Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Reuni Keluarga


__ADS_3

Daffa merangkul bahu Tasya yang menggendong Baby Hima melewati halaman rumah masa kecil nya. Dengan perasaan haru Daffa mengamati kondisi rumah tempat tinggal nya dulu.


Tak banyak yang berubah dari rumah putih gading ini. Daffa masih melihat keberadaan kolam hasil karya tangan kakek nya yang menyukai ternak ikan di kolam.


Dan Daffa juga bisa melihat rumah seluas 300 meter persegi di depan nya itu berdiri sekokoh seperti saat ia meninggalkan nya.


Lelaki itu baru tersadar kalau ia sungguh merindukan rumah masa kecil nya ini. Dan tentu nya, yang paling ia rindukan adalah pemilik dari rumah beraksen warna putih gading tersebut. Yaitu Ayah dan juga Ibunda nya, bangsawan Arca Scholinszky dan juga Miura Ares.


Seorang penjaga menyambut kedatangan Daffa, Tasya dan baby Hima. Daffa tak mengenali wajah by penjaga tersebut.


'Seperti nya ia adalah penjaga baru,' terka Daffa dalam hati.


Kemudian Daffa melihat kemunculan Ayah dan juga ibunda nya di pintu. Dan Daffa merasa terkejut saat melihat rambut ibunda nya yang hampir semua nya memutih. Padahal seingat Daffa, dulu rambut ibunda nya masih lah hitam nan legam.


"Putra ku!" Seru Miura memanggil Daffa.


Terlihat tak sabar, Miura langsung menghampiri Daffa sambil setengah berlari.


Kerinduan itu begitu pekat dirasakan oleh Miura. Sehingga ia ingin segera memupuskan jarak di antara diri nya dengan putra satu-satu nya itu.


Kemudian Daffa melepas pegangan nya di bahu Tasya. Ia lalu menyambut langkah sang ibunda dengan langkah yang bergegas pula. Keduanya lalu berpelukan erat disaksikan oleh banyak tatapan mata yang berada di sekitar halaman rumah itu.


Ini adalah pertemuan mengharukan di antara seorang ibu dengan putra nya yang telah lama menghilang.


Berkali-kali Miura mengecup pucuk kepala dan juga kedua pipi sang putra dengan penuh kasih sayang. Ia telah lupa dengan keberadaan nya saat ini. Karena ia telah larut dalam rasa rindu nya terhadap Daffa.


Setelah puas menciumi kepala dan pipi Daffa, secepat kilat sikap Miura langsung berganti. Ia lalu memukul lengan dan paha putra nya itu berkali-kali.


"Dasar anak nakal! Sudah sebesar ini masih juga kamu membuat Bunda khawatir! Tidak kah kamu memikirkan Bunda dan ayah mu yang sudah renta ini, saat kamu pergi menghilang?! Kami mencari mu ke mana-mana tahu!" Omel Miura kemudian.


Bagh. Bugh. Bagh. Bugh.

__ADS_1


Daffa tak melawan pukulan dari ibunda nya. Ia menyadari betul kalau apa yang dilakukan nya memang salah. Ia telah membuat kedua orang tua nya itu khawatir dengan kepergian nya menyusul Tasya secara tiba-tiba.


"Dasar nakal! Nakal! Nakal! Bunda tak habis pikir, di mana sebenar nya kecerdasan yang kamu bangga-banggakan itu, Nak?! Lain kali, berpikirlah matang-matang sebelum kamu melakukan sesuatu!" Lanjut Miura mengomeli Daffa.


Bagh. Bugh. Bagh. Bugh.


Aksi dramatis di halaman rumah putih gading itu bisa saja masih akan terus berlangsung. Jika saja Arca tak menyela aksi brutal sang istri.


"Sudahlah, De.. sudah. Tidak kah kamu melihat wajah Putti Tasya yang tampak takut melihat aksi mu ini, De?" Tegur Arca pada Miura.


Seketika itu juga Miura menghentikan aksi tangan nya dalam memukuli lengan Daffa. Pandangan nya lalu beralih ke arah Tasya.


Apa yang dikatakan oleh Arca memang ada benar nya. Karena saat ini Tasya yang sedang menggendong baby Hima tampak syok melihat kebrutalan nya terhadap Daffa.


Miura langsung merasa malu. Sehingga tanpa sadar ia kembali menepuk lengan Daffa sekali dan berkata.


"Dasar anak nakal! Tidak kah kamu ingin memperkenalkan istri mu terhadap ibu mu ini, hah?!" Tegur Miura pada Daffa.


Dengan gesit, Daffa lalu menarik bahu Tasya untuk menghadap pada kedua orang tua nya.


Dengan canggung Tasya sedikit menganggukkan kepala nya ke arah orang tua nya Daffa. Etiket kerajaan memang mengharuskan nya bersikap seperti itu saat ia berhadapan dengan sesepuh.


Tasya masih tampak terkejut saat menyaksikan aksi brutal ibu mertua nya tadi. Ia sungguh tak menyangka kalau wanita bertubuh mungil yang terlihat anggun itu ternyata menyimpan sifat brutal juga dalam diri nya.


"Ah! Putri Tasya! Sudah lama kita tak berjumpa. Terakhir kali adalah saat pertunangan kalian berdua bukan di altar Lovarina?" Ucap Miura bernostalgia ke masa pertunangan Tasya dan Daffa dulu.


"Benar, Nyonya.."


"Jangan begitu, panggil saja Ibunda. Bukankah sekarang kamu sudah menikah dengan Daffa?" Ucap Miura smabil tersenyum teduh kepada Tasya.


Pandangan Miura lalu beralih pada sang putra. Dan tanpa dinyana, ia langsung menegur putra nya itu di depan Tasya.

__ADS_1


"Dan kamu harus menjelaskan kepada kami, alasan mu menikahi Putri Tasya tanpa kehadiran orang tua mu ini, Nak!" Tegur Miura.


"Baik, Bunda.. nanti Daffa akan menjelaskan nya," sahut Daffa dengan spontan.


"Bagus.. bagus.." ujar Miura sambil mengangguk-angguk.


"Ah! Apakah ini cucu ibunda, Nak?" Tanya Miura aaat perhatian nya kemudian beralih ke arah bayi yang digendong oleh Tasya.


"Benar, Ibunda.." Tasya menyahut.


"Bolehkah bunda memegang cucu Bunda, Nak? Siapa nama nya?" Pinta Miura kemudian.


Tasya lalu membiarkan Miura mengambil alih gendongan Hima dari nya.


"Himada Malik, Bunda. Kami biasa memanggil nya Hima," jawab Tasya kembali.


"Himada.. nama yang bagus sekali, Nak!" Puji Miura sambil memberikan Tasya senyuman lebar.


Tasya membalas senyuman mertua nya jtu tak kalah lebar.


"Aihh.. lihat lah, Kanda! Tidak kah menurut mu Hima tampak seperti Daffa saat ia baru terlahir? Lohat saja bentuk dagu nya yang terbelah itu! Atau bulu mata nya yang lentik dan panjang!" Seru Miura berapi-api.


Arca beringsut mendekati sang istri unthk bisa melihat wajah cucu bayi nya itu. Dan ia mengangguk-anggukkan kepala nya dalam diam. Mengakui kebenaran ucapan Miura sesaat tadi.


Sementara dalam hati nya Arca merasa terharu karena ia bisa melihat penerus generasi nya saat ini.


Kedua mata Arca tampak berkaca-kaca jadi nya.


Menyadari kalau ia akan terlihat memalukan jika ikut menangis seperti Miura, Arca pun mengajak Daffa dan juga Tasya untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Sebaik nya kita masuk dulu ke dalam, Nak. Mari masuk, Putri! Ayo, De.." ajak Arca pada Miura.

__ADS_1


Pada akhirnya keempat orang dewasa itu pun berjalan masuk ke dalam rumah. Dengan Arca dna Dffa yang memimpin langkah di depan Tasya dan juga Miura.


...


__ADS_2