
Ratu Tasya memandang Damsi dalam diam. Benak nya berpikir cepat dan menuntut nya untuk menyusun rencana.
Sebuah asumsi melayang lama di pikiran sang ratu muda. Sehingga pada detik berikut nya, Tasya pun mencoba bereksperimen tentang asumsi nya itu.
Tasya kemudian berbicara langsung kepada Damsi melalui telepati langsung ke benak abdi setia nya itu.
'Damsi! Apa kau mendengar ku? Bisa kah kau menunjukkan kepada ku apa kau baik-baik saja saat ini?' tanya Ratu Tasya dengan mulut terkunci.
Tak ada jawaban ataupun pergerakan pada tubuh Damsi. Tasya menunggu selama beberapa waktu, namun hasil nya pun tetap sama.
Ia mengerutkan kening. Bertanya-tanya apakah penjelasan tabib Lu tadi ada benar nya atau tidak. Apakah benar Damsi sedang dalam kondisi trans saat ini, dan masih bisa mendengar pembicaraan orang-orang di sekitar nya?
Tanpa sadar, sang ratu berjalan mendekati Damsi. Ketika ia hendak meraih tangan pelayan wanita itu, seorang penjaga mengingatkan nya.
"Yang Mulia! Sebaik nya Yang Mulia Ratu jangan menyentuh pelayan Damsi terlebih dulu. Kita tak tahu jika sewaktu-waktu ada ancaman dari kondisi nya saat ini," nasihat penjaga itu.
Tasya pun tersadar. Sehingga ia pun menghentikan diri dari mendekati tubuh Damsi.
Setelah berpikir beberapa hal lagi, Tasya berkata kepada Afni yang masih berdiri dekat di belakang nya.
"Afni, untuk sementara waktu, temani lah Damsi di sini. Kabarkan kondisi nya kepada Tabib Lu segera bila ada perubahan. Walau sekecil apapun itu," titah sang ratu.
"Baik, Yang Mulia!" Jawab Afni segera.
'Da pikir, sat ini Damsi mungkin sedang melakukan detoksifikasi racun dalam tubuh nya. Kau melihat pose jari nya itu bukan?' lanjut sang ratu yang bertanya lewat telepati ke benak Afni.
Sekilas, Tasya melihat Afni menganggukkan kepala nya sekali. Pergerakan yang tak terlalu kentara sebenar nya. Namun karena mereka cukup sering berdialog lewat telepati, jadi nya Damsi atau pun Afni telah terbiasa untuk menyamarkan reaksi mereka terhadap inner power sang ratu tersebut.
"Sekarang, Da ingin memeriksa kondisi pangeran Himada. Tapi sebelum nya, ada yang mengganjal di benak Da," imbuh Tasya sambil berbalik dan menatap langsung ke mata Afni.
"Apa kau tak ikut memakan cemilan itu juga, Afni? Sehingga kini kau baik-baik saja? Tak seperti Damsi?" Tanya Tasya beruntun.
Afni mengerjapkan mata nya berkali-kali. Ia menangkap kecurigaan dalam suara sang ratu. Maka dengan terbata-bata ia pun menerangkan alasan nya.
"Itu benar, Yang Mulia. Hamba memang belum sempat mencicipi cemilan nya karena hamba sedang mengajarkan Pangeran menulis, ketika dua orang pelayan membawa masuk beberapa piring kecil berisi cemilan itu," jawab Afni.
"Begitu.. berarti ini adalah suatu keberuntungan bagi mu bukan? Tanya Tasya dengan tatapan tajam.
Tergeragap, Afni pun segera menjawab.
"Itu.. tidak seperti itu juga, Yang Mulia. Hamba tak merasakan keberuntungan dalam peristiwa ini, karena bagaimana pun juga hamba sudah menganggap Damsi seperti kakak hamba sendiri," imbuh Afni.
__ADS_1
Tasya terus menatap tajam Afni selama beberapa detik lagi. Ia tak bermaksud untuk mencurigai Afni juga atas kemalangan yang menimpa Damsi. Namun menurut nya, tak ada salah nya juga bila ia menanyakan nya langsung kepada Afni.
Ditatap nya wajah Afni yang menunjukkan ekspresi sedih. Sehingga beberapa saat kemudian, Tasya pun memalingkan pandangan nya jua dari wajah pelayan nya itu.
"Kalau begitu, jaga saudari yang sudah kau anggap sebagai Kakak mu itu dengan sebaik mungkin. Da ingin melihat kondisi Pangeran sekarang," tutur sang ratu, acuh tak acuh.
"Siap, Yang Mulia Ratu!" Sahut Afni segera sambil membungkukkan badan nya dalam-dalam.
Sambil berlalu, Tasya lanjut menyampaikan kalimat nya lewat telepati ke benak Afni.
'Maafkan ucapan Da tadi, Afni. Itu Da lakukan untuk kebaikan mu juga. Seperti nya seseorang dibalik peracunan ini menginginkan Da terpecah dan tak memercayai orang-orang di sekeliling Da. Jadi daripada mereka melanjutkan target nya kepada mu, bila Da tetap bersikap baik kepada mu. Mungkin ada baik nya bila kita menjaga jarak terlebih dahulu. Tak apa-apa ya Af?' tutur Tasya sambil berlalu pergi.
Afni pun langsung tersentak bangun dan menatap langsung ke wajah Tasya. Ia lalu mendengar peringatan Tasya berikut nya.
'Bersikap sedih lah seperti tadi! Biarkan musuh melihat kalau rencana nya memecah belah kita telah berhasil. Sementara Da akan menyusun rencana untuk membalas perbuatan mereka ini!' Sang ratu menasihati.
Afni pun seketika kembali membungkukkan badan nya. Dan dengan gerakan samar, ia kembali menganggukkan kepala nya sekali.
'Baik lah Yang Mulia Ratu. Hamba mengerti!' jawab Afni dalam hati nya. Meski pun ia tahu, ucapan nya itu tak bisa didengar oleh ratu Tasya yang kini telah masuk ke ruangan dalam dari kamar pangeran Himada.
Tasya lalu mendapati Hima duduk di atas kasur tidurnya sambil memainkan mainan rubik berbentuk piramida. Kepala Pengawal Jun berdiri dekat dengan nya.
"Salam sejahtera Yang Mulia Ratu!" Sapa Jun.
Tasya memberikan anggukan sekali kepada nya. Sebelum ia melihat putra nya yang kini sudah turun dari atas kasur dan berlari ke arah nya.
"Ibunda!" Panggil Himada setengah histeris.
Tasya langsung menangkap pelukan tiba-tiba dari sang pangeran kecil. Dicium nya pucuk kepala Himada berkali-kali. Sementara hati nya dipenuhi oleh rasa syukur karena putra nya itu dalam kondisi baik-baik saja saat ini.
Pangeran Himada sendiri sebenar nya tadi merasa panik dan ingin mencari Ibundanya segera saat ia melihat bibi Damsi nya tiba-tiba ambruk tak sadarkan diei. Namun ia ditahan oleh kepala pengawal Jun yang langsung membopong nya dan membawa nya masuk ke ruang tidur nya ini.
Alhasil sang pangeran pun tak bisa mengetahui apa yang selanjut nya terjadi pada bibi Damsi nya itu.
"Bunda.. bibi Damsi.. hiks." ucap Sang Pangeran mulai terisak.
"Suushh...tenangkan diri mu, Pangeran ku. Bibi Damsi akan baik-baik saja," hibur sang ratu.
"Sungguh?" Tanya pangeran Hima.
"Sungguh. Bibi Damsi hanya sedang beristirahat saja saat ini. Jadi, Hima baik-baik dulu di sini ya dengan kepala pengawal Jun," Tasya menyampaikan maksud nya kepada Himada.
__ADS_1
"Bibi Afni..?" Tanya Himada dengan pandangan bingung.
"Sementara, bibi Afni juga akan menemani bibi Damsi. Tak apa-apa ya, Nak?"
"U..humm.. tak apa-apa, Bunda.. Hima akan baik-baik saja. Ibunda jangan khawatir. Huna kan selalu menemani Hima juga," jawab Himada kemudian.
Kepala pengawal Jun mengerjapkan mata nya beberapa kali secara tak sadar. Ia bingung dengan sosok Huna yang dimaksud oleh sang pangeran.
Kepala pengawal Jun memang baru-baru ini ditugaskan untuk menjaga Himada dan juga ratu Tasya. Ia adalah tangan kanan Kepala Militer Antes. Jadi ia termasuk orang yang bisa dipercaya juga.
Sebelum nya Jun selalu bertugas menjadi intel di luar istana. Tapi ketika Antes dan raja Daffa bertolak ke medan peperangan, ia pun ditugaskan untuk menjaga Ratu dan juga pangeran.
Jadi karena status baru nya di istana ini lah yang membuat nya belum mengetahui tentang teman astral dari sang pangeran.
Tasya mencubit sayang pipi gembil putra nya itu. Sang ratu tak tahu, apakah sebaik nya ia memberikan penjelasan kepada kepala pengawal Jun tentang Huna, atau tidak.
Tapi setelah dipikir baik-baik, mungkin ada baik nya bila ia diam saja.
"Begitu? Kalau begitu ibunda akan merasa lebih tenang. Himada tak merasa sakit kan saat ini?" Tanya Ratu menyelidik.
"Enggak, Bunda. Hima baik-baik saja."
"Nanti, kalau ada apa-apa, Hima katakan saja semua nya pada Pengawal Jun ya? Jangan pergi jauh dari nya. Oke?" Pinta Tasya pada putra nya.
"Oke, Bunda.." jawab Hima dengan senyuman manis.
Sang ratu kembali berdiri. Pandangan nya kini tertuju pada sang kepala pengawal.
Kepala pengawal Jun masih agak menundukkan wajah nya saat Tasya tiba-tiba berkata kepada nya.
"Da titipkan keselamatan pangeran Himada kepada mu, Jun. Jaga ia dari segala bahaya dengan sekuat tenaga mu!" Titah sang ratu pun lantang terdengar.
"Siap, Yang Mulia!" Jawab Jun singkat dan padat.
Lebih lanjut lagi, Tasya pun memberikan titah nya yang lain.
"Selidiki juga kejadian ini secermat mungkin. Gunakan orang-orang terbaik mu yang bisa dipercaya untuk menyelidiki kejadian ini!" Imbuh Tasya kembali.
"Siap, Yang Mulia!" Jawab Jun kembali dengan singkat dan padat.
***
__ADS_1