
"Kita harus berpencar. Begini saja. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kalian lanjut pergi ke tempat darurat yang sudah disiapkan oleh ratu Tasya. Bawa ratu Charrine dan putri nya ke tempat itu. Tunggu selama beberapa hari, baru kirim sinyal merah kepada ratu Tasya. Jika aku berhasil mengalihkan perhatian musuh, aku akan menemui kalian di tempat itu tiga hati dari sekarang. Sekarang, pergilah!" Aro memberi perintah pada dua prajurit bawahan nya.
Salah satu dari keduanya terlihat enggan mengikuti rencana tersebut. Sehingga ia pun mengusulkan diri untuk menemani Aro. Namun Aro menolak nya.
"Jangan membantah perintah! Kenapa aku menyuruh kalian berdua pergi bersama target (maksud nya adalah ratu Charrine dan putri Rinaya)? Itu karena jika lewat dari tiga hari nanti aku tak juga menemui kalian di tempat itu, maka salah satu dari kalian harus memberi kabar terbaru pada ratu Tasya. Sementara satu lain nya berjaga. Mengerti?!" Aro memaksakan perintah nya.
"Siap, kapten!" Sahut kedua prajurit itu kompak.
"Bagus! Sekarang, pergilah!" Aro mengulangi perintah nya.
Namun lagi-lagi, ada yang tampak keberatan dengan rencana ini. Kali ini adalah ratu Charrine itu sendiri.
Sang ratu Goluth itu menahan lengan Aro yang hendak memutar kembali ke tempat mereka datang. Sehingga Aro pun lagi-lagi harus menahan sabar untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh ratu Goluth tersebut.
"Tidak kah sebaik nya Tuan ikut bersama kami juga? Bagaimana Tuan bisa melawan semua penjaga dari pihak musuh itu seorang diri?" Ratu Charrine pun mengajukan protes nya.
"Siapa yang mengatakan kalau hamba akan melawan mereka? Tenang saja Yang Mulia. Hamba hanya akan mengecoh musuh dengan cara membuat jalur pelarian palsu. Jadi minimal, kita memiliki waktu lebih banyak untuk melarikan diri. Sekarang, pergilah Yang Mulia! Waktu kita sangat mendesak saat ini!" Aro kembali memberikan peringatan nya.
"Ka..kalau begitu, beri tahu aku, siapa nama mu, Tuan? Aku dan putri ku berhutang nyawa kepada mu!" Tanya sang ratu penuh harap.
Ratu Charrine aka Karina benar-benar meras berterima kasih karena akhirnya ia bisa terbebas dari penjara emas nya. Dan ia akan selalu mengingat keempat orang prajurit yang sudah menyelamatkan nya ini.
Meskipun Karina mengetahui kalau Tasya lah yang telah memerintahkan prajurit berseragam hitam ini intuk menyelamatkan nya dan Rinaya. Entah Tasya telah mengetahui identitas asli Karina atau belum. Yang jelas Karina sangat bersyukur dengan adanya harapan bisa bertemu kembali dengan sahabat nya itu segera.
Aro menatap sang ratu sekilas. Sebelum akhirnya memberikan nama nya pada ratu Charrine.
"Nama hamba adalah Aro.. Yang Mulia."
Sang prajurit bayangan itu pun kemudian melesat lari menuju arah mereka datang tadi. Meninggalkan sang ratu yang masih mematri nama nya kuat-kuat di dalam hati.
__ADS_1
"Aro.. nama yang singkat..dan mudah diingat," gumam Karina pada udara kosong di depan nya.
***
Di pertengahan padang pasir, setengah jam berikut nya..
Dua sosok hitam beradu pedang. Terlihat jelas salah satu sosok telah tersudut dengan gerakan tangkas dari permainan pedang lawan nya. Beberapa luka sayatan dan sobekan terlihat mengeluarkan darah dari tangan, kaki dan tubuh sosok tersebut. Sementara sosok yang memenangkan pertarungan terlihat santai meladeni usaha lawan nya yang mulai terlihat kepayahan.
"Sudah. Menyerah lah, Aro. Kau juga tahu bukan, kalau kau tak akan bisa menang melawan ku. Kau baru berlatih pedang kurang dari tiga tahun. Sementara aku telah mengenal pedang sejak aku masih kecil. Menyerah lah. Dan akan kubiarkan kau hidup!" Ucap sosok yang memenangkan pertarungan duet tersebut.
Aro yang terlihat kepayahan karena menahan nyeri akibat luka sayatan di sekujur tubuh, kini menumpukan tubuh nya pada pedang panjang yang ia tancapkan ke tanah.
Aro tahu bahwa ucapan sosok di depan nya itu memang benar ada nya. Namun ia selalu memiliki komitmen untuk tetap setia pada apa yang ia yakini.
Ketika ia bergabung dengan pasukan bayangan tiga tahun yang lalu, itu dilakukan dengan terpaksa. Sehingga Aro tak memiliki kepuasan hati atas profesi nya itu.
Tapi setelah mengenal dua penguasa Nevarest yang menjadi target pengawasan nya, Aro pun mulai memiliki harapan untuk bisa membantu menciptakan tatanan kehidupan yang lebih baik. Seperti yang selama ini disaksikan nya selalu diusahakan oleh raja dan ratu Nevarest.
Aro berusaha menarik oksigen sebanyak semampu yang ia bisa. Sambil tak mengalihkan pandangan nya dari lawan bertarung nya itu.
"Aku tak mau menyerah, Ril. Bukan kah ini kesempatan bagus untuk berlatih dengan mu? Selama ini kau selalu saja menolak ajakan ku untuk berlatih pedang.." tutur Aro sambil terkekeh pelan.
Ya. Lawan bertarung Aro saat ini tak lain dan tak bukan adalah Deril. Rekan pasukan bayangan nya dulu.
Deril menatap datar pada Aro. Sebuah helaan napas terdengar kasar keluar dari hidung nya.
"Aku tak mengerti. Kenapa kau memutuskan untuk mengkhianati Pimpinan Teratas, Ro? Tidak kah apa yang telah diberikan oleh Pimpinan Teratas kepada mu selama ini sangat lebih dari cukup?" Tanya Deril penasaran.
Derik memutuskan untuk ikut beristirahat. Ia pun kini menumpukan beban tubuh nya pada pedang yang ia tancap di atas tanah.
__ADS_1
"Yah.. mungkin sudah jadi jalan takdir ku, Ril. Yang jelas, aku puas dengan pilihan ku ini. Seiya nya kini aku yakin kalau aku telah memihak pada orang yang tepat. Orang yang baik," jawab Aro dengan santai nya.
"Cih. Orang baik.. apa untung nya menjadi orang baik, Ro? Lebih sering orang baik selalu menjadi bulan-bulanan manusia serakah. Hidup ini cuma sekali. Jadi nikmati lah dengan sebaik mungkin!" Deril memberikan nasihat nya.
"Hahaha.. filosofi mu itu terdengar manis sekali, Ril. Tapi, apakah dengan filosofi dan jalan yang kau pilih hingga kini, hati mu benar-benar merasa puas? Apakah kau benar-benar bahagia?" Tanya Aro dengan senyuman yang terlihat ceria.
Deril menaikkan sebelah alis nya.
"Non sense! Kau terlalu banyak membual, Ro. Seperti nya kau pun telah ketularan bodoh nya kedua penguasa Nevarest itu!" Ejek Deril.
Aro tak langsung membalas ejekan Deril. Ia hanya memberikan mantan rekan nya itu senyuman ceria nya lagi selama beberapa saat. Sebelum akhirnya berkomentar.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Ril.. kau pun sebenar nya merasakan kekosongan bukan dalam hati mu itu?" Aro berkomentar.
"Persetan! Diam. Dan ayo kita lanjutkan saja pertarungan ini!" Ajak Deril yang mulai mencabut kembali pedang nya dari atas tanah.
"Kau boleh bersenang-senang dengan para wanita malam yang kau suka, atau memakan semua makanan dan tuak terenak yang kau mau.. tapi setelah semua itu selesai, kau pun menyadari kekosongan dalam hati mu itu bukan, Ril?" Oceh Aro lebih lanjut.
"Diam!! Bersiap sajalah kau, Ro. Anggap saja ini sebagai latihan pedang pertama dan terakhir kita. Jadi, jangan salahkan aku bila kau harus kehilangan nyawamu di kesempatan ini!" Seru Deril yang sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali menyerang.
"Oh. Baiklah.. jangan sungkan, Ril. Aku sudah cukup senang karena akhirnya bisa bertarung dengan mu juga. Aku hanya minta tolong, jangan rusak tubuh ku ini ya?" Pinta Aro dengan senyuman miris.
Untuk sesaat, Deril disergap oleh keraguan untuk menyerang mantan rekan nya itu. Namun ia meneguhkan hati nya lagi. Dan ia pun akhirnya tak lagi ragu melakukan tarian pedang nya melawan Aro.
Tak butuh waktu lama, sebelum tubuh Aro tumbang ke atas pasir di kota terpencil yang ada di kerajaan Allain. Aro kini tak lagi bisa bangkit berdiri karena Deril telah memberikan terlalu banyak luka di tangan, tubuh dan juga kaki nya.
Aro pun mulai terengah-engah karena kesulitan bernapas. Dan pada kondisi seperti itu lah Deril memutuskan untuk meninggalkan mantan rekan nya itu.
Sebelum pergi meninggalkan Aro, Deril menyempatkan diri untuk mengucapkan kalimat perpisahan nya.
__ADS_1
"Selamat tidur, Ro. Maafkan aku, karena tak bisa menuntaskan hidup mu yang menyedihkan ini!" Pamit Deril, sebelum akhirnya menghilang pergi.
***