Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Keunikan Himada


__ADS_3

Di istana Nevarest...


"Apa itu terjadi lagi, Damsi?" Tanya Ratu Tasya kepada pengasuh putra nya, Pangeran Himada.


"Benar, Baginda Ratu. Hamba sungguh tak habis pikir bagaimana itu bisa terjadi. Kali ini hamba melihat dengan mata kepala hamba sendiri, Ratu. Pangeran memang telah menunjukkan bakat milik nya di umur nya yang masih belia ini," tutur Damsi menjelaskan.


"Ceritakan kepada ku apa yang kau lihat!" Tasya mengeluarkan titah nya.


"Jadi begini, Ratu. Siang tadi ham a memberikan makanan pesanan Pangeran seperti biasa nya. Dua porsi dengan menu yang berbeda,"


"Pangeran lalu minta makanan nya itu ditata seolah ia hendak makan berdua dengan seseorang. Lalu berselang lama kemudian, hamba melihat makanan yang berada di depan sebrang kursi tempat pangeran duduk, menyusut sedikit demi sedikit. Padahal hamba menyaksikan sendiri kalau tak ada siapa pun yang sedang duduk di dekat pangeran Himada!"


"..."


"..."


"Apa benar ada hantu di istana ini? Apa yang selama ini diajak obrol oleh pangeran Hima adalah hantu tak kasat mata itu, Damsi? Jika benar begitu, ini sangat mengkhawatirkan. Jika sampai orang lain mengetahui aksi pangeran Hima yang berinteraksi dengan teman hantu nya, maka bisa jadi putra ku itu akan dianggap nya gila!" Tutur Ratu Tasya mencemaskan kondisi sang putra.


".. Jangan menganggap kemampuan pangeran Hima dalam perspektif yang tak elok, Ratu. Mohon maaf bila hamba lancang. Tapi bukankah kemampuan cenayang saat ini sangat sulit untuk ditemukan? Bahkan di keempat penjuru negeri sekali pun?" Damsi mencoba menghibur ratu nya.


"Ya. Ucapan mu itu ada benar nya, Damai. Namun.. "


Tasya tak lanjut mengucapkan isi pikiran nya secara vokal. Pandangan nya nanar menatap jauh ke taman istana yang masih basah oleh sebab hujan sedari pagi tadi.


Setelah beberapa lama, sang ratu pun kembali bicara.


"Di mana Pangeran Himada sekarang?" Tanya ratu Tasya tiba-tiba.


"Pangeran sedang bermain bidak igo dengan teman halus nya, Ratu. Ada Afni bersama nya," sahut Damsi segera.


Sang ratu bergegas bangkit dan menitahkan perintah berikut nya untuk Damsi.


"Antarkan Da ke tempat pangeran Hima berada, Damai. Da ingin melihat sendiri saat Hima berinteraksi dengan teman halus nya," azam ratu Tasya pun tercipta di benak nya.


Kedua nya lalu pergi meninggakkan gazebo yang terletak di salah satu puri utama istana. Pikiran Tasya berkecamuk oleh banyak hal.

__ADS_1


Saat ini Daffa sedang melakukan audiensi dengan para menteri untuk mempersiapkan acara pertemuan tiga kerajaan yang akan dilaksanakan pada bulan mendatang.


Acara pertemuan tersebut dicanangkan untuk memperbaharui perjanjian PizLov en Muah yang terjalin di antara ketiga kerajaan. Ketiga kerajaan tersebut antara lain kerajaan Nevarest, Allain, dan juga Enmar.


Sebenar nya perjanjian ini juga mengikat serta kerajaan satu lain nya, yakni kerajaan Gpluth. Sayang nya di pertemuan kerajaan terakhir, tak ada utusan dari negeri Goluth yang hadir dan ikut menandatangani perjanjian perdamaian di antara ketiga negara.


Negeri Goluth bisa dibilang mengisolirkan diri dari ketiga negeri lain nya oleh sebab yang tak jelas.


Selain letak nya yang secara geografis memang sulit dijangkau karena berdiri di atas bebatuan terjal, ada juga musim dingin yang terus mendominasi cuaca di negeri itu.


Jarang ada pedagang dari ketiga negeri lain nya yang ingin singgah ke negeri terisolir tersebut. Sehingga beberapa utusan dari Goluth sendiri lah yang mengambil pasokan bahan makanan ke negeri-negeri tetangga nya.


Secara geografis, memang Goluth memiliki sumber hasil laut yang kelewat melimpah. Sehingga negeri tetangga lain nya seringkali bersedia menukar nya dengan barang komoditi yang diperlukan oleh penduduk Goluth.


Tasya lalu sedikit mengkhawatirkan berita intel yang berhasil diterima oleh nya dan Daffa pada pekan lalu. Bahwasanya di pertemuan mendatang, raja dan ratu Goluth hendak ikut hadir meramaikan nya.


Entah berita itu benar atau tidak, Tasya hanya berharap, semoga kedatangan raja dan ratu tersebut ke pertemuan nanti akan membuka pintu komunikasi yang baik dengan negeri yang telah sejak lama mengisolirkan diri nya tersebut.


Langkah Tasya lalu terhenti di depan pintu tempat Pangeran Himada biasa bermain.


Pandangan Tasya menatap serius ke tempat kosong di dekat boneka tersebut. Dan entah kenapa Tasya merasakan hawa dingin yang tak sewajar nya.


Tatapan Tasya lalu bersirobok dengan tatapan Afni, pengasuh pangeran Himada lain nya. Afni lalu menganggukkan kepala nya ke arah tempat kosong yang tadi dilihat oleh Tasya.


Tasya pun kembali melihat ke tempat kosong tadi. Dan ia dibuat terkejut saat menangkap pergerakan dari boneka yang tergeletak di dekat nya.


"?!!"


Tasya sangat yakin kalau tadi ia senpat melihat tangan boneka itu bergerak. Karena nya ia pun kini fokus melihat boneka itu lagi. Namun kemudian, indera pendengaran nya menangkap suara sang putra memanggil nama nya.


"Bunda Rani.." panggil pangeran Himada saat ia menengok ke arah pintu dan melihat sosok ibunda nya.


("Rani" memiliki arti "ratu")


Tasya mengerjapkan mata nya sekali. Perhatian nya terhadap boneka itu pun membuyar. Dan kini ia langsung fokus menatap wajah tampan putra nya itu.

__ADS_1


Pangeran Himada saat ini sudah memasuki usia ke lima tahun. Wajah Hima adalah paduan sempurna dari beberapa bagian dari wajah Tasya dan juga Daffa.


Sejak kecil, Hima sudah dinobatkan sebagai bayi yang sangat tampan. Bahkan hingga ia tumbuh di usia nya yang kelima tahun ini.


Rambut Hima berwarna hitam lebat seperti tambut nya Tasya. Panjang nya sebahu, namun diikat ke belakang dengan tali rambut biru pemberian dari ibu tua nya, Putri Anna.


Mata hima bulat badam dengan warna irish hazzlenut seperti milik ayahanda nya, Daffa. Pipi Himada tampak sedikit gempil kemerah-merahan. Mengingatkan siapapun yang melihat nya pada buah tomat yang ranum nan segar.


Siapa pun yang bertemu dengan Pangeran Himada akan langsung dibuat jatuh hati terhadap nya.


Tapi lalu Himada mulai menunjukkan kemampuan nya untuk berinteraksi dengan makhlus halus sejak beberapa bulan terakhir. Lebih tepat nya adalah sejak ia berulang tahun yang ke lima pada dua bulan yang lalu.


Hal ini tentu membuat sang Ratu menjadi khawatir. Terlebih lagi teman halus nya Himada sering juga menunjukkan eksistensi nya di hadapan Damsi dan juga Afni.


Syukurlah Tasya hanya menyertai Sang putra dalam penjagaan dua pelayan setia nya itu saja. Jadi hanya Damsi dan Afni saja yang mengetahui 'bakat unik' yang dimiliki oleh putra nya itu.


"Ibunda Ratu kenapa terdiam? Ayo main bersama Hima dan Huna!" Ajak sang pangeran dengan pandangan polos nya.


Pada mula nya Tasya ingin tersenyum menanggapi ajakan putra nya tersebut. Namun kemudian ia menangkap satu nama lain yang disebutkan oleh sang putra.


"Huna?.. siapa itu Huna, pangeran?" Tanya Tasya sambil berjalan masuk mendekati pangeran Himada.


Lambat-lambat, sebuah memori lama merangsek masuk ke dalam benak sang ratu.


Sebuah pemakaman sederhana di bukit nan sepi. Gundukan tanah kecil tempat pembaringan terakhir bayi putri nya, kembaran Himada, yang ia beri nama Malika Hunaini.


"Huna itu saudari De, ibunda. Bagaimana Ibunda bisa melupakan nya?" Sahut balik pangeran Himada sambil terkekeh menertawai sang ibunda.


Sementara itu, kedua mata Tasya langsung membesar seketika itu juga.


Dengan spontan, sang ratu langsung menoleh ke tenpat kosong di dekat boneka yang tadi sempat dilihat nya bergerak.


"Baby Huna?!" Bisik ratu Tasya terlihat begitu syok di tempat nya berdiri saat itu.


***

__ADS_1


__ADS_2