Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Berita tentang Rinai


__ADS_3

'Bukan kah Rinai itu adalah putri dari ratu Charrine yang telah menghilang selama dua bulan ini? Menurut Hima, Huna mengetahui tempat tinggal nya saat ini?!' gumam Tasya dalam hati.


'Apa itu berarti aku juga bisa menemukan keberadaan Ratu Charrine? Jika benar begitu, bukankah ini berita yang sangat baik! Jika aku bisa menemukan ratu Charrine, mungkin peperangan antara Goluth dan Nevarest bisa dihentikan segera!' benak Tasya berpikir cepat.


"Di mana Rinai tinggal saat ini, Hima?!" Tanya Tasya sedikit mendesak.


"Kata Huna.."


Sang pangeran kecil pun lalu menceritakan kepada ibunda ratu nya. Tentang apa yang dikatakan oleh Huna kepada nya beberapa menit yang lalu.


Flashback lima hari yang lalu..


Saat itu, Hima sedang bermain susun balok bersama Huna. Lebih tepat nya adalah Huna menyuruh nya untuk membangun istana dari susunan balok. Jika tidak, saudari astral nya itu akan memaksa masuk ke dalam tubuh nya lagi.


Itu adalah sesuatu hal yang tak Hima sukai. Karena sang pangeran tak bisa menguasai tubuh nya sendiri. Ia hanya bisa melihat saat Huna menggunakan tubuh nya sesuka hati.


'Jangan begitu, Hima! Ku bilang juga aku mau istana yang ini berwarna pink semua nya!' titah Huna yang bersikeras dengan keinginan nya.


"Tapi balok warna pink tak akan cukup, Huna. Jadi lebih baik dicampur dengan warna biru saja!" Oceh sang pangeran ikut bersikeras.


Di dekat sang pangeran, kepala pengawal Jun memandang heran ke arah pangeran Himada. Dalam pandangan nya, sang pangeran terlihat berbicara sendirian.


Kejadian ini bukan terjadi untuk pertama kali nya. Karena sejak ia menjadi penjaga pribadi pangeran Himada, Jun mendapati sering nya sang pangeran berbicara seorang diri.


Pelayan Afni pernah mengatakan kepada nya kalau pangeran Hima memiliki teman astral yang cukup aktif bernama Huna. Menurut Afni, Jun hanya perlu menutup mata saja terhadap keunikan sang pangeran kecil tersebut.


Meski sudah menerima nasihat dari pelayan Afni, Jun tetap tak terbiasa saat menyaksikan pangeran Himada mengoceh sendirian. Seperti orang tak waras..


'Astaga! Apa yang baru saja ku pikirkan! Hentikan pikiran itu, Jun! Jangan mengundang penyakit! Benar kata Afni, ada baik nya aku menutup mata saja. Anggap saja pangeran kecil memang sedang berbicara dengan teman astral nya. Walau aku tak bisa melihat teman astral nya itu..' gumam Jun dalam hati.


'Cukup, Hima! Itu balok pink nya kan ada banyak! Buat istana kecil aja! Gak usah yang besar-besar!' tutur Huna bersikeras.


Hima merasa kesal. Jadi lah akhirnya ia berhenti menyusun balok dan duduk bersedekap dalam diam. Mulut nya mengerucut pertanda ia yang merasa kesal.


"Hima tak mau menyusun balok lagi! Kalau mau, Huna buat sendiri aja istana yang Huna mau!" Dumel Hima yang merajuk.


'Tapi kan Hima tahu kalau Huna gak bisa sering-sering menyentuh benda-benda! Itu akan menguras energi Huna!' balas Huna yang ikut merajuk.


Hima tak menyahut. Ia masih duduk diam merajuk sambil membelakangi Huna.


Sedetik kemudian, Huna pun memutuskan sesuatu.


'Ya udah! Kalau gitu Huna pinjam deh tubuh nya Hima!' seru Huna langsung sambil mendekati Hima.

__ADS_1


Mendengar itu, Hima pun langsung berbalik dan hendak memarahi Huna. Namun usaha nya itu sedikit terlambat. Karena begitu ia berbalik, Huna langsung memasuki tubuh nya begitu saja.


Dan, detik berikut nya Jun pun menyaksikan perubahan drastis sang pangeran kecil. Pangeran yang biasanya bersikap elegan, tiba-tiba saja bersikap kelewat ceria. Sebuah senandung pun keluar dari mulut nya.


'Lima bebek kecil, duduk pinggir kolam. Sambil makan serangga lezat. Nyam..nyam.."


Senandung asing yang tak pernah Jun dengar sebelum nya keluar dari mulut mungil sang pangeran.


Merasa khawatir karena tiba-tiba saja pangeran jadi periang, Jun pun langsung menyapa sang pangeran.


"Mm.. pangeran Hima? Apa Anda baik-baik saja?" Tanya Jun dengan wajah yang ia buat tersenyum se ramah mungkin.


"Aku bukan Hima! Panggil aku Huna, Om ganteng!" Jawab Huna yang merasuki tubuh Hima.


Jun pun seketika menganga keheranan. Tak percaya dengan panggilan "Om Ganteng" yang baru saja didengarnya dari mulut sang pangeran. Seumur hidup nya, ia baru kali ini dipanggil seperti itu.


Tak tahu harus berkata apa lagi, Jun pun memutuskan untuk diam dan tak lagi mengatakan apa-apa kepada sosok pangeran Hima. Ia memutuskan untuk mengawasi pangeran kecil saja selama beberapa waktu lagi. Jika pangeran menunjukkan sikap yang membahayakan dan lebih aneh, baru lah ia akan melaporkan nya kepada ibunda sang pangeran, Ratu Tasya.


Beberapa menit berikut nya, sosok pangeran Hima asik bermain sambil bersenandung. Sesekali ia juga terlihat mengomel sendirian. Meski begitu, sikap sang pangeran menurut Jun tak membuat nya harus segera melapor kepada sang ratu.


Baru ketika Jun melihat pangeran yang tiba-tiba seperti kesakitan saja lah akhirnya ia langsung membopong pangeran Hima dan membawanya menemui Ratu.


Begitu ratu melihat pangeran Hima saat itu, sang pangeran sudah tersadar dan menjadi dirinya sendiri kembali.


Lima hari kemudian, Huna kembali.


Hima yang sedang menyantap buah naga kegemaran nya di kamar, dikagetkan oleh kemunculan Huna yang tiba-tiba.


'Hima! Aku menemukan Rinai!' ujar Huna dengan ceria.


Hima menjatuhkan sendok yang ia pegang. Dan ia langsung memarahi saudari astral nya itu.


"Huna! Kamu ke mana saja?! Kenapa baru muncul sekarang?!" Tegur Hima yang terlihat marah besar pada saudari nya itu.


Huna menyengir lalu meminta maaf.


'Maaf ya Hima, soal waktu itu. Aku maksa pinjam tubuh kamu.. habis nya kamu juga sih nyebelin!' tutur Huna dengan suara pelan.


"Lalu kamu pergi ke mana kemarin itu, Huna? Aku sedih karena kamu pergi tiba-tiba. Aku pikir kamu marah padaku.." ucap Hima tak kalah pelan.


Huna mendekati Hima dan memeluk leher saudara nya itu.


Dipeluk Huna, Hima pun merasakan aura dingin menyergap nya. Meski begitu, ia membiarkan Huna memeluk nya oleh sebab rasa rindu yang ditujukan nya kepada Huna.

__ADS_1


'Maaf. Aku janji gak akan pergi tanpa bilang-bilang dulu deh..' janji Huna terdengar serius.


Hima mengangguk.


"Janji ya!" Tagih Hima meminta kepastian Huna dalam berjanji.


'Iya. Janji! Eh! Aku mau kasih tahu kamu, Hima! Kalau aku udah tahu tempat tinggal Rinai sekarang!' tutur Huna tiba-tiba dengan semangat berlebih.


"Rinai? Tinggal di mana dia sekarang?" Tanya Hima pada udara kosong di depan nya.


Begitu lah yang disaksikan oleh Jun. Sang kepala pengawal yang berdiri tak jauh dari posisi pangeran Himada berada.


'Rumah nya jauuuuuuhhh banget dari sini. Sampai-sampai aku kehabisan energi dan harus beristirahat beberapa kali!' tutur Huna dengan raut kesal.


'Ternyata Rinai diculik oleh teman Mama nya. Begitu kata Rinai, Hima!' imbuh Huna kembali.


"Diculik? Lalu dia sekarang bagaimana?" Tanya Hima ikut merasa khawatir.


'Dia tinggal di dalam kamar bersama Mama nya. Dan mereka gak boleh keluar dari kamar itu. Kasihan banget deh!' tutur Huna dengan raut sedih.


Di dekat Hima, kepala pengawal Jun ikut mendengarkan percakapan monolog sang pangeran dengan teman astral nya.


Meski ia sudah mengingatkan diri nya untuk menutup mata dan telinga dari aksi aneh sang pangeran yang berbicara sendirian itu, tetap saja Jun tak bisa menahan diri untuk terus mengikuti percakapan monolog sang pangeran.


'Siapa yang diculik kata nya tadi? Ah.. pangeran Hima benar-benar pandai berimajinasi. Walau agak liar juga sih imajinasi nya itu..' gumam Jun menilai sikap sang pangeran.


"Kalau begitu, kita harus sampaikan ini pada ibunda ratu, Huna! Ayo!" Ajak Hima seraya bangkit berdiri.


'Apa menurut mu, Bunda bisa menyelamatkan Rinai, Hima?' tanya Huna yang terlihat ragu.


"Bunda pasti bisa membantu Rinai! Tenang saja!" Ucap Hima dengan yakin nya.


Sang pangeran lalu beralih kepada pengawal Jun.


"Pengawal Jun, Hima ingin bertemu dengan ibunda ratu. Tolong antarkan Hima ya, sekarang juga!" Pinta Hima tiba-tiba.


Jun yang sempat tertegun saat mendengar permintaan Hima itu, pada akhirnya mengikuti juga keinginan sang pangeran. Setelah sang pangeran memaksa nya berkali-kali kemudian.


Jadi lah mereka akhirnya menemui ratu Tasya di ruang kantor nya pada sore hari yang cerah itu.


Flashback selesai.


***

__ADS_1


__ADS_2