Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Penyesalan Soraya


__ADS_3

Keesokan pagi nya, Soraya merasakan sakit di bagian lubang a nal nya. Ia yakin kalau permainan ranjang Bahm semalam telah menciptakan robekan pada organ intim nya itu.


Begitu membuka mata, Soraya tak lagi mendapati keberadaan Bahm di samping nya.


Semalam, setelah mengambil keperawanan a nus Soraya di sofa, lelaki itu dengan begitu keji nya melakukan nya lagi di atas kasur. Soraya tak henti-henti nya menangis dan menjeritkan rasa sakit.


Tapi Bahm seolah menutup telinga nya.


Lelaki itu tetap saja mereguk kenikmatan nya sendiri. Sementara Soraya harus bertahan di antara dua keinginan untuk tetap bertahan hidup atau menyerah mati.


Mengingat apa yang dialami nya semalam tadi, dua bulir kristal pun kembali menganak sungai di kedua pipi wanita berparas manis tersebut.


Dengan posisi Soraya yang tidur tengkurap, air mata itu langsung merembes ke dalam kain sprei berwarna merah darah itu.


Soraya terus menangis, meratapi nasib nya yang penuh derita. Dan saat ia menyadari kalau ia bahkan tak bisa membalikkan badan akibat rasa sakit pada bagian a nus nya, Soraya kembali menjeritkan tangis yang tak bersuara.


Baru sekitar setengah jam kemudian, Soraya berhenti menangis.


Ia lalu menahan perih pada a nus nya yang terluka. Langkah nya ia tujukan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya yang terasa lengket dan lagi kotor.


Pandangan Soraya lalu menangkap noda darah yang berceceran di atas lantai menuju kasur. Dan hati nya pun kembali merasakan pilu. Ia tahu benar, kalau itu adalah darah dari luka robekan pada anus nya.


Dengan langkah tertatih sambil menahan perih, Soraya pun menyeret tubuh nya menuju kamar mandi. Mencoba membersihkan perasaan kotor dan hina yang ia rasakan saat ini. Usai ia menjual tubuh nya pada lelaki keji bernama Bahm itu.


***


Beberapa hari kemudian, Soraya merasa kondisi nya telah lebih baik.


Ini juga berkat obat salep yang 'dihadiahkan' oleh bangsawan Bahm kepada nya. Meski pada mula nya Soraya tak ingin menggunakan obat salep itu pada luka nya, namun setelah beberapa lama memikirkan nya lagi, Soraya pun akhirnya menggunakan obat salep itu juga.


Syukurlah bangsawan Bahm tak lagi menemui nya selama beberapa hari itu. Karena jika Soraya kembali melihat lelaki itu dalam waktu dekat, Soraya tak yakin bisa menahan kebencian yang mulai menjangkiti hati nya.


Kebencian yang ditujukan Soraya kepada bangsawan Bahm. Lelaki yang pernah ia kira sebagai lelaki baik karena memberikan makanan dan tempat tinggal untuk nya.

__ADS_1


Soraya jadi menyesal karena menerima ajakan Tuan Bahm untuk mengikuti nya pergi ke kerajaan Allain beberapa pekan yang lalu. Jika saja wanita itu masih berada di Nevarest, ia mungkin tak akan mengalami malam penyiksaan seperti semalam tadi.


Keikut sertaan Soraya untuk pergi dengan Bahm sebenar nya didasari oleh rasa bersalah nya pada Ratu Charrine. Karena perempuan itu telah membawa ratu Charrine dan putri nya kepada Tuan Bahm.


Sehingga Soraya pun ingin memastikan kalau ratu Charrine dan Putri Rinaya akan diperlakukan dengan baik oleh bangsawan Bahm. Karena nya ia pun pada akhirnya ikut pergi ke pusat kota kerajaan Allain ini.


Sayang nya penyesalan memang selalu datang di akhir. Jika datang nya di awal, tentu itu bukan lah penyesalan. Melainkan pertimbangan.


Jika saja Soraya bisa mempertimbangkan segala nya lebih baik lagi di awal. Tentu semua hal buruk yang terjadi kepada nya tak akan terjadi.


Bahkan meski ia sudah berada dekat dengan ratu Charrine dan putri Rinaya pun, Soraya kini tak yakin bisa memberi keamanan dan hidup yang lebih baik bagi pasangan ibu dan anak tersebut.


Dikuliti oleh perasaan bersalah, siang itu Soraya memutuskan untuk pergi mengunjungi hotel tempat Ratu Charrine dan putri Rinaya di sekap.


Terhadap janji nya kepada Soraya, bangsawan Bahm tetap menunaikan janji nya untuk memberi tempat tinggal yang layak bagi sang ratu.


Memasuki gedung hotel, langkah Soraya beberapa kali dihambat oleh keraguan yang bercokol di benak nya. Wanita itu ragu, malu, sekaligus juga merasa bersalah untuk bertemu kembali dengan ratu Goluth tersebut.


Bagaimana pun juga ini adalah pertemuan pertama kembali mereka setelah di hotel yang ada di kerajaan Nevarest dulu.


***


Begitu masuk, Soraya mendapati pasangan ibu dan anak tersebut sedang saling berpelukan sambil melihat ke luar jendela.


Dari tempat nya berdiri, Soraya melihat putri Rinaya yang ternyata sedang tertidur di pangkuan sang ibunda. Melihat putri Rinaya, pandangan Soraya pun jadi melembut.


Soraya selalu menyukai sang putri kecil. Karena sejak kedatangan nya ke istana, sang putri selalu diasuh oleh Soraya.


Dan kini, Rinaya mulai beranjak besar. Usia nya mungkin sekitar enam tahun kini. Karena saat Soraya pergi dari istana dulu, Rinaya baru berumur empat tahun saja.


"Akhirnya, kau datang juga, Soraya. Ku pikir, kau tak akan berani menampakkan lagi wajah mu di hadapan ku!" Sang ratu menyindir keras Soraya.


Tatapan tajam yang dilayang kan oleh ratu Charrine sempat membuat langkah Soraya menjadi gentar. Meski itu hanya sesaat saja.

__ADS_1


Soraya pun mengumpulkan kembali keberanian nya dan melanjutkan lagi langkah nya menuju sofa tempat Karina berada. Mulut wanita itu tetap membisu, tak membalas atau pun mengomentari sindiran Karina.


Suara Karina kini telah kembali, berkat obat ramuan dari dokter yang dibawa oleh bangsawan Bahm. Soraya sedikit menyesali karena sang ratu telah mendapatkan kembali suara nya. Karena dengan begitu ia harus menerima cibiran dan kecaman dari mantan ratu nya tersebut.


"Memilih untuk diam ya? Bagus lah. Aku pun malas untuk mendengar ucapan mu lagi, Soraya. Kau telah berubah banyak selama dua tahun kita berpisah. Aku bahkan tak lagi bisa mengenali Soraya yang dulu pernah bekerja padaku lagi sekarang," imbuh Karina.


Sang ratu menyisiri rambut Rinaya yang menjuntai ke depan mata dengan tangan nya. Dengan berhati-hati, diselipkan nya rambut Rinaya ke belakang daun telinga sang putri.


Pandangan Karina pun kini tertuju ke wajah Rinaya. Dalam hati nya, sang ratu merasa menyesal karena telah menyeret putri kandung nya sendiri ke dalam nasib nya yang buruk ini.


'Jika saja Rinaya bukan anakku, ia tentu tak akan mengalami hidup yang tak jelas seperti ini, bukan? Rinaya berhak untuk bahagia. Ia sangat pantas untuk memiliki seorang ayah yang baik hati dan menyayanginya dengan sepenuh hati.


Sayang nya takdir berlaku kejam terhadap nya.


'Maafkan Mama ya, Nak.. semua ini salah Mama..' bisik hati karina yang sedang mega mendung, merasa sendu.


Langkah Soraya tiba-tiba saja berhenti di dekat sofa tempat Karina duduk. Wanita itu memutuskan untuk tetap berdiri.


Posisi duduk masih membuat nya merasa tak nyaman. Terutama ia terkadang merasakan nyeri di bagian a nus nya yang pernah sobek oleh permainan ranjang Bahm.


Soraya menatap wajah cantik sang ratu. Dan ia kembali didera oleh rasa penyesalan yang tiada akhir.


'Jika saja aku tak berkhianat dan membiarkan ratu Charrine bertemu dengan raja Daffa.. tentu cerita nya tak akan jadi begini,' sesal Soraya dalam hati.


"Pergi lah. Rinaya baru saja tertidur. Aku tak ingin kedatangan mu membuat nya terbangun. Jangan pula kau rampas waktu tidur yang nyenyak dari putri ku. Atau memang kau ingin merampas nya juga?" Tanya Karina sambil menatap tajam Soraya.


Deg. Deg.


Lagi-lagi hati Soraya merasakan gentar saat menerima tatapan tajam sang ratu.


Penyesalan di hati nya pun kian menjadi-jadi menyiksa batin nya. Soraya menyesal karena ia telah merusak hubungan persahabatan nya dan ratu dengan kedua tangan nya sendiri.


Soraya telah membuat Ratu Charrine kembali menjadi burung yang terperangkap dalam sangkar emas nya lagi. Meskipun sangkar yang menjadi tempat tinggal nya kini berbeda dengan sangkar nya yang dulu.

__ADS_1


Tapi tetap saja, ada kesamaan di antara kedua nya. Yaitu pemilik nya yang sama-sama gila (raja Elfran dan juga bangsawan Bahm)!


***


__ADS_2