Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Dua Pengintai


__ADS_3

'Menurut mu, Yang, bagaimana ya kabar ilmuwan Yodha Azkar? Apakah ia dan Kak Anna berhasil menemukan spirit ibunda Ratu? Ini sudah setengah tahun lebih sejak terakhir kali nya aku berkomunikasi dengan Kak Anna lewat liontin Ruby,' ungkap Tasya kepada Daffa di pembaringan mereka pada suatu malam.


Seperti biasa, keduanya berbincang lewat telepati untuk menghindari pihak musuh yang mencuri dengar lewat telinga pasukan bayangan.


'Mungkin mereka membutuhkan waktu lebih di dunia spirit sana, Dear. Bersabar lah. Lagi pula kita masih memiliki cukup banyak waktu. Bukankah menurut Yodha kita masih punya waktu beberapa tahun lagi?' ujar Daffa menenangkan hati sang istri.


'Ya. Ucapan mu itu memang ada benar nya juga, Yang. Hmm. Aku berharap Kak Anna dan Tian Yodha baik-baik saja saat ini. Aku masih tak menyangka saat tiba-tiba saja Kak Anna menawarkan diri untuk menemani Tuan Yodha. Padahal kakak berkata kalau ia sedang membantu Jason menemukan anak nya beberapa tahun yang lalu,' ujar Tasya kembali.


'Mungkin dia sudah menemukan anak nya Jason, Dear. Dan bukankah Anna juga mengatakan kalau kepergian nya ke dunia spirit adalah arahan dari kakek guru Sodiq?' Sahut Daffa.


Benak Tasya langsung teringat pada sosok kakek renta yang menyambut nya di Dunia Enam Pintu. Kakek itu seperti nya memang mengetahui banyak hal. Bukti nya saja ucapan nya tentang menjadi ratu muda itu terbukti benar saat ini.


Bahwa Tasya memang telah menjadi ratu termuda selama kerajaan Nevarest berdiri.


"Ingat kakek guru Sodiq, aku juga jadi keingetan sama Kak Anis. Kalau nanti ketemu lagi sama kakek itu, aku mau tanya hubungan nya deh sama Teh Anis," gumam Tasya dengan suara vokal nya secara tak sadar.


Daffa menyadari sikap ceroboh sang istri. Sehingga ia pun langsung menegur Tasya dengan cara mencubit hidung nya pelan.


"Iih.. kenapa sih?" Tanya Tasya kembali dengan suara vokal.


Daffa tak membalas ucapan Tasya. Ia langsung saja menyergap bagian ceruk leher sang istri dengan kecupan-kecupan lembut. Membuat Tasya langsung bergidik dan tak mampu menahan suara ******* yang keluar dari mulut nya.


"Ahh.. Sa.. sayang.. kenapa tiba-tiba.."


Ucapan Tasya langsung dipotong Daffa dengan kecupan singkat di mulut nya.


"Syuut... Diam dan ikuti saya, Dear.." bisik Daffa dengan suara barito nya.


Lebih lanjut, Daffa kembali bicara langsung ke dalam benak sang istri.


'Kamu lupa untuk bicara lewat telepati saja ya, Dear.. lain kali, ingat itu. mm.. saya suka wangi kamu, Tasy..'


Dan malam itu pun dua tubuh berpagut mesra. Sementara dua pasukan bayangan yang mengintai di luar ruangan seketika meradang dalam rasa jengah.


Kedua nya memutuskan untuk menghindar dari ruangan panas itu selama satu jam berikut nya.


Berdasarkan pengalaman pada malam-malam sebelum nya, pasangan raja dan ratu muda tersebut bisa memadu kasih hingga satu atau dua jam lama nya. Membuat pekerjaan Dua Pengintai itu jadi terasa memalukan.

__ADS_1


Macam seperti tukang intip saja. Mesum!


Kedua pengintai itu lalu bertemu di atas sebuah pohon waru yang dahan nya cukup tinggi. Wajah dan seluruh tubuh kedua nya ditutupi oleh seragam berwarna hitam polos. Mirip seperti ninja yang ada di film Jepang di bumi.


Hanya sepasang mata dan sedikit bagian kulit di sekitar nya saja yang bisa terlihat. Dan saat dua pengintai itu melihat ke mata rekan nya, masing-masing mereka mengetahui kalau setiap dari mereka mulai jemu dengan tugas berjaga malam di kediaman istirahat raja dan ratu Nevarest.


Salah seorang pengintai melepas topeng di wajah nya. Hingga menampakkan sosok wajah pria muda yang berumur sekitar awal dua puluhan. Pemuda itu lalu duduk jongkok pada dahan pohon tempat nya berdiri. Pandangan nya lurus menatap kediaman raja dan ratu yang kini telah gelap.


Pikiran pemuda itu nyalang membayangkan aksi panas pasangan dalam ruangan itu. Dan wajah nya langsung bersemu merah.


Pemuda itu merasa tak nyaman pada tubuh bagian bawah nya. Sehingga dengan cepat ia pun langsung memalingkan wajah nya ke arah yang lain.


"Kau pasti sedang membayangkan nya ya, Ro?" Ledek pengintai ke dua, Deril.


Aro menatap kesal pada Deril yang saat ini juga sudah melepaskan topeng hitam nya.


"Seolah-olah kau tak pernah membayangkan nya saja, Ril!" Tukas balik Aro.


Deril mengambil sesuatu dari balik saku baju nya. Sebuah tablet hisap penambah energi yang diberikan oleh ketua pengintai mereka, Bison.


Dengan tablet penambah energi itu, para tim pengintai bisa terus menggunakan inner power kamuflase mereka selama 20 jam tanpa henti. Asalkan dalam sehari mereka mengkonsumsi dua tablet pil tersebut.


"Sialan kau, Ril! Kau ternyata lebih bangs*t dibanding yang ku pikirkan!" Cecar Aro sambil mendengus.


"Hahaha.."


Setelah beberapa lama, giliran Aro yang mengunyah tablet penambah energi dari dalam saku nya.


"Menurut mu, sampai kapan Pemimpin akan menugaskan kita untuk melakukan pengintaian ini? Kenapa tak kita bersihkan saja kekuasaan monarki di negeri ini dalam satu gerakan?" Tanya Aro kemudian.


Deril lalu mengambil posisi di dahan lain dari pohon yang sama. Pandangan kedua nya kembali tertuju ke dalam kediaman raja dan ratu yang telah gelap pekat.


"Ku dengar Pemimpin sedang mencari sesuatu milik raja Daffa. Namun belum menemukan nya," jawab Deril.


"Apa? Tugas pencarian itu apakah dilakukan oleh si Elang? Biasanya dia yang ditugaskan untuk menjadi perampok?" Tanya Aro kembali.


"Tak tahu kah kau, Ro? Elang dikabarkan menghilang."

__ADS_1


"Hah? Elang menghilang?! Bagaimana bisa? Apa dia tersesat? Tak mungkin juga kan kalau dia sampai tertangkap! Dia adalah yang terkuat di antara kita semua!" Seru Aro tak percaya.


"Ya. Menurut kabar yang ku dengar sih, begitu. Elang menghilang saat ia ditugaskan untuk mengambil sesuatu dari rumah bangsawan Scholinszky. Entah apa yang terjadi pada nya, tapi menurut Bison kemungkinan Elang sudah ditangkap oleh pihak lawan," papar Deril.


"Aku tak percaya! Dari mana kau mendengar nya, Ril? Jangan mengada-ada!" Kecam Aro.


"Hah. Tak percaya ya sudah lah. Aku baru saja mendengar nya dari Berti. Kami bertemu saat siang tadi."


"Berti mengatakan itu padamu?"


"Ya. Sudah kubilang kan. Wakil ketua kita itu sudah pasti tak akan mengatakan kebohongan bukan? Elang seperti nya memang sudah tewas. Padahal baru dua hati lalu kami bertemu," pandangan Deril berubah jadi melamunkan sesuatu.


"Elang! Ya Tuhan. Rasa nya sulit untuk dipercaya!" Aro ikut menatap ke kejauhan dengan pandangan kosong.


Tak menyangka bahwa nasib tragis bisa terjadi pada orang terkuat dalam pasukan bayang mereka.


"Aku mulai muak dengan tugas ini, Ril. Aku ingin pulang ke kampung halaman ku. Menjadi seorang pengintai sebenar nya bukan keinginan ku. Jika saja aku tak ditangkap oleh Ketua saat aku diam-diam mencuri kelapa di ladang," Aro membisikkan penyesalan nya.


"Diam. Hati-hati dengan ucapan mu itu, Ro. Bisa jadi angin akan menyampaikan ucapan mu tadi ke Ketua. Maka urusan nya bisa runyam. Kau mau, besok kau hanya tinggal nama saja, hah?!" Tegur Deril.


Aro merapatkan mulut nya seketika. Sedikit menyesal karena ia ceroboh dalam berkata-kata.


Pada akhirnya, satu setengah jam berikut nya, kedua pengintai itu diam bertengger di atas dahan pohon waru yang tinggi. Memandang ke kediaman raja dsn ratu yang masih tetap gelap, bahkan setelah dua jam berlalu sudah.


Aro mencebik kesal. Di samping nya, Deril tiba-tiba berdiri dan berkata.


"Aku ingin pergi sebentar. Kau dulu yang berjaga ya!" Pamit Deril yang hendak pergi.


"Mau ke mana?" Tanya Aro spontan.


Deril memberi cengiran lebar ke arah Aro, sebelum menjawab pertanyaan rekan nya itu.


"Yarin," jawab Deril singkat dan padat.


Deril pun melompat turun dari atas dahan, sebelum kemudian sosok nya menghilang tersamarkan lingkungan di sekitar nya.


"Dasar bajing*n!" Umpat Aro kemudian.

__ADS_1


***


__ADS_2