Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Perseteruan di Balairung


__ADS_3

"Kau ingin menyerang Da, Bahm? Di hadapan para menteri dan pejabat ini?" Tanya Daffa sambil menaikkan sebelah alis nya.


"Well, yah. Mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin membiarkan mu berjalan bebas keluar dari ruangan ini, bukan?" Tanya balik Bahm dengan acuh tak acuh.


"Lagipula, tikus-tikus kecil ini tak akan berani mengatakan apa pun pada dunia luar. Bila mereka masih menyayangkan nyawa dan status mereka saat ini.. bukan begitu, kawan-kawan ku?" Bahm menyapa para menteri dan pejabat yang berdiri gelisah di tepi dinding.


Daffa melayangkan pandangan nya sekali lagi ke arah pejabat dan menteri. Dan sebuah pertanyaan pun keluar dari mulut sang raja.


"Kalian tak mungkin membiarkan darah raja kalian tumpah di depan mata kalian dengan begitu saja bukan, menteri dan pejabat ku?" Daffa ikut menyapa orang-orang di tepian dinding.


Beberapa menteri berani beradu pandang dengan Daffa. Dan salah satu dari mereka lalu memberanikan diri untuk bicara.


"Ma..maafkan hamba, Tuan Bahm. Tapi, bukankah membunuh baginda raja itu sama artinya dengan mengajukan kudeta? Alul Lazam.. kau juga mengetahui hal ini bukan?" Tanya seorang menteri ragu-ragu.


Bahm memicingkan mata nya ke arah menteri tersebut. Dan ia pun memberikan tanda pada Alul Lazam.


Alul Lazam kemudian mendekati sang menteri yang tadi telah bicara. Sementara sang menteri yang dituju oleh Alul Lazam malah berjalan mundur karena didera tiba-tiba oleh perasaan takut.


Semua menteri yang berada di dekat menteri tadi langsung menjauhkan diri. Mereka tak ingin ikut terkena imbas amarah sang perdana menteri.


"Ma..mau apa kau Alul?! Kau tak bisa berbuat sewenang-sewenang kepada ku!" Gertak sang menteri yang ditujukan kepada Alul.


Alul Lazam tak menyahut apa-apa. Ia terus berjalan mendekati sang menteri yang dituju nya dalam diam. Hingga tiba-tiba ia menarik pedang dari sabuk di pinggang nya, dan hendak menyerang sang menteri. Namun sebilah pedang lain telah menghalangi niat alul Lazam.


Sang menteri pun segera terduduk lemas karena terkejut pada apa yang terjadi di depan mata nya itu. Ia tak menyangka kalau ia hampir saja dibelah dua oleh Perdana Menteri Alul Lazam.


"Sebenar nya Da menyayangkan darah keluarga kerajaan yang masih mengalir deras dalam nadi mu itu, Alul. Bagaimana pun juga, kau maish terbilang anggota keluarga kerajaan juga.." ucap Daffa sambil menangkis pedang yang dipegang oleh Alul Lazam.


Karena tangkisan yang cukup keras, Alul Lazam pun sempat mundur beberapa langkah. Ditatapnya raja Daffa dengan pandangan benci.


"Jangan masukkan aku ke dalam barisan kotor keluarga kerajaan itu! Walau sekali pun juga aku tak sudi bila harus dikenal sebagai bagian dari kelompok patriat busuk seperti kalian! Berpura-pura anggun dan mementingkan rakyat, namun bersaing kuat demi menjadi yang paling berkuasa. Bahkan kalian juga sampai menghinakan orang yang masih berhubungan darah dengan kalian sendiri!" Umpat Alul Laxam melontarkan amarah nya.


Daffa berdecak pelan.


"Begitu rupa nya. Ternyata kau salah menghakimi sebagian kecil golongan menjadi keseluruhan golongan. Sayang sekali, karena anggapan mu yang salah itu, kau telah rugi dalam banyak hal, Alul. Prasangka buruk hanya akan membuat pelaku nya merugi," Daffa menasihati.


"Aarrgh! Diam kau!" Teriak Alul Laxam.


Sang perdana menteri langsung saja melepaskan aliran chi pada tubuh nya. Dan ia pun menunjukkan inner power milik nya di hadapan semua orang di ruang balairung.


Alul Lazam memberikan satu kali tebasan pedang ke arah Daffa. Meskipun jarak kedua nya masih jauh, namun dari gerakan mengayun yang dilakukan oleh Alul tadi, terdapat beberapa kilat merah yang melesat ke arah Daffa.

__ADS_1


Siapa pun yang terkena kilatan merah berbentuk bulan sabit tersebut maka akan sama imbas nya seperti terkena libasan pedang itu sendiri.


Dengan gerakan cepat, Daffa tiba-tiba telah berdiri di sisi lain ruangan. Agak nya ia menggunakan kekuatan mempercepat gerakan yang telah di copy nya dari salah satu pasukan bayangan yang telah ia tiru.


Daffa pun terhindar dari libasan kilau merah tersebut. Namun tidak bagi dua orang penjaga yang menjadi korban tak di sengaja serangan Alul Lazam tadi.


"Rupa nya kekuatan mu lumayan juga, Alul. Tapi Da tak bisa membiarkan mu bermain-main di ruangan ini sesuka hati."


Setelah mengucapkan itu, Daffa tahu-tahu telah berdiri di depan Alul Lazam, menangkis lengan Alul yang emmegang pedang hingga pednag di tangan nya terlepas, kemudian menendang sang perdana menteri hingga lelaki tersebut tersungkur jatuh ke belakang.


Punggung dan kepala Alul menabrak dinding di belakang nya cukup keras. Sehingga selama beberapa waktu sang perdana menteri pun kesulitan untuk kembali bangkit berdiri.


"Dari atas podium, bangsawan Bahm pun meneriaki pasukan bayangan nya untuk ikut menyerang Daffa pula.


"Kalian semua! Serang dia!" Titah sang bangsawan yang telah geram.


Maka kelima sosok pasukan bayangan yang tadi mengancam Daffa pun langsung menyerang raja muda tersebut. Dengan susah payah, Daffa berusaha menangkis dan membalas serangan kelima orang yang menyerang secara bersamaan tersebut.


Beberapa luka sabetan berhasil bersarang di legan dan pinggang Daffa. Dan itu membuat Bahm merasa sangat senang.


Sayang nya kesenangan Bahm itu tak bisa berlangsung lama setelah ia merasakan tekanan benda tajam pada bagian belakang leher nya. Terlebih saat sebuah suara wanita terdengar mengancam Bahm.


Seketika itu pula semua gerakan dalam ruang balairung tersebut hiatus. Dan semua perhatian pun terarah pada wanita yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang Bahm. Mereka semua terkejut saat melihat ratu mereka bisa berdiri tegak saat ini. Tak terbaring sakit di atas pembaringan nya seperti yang mereka ketahui selama ini.


"Dear..!" Seru Daffa pada wanita di belakang Bahm. Yang tak lain dan tak bukan adalah istri nya sendiri, ratu Tasya.


Saat ini sang ratu memegang sebilah belati yang ia tekankan pada bagian leher Bahm. Bara keteguhan hati bisa dilihat di mata sang ratu, oleh siapa pun juga. Terlihat jelas kalau Tasya tak main-main dengan ancaman nya itu.


Kelima pasukan bayangan yang tadi menyerang Daffa pun seketika melihat ke arah Bahm. Mereka menunggu instruksi selanjut nya dari sang pemimpin.


"Ratu..! Anda telah sadar!" Seru Bahm tak percaya.


"Ya. Da mendengar ada keributan di tempat ini. Jadi bagaimana Da bisa beristirahat dengan tenang di kamar?" Sahut balik Tasya dengan nada sinis.


"Tapi.. seharus nya Anda masih sakit saat ini? Atau jangan-jangan.."


Kesadaran pun menghampiri Bahm. Agak nya ia batu terpikirkan kalau pasangan raja dan ratu Nevarest tersebut telah membodohi nya selama ini. Mereka berpura-pura lemah di bawah pengawasan nya.


'Sialan! Mereka benar-benar pasangan penipu!' umpat Bahm dalam hati.


"Mau mu Da terus terbaring sakit karena sebab racun kiriman tabib mu itu, bukan?" Tuding sang ratu.

__ADS_1


"Apa maksud Anda, Ratu?" Bahm pura-pura tak mengetahui maksud ucapan Tasya.


"Jangan pura-pura bersikap bodoh! Da tahu, kalau Alul Lazam tak akan bertindak seorang diri. Dan syukurlah akhirnya kau menampakkan diri mu juga. Jika tidak, suami ku tentu harus bersusah payah untuk menyeret mu ke panggung megah ini!" Ejek ratu Tasya.


Bahm merasa geram atas ucapan Tasya. Sehingga dengan tiba-tiba ia menyikut perut Tasya dan menepis tangan sang ratu yang memegang belati. Bahm kemudian hendak menendang Tasya. Akan tetapi Daffa sigap menarik Tasya dan membawa nya mundur beberapa langkah menjauh dari Bahm.


"Kamu nakal sekali, Dear! Sudah saya bilang, tetap lah tidur. Biarkan saya membereskan sampah ini terlebih dahulu," tegur Daffa dengan suara bisikan yang hanya bisa didengar oleh sang istri.


"Aku khawatir, Yang. Bagaimana aku bisa tetap tidur di kamar ku. Sementara kamu melawan musuh berbahaya di sini. Sendirian pula!" Omel Tsya.


"Kata siapa saya seorang diri?" Tanya balik Daffa dengan kilau canda di mata nya.


"Kamu tadi diserang sama pasukan bayangan nya Bahm kan? Satu lawan lima? Gila kamu, Yang!" Omel Tasya kembali.


"Lihat saja semua luka di tangan dan kaki mu itu! Kamu ini mau basmi mereka atau mau mengorbankan diri sih?!" Imbuh Tasya lebih lanjut.


"Oh.. ini.. iya. Tadi cuma lagi pemanasan aja kok, Dear. Lagipula saya enggak sendirian. Karena sekarang yang lain kan lagi ngeberesin musuh-musuh di luar.."


Baru selesai Daffa bicara, pintu balairung tiba-tiba saja terbuka. Sedetik kemudian, sejumlah prajurit merangsek masuk ke dalam ruangan.


Melihat para prajurit tersebut, Alul Laxam langsung berteriak dan menuding ke arah Daffa dan Tasya.


"Serang dan tangkap mereka! Mereka adalah orang yang menyamar sebagai raja dan juga ratu!" Tuding Alul dengan pongah nya.


Untuk sesaat para prajurit itu melihat ke arah Daffa dan Tasya. Namun kemudian mereka malah melangkah ke arah Alul Lazam dengan pedang yang terhunus ke arah nya.


"Apa yang kalian lakukan?! Aku ini perdana menteri kerajaan ini! Jadi kalian harus mematuhi perintah ku! Tangkap penyusup yang telah menyamar menjadi raja dan ratu itu!" Alul berteriak seperti orang gila.


Para prajurit masih terus berjalan ke arah nya. Sehingga Alul pun kembali mengambil pedang nya yang terjatuh lalu melibaskan pedang nya ke arah para prajurit.


Beberapa kilau merah kembali melayang mengancam. Para prajurit yang terkena kilauan merah itu pun seketika mendapat luka memanjang seperti sabetan pednag langsung.


Melihat kondisi yang tak aman, Daffa langsung menggendong Tsya dan membawa nya keluar dari ruang balairung. Ia menitipkan ratu nya itu dalam penjagaan para prajurit.


"Tetap lah di sini, Dear! Biarkan saya melawan mereka dengan hati yang tenang!" Daffa mengingatkan Tasya.


Sebelualm Daffa beranjak masuk, Tasya sempat menahan lengan baju nya lagi dan berkata, "Tapi kamu harus berhati-hati ya Yang!" Mohon Tasya dengan kecemasan yang tampak nyata di kedua mata nya.


Daffa pun mengangguk. Lalu kembali masuk untuk menghadapi musuh-musuh nya lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2