
Kejadian menghilang nya pangeran Hima baru diceritakan oleh Tasya kepada Daffa pada malam hari nya. Karena ternyata acara perundingan di antara empat kerajaan baru berakhir sekitar jam satu.
Selesai berunding, para raja dari empat negeri lalu menikmati perjamuan bersama. Setelah nya, mereka menikmati penampilan opera selama dua jam berikut nya.
Selesai melihat opera, Daffa nyata nya harus menghadiri audiensi dengan para menteri nya hingga waktu mendekati maghrib.
Tasya baru menjumpai suami nya itu di waktu senja. Itu pun ia tak langsung menceritakan tentang Hima. Karena melihat Daffa yang terlihat sangat letih saat itu.
Baru ketika kedua nya bersiap untuk tidur saja lah akhirnya Tasya baru menceritakan tentang peristiwa menghilangnya Hima tadi pagi.
Dan seperti dugaan Tasya, Daffa pun terkejut dengan apa yang terjadi kepada putra mereka tersebut.
'Lalu sekarang Hima bagaimana, Dear? Apa lagi yang dia ceritakan tentang Huna?' Tanya Daffa kemudian lewat telepati.
'Hima bercerita kalau tadi itu kedua kali nya Huna merasuki nya. Aku khawatir, Yang. Apa sebaik nya kita menemui seseorang untuk membekali Hima dengan sesuatu? Maksud ku, agar Hima tak lagi dirasuki oleh apapun itu!' Tasya menyampaikan usulan nya.
'Sayang sekali Tuan Yodha tak ada di sini. Jika ia ada, mungkin ia bisa membantu putra kita. Buku tentang dunia spirit pun berada di tangan nya saat ini. Tapi tunggu lah dulu, Dear. Saya akan menanyakan nya kepada Ayah Arca. Semoga saja Ayah bisa membantu Hima,' jawab Daffa.
'Iya, Yang.. bagaimana dengan tadi siang? Apa perundingan nya berjalan lancar?' Tanya Tasya sambil merebahkan kepala nya ke bahu Daffa.
'Lancar.. semua nya berjalan lancar. Hanya saja, ada yang membuat saya penasaran, Dear.'
'Tentang apa itu, Yang?'
'Raja dan ratu Goluth. Seperti nya ada sesuatu tentang mereka yang membuat saya merasa tak nyaman. Terutama raja Elfran. Walaupun ia bersikap ramah dan kooperatif dalam penetapan batas wilayah yang dirundingkan tadi siang, tapi feeling saya mengatakan kalau ada sesuatu di balik sikap ramah nya itu,' lanjut Daffa lewat telepati.
'Barusan itu kamu su'udzon lho, Yang!' tegur Tasya.
'Entah lah, Dear. Saya juga bingung. Coba kalau kemarin kamu ikut saya menyambut kedatangan mereka di bandar. Kamu mungkin juga akan merasa keanehan pada sikap ratu Charrine!' tukas Daffa.
'Memang nya ada apa dengan ratu Charrine, Yang?'
'Saya sering mendapati kalau beliau seperti takut terhadap suami nya sendiri, raja Elfran. Aneh bukan?'
'Ah. Masa sih? Cuma perasaan kamu aja kali, Yang!'
'Maka dari itu saya juga bingung. Tapi toh karena dia juga gak melakukan apapun lagi selain diam mengikuti raja Elfran ke mana pun dia pergi. Jadi ya saya biarkan saja lah.'
Selama beberapa saat suasana kembali hening. Hingga kemudian Tasya kembali melanjutkan pembicaraan.
__ADS_1
'Yang! Aku baru ingat sesuatu! Yang! Kamu tidur?' tanya Tasya sambil menengadahkan kepala melihat Daffa.
Tasya melihat Daffa yang sudah memejamkan kedua mata nya. Aliran napas keluar masuk secara teratur dari mulut sang suami. Dari suara desah napas yang bisa didengar oleh telinga, menandakan betapa letih nya Daffa setelah beraktivitas selama seharian itu.
Pandangan Tasya pun seketika menjadi teduh. Ia lalu menegakkan posisi duduk nya. Setelah itu ditarik nya selimut ke atas hingga menutupi seluruh badan sang raja yang telah tertidur.
Selama beberapa waktu Tasya sibuk mengamati setiap lekukan di wajah suami nya tersebut. Dan setiap kali ia melakukan nya, Tasya merasa jantung nya berdebar begitu kencnag. Bahkan ia seperti bisa mendengar suara deburan jantung milik nya!
Aksi mencuri pandang itu lalu dipergoki oleh Daffa. Karena tiba-tiba saja sepasang mata milik raja muda itu mendadak
Terbuka.
Sepasang mata hazzlenut nya Daffa bersitatap dengan sepasang mata cokelat nya Tasya.
"Kamu mau terus lihatin saya tidur, atau mau kita melakukan hal lain yang lebih seru, Dear?" Tanya Daffa dengan suara vokal nya.
"Huh??" Tasya awal nya terkejut saat tertangkap basah sedang mengamati wajah sang suami.
Namun saat ia mendengar pertanyaan pilihan yang dilontarkan oleh Daffa, Tasya malah disergap oleh kebingungan.
"Maksud kamu apa, Yang?"
"Maksud saya tuh begini, Dear.."
Wajah Tasya pun seketika memerah. Ia masih saja seting terkejut dengan sikap romantis Daffa yang sewaktu-waktu menyergap nya. Seperti yang saat ini dilakukan oleh suami nya itu.
Tak lama kemudian, lampu di kamar inap sang raja dan ratu Nevarest pun padam. Dan siapapun juga akan tahu, pergumulan yang selanjutnya akan terjadi di antara kedua insan tersebut.
***
Keesokan hari nya, Daffa kembali menghadiri perundingan bersama para kepala tiga kerajaan lain nya di ruang kongres sejak pagi sekali. Rencana nya topik yang akan dibahas hari ini adalah terkait kerjasama di antara keempat kerajaan tersebut.
Ada banyak kerjasama yang akan dibahas. Termausk juga peraturan yang akan diberlakukan dalam hubungan di bidang perdagangan, migrasi, dan juga beberapa aspek yang lain.
Besar kemungkinan perundingan hari ini akan berlangsung hingga sore. Begitu kiranya menurut Daffa.
Sementara Tasya hari itu emmutuskan untuk menemani pangeran Hima di kamar nya sejak pagi. Ia ingin mendengar cerita mendetail Hima tentang kejadian kemarin.
"Jadi, Sayang, apa sekarang Huna ada di sini?" Tanya Tasya dengan nada berhati-hati.
__ADS_1
Hima sedang bermain menyusun mozaik. Sesuatu yang membuat Tasya keheranan. Karena di usia Hima yang baru menginjak usia lima tahun, putra nya itu audah mampu menyusun mozaik yang terdiri dari dua ratusan puzzle kecil.
Hima memang sudah menunjukkan kecerdasan nya sejak usia dini.
"Gak ada, Ibunda. Huna masih marah ke Hima," jawab Hima sambil mengambil sebuah puzzle, melihat papan mozaik yang baru diisi sepertiga puzzle dari keseluruhan nya, berpikir sebentar, baru kemudian meletakkan puzzle itu di tempat nya.
Tasya mengacuhkan papan mozaik yang sudah membuat nya pusing. Ia memfokuskan diri pada perbincangan nya dengan pangeran Hima.
"Ooh.. apa dia sering melakukan itu? Maksud ibunda, apa Huna sering muncul dan menghilang sendiri?" Tanya Tasya kembali.
"Iya, Bunda. Huna biasanya selalu bermain dengan Hima. Tapi kalau kami bertengkar, Huna akan pergi menghilang."
"..."
"Ibunda sudah sehat? Seperti nya ibunda masih sakit," tutur Hima tiba-tiba merasa khawatir melihat sang ibunda.
"Ibunda sudah lebih baik , Nak. Kenapa kamu bilang Ibunda masih sakit?" Tanya Tasya penasaran.
"Itu. Ada tanda merah-merah di keher Bunda. Bunda memang terjatuh ya?" Tanya Hima.
Beberapa hari kemarin memang ia sempat merasa tak enak badan. Ia merasa perut nya terasa kembung. Mungkin karena ia pernah telat makan jadi masuk angin.
Tapi mendengar pernyataan Hima tadi, Tasya pun menjadi bingung.
"Memar di mana, Nak? Bunda gak jatuh kok!" Elak Tasya dengan begitu yakin.
"Itu leher Bunda ada banyak merah-merah. Bunda pakai salep aja. Biar cepat sembuh!" Ujar Hima menasihati.
Seketika itu pula tangan Tasya langsung meraih leher nya sendiri. Dan kesadaran pun seketika menghampiri sang ratu.
Tanda kemerahan yang dilihat putranya itu pastilah tanda cinta yang telah sengaja ditinggalkan oleh Daffa semalam tadi.
Wajah sang ratu pun tiba-tiba merah padam. Membuat Hima yang melihat nya jadi semakin khawatir.
"Muka Ibunda merah! Bunda sakit lagi ya?" Kejar Hima yang diliputi kekhawatiran terhadap kondisi sang ibunda.
"Enggak. Enggak, Sayang! Bunda baik-baik aja kok!" Elak Tasya terburu-buru.
Sementara itu dalam hati nya ia mendumel. Merasa kesal terhadap Daffa yang sudan membuatnya terjebak dalam situasi canggung seperti sekarang ini.
__ADS_1
'Awas aja kamu, Daff!' ancam Tasya di dalam hati.
***