di sana!" Perintah sang menteri.
"Siap, Tuan ku!"
Dalam posisi duduk nya, Sang Menteri Pertahanan tampak sudah tak sabar untuk mendengar cerita detail dari perbatasan Timur sana. Ia ingin segera menyampaikan petisi ini pada raja Nevarest.
Alul ingin tahu, bagaimana reaksi sang raja nanti. Saat ia mengetahui kalau kekuasaan nya tak lagi diinginkan, bahkan oleh rakyat nya sendiri.
***
__ADS_1