Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Kisah Soraya


__ADS_3

Karina tersentak kaget saat seseorang menyapa nya. Pandangan nya lalu menangkap sosok wanita tinggi dengan topi lebar yang bercadar kain terawang.


Pada mula nya Karina tak mengenali identitas wanita tersebut. Namun saat ia melihat tahi lalat di ujung mata kanan wanita itu, Karina pun teringat dengan siapa wanita yang tadi telah menyapa nya itu.


Karina berusaha untuk menyapa balik. Mulut nya sudah membuka untuk menyapa sang wanita. Namun ia terlupa kalau suara nya telah hilang kini.


Dengan raut menyesal, Karina akhirnya hanya bisa menganggukkan kepala nya sekali. Sementara mulut nya melafalkan kata maaf.


'ma-af!'


Wanita di depan nya itu mengernyit keheranan.


"Ada apa dengan Anda, Yang Mulia? Kenapa dengan suara Anda?" Tanya wanita itu lagi.


Lagi-lagi Karina hanya mampu menggelengkan kepala nya dua kali. Merasa tak berdaya dengan keadaan nya saat ini.


Merasa tak akan menerima penjelasan lebih lanjut, wanita itu lalu mengamati sekitar Karina. Dan ia pun menyadari sesuatu.


"Anda berjalan di keramaian seorang diri saja, Yang Mulia? Apakah baginda raja Elfran mengetahui ini?" Tanya wanita itu lagi.


Mendengar nama Frans disebut, Karina pun seketika panik. Dengan spontan, ia meraih tangan wanita itu lalu mengisyaratkan permohonan nya untuk tidak memberitahukan keberadaan nya kepada sang raja.


Wanita itu cepat paham dengan situasi yang dihadapi oleh Karina.


"Jadi, Anda pergi seorang diri?!" Tebak sang wanita.


Karina kembali menggeleng. Ia lalu menarik tangan Rinaya sehingga kini wanita itu juga dapat menyadari keberadaan sang putri bersama nya.

__ADS_1


"Putri Rinaya! Anda mengajak serta sang putri juga, Yang Mulia?!" Seru sang wanita setengah memekik.


Buru-buru Karina memberi isyarat agar wanita itu mengecilkan suara nya. Dan wanita itu pun lalu mengerti dan meminta maaf.


"Maafkan hamba. Tapi, ke mana sebenar nya tujuan Yang Mulia, jika hamba boleh tahu? Apakah Yang Mulia pergi menjauh dari baginda Raja?" Ucap sang wanita dengan suara berbisik.


Kali ini Karina menundukkan kepala nya. Karena ia pun merasa bingung saat menerima pertanyaan itu.


Ke mana sebenarnya tujuan nya? Ia bahkan tak memiliki uang sepeser pun di saku baju nya saat ini. Dan ia malah mengajak serta Rinaya bersama nya merimba di keramaian jalanan? Ah, pelik benar hidup nya kini.


Kemudian Karina teringat dengan sepasang wajah pria dan wanita. Daffa dan juga Tasya.


'Ya! Aku harus pergi dan menemui Daffa! Entah bagaimana ceritanya sehingga Daffa bisa ada di dunia ini. Tapi jika Daffa ada di dunia ini, maka besar kemungkinan Tasya juga ada di sini, bukan?' Monolog Karina dalam hati.


Seolah memiliki tujuan baru, Karina pun berusaha untuk memberitahukan kepada wanita di depan nya itu ke mana tujuan nya saat ini.


Setelah beberapa lama, wanita itu pun mengajak serta Karina menuju tempat inap wanita tersebut. Letak nya tak jauh dari toko permen tempat mereka berada.


Sepanjang jalan, Karina selalu menundukkan kepala nya agar wajah nya tak dikenali oleh orang-orang di sekitar nya. Ia takut bila ada anak buah Frans yang berhasil melihat nya dan menangkap nya lagi.


Jika itu benar terjadi, Karina sudah bisa membayangkan hal buruk apa yang akan menimpa nya nanti usai pertemuan nya lagi dengan Frans. Membayangkan hal itu, sekujur tubuh Karina mendadak menggigil.


Bukan menggigil oleh sebab rasa dingin.


Melainkan menggigil karena merasakan takut atas apa yang akan diperbuat oleh Frans nanti nya. Karena lelaki itu memang sebenar-benar nya orang gila.


Syukurlah, Karina dan Rinaya berhasil ke kamar inap sang wanita tanpa bertemu dengan anak buah nya Frans.

__ADS_1


Kamar tempat wanita itu menginap berukuran lumayan besar. Menyamai kelas mewah yang biasa ditempati oleh kelas bangsawan.


Mengamati di mana wanita itu tinggal kini, Karina merasa sulit untuk mempercayai nya. Karena seingat nya dulu, wanita di depan nya itu hanya memiliki segenggam koin emas pemberian dari Karina.


Sang wanita menyadari apa yang ada di pikiran Karina. Sehingga ia pun lalu mengajak Karina duduk di salah satu sofa dalam ruangan itu. Menit berikut nya, ia menceritakan kisah nya sendiri.


...


"Hamba tak menyangka bisa menjumpai Yang Mulia lagi di sini," tutur sang wanita mengawali.


"Sejak Yang Mulia menyelamatkan hamba dua tahun yang lalu, hamba hidup seperti gelandangan yang tak mempunyai tujuan. Hamba lalu memutuskan untuk pergi jauh dari kerajaan Goluth. Sampai akhirnya tiba di kerajaan Nevarest ini,"


"Dengan bekal beberapa keping emas dari Yang Mulia, setidak nya hamba masih bisa bertahan selama satu bulan di kota ini. Sampai akhirnya hamba bertemu dengan salah seorang bangsawan yang begitu baik dan tertarik untuk menjadikan hamba simpanan nya."


Karina tercengang dengan apa yang disampaikan oleh Soraya, mantan pelayan nya di istana Goluth. Karina ingat sekali kejadian dua tahun yang lalu, saat Frans bermaksud untuk membunuh Soraya karena kelalaian nya menghilangkan gelang manik yang diberikan Frans kepada Karina.


Frans menduga Soraya telah mencuri gelang manik itu. Namun Karina membela pelayan pribadi nya itu. Karina begitu yakin kalau Soraya tak mungkin mencuri dari nya. Ia mengenal betul watak Soraya yang pemalu.


Tapi, mendengar penuturan Soraya tentang status nya kini sebagai simpanan bangsawan, membuat Karina merasa iba. Entah apa saja yang telah dilalui oleh Soraya sehingga wanita lugu itu lebih memilih untuk menjadi simpanan seorang bangsawan.


Soraya melihat ekspresi di wajah Karina. Dan ia tahu apa yang ada dalam benak sang Ratu. Kedua nya memang terbilang sangat dekat. Karena Soraya adalah satu-satu nya teman curhat Karina di istana Goluth.


Kepada Soraya, Karina menceritakan tentang dunia bumi, tempat nya berasal. Karina juga menceritakan bahwa Frans (raja Elfran) telah menculik nya beserta Rinaya ke dunia ini. Karina tak merasa bahagia dengan gelimang harta yang diberikan oleh Frans kepada nya. Ia menginginkan kembali kehidupan nya yang normal di bumi.


"Hamba tak bisa melakukan apapun selain menjual tubuh ini, Yang Mulia. Karena saat itu, hamba sudah sangat sekarat. Hampir satu minggu lama nya hamba tak bisa menikmati nasi. Hanya sisa roti atau nasi basi saja yang bisa hamba makan selama beberapa waktu. Inti nya, hidup hamba begitu menyedihkan saat itu."


Karina terhenyak kala mendengar kisah hidup Soraya. Dengan spontan ia meraih tangan Soraya dan mere mas nya pelan. Berusaha mengalirkan kekuatan pada diri wanita berparas manis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2