
Di istana kerajaan Goluth..
"Apa yang terjadi?" Tanya seorang pria muda yang duduk santai di atas kursi tahta yang dihiasi oleh batu-batu mulia. Sebuah mahkota emas tersemat di atas kepala nya.
Pria itu sedang mengamati pergerakan cairan hitam pekat yang berputar-putar di pertengahan udara. Melayang dengan begitu ajaib nya.
Sesekali telunjuk pria itu bergerak ke sana dan kemari, untuk mengatur pergerakan cairan hitam pekat yang ajaib itu.
Beberapa lelaki dengan rentang usia yang bervariasi berdiri sigap di kedua sisi dinding tempat pria muda itu duduk di tahta nya. Ada kesamaan di wajah semua lelaki yang berdiri dalam diam di tempat nya masing-masing. Yakni ekspresi takut yang terlihat begitu jelas menghiasi wajah semua nya.
Terlebih lagi pada wajah seorang lelaki usia awal dua puluhan yang saat ini sedang duduk bersimpuh di hadapan pria muda yang memakai mahkota. Lelaki berpakaian pemburu itu terlihat mengeluarkan keringat dingin di atas dahi nya.
Dengan hati yang dipenuhi oleh rasa takut, lelaki berpakaian pemburu itu pun menjawab pertanyaan yang ditanyakan kepada nya.
"Anak lelaki itu berhasil melepaskan diri, Baginda. Rantai mantra tak lagi bisa menahan kekuatan anak itu, sehingga pecah tanpa disadari oleh penjaga yang mengawasi nya," jawab sang pemburu.
Pria bermahkota emas pun seketika memicingkan mata nya tajam ke arah sang pemburu yang bersimpuh tak jauh di depan nya.
"Apa katamu?.. anak itu terlepas?!" Tanya sang raja memastikan.
"Be.. benar, Baginda Raja. Ta..tapi saat ini pasukan hamba sedang mengejar anak lelaki itu di hutan. Kami pasti akan berhasil menangkap nya kembali, Baginda! Hamba akan menjamin...eekkk!!!"
Ucapan sang pemburu tak sempat ia selesaikan. Karena cairan hitam yang tadi berputar-putar ajaib di atas udara tiba-tiba saja berubah menjadi seutas tali yang melingkari leher sang pemburu dengan begitu erat nya.
Pemburu itu kini bersusah payah melepaskan belitan tali dari cairan hitam yang ajaib itu di leher nya. Perlahan wajah nya berubah memerah karena pasokan oksigen yang terhalang ke otak nya.
"Apa yang bisa kau jamin bila kau bahkan tak bisa mengawasi seorang anak kecil saja, dasar bodoh!" Umpat sang raja.
Ekspresi tak suka terlihat jelas di wajah raja muda berwajah oriental tersebut. Bila dilihat, sebenar nya sang raja memiliki wajah yang tampan. Sayang nya dengan kebengisan yang kini menghiasi wajah nya, tak ada siapa pun yang ingin memuji atau pun mengomentari penampilan raja muda tersebut.
__ADS_1
Semua orang dalam ruangan yang sama dengan raja bengis itu kini menatap ngeri pada nasib sang pemburu. Pemburu itu kini terguling-guling di tanah karena merasakan nyeri pada bagian dalam tubuh nya.
Cairan yang tadi sempat mencekik leher nya, lalu berubah lentur kembali dan memasuki lubang mulut nya yang megap-megap mencari udara.
Cairan hitam itu lalu merangsek masuk ke dalam saluran tenggorokan sang pemburu. Dan terus meluncur hingga sampai di bagian paru-paru nya. Sampai di sana, cairan itu berubah kembali menjadi belati kecil yang tajam, dan mengoyak seluruh organ dalam milik sang pemburu dalam setiap pergerakan acak nya.
Rasa sakit yang maha hebat dirasakan oleh sang pemburu. Sehingga ia pun tanpa sadar berguling-guling di lantai dan menyentuh setiap bagian tubuh nya yang dilewati oleh belati cairan hitam dalam tubuh nya.
Sampai tak berselang lama, pergerakan pemburu itu pun berhenti. Setelah dua belati yang terbuat dari cairan hitam ajaib itu menembus keluar dari kedua sisi telinga sang pemburu.
Jelas sekali, belati ajaib itu telah mengoyak pula otak milik pemburu itu.
Selama beberapa saat suasana dalam ruangan itu menjadi hening. Benerapa lelaki yang berdiri di sisi dinding menatap ngeri pada tubuh sang pemburu yang kini telah terkulai mati di atas lantai. Cairan merah segar keluar dari setiap lubang yang ada di kepala sang pemburu. Menampakkan pemandangan yang sungguh teramat mengerikan untuk dilihat.
Kengerian menjerat hati setiap orang di ruangan itu. Terkecuali pada sang raja yang dengan santai nya hanya menggerakkan ujung jari telunjuk nya saja ke arah dua belati hitam yang tadi telah membunuh sang pemburu.
"Bersihkan sampah itu! Dan gantikan dia dengan yang lebih kuat!" Sang raja keji telah mengeluarkan titah nya entah pada siapa.
Tapi dua oramg pengawal bergegas masuk dan memindahkan tubuh yang telah bersimbah darah di atas lantai ke atas sebuah tandu. Tak lama kemudian keduanya membawa jasad sang pemburu keluar dari ruangan tersebut.
Kini, tak ada lagi sosok sang pemburu yang bisa dilihat oleh semua lelaki yang berdiri ngeri di sisi dinding. Hanya aaja, jejak darah dari pemburu itu masih terlihat begitu jelas berserakan di atas lantai.
"Dapatkan kembali bocah itu sesegera mungkin! Kalau perlu malah kirim semua pasukan yang ada di kerajaan ini untuk menangkap nya! Da tak ingin mendengar kegagalan lagi dari siapa pun!" Ancam sang raja kepada seluruh bawahan nya.
Serentak, jawaban pun diterima oleh sang raja.
"Baik, baginda raja!" Koor semua orang dalam ruangan itu.
Sang raja lalu bangkit dari kursi tahta nya. Dan dnegan santai nya, ia melangkahi genangan darah di atas lantai dan terus melangkah keluar dari ruangan aula itu. Meninggalkan kengerian di hati semua bawahan nya yang menunduk ketakutan.
__ADS_1
Raja muda itu lalu berjalan melewati lorong panjang istana megah yang beraksenkan keemasan. Kegeraman sedang dirasakan nya saat ini usai mendengar kaburnya bocah lelaki yang telah ditawan dalam penjara bawah tanah nya sejak bertahun-tahun yang lalu.
Ia bertekad untuk mendapatkan kembali anak itu. Karena setiap tetes darah dari anak itu teramat berharga bagi sang raja muda. Bahkan bagi siapa pun juga yang mendambakan keabadian..
Sang raja lalu berbelok ke sebuah puri di sayap kanan istana. Ia melewati halaman yang dihiasi oleh bunga mawar merah yang merekah indah.
Sayang nya keindahan bunga di taman itu tak mampu mengurangi amarah yang bercokol di dalam benak sang raja. Saat ini raja tersebut tetap melangkah dengan raut marah yang tampak nyata di wajah nya.
Raja itu lalu sampai ke sebuah paviliun. Paviliun Mawar Merah nama tempat itu. Tanpa salam ia langsung mendorong pintu masuk paviliun itu hingga terbuka lebar. Dan langkah nya masih terus maju memasuki ruangan yang ada di paviliun tersebut.
Setiap penjaga yang ia lintasi langsung menunduk dan memberikan salam kaku.
"Salam sejahtera. baginda Raja!" Sapa semua nya.
Tapi sang raja tak menggubris salam dari para bawahan nya tiu. Ia tetap merangsek masuk menuju ruangan terdalam dari paviliun tersebut. Hingga langkah nya lalu terhenti di depan sebuah ruangan yang tak memiliki pintu.
Dari tempat nya berdiri, raja melihat pemandangan seorang wanita muda berpakaian merah nan indah, sedang tersenyum pada bocah perempuan cantik yang berumur enam tahun.
Wajah bocah itu terlihat identik dengan wajah sang raja. Menunjukkan kedekatan hubungan genetik di antara kedua nya.
Sang raja tampak terpukau saat melihat senyuman di wajah wanita dewasa yang ternyata adalah ratu di kerajaan nya. Sang Ratu nya.
Amarah di wajah sang raja pun seketika meluntur dan terganti oleh ekspresi mendambakan sesuatu. Namun buru-buru raja itu mengeraskan lagi ekspresi nya. Dan tanpa salam ia pun melangkah masuk ke dalam ruangan tempat ratu dan putri nya berada.
Sang ratu langsung menoleh saat menyadari kedatangan seseorang. Namun saat ia melihat siapa yang datang, pandangan nya langsung mengeras. Dengan spontan, ia menggeser tubuh Rinaya, putri nya ke belakang tubuh nya. Berusaha menutupi pandangan raja terhadap sosok putri nya itu.
"Apa lagi mau mu, Psiko Frans?!" Tanya sang ratu dengan suara lantang menantang.
***
__ADS_1