
"Ibu.." panggilan pelan dari arah belakang seketika membuyarkan percakapan Boru dan Magenta.
Keduanya langsung menoleh dan mendapati Dion yang telah berdiri dekat di belakang mereka.
"Dion? Kamu sudah bangun, Nak? Ayo sini duduk, makan dahulu. Ibu baru saja membuat sup sagu. Semoga kamu menyukai nya," ucap Magenta sambil segera berdiri.
Ia lalu mengambil mangkok baru dan memenuhi nya dengan sup sagu. Kemudian disodorkan nya mangkok berisi sup sagu itu kepada Dion yang masih berdiri di dekat meja.
"Kenapa masih berdiri? Ayo duduk, Nak! Coba lah sup sagu ini. Rasa nya cukup lezat," imbuh Magenta lagi.
Dion menatap bangku yang tadi diduduki oleh Magenta. Bagaimana pun juga itu adalah satu-satu nya bangku kosong yang ada. Karena satu bangku nya lagi masih diduduki oleh Boru.
Setelah terdiam cukup lama, Dion pun akhirnya bicara.
"Tapi ibu belum selesai makan. Ibu saja yang makan dahulu," ujar Dion dengan suara yang masih lemah.
Mendengar ucapan Dion, kedua manik mata Magenta pun seketika menjadi teduh. Ia tak menyangka kalau anak lelaki yang baru ia kenal beberapa hari lalu itu memiliki sikap yang sangat santun. Dion mengutamakan diri nya (Magenta) yang lebih tua dari nya (Dion) untuk menyelesaikan makan terlebih dahulu.
Di dekat kedua nya, Boru pun ikut mendengar percakapan antara ibu nya dan Dion. Dan Boru juga dibuat tertegun dengan kesantunan bocah lelaki itu.
Boru lalu menangkap isyarat mata dari sang ibu. Dan ia langsung mengerti. Dengan segera, Boru pun berdiri dan menawarkan Dion untuk duduk di kursi nya.
"Kamu duduk lah di sini. Temani ibu makan. Aku sudah selesai makan," ucap Boru dengan nada datar.
Setelah mengatakan itu, Boru lalu pergi ke kamar nya untuk mengambil handuk dan baju ganti. Lalu keluar lagi dan berpamitan pada sang ibu.
"Bu, Boru pergi ke sungai dulu ya. Mau mandi dulu," pamit Boru.
Hingga sosok Boru menghilang, Dion terus memperhatikan lelaki berkulit hitam itu. Dion sebenar nya mengetahui kalau kehadiran nya di rumah ini tak disukai oleh Boru. Sehingga ia cukup terkejut dengan keramahan Boru sesaat tadi kala menawarkan tempat duduk kepada nya.
Sambil menyesap sup sagu buatan Magenta, Dion memikirkan beberapa hal dalam diam.
Beberapa menit berikut nya, Magenta terlebih dulu menghabiskan sup sagu nya. Ia langsung mencuci mangkok bekas makan nya, lalu kembali duduk di bangku nya lagi. Magenta lalu memperhatikan Dion yang masih menghabiskan sup nya.
Diperhatikan lama-lama oleh Magenta, Dion pun merasa jengah. Akhirnya ia mempercepat proses makan nya. Ia ingin segera kembali ke kamar tempat tidur nya tadi. Bagi Dion, interaksi dengan orang lain masih merupakan sesuatu yang membuat nya merasa canggung.
Baru juga Dion berdiri dan hendak menuju wastafel, saat Magenta dengan gesit nya mengambil mangkok dari tangan Dion dan berkata kepada nya.
__ADS_1
"Biarkan ibu yang mencuci nya. Ibu khawatir luka-luka mu itu akan terasa pedih bila terkena sabun saat mencuci piring," ujar Magenta perhatian.
Sementara Magenta sudah berdiri di depan wastafel, Dion malah menatap serius pada luka-luka yang ada di kedua tangan nya. Melihat luka-luka itu, pandangan Dion pun menggelap.
Anak lelaki itu mengingat kembali rasa sakit yang dirasakan nya saat luka-luka itu dibuat. Saat orang-orang yang menculik nya mengambil darah nya dengan menggunakan suntikan. Begitu sakit. Dan pedih.
Meskipun setelah nya Dion diberi makanan yang lezat untuk mengembalikan stamina nya lagi, namun proses pengambilan darah itu terus menerus berulang dialami oleh nya. Bahkan menjadi rutinitas setiap minggu nya. Dan Dion amat membenci hal itu.
"Nak..? Dion..?"
Dion tiba-tiba tersadar saat bahu nya ditekan oleh Magenta. Tahu-tahu kini ia telah kembali duduk di kursi nya tadi. Dan Magenta pun sudah duduk tak jauh dari nya.
Dion lalu menangkap kekhawatiran dalam pandangan ibu paroh baya tersebut. Dan ia pun tersadar, kalau kegiatan melamun nya tadi telah membuat ibu nan baik hati tersebut menjadi khawatir.
Dion menarik segaris senyum pada bibir nya. Ia berusaha agar Magenta tak lagi mengkhawatirkan nya.
Sayang nya usaha Dion itu terbilang gagal. Karena bagaimana pun juga Magenta telah punya banyak pengalaman dalam menghadapi seorang anak. Jadi ia tahu betul, ketika ia sedang menghadapi anak yang sedang bermasalah. Seperti Dion saat ini.
Magenta lalu menatap lurus ke mata Dion dan berkata kepada nya.
Ditanya tentang orang tua, seketika itu pula air mata mengalir dari kedua sudut mata Dion. Anak lelaki itu menundukkan wajah nya seketika. Menatap pada tangan kecil nya yang penuh oleh bekas luka. Seperti juga hati nya yang penuh luka.
Mendapati Dion yang menangis dalam diam, jiwa keibuan Magenta pun terusik. Ia pun bangkit dari kursi yang ia duduki. Lalu mendekati Dion dan memeluk nya.
Dengan lembut, Magenta mengusap punggung Dion berulang kali. Hingga perlahan suara isakan pun terdengar dari mulut yang kini bersembunyi dalam pelukan Magenta.
Magenta membiarkan Dion menangis selama beberapa waktu. Menurut nya, terkadang seseorang perlu menangis untuk bisa melepaskan beban yang ia rasakan.
Karena bila beban itu terus menerus ditahan hingga menumpuk di hati. Itu justru bisa menjadi bom yang sewaktu-waktu akan meledak. Bahkan bisa melukai pelaku nya sendiri, dan juga orang lain.
Jadi Magenta pun membiarkan Dion menangis.
Setelah beberapa waktu berlalu, Magenta melepas pelukan nya dari Dion. Wanita itu lalu menarik kursi nya hingga duduk berdekatan dengan kursi yang diduduki oleh Dion. Ditatapnya kedua mata Dion dengan pandangan lembut. Dan ia pun bertanya.
"Ceritakan kepada ibu, Nak. Apa yang bisa ibu lakukan untuk mu?" Tawar Magenta perhatian.
Dion tak serta merta menjawab pertanyaan Magenta. Ia terdiam kembali selama beberapa saat.
__ADS_1
Setelah Magenta menyodorkan segelas air putih yang kemudian ditenggak nya hingga tandas tak bersisa, baru lah Dion bercerita.
"Dion ingin pulang, Bu. Dion rindu Papa.." tutur Dion dengan suara yang masih terdengar serak.
"Memang nya rumah Dion di mana?" Tanya Magenta.
Dan Dion menggelengkan kepala nya.
"Dion tak tahu alamat rumah Dion?" Tanya Magenta lagi.
Kali ini Dion mengangguk sekali.
"Apa Dion ingat sesuatu tentang rumah Dion? Atau siapa nama Ayah Dion?" Tanya Magenta mengorek informasi.
"Papa? Dion ingat, Papa sering dipanggil Yansen oleh teman-teman nya. Kami tinggal di sebuah rumah yang besar. Ada banyak baju buatan Papa di rumah. Ada banyak orang juga tinggal bersama kami. Ada Bibi Jung dan Paman Torik, dan juga.."
Dion tampak sedang mengingat-ingat tentang masa lalu nya. Sayang nya tak terlalu banyak yang ia ingat. Dikarenakan saat ia diculik oleh orang-orang jahat itu, usia nya baru lima tahun.
Wajah Dion kembali murung. Ia bersedih karena menyadari bahwa ia bahkan tak bisa mengingat jelas rupa wajah Papa nya.
Sementara itu dalam hati nya Magenta sibuk berpikir profesi Ayah Dion dari penuturan anak lelaki itu tadi.
'seperti nya ayah nya adalah seorang penjahit,' gumam batin Magenta.
"Lalu, bagaimana Dion bisa terpisah dari keluarga Dion?" Tanya Magenta lebih lanjut.
Menghadapi pertanyaan itu, lagi-lagi Dion tercenung. Syukurlah Magenta memiliki kesabaran untuk menunggu nya bercerita. Karena baru dua menit kemudian Dion menceritakan kisah hidup nya yang menyedihkan kepada Magenta.
Mulai dari kejadian penculikan, penyekapan, hingga semua pengambilan darah yang harus dihadapi nya selama masa pengurungan nya di atas sebuah gedung yang tinggi.
Mendengar cerita Dion hingga akhir, Magenta tak bisa menahan air mata yang kemudian menganak sungai di kedua sisi pipi nya.
Wanita itu seolah bisa ikut merasakan semua sakit dan luka yang harus dihadapi oleh anak lelaki itu.
'Bagaimana bisa orang-orang itu berbuat jahat kepada Dion?! Apalagi menurut Dion ia telah diculik sejak usia lima tahun! Ya Tuhan! Binatang apa yang begitu tega berbuat kejam kepada anak kecil nan baik ini?!' batin Magenta menjeritkan kesedihan nya.
***
__ADS_1