Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Aro Tersadar


__ADS_3

"Bagaimana kondisi nya? Kenapa dia belum sadar juga? Kita harus segers membawa nya ke dokter!" Ucap Ratu Charrine terdengar mendesak.


"Tidak perlu, ratu. Sejauh ini kondisi nya masih aman. Kapten masih beruntung karena tak ada luka fatal yang melukai organ dalam nya. Entah penyerang nya sengaja atau tidak. Tapi semua luka yang bersarang di tubuh Kapten Aro ini hanya melukai lapisan daging di tubuh nya saja," terang seorang prajurit yang ikut membantu ratu Charrine dan putri nya melarikan diri. Nama nya adalah Jill.


"Tapi luka nya terlalu banyak. Dan ada beberapa yang dalam juga. Bagaimana bila nanti terjadi infeksi?" Tanya sang ratu merasa cemas melihat kondisi Aro saat ini.


Karina sangat bersyukur karena ia mengikuti kata hati nya. Sekitar tiga jam lalu, atau setengah jam setelah berpisah dari kapten Aro, Karina merasa hati nya tak tenang. Ia tak menyukai rencana sang kapten yang ingin mengorbankan diri nya untuk membuat jalur palsu dan mengecoh pihak musuh dalam melacak keberadaan sang ratu dan juga putri nya.


Alhasil dengan agak terpaksa, setelah rombongan Karina tiba di tempat persembunyian yang aman, salah seorang penjaga nya pun diusir oleh Karina untuk pergi mencari Aro. Dan Karina sempat berteriak ngeri kala mendapati si penjaga Jill pulang sambil membopong Aro yang penuh luka di punggung nya.


"Kami sudah dibekali dengan obat-obatan dari ratu Tasya, Yang Mulia. Jadi harap tenangkan diri Yang Mulia. Hamba yakin. Kapten Aro akan segera sadar beberapa waktu lagi," ujar Jill lebih lanjut.


Meski mendapat jawaban yang cukup positif dari Jill, tetap saja hati Karina merasa tak tenang. Ia memang paling tak suka melihat darah. Menurut nya darah itu bau nya tak enak. Seperti bau karat.


"Lalu kenapa kita masih di sini? Tidakkah sebaik nya kita segera pergi menemui Tasya..? Mm..maksud ku, menemui ratu Tasya?" Tanya Karina kembali sambil tergeragap.


Ia tadi keceplosan langsung menyebut nama sahabat lama nya itu tanpa mengembel-embeli nya dengan gelar ratu.


"Kami menunggu instruksi selanjutnya dari ratu Tasya, Yang Mulia. Kita tunggu kedatangan Jack kembali," kali ini Jo lah yang menjawab nya.


"Hh.. aku benar-benar harus segera bertemu dengan ratu kalian. Jadi aku meminta tolong agar kalian segera membawa ku menemui nya!" Ucap Karina lagi.


Jill dan Jo saling berpandangan. Dan Jo lah yang kemudian memberikan jawaban kepada Karina.


"Baik, Yamg Mulia. Tapi Yang Mulia harap bersabar. Saat ini pihak musuh pastilah sedang gencar mencari kita di luar sana. Tunggu hingga perhatian musuh pergi ke tempat yang lain, baru kita keluar dari tempat ini. Lagipula, kapten Aro juga harus beristirahat terlebih dahulu," jawab Jo.


Seketika itu juga pandangan Karina kembali tertuju kepada Aro. Melihat kondisi sang kapten yang terlihat mengenaskan dengan banyak baluran obat dan daun herbal di seluruh tangan, tubuh dan wajah nya, Karina pun akhirnya menyerah. Ia tak lagi mendesak untuk segera pergi.


"Hh.. baik lah. Terserah kalian saja."

__ADS_1


Tak lama kemudian, sang kapten tampak bergerak. Dan tak berselang lama, kedua mata nya perlahan terbuka.


"Kapten!" Panggil Jill dan Jo bersamaan.


Karina pun tanpa sadar mendekati tubuh sang kapten yang terbaring lemah. Hingga kemudian kedua pasang netra mereka pun saling terkunci pada satu sama lain.


Karina menangkap keterkejutan dan.. ke-asingan di mata Aro. Namun Karina pikir sang kapten mestilah sedang mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi pada nya.


"Kenapa tubuh ku sakit semua nya? Apa yang terjadi? Laila..?" Gumam Aro yang mencoba untuk bangkit.


Usaha nya itu dicegah oleh Jill yang menahan tubuh nya agar tetap terbaring.


"Beristirahat lah, Kapten! Kita sekarang berada di rumah singgah yang telah disiapkan oleh ratu Tasya. Jadi kita akan aman selama beberapa hari," ucap Jill menenangkan.


"Huh? Siapa kamu? Apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Aro dengan pandangan bingung.


Lagi-lagi ia mencoba bangkit duduk. Kali ini Jill tak menahan nya. Sang prajurit tampak terkejut dengan apa yang diucapkan oleh kapten Tim mereka tadi.


"Aww! Sakit banget sih. Aku kenapa ya? Huh? Di mana ini? Ini tak seperti rumah sakit?" Aro terlihat kebingungan saat melihat ke sekeliling nya.


Lalu tiba-tiba saja ia seolah teringat dengan sesuatu hal yang sangat penting. Hingga ia pun meneriakkan sebuah nama. Nama seorang wanita.


"Ah! Laila! Mana Laila ku?! Tadi aku menunggu nya di mobil, sementara Laila ku masuk ke market untuk membeli cokelat Maryqueen!" Seru Aro yang tiba-tiba bersikap seperti orang gila.


Jill dan Jo kembali saling berpandangan. Dalam pikiran nya mereka sepakat kalau kapten Aro benar-benar telah terluka parah di bagian kepala nya. Sehingga kini ia mengocehkan kalimat-kalimat aneh.


Sementara itu Karina tampak terdiam memperhatikan sang kapten yang kini hendak beranjak dari atas kasur nya.


"Berbaringlah dulu, Aro! Luka-luka mu baru saja dibaluri obat!" Cegah Karina dengan spontan nya.

__ADS_1


Aro lalu menatap Karina dan kemudian menatap semua luka di tubuh nya sendiri. Tanpa sadar ia lagi-lagi bergumam. Gumaman yang masih bisa jelas didengar oleh Jill dan juga yang lain.


"Dari mana juga sih semua luka ini berasal? Apa aku baru saja dibegal ya?" Gumam Aro.


Karina melongo. Pun jua dengan Jill dan juga Jo.


"Kap..kapten! Anda mengingat kami kan? Anda ingat dengan misi kita kan untuk menyelamatkan ratu Charrine dan putri nya?" Tanya Jo berhati-hati.


"Hah? Kamu ini ngomong apa sih? Dari tadi kapten, kapten, kapten terus! Aku tuh bukan pilot ya! Aku tuh bisnis men. Di mana ya Laila? Apa kalian tahu di mana Laila ku berada? Dia itu istri ku. Orang nya manis banget. Laila ku lagi hamil besar sekarang. Apa jangan-jangan dia lagi lahiran ya? Apa kalian yang membawa nya ke rumah sakit??" Tanya Aro mulai panik.


Jill dan semua nya semakin dibuat melongo mendengar nya. Pada akhir nya, Karina lah yang kemudian mencoba untuk menjelaskan situasi nya kepada Aro.


"Ehem! Begini ya, Aro. Kamu dan tiga orang ini adalah tim yang--"


"Nama ku bukan Aro. Kenapa kalian memanggil ku begitu sih? Kalian salah orang ya?" Potong Aro tiba-tiba.


"Lha? Memang nya nama kamu siapa, kalau bukan Aro? Ari ya?" Jawab Karina yang mulai kesal karena ucapan nya dipotong.


"Erlan. Nama ku adalah Erlan. Jadi, ada yang tahu, Laila ku di mana?" Tanya Aro yang mengaku diri nya sebagai Erlan.


Sontak saja, Karina, Jill dan Jo pun sepakat. Kalau kapten mereka benar-benar telah terluka parah di bagian kepala nya. Seperti nya mereka harus segera membawa sang kapten untuk menemui tabib sesegera mungkin. Sebelum sang kapten mulai mengocehkan hal lain yang lebih tak masuk akal lagi.


***


(catatan: bagi kawan-kawan yang pernah membaca novel ke 2 mel, yakni novel Aku Bukan Rumput Liar, mestilah kenal dengan sosok Erlan.


yap.


Ini adalah episode perkenalan ketika spirit Erlan terdampar dan terjebak dalam tubuh kapten Aro.

__ADS_1


untuk penjabaran kisah nya, insya Allah akan mel tulis tersendiri di next next novel ya.. harap menantikan nya!)


__ADS_2