
Sementara itu di lereng gunung berbatu di kota kecil yang ada di kerajaan Goluth..
Seorang anak kecil dengan baju compang-camping sedang duduk lesu memakan umbi bakar, yang didapat nya dari sebuah rumah di lereng gunung. Dengan lahap, dihabiskan nya umbi yang telah dingin itu. Seolah-olah telah berhari-hari lama nya perut nya tak terisi makanan.
Anak lelaki itu berumur sekitar sepuluh tahun. Namun postur tubuh nya terlihat mungil dengan warna kulit yang agak pucat.
Rambut anak lelaki itu berwarna merah menyala, dengan kondisi mata heterochromia. Heterochromia adalah kondisi di mana kedua mata memiliki warna iris yang berbeda.
Warna mata kanan anak tersebut berwarna cokelat gelap. Sementara mata kiri nya berwarna kuning hazzlenut. Ciri-ciri mata yang seperti ini adalah salah satu ciri utama para golden child. Yakni anak-anak keemasan yang memiliki gen darah yang istimewa.
Meskipun tak semua gejala heterochromia bisa menandakan bahwa anak tersebut adalah golden child, namun pencarian para golden child yang melegenda bisa menjadi lebih mudah dengan perbedaan ciri mata yang kontras ini.
Anak lelaki yang saat ini sedang menenggak air yang disimpan nya dalam wadah kulit itu adalah seorang golden boy. Dan karena nasib nya sebagai golden boy itu lah yang telah membuat nya diculik ke kerajaan Goluth.
Flashback...
Anak lelaki itu harus terpisah dari Papa nya, sejak usia lima tahun. Nama anak lelaki itu adalah Diandra Mary Chen, atau kerap disapa Dion.
Sang anak hampir melupakan wajah Papa nya sendiri. Sementara untuk Mama, ia melupakan nya sama sekali. Yang Dion ingat adalah Papa nya adalah seorang yang sangat baik dan penyayang. Dan Papa selalu memberikan kecupan di kening sebelum Dion tidur. Dion sangat merindukan papa nya. Anak lelaki itu sungguh ingin pulang.
Dion tak tahu, bahwa dunia tempat nya berada saat ini adalah dunia yang berbeda dari tempat nya dilahirkan. Yang ia tahu, orang-orang jahat membawa nga jauh dari Papa. Dan Dion selalu ingin pulang dan bersama lagi dengan Papa.
Bertahun-tahun sudah berlalu. Anak balita itu kini telah berusia sepuluh tahun. Ia tahu kalau ada yang berbeda dari diri nya dengan anak-anak yang lain.
Tak hanya tentang kedua iris mata nya yang berbeda. Namun juga sesuatu dalam darah nya. Sehingga membuat nya harus disuntik dan diambil darah nya secara berkala saat ia masih dikurung dalam istana tua di puncak gunung bebatuan (Istana Goluth).
Syukurlah dalam masa pengasingan nya, seorang kakek-kakek aneh tiba-tiba saja muncul dan memberikan nya sebuah minuman. Setelah meminum minuman yang diberikan si kakek, Dion merasa mata nya terasa berat. Dan tahu-tahu ia sudah tertidur.
Yang membuat heran Dion adalah manakala ia membuka kedua mata nya lagi, tahu-tahu ia telah berada di lereng gunung bebatuan ini.
Merasa terkejut namun senang, Dion pun segera menapakkan kaki nya ke daerah sekeliling. Tak terlihat di mana pun juga bentuk bangunan istana yang telah menjadi rumah sekapan nya selama beberapa tahun ini.
Meski pun heran, Dion merayakan kebebasan nya dengan hati yang penuh suka cita.
"Aku bebas!" Bisik Dion dengan kedua mata yang berkerlap-kerlip.
Tak lama kemudian Dion merasa lapar, hingga akhirnya ia melihat sebuah gubuk di lereng gung tersebut. Gubuk yang ditinggalkan penghuni nya entah ke mana. Dan Dion pun memakan umbi bakar yang terhidang di atas meja. Lalu buru-buru pergi dari gubuk tersebut.
__ADS_1
Flashback selesai.
Setelah kenyang menyantap umbi bakar, Dion kembali berjalan menuruni gunung. Kaki nya kini tak lagi terasa sakit saat melangkah. Karena ia telah mengambil pula alas kaki dari gubuk yang ditemui nya tadi.
Langkah Dion lalu membawa nya ke sebuah pedesaan yang sepi.
Entah karena saat itu memang sudah malam sehingga tak ada siapa pun yang bisa Dion lihat di luar-luar rumah di desa tersebut.
Sambil menatap penasaran ke sekitar nya, Dion terus melangkah maju. Sampai kemudian sebuah suara ramah terdengar menyapa nya.
"Nak, apa yang kamu lakukan di luar malam-malam begini? Ya Tuhan! Baju mu! Siapa nama mu, Nak?" Tanya seorang wanita bertubuh gempal dengan rambut keriting lebat yang melingkari kepala nya yang bulat.
Meski penampilan sang wanita tersebut terlihat baik, pengalaman bertahun-tahun dalam kurungan telah membuat Dion jadi takut untuk berinteraksi dengan manusia lain nya. Bagi anak lelaki tersebut, hanya Papa nya saja orang yang baik dalam hidup nya.
Dan juga kakek-kakek aneh yang telah membebaskan nya dari penjara itu. Begitu pikir Dion.
Langsung saja, tanpa menjawab pertanyaan sang wanita, Dion kembali berbalik dan hendak lari sekencang-kencang nya. Menjauh dari sosok wanita tersebut.
Namun sayang sekali. Begitu Dion berbalik, ia malah membentur dinding tubuh seorang lelaki berperawakan besar dengan warna kulit yang lebih hitam dari wanita tadi.
"Diam dan jangan lari!" Titah sang lelaki hitam.
"Boru? Kamu menyusul ibu, Nak?" Terdengar suara wanita pertama bicara.
"Ya, Bu. Boru khawatir kepada ibu. Apalagi akhir-akhir ini mulai sering terdengar pekikan hyena di dekat sini. Boru takut ibu bertemu dengan kawanan binatang buas tersebut," sahut Boru.
Sang wanita yang adalah ibu daei Boru itu memberikan senyuman teduh nya untuk sang putra. Nama wanita itu adalah Magenta.
"Siapa anak ini, Bu?" Tanya Boru pada ibunda.
"Entah lah, Nak. Ibu pun baru melihat nya jalan sendirian di sini. Seperti nya dia sudah lama tersesat sendirian. Kasihan sekali," ucap Magenta sambil melihat ke arah Dion yang berusaha melepaskan bahu nya dari cengkeraman Boru.
Berusaha mengalirkan ketenangan, Magenta pun mendekati Dion.
Wanita itu lalu berjongkok di depan Dion. Hingga kedua mata mereka kini sejajar. Baru setelah nya Magenta berbicara.
"Nak.. tenang lah. Kami tak akan menyakiti mu. Tapi karena ini sudah malam, sebaik nya kamu ikut bibi dulu ya pulang ke rumah. Nanti kami akan mengantarkan mu pulang. Bagaimana?" Magenta membujuk Dion.
__ADS_1
Mendengar kata 'pulang', seketika itu pula sikap Dion menjadi tenang.
'Pulang.. Dion ingin pulang..' bisik hati nya Dion.
Dengan suara sedikit serak, Dion pun menatap balik ke arah Magenta dan menanyakan kesungguhan ucapan wanita paroh baya tersebut.
"Pulang? Bibi mau antar Dion pulang?" Tanya Dion.
Magenta mengangguk pasti sekali. Dengan lembut, ia mengusap kepala Dion beberapa kali dan mengusap pipi nya dengan kelembutan.
"Ya. Tentu. Setelah hari terang, kami akan mengantarkan mu pulang. Jadi sekarang Dion ikut bibi dulu ya?"
"Iya.." jawab Dion dengan sikap yang jauh lebih tenang.
Dion lalu menarik baju di bagian lengan Magenta. Dan anak lelaki itu pun mengikut pergi ke rumah Magenta.
Hati nya sungguh dipenuhi harap oleh satu kata yang diucapkan Magenta tadi kepada nya.
'Pulang.. Dion akan pulang..' rapal Dion berulang-ulang dalam hati nya.
Tanpa anak kecil itu sadari, seulas senyum pun membayang di wajah nya yang putih dan mungil.
Di belakang Dion dan Magenta, Boru menatap bingung ke arah Dion.
Ia tadi sempat bertatapan dengan anak lelaki tersebut. Dan ia yakin melihat kilat berbeda antara satu mata dengan satu mata lain nya milik anak tersebut. Seperti memiliki dua warna mata yang berbeda.
Aneh nya, saat Boru mengamati Dion lagi untuk yang kedua kali, kedua mata anak lelaki itu nyatanya berwarna cokelat gelap. Tak ada perbedaan di antara kedua mata nya.
'Apa aku berhalusinasi ya? Hmm.. nampak nya hari ini aku terlalu letih,' gumam hati Boru.
Menit-menit berikut nya, kedua orang dewasa berkulit hitam, dan seorang anak lelaki berkulit putih, itu berjalan bersisian di jalanan desa yang lengang. Sampai kemudian terdengar lolongan serigala di kejauhan.
"Auuuuuu..,"
Mendengar suara lolongan itu, seketika saja menimbulkan sensasi merinding pada seluruh bulu di tubuh Boru. Lolongan itu menjadi pertanda bahwa malam semakin lengang. Dan mereka harus bergegas masuk ke dalam rumah, sebelum mereka bertemu dengan makhluk penyintas malam yang buas.
***
__ADS_1