
"Jadi begitu.. apa Huna bisa mengingat jalan ke tempat Rinai dan Mama nya disekap?" Tanya Ratu Tasya kepada Hima.
Sang pangeran kecil baru saja selesai bercerita tentang kisah Huna dalam menemukan tempat keberadaan putri Rinaya dan juga ratu Charrine.
Hima menoleh ke kanan. Seolah berkomunikasi dengan sosok astral Huna.
"Iya, Bunda. Tapi kata Huna, rumah nya jauh sekali dari sini. Dia saja baru sampai ke rumah Rinai yang sekarang setelah dua hari perjalanan," jawab pangeran Hima.
"Dia.. maksud Bunda, apa Huna berjalan kaki atau.. melayang untuk pergi ke sana?" Tanya Tasya sedikit canggung.
Di dekat mereka kepala kasim dan kepala pengawal Jun memandang ratu mereka dengan pandangan tak percaya.
Bisa-bisa nya sang Ratu mempercayai celoteh dari putra nya yang baru berumur lima tahun itu. Begitu kira nya isi pikiran kedua abdi sang ratu.
"Huna.. melesat. Begitu kata Huna, Bunda. Terkadang bila letih ia hanya akan menumpang hembusan angin yang kebetulan mengarah ke tempat Rinai berada," lanjut Hima menyampaikan perkataan Huna pada sang ibunda.
Tasya kembali ternganga. Sulit bagi nya untuk membayangkan bila ia bisa ikut 'menumpang' hembusan angin seperti yang dilakukan oleh Hima.
"Err.. seperti nya kita tak bisa ikut menumpang pada angin, Nak. Berarti kita hanya bisa melakukan perjalanan secara manual ya."
Setelah jeda beberapa saat, ratu Tasya pun kembali bertanya.
"Apa kondisi mereka baik-baik saja, Nak?" Tanya sang ratu.
"Mereka dikurung dalam sebuah kamar, Ibunda ratu. Kasihan sekali Rinai. Ia tak diperbolehkan keluar dari kamar itu," sahut Hima dengan kepala menunduk pertanda sedih.
Tasya tertegun. Setelah berpikir singkat, sebuah rencana pun tersusun di benak nya.
"Baik lah. Bunda akan menyelamatkan Rinai dan Mama nya sesegera mungkin. Jadi Hima jangan bersedih lagi ya!" Hibur sang ratu.
Sang ratu lalu membisikkan sesuatu ke telinga Hima. Hingga hanya sang pangeran saja yang bisa mendengar ucapan Tasya.
Setelah Tasya selesai bercerita, wajah Hima pun terlihat kembali ceria.
Melihat wajah sang putra yang sudah tak lagi bersedih, seketika itu pula benak Tasya menjadi lebih tenang.
"Sekarang, Hima kembali ke kamar dulu ya sama Pengawal Jun? Bunda harus mempersiapkan ini dan itu. Nanti malam, Bunda akan temani Hima tidur lagi. Oke?"
__ADS_1
"Oke, Ibunda!" Sahut Hima segera.
Setelah nya, pangeran kecil pun kembali ke kamar nya bersama kepala pengawal Jun. Sementara Tasya menatap tubuh mungil putra nya itu dengan rasa cinta.
Dua jam berikut nya sang ratu menyelesaikan membaca laporan yang harus ia beri stempel kerajaan. Setelah selesai, ia meminta kepala kasim untuk meninggalkan nya sendiri di ruangan kantor.
Setelah sang ratu yakin tak ada lagi orang di ruangan itu selain diri nya, Tasya pun lalu memegang kalung liontin yang ia kenakan, kemudian berbisik dengan suara bervolume sedang.
"Aku membutuhkan bantuan," bisik sang ratu kepada angin kosong di ruangan itu.
Beberapa saat setelah nya, sesosok tubuh mewujud di hadapan Tasya. Sosok nya adalah lelaki muda berseragam hitam dengan penutup kepala yang berwarna hitam pula.
Tak ada yang bisa Tasya lihat dari citra lelaki itu selain sepasang mata yang menatap nya sekilas, sebelum akhirnya tertunduk menatap lantai.
"Yang Mulia Ratu!" Sapa sang lelaki muda.
Lelaki itu berdiri tegap dengan kepala yang agak menunduk ke bawah.
Tasya tersenyum saat menerima sapaan sang lelaki. Sebuah kalimat pun kemudian terlontar dari mulut ranum nya.
"Kau segera muncul. Apa teman mu itu sedang keluar saat ini?" Tanya ratu Tasya pada sang pemuda.
Ekspresi Tasya pun langsung berubah serius.
Sebelumnya, sang ratu mengedarkan pandangan nya ke sekitar, sebelum akhirnya menyampaikan apa yang ingin dikatakan nya langsung ke benak sang pemuda. Tasya berjaga-jaga bila percakapan mereaka dicuri dengar oleh orang lain. Terutama oleh rekan lama pemuda di depan nya itu.
'Aro, aku butuh bantuan mu. Pergi dan selamatkan lah ratu Charrine beserta putri nya, Rinaya,' titah Tasya langsung ke inti.
Ya. Pemuda di depan Tasya adalah Aro, salah satu penyusup yang selama ini menguntit aktivitas Tasya dan juga Daffa. Telah beberapa waktu lama nya Aro berubah haluan. Sehingga kini ia berbalik mendukung ratu Tasya dan juga suami nya, raja Daffa.
Lebih persis nya perubahan itu terjadi, tak lama setelah ia mendengar senandung semusim rindu yang dinyanyikan ratu Tasya untuk suami nya pada suatu pagi.
Saat itu Aro akhirnya dibuat gamang dengan jalan hidup nya saat ini. Kedilemaan nya untuk tetap menjadi pengintai bagi pasangan penguasa Nevarest itu menggerogoti ketenangan nya selama beberapa hari.
Hingga pada akhirnya, ia pun sampai pada keputusan untuk berubah haluan dan mengikuti kata hati nya. Ya. Aro kini berbalik mengabdi kepada Tasya dan Daffa dengan sukareka.
Keputusan nya ini bukan tak memiliki dasar. Karena sejak lama juga Aro memang tak suka dengan pekerjaan nya sebagai pengintai. Ia memang dipaksa untuk menjadi pengintai karena kondisi dalam keluarga nya yang kurang beruntung.
__ADS_1
Namun setelah menyadari benar kalau ia berada di seberang pihak orang-orang baik (Tasya dan Daffa), seketika itu pula hati nya berontak. Dan pada akhirnya Aro sampai pada keputusan untuk mengabdi kepada penguasa Nevarest saat ini.
Itu disampaikan nya langsung ke hadapan dua penguasa Nevarest itu pada suatu malam, sebelum Raja Daffa bertolak ke medan peperangan.
Flashback beberapa pekan silam..
"Nama hamba adalah Aro. Hamba adalah pengintai dari pihak musuh yang ditugaskan untuk mengawasi Yang Mulia raja dan ratu selama ini. Berdua dengan rekan hamba, Deril," sapa Aro yang muncul tiba-tiba di hadapan Tasya dan Daffa pada suatu malam.
Pada mulanya pasangan penguasa itu terkejut dengan kemunculan Aro. Namun keterkejutan itu tak bertahan lama. Karena kemudian Daffa menanyakan maksud kemunculan Aro di hadapan mereka.
"Apa tujuan mu menampakkan diri? Apakah ada pesan yang ingin disampaikan oleh Tuan mu? Siapa dia?" Tanya Daffa dengan pandangan mengancam.
"Tidak, Yang Mulia. Ini adalah keputusan hamba untuk menyerahkan kesetiaan hamba kepada Yang Mulia. Hamba sadar kalau selama ini hamba telah berpihak pada orang yang salah. Dan hamba sungguh menyesali itu," tutur Aro menjelaskan. Masih dengan kepala yang tertunduk malu.
Daffa tak percaya dengan ucapan Aro, pada mula nya. Namun Aro tetap bersikukuh menyatakan kesetiaan nya lagi kepada sang raja muda.
"Hamba bersungguh-sungguh, Yang Mulia. Saat ini rekan hamba sesama pengintai sedang bertugas ke luar. Jadi hamba memberanikan diri untuk menunjukkan diri hamba di hadapan Yang Mulia. Hamba sungguh-sungguh ingin menjadi abdi setia Yang Mulia mulai dari sekarang!" Seru Aro meyakinkan.
Daffa sempat berpandangan dengan Tasya. Kedua nya lalu bercakap-cakap lewat telepati. Sehingga Aro tak bisa mendengar percakapan mereka juga.
'Apa menurut mu ia berkata jujur, Dear?' tanya Daffa langsung ke benak Tasya.
'entah lah, Yang. Ah! Begini saja, kita gunakan saja ramuan kesetiaan yang diberikan Damsi pada penyusup ini. Bukan kah dengan begitu kita akan tahu apakah ia benar berkata jujur atau tidak?' komentar Tasya juga melalui telepati.
'Benar! Kamu memang cerdas sekali, Dear!' puji Daffa.
Sang raja lalu menoleh kembali ke arah pemuda berseragam hitam di hadapan nya. Ia lalu menyodorkan secangkir kecil yang sudah dituangkan ramuan kesetiaan oleh Tasya kepada pemuda itu.
'Minum lah dulu minuman ini. Dengan begitu aku akan tahu, seberapa meyakinkan nya kesetiaan mu itu kepada ku!" Daffa menyampaikan titah nya.
Pada awal nya Aro terlihat ragu untuk meminum nya. Akan tetapi setelah yakin kalau raja dan ratu di depan nya itu tak akan berbuat sewenang-wenang, akhirnya Aro langsung menenggak habis isi cairan dalam cangkir kecil di hadapan nya itu.
Jantung Aro sudah berdegup cepat membayangkan kemungkinan terburuk dari efek minuman yang baru saja ditenggak nya. Namun setelah beberapa lama tak terjadi apapun kepada nya, seketika itu pula kelegaan menyapu pikiran Aro.
Pendapat nya tak salah. Raja dan ratu memang tak akan sewenang-wenang menghukum seseorang. Semakin mantap lah benak Aro untuk mengabdi kepada pasangan penguasa Nevarest tersebut.
Sementara itu, Daffa dan Tasya pun akhirnya mengakui kebenaran ucapan sang penguntit. Akhirnya sejak saat itu, Aro pun menjadi abdi setia yang baru bagi kedua penguasa Nevarest tersebut.
__ADS_1
Flashback selesai.
***