Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Ratu Charrine


__ADS_3

"Apa lagi mau mu, Psiko Frans?!" Tanya sang ratu dengan suara lantang menantang.


Langkah sang raja pun terhenti.


"Berhenti memanggil ku dengan nama itu, Ratu. Saat ini Da adalah raja mu. Raja di negeri ini!" Tegur sang raja dengan nada datar.


"Da! Di! Du! Berapa kali juga ku katakan pada mu, Frans? Aku tak pernah mau hidup di dunia dongeng ini bersama mu! Kembalikan aku dan Rinaya ke bumi! Jangan bawa-bawa kami untuk hidup dalam dunia mu yang penuh kegilaan ini!" Kecam sang Ratu dengan pandangan nyalang.


Pandangan Frans mengeras. Ia paling tak suka bila wanita di depan nya itu menyebut kata 'gila' di hadapan nya. Ego nya merasa direndahkan oleh wanita itu.


Frans kembali maju beberapa langkah. Membuat sang ratu menjadi siaga dan bergeser mundur bersama Rinaya yang masih berada di belakang nya.


"Diam! Jangan dekat-dekat! Atau..."


"Atau apa, Ratu? Tak ada yang bisa kau lakukan di istana ini untuk melawan ku. Semua orang di sini tunduk kepada ku!" Ungkap Frans dengan begitu percaya diri.


"Mereka bukan tunduk karena keinginan mereka sendiri, Frans! Tapi terlalu takut pada lelaki gila macam diri mu!" Kecam sang ratu kembali dengan berani.


"Dasar wanita! Da bilang berapa kali untuk berhenti mengatai Da gila!"


Frans mengarahkan telunjuk nya ke arah leher ratu nya. Serta merta cairan hitam pun meluncur dari tangan nya lalu membelit leher ratu cantik tersebut.


Langkah Frans masih terus mendekati wanita yang bergelar ratu di hadapan nya itu. Wanita yang saat ini terlihat bersusah payah melepaskan belitan cairan hitam yang telah berubah seperti tali kuat yang mencekik lehernya. Ia kesulitan untuk bernapas.


Setelah berdiri di depan ratu, Frans langsung menarik tangan anak perempuan yang tadi disembunyikan oleh ratu nya. Mata ratu menatap cemas pada Rinaya yang kini terlihat ketakutan dalam tahanan Frans.


Satu tangan Frans menahan tangan Rinaya. Sementara satu tangan lain nya mengangkat dagu bocah perempuan itu hingga terangkat ke atas menatap nya.


Kedua mata dari wajah yang begitu mirip itu kini saling bersitatap dalam diam.


Sepasang mata milik bocah perempuan yang terlihat ketakutan. Dengan sepasang mata milik Frans yang memandang penasaran pada Rinaya.


Koneksi mata di antara kedua nya terputus saat tubuh sang ratu tiba-tiba saja menyergap tubuh mungil Rinaya. Meski pun wajah sang ratu telah kemerahan karena mulai kehabisan napas.

__ADS_1


Kedua mata Frans mengerjap cepat. Dengan satu kibasan jari telunjuk nya, Frans melepaskan belitan cairan hitam pada leher sang ratu.


Membuat sang ratu kemudian megap-megap merampok udara di sekitar nya hingga terbatuk-batuk setelah nya.


Dengan napas yang masih terengah-engah, ratu pun menghadiahi Frans tatapan penuh benci.


"Kau! Jangan sekali-kali kau berani menyakiti atau mendekati Rinaya!" Ancam Sang ratu kepada Frans.


Frans tak menganggap serius ucapan yang menurut nya tak mengandung ancaman tersebut. Dengan santai nya ia malah menyahut.


"Dia juga anak ku, ratu. Tidak kah kau melupakan saat kita menciptakan nya bersama-sama di rumah putih di tepi pantai dulu?" seloroh Frans bernada asal.


"K..kau! Diam! Jangan ucapkan apapun lagi! Bisa-bisa nya kau!" Ratu tampak kehabisan kata-kata.


Telah cukup sering ia berhadapan dengan Frans. Terutama sejak lelaki itu tiba-tiba saja muncul di kota Manhattan tempat nya tinggal di bumi. Kemudian menculik nya dan juga Rinaya. Saat itu Rinaya baru berusia dua tahun.


Telah empat tahun ia terkurung dalam bangunan istana di dunia yang aneh ini. Dan wanita itu masih sering mengira kalau ia sedang bermimpi. Sebuah mimpi yang sangat buruk.


Karina masih menatap benci ke arah Frans. Ia membenci pemuda gila itu karena telah menculik nya dari kehidupan damai nya di bumi.


Karina tak pernah membayangkan kalau suatu hari Frans akan tiba-tiba kembali muncul dalam hidup nya. Terutama setelah ia berdamai dengan jalan takdir yang harus dihadapi nya setelah menjadi single parent bagi Rinaya.


"Bagaimana pun juga, Rinaya tetap lah anak ku juga. Jadi kau tak bisa menjauhkan ku dari nya, Rin-rin Sayang.."


Setelah beberapa lama, Frans menambahkan.


"Dan tidakkah kau juga ingin menjumpai sahabat cantik mu dulu di bumi, Tasya?" Imbuh Frans.


Dahi Karina serta-merta mengerut. Lagi-lagi Frans mengucapkan pernyataan yang sama kepada nya. Tasya..


'Benarkah apa yang dikatakan si gila ini kalau Tasya juga berada di dunia ini? Tapi.. bagaimana bisa? Bukan kah Tasya seharusnya ada di bumi? Atau.. apa jangan-jangan si gila berhasil menculik Tasya juga?!' benak Karina kusut oleh beragam pikiran yang berkecamuk.


"Tenang saja. Sebentar lagi kau akan bisa bertemu dengan nya. Satu bulan ke depan sahabat mu itu akan mengadakan pertemuan tiga kerajaan. Bukan kah akan mengasyikkan bila pertemuan tiga kerajaan itu tiba-tiba menjadi pertemuan empat kerajaan? Tidak kah menurut mu Tasya akan sangat terkejut saat melihat mu, Sayang?" Ucap Frans dengan seringai mengerikan.

__ADS_1


'Dasar psiko! Gila gelo!' umpat Karina dalam hati nya.


Frans lalu menatap ke belakang kepala Karina. Terlihat sebelah mata Rinaya mengintip di balik rambut lebat sang ibunda. Penasaran sekaligus takut terhadap sosok yang mengatakan diri nya sebagai ayah dari bocah perempuan itu.


"Dan kita juga harus membawa serta Rinaya, putri kita. Ku dengar Tasya mempunyai seorang putra. Tidak kah kau menginginkan putri kita menikah dengan putra sahabat mu itu, Sayang?" Tanya Frans lagi dengan asal.


Karina tak menggubris omongan Frans. Ia malah menyembunyikan Rinaya lagi agar tak terlihat oleh Frans.


Entah yang diucapkan oleh Frans itu benar atau tidak, Karina hanya berharap ia bisa terbebas dari lelaki gila di hadapan nya itu. Ia ingin kembali ke Manhattan. Kembali ke bumi, dunia tempat nya dan Rinaya berasal.


Entah bagaimana kabar Mama, Papa dan Bang Idham, kakak lelaki nya itu. Mungkin mereka saat ini sangat cemas memikirkan kondisi putri dan adik semata wayang nya ini.


Mengingat keluarga nya di bumi, ekspresi di wajah Karina pun menjadi sendu. Ingin rasa nya ia menangis setiap waktu atas apa yang menimpa nya saat ini.


Sudah lah Frans membuat nya mengalami malam tak terlupakan dalam hidup nya. Hingga membuat Karina harus melahirkan Rinaya dengan status unmarried.


Dan kini pemuda gila itu masih juga menyeretnya ke dunia ini. Dunia tempat segala kekuatan aneh bisa disaksikan oleh mata telanjang Karina.


Karina sempat berpikir, apa dia sudah mati saat ini dan ini adalah dunia neraka bagi nya atas semua kesalahan-kesalahan nya di masa lalu?


Tapi bila benar begitu, Tuhan tentu sangatlah kejam terhadap nya. Karena Karina merasa tak melakukan sesuatu yang terlampau jahat untuk mendapatkan balasan hidup kedua yang se menyedihkan seperti yang saat ini sedang ia jalani.


Frans melihat ekspresi di wajah Karina yang sudha melunak. Ia mengira Karina mungkin sedang membayangkan pertemuan nya dengan sahabat lama nya, Tasya.


Sebuah perasaan puas pun bercokol di benak pemuda itu. Entah apa alasan nya, tapi Frans merasa puas karena berhasil membuat ratu nya tak lagi marah dan menatap benci pada nya. Meski pun Frans juga belum bisa membuat Karina tersenyum ke arah nya.


"Persiapkan dirimu, Ratu. Dua pekan depan kita akan berangkat menuju Nevarest. Di sanalah kau bisa bertemu dengan sahabat mu lagi," titah Frans sebelum berbalik pergi menuju keluar ruangan.


Amarah yang tadi sempat berkorbar saat menerima berita buruk dari sang pemburu pun, kini telah sirna dari dalam benak Frans. Pemuda itu kini sibuk menyusun rencana untuk persiapan nya menjumpai musuh lama nya dulu, Tasya dan juga Daffa.


"Tunggu saja! Akan kubuat kalian menderita melebihi rasa sakit yang kurasakan saat kalian menenggelamkan ku di kedalaman lautan dulu!" Ancam Frans dalam bentuk gumaman pelan.


***

__ADS_1


__ADS_2