Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Bermain Catur


__ADS_3

Dua hari setelah pelantikan tahta raja dan ratu, Anna dan Zizi berangkat menuju kota Biarest. Perpisahan ini tak diiringi oleh tangis di antara ketiga bersaudara itu.


Tasya hanya memberikan pelukan singkat kepada Anna dan Zizi secara bergantian dalam diam. Sementara dalam hati nya ia mengatakan kalimat perpisahan nya yang panjang ke dalam masing-masing benak Anna dan benak Zizi.


Kepada Anna, Tasya berkata, 'berhati-hati lah, Kak. Bersama kalian akan mengikut juga beberapa penjaga pribadi milik Daffa. Beri kabar Tasya jika terjadi apa-apa ya, Kak. Dan ingat, jangan pernah melepaskan kalung azzura milik Kakak ya!'


Kemarin, Tasya berhasil mengetahui cara menggunakan kekuatan sepasang kalung yang diberikan oleh ayahanda nya. Ternyata untuk bisa menggunakan kalung itu, pengguna nya harus memiliki tingkat inner power setingkat Tinggi. Yang ditandai dengan warna chi yang merah.


Tasya baru saja naik tingkat ke tingkatan Tinggi kemarin dengan bantuan batu giok milik Daffa. Meski pun warna chi Tasya saat ini baru merah muda. Namun Tasya bisa merasakan perbedaan kekuatan nya yang cukup signifikan.


Semalam ia mengetes jarak terjauh yang bisa ditunjukkan oleh inner power nya dalam melakukan telepati. Dan ternyata ia bisa melakukan telepati dalam jarak jauh. Bahkan meski target tujuan nya tak lagi bisa ia lihat. Telepati nya masih bisa terdengar, walau maish kurang jelas terdengar. Begitu menurut Daffa.


Kemudian saat mereka sedang menguji kekuatan telepati Tasya lagi dengan Zizi sebagai target nya, Daffa tak sengaja melihat kalung liontin berbandul batu rubi di leher Tasya jadi bercahaya.


Daffa pun lalu memberitahukan hal itu kepada Tasya. Dan Tasya juga melihat nya. Ia lalu mengikuti saran Daffa untuk memfokuskan chi nya agar menyatu bersama kekuatan kalung tersebut.


Sungguh upaya yang sangat sulit untuk dilakukan menurut Tasya. Ia berkali-kali gagal melakukan nya.


Hingga di percobaan nya yang ke sekian kali saja lah akhirnya Tasya berhasil. Dia berhasil memunculkan citra sosok Anna dalam bentuk tampilan cahaya bergambar di depan nya. Meski pun citra yang dibentuk nya masih samar-samar. Tapi menurut Daffa ini adalah kemajuan besar.


Mereka akhirnya telah mengetahui cara penggunaan kalung tersebut sebagai medium komunikasi antara Anna dan Tasya.


Segera setelah mengetahui cara nya, Daffa dan Tasya pun langsung mengunjungi kediaman Anna pada malam itu juga. Lewat telepati, Tasya menjelaskan apa yang baru saja dialami nya kepada Anna. Sehingga kemudian Anna pun ikut mencoba nya.


Saat ini, tingkat kekuatan Anna berada di tingkatan Medium. Sehingga warna chi nya adalah biru. Sama seperti warna liontin yang ada di kalung nya.


Anna pun mencoba mengalirkan chi nya yang biru ke dalam kalung yang ia kenakan. Sayang nya malam itu Anna belum berhasil melakukan nya.


Tasya dan Daffa lalu pamit kembali ke kediaman nya di Puri Anyelir. Sementara Anna terus berusaha melatih kemampuan chi nya dengan kalung pemberian dari sang ayah.


Sekitar besok siang nya, Anna baru berhasil melakukan nya. Dan itu masih berupa gambar samar-samar dan hanya dalam hitungan detik saja.


Kemajuan ini disyukuri oleh mereka semua. Oleh sebab itulah keduanya berjanji untuk sering bermeditasi dan melatih kemampuan chi mereka dengan kalung liontin yang dikenakan oleh masing-masing.

__ADS_1


Dan hari perpisahan pun akhirnya datang juga.


Tasya melepas kepergian Anna dan Zizi dengan wajah yang dibuat tegar. Ia berusaha membuat asumsi para pejabat tetap hidup. Bahwasanya telah ada perpecahan di antara dirinya dan Anna, begitulah anggapan orang-orang di sekitar istana.


Biar saja mereka menganggap ia dan kakak nya itu tak akur. Jika dengan begitu perhatian musuh bisa terfokus hanya kepada nya saja.


'Yang.. belum apa-apa aku udah ngerasa sedih gini ya dengan kepergian Kak Anna dan Zizi. Apa menurut mu rencana kita ini akan aman bagi mereka?' tanya Tasya lewat telepati.


Keduanya saat ini sedang bermain cstur di gajebo dekat taman kediaman mereka. Keduanya lebih sering berdiskusi lewat telepati kini. Mengingat kekhawatiran mereka pada adanya penyusup lain yang bisa saja ikut mendengar percakapan mereka.


Walaupun Daffa sudah bisa menangkap setiap penyusup yang mengunjungi kediaman mereka, namun tetap saja. Tak ada salah nya juga kan bila berjaga-jaga?


Saat Tasya melatih kemampuan chi dan kalung nya pun itu selalu dilakukan nya dalam pendampingan dari Daffa. Karena Daffa harus terlebih dulu menangkap penyusup yang ada. Sehingga Tasya bisa berlatih dengan bebas.


Daffa menggerakkan salah satu bidak kuda di atas papan catur. Gantian Tasya untuk menggerakkan bidak nya.


Kemudian Tasya mendengar suara Daffa dalam benak nya.


'Yakin saja, Dear.. ini adalah usaha kita untuk menyelamatkan kak Anna dan juga Zizi. Jadi semoga usaha kita ini dikabulkan oleh Yang Maha Menjaga. Kak Anna dan Zizi insya Allah akan aman di manapun mereka berada saat ini,' sahut Daffa lewat telepati.


'Aamiin.. sekarang, kita lanjutkan rencana kita berikut nya. Apa kamu sudah siap, Dear?' tanya Daffa lagi.


Sementara mulut lelaki itu mengucapkan kata secara vokal yang bisa didengar jelas oleh telinga Tasya dan para pelayan yang ada di dekat gazebo itu.


"Giliran mu, Ratu!"


Tasya mengangkat pandangan nya ke atas. Tepat ke dalam mata hazzle nut nya Daffa. Ia lalu menghembuskan napas letih.


"Tak bisakah kita memainkan permainan yang lain, Baginda? Hamba merasa mengantuk dengan permainan catur ini," balas Tasya lewat suara vokal nya.


Telinga beberapa pelayan yang berdiri menunggu di dekat keduanya tampak bergerak. Para pelayan itu selalu heran dengan interaksi raja dan ratu baru mereka yang sekarang. Karena kedua nya seringkali bercengkrama dengan begitu santai.


Tak seperti interaksi antara pasangan bangsawan pada umum nya.

__ADS_1


"Bermain catur akan melatih kemampuan kita dalam bersiasat, Ratu. Jadi permainan ini sangat baik untuk kecerdasan pola pikir kita," Daffa mengemukakan alasan nya terkait permainan catur.


Tasya merasa sebal karena Daffa tak menggubris kebosanan nya dalam bermain catur. Hampir setiap sore, suami nya itu selalu mengajak nya pergi ke gazebo ini untuk bermain catur.


Tak lama kemudian, terdengar rengekan suara baby Hima menangis.


Sontak saja perhatian Tasya langsung beralih pada putra nya itu.


"Ada apa dnegan pangeran Hima, Damsi?" Tanya Tasya pada salah satu pelayan yang ia ajak dari rumah mertua nya.


"Seperti nya Pangeran lapar, baginda Ratu," jawab Damsi sambil mengangkat pangeran Hima dari keranjang tidur nya.


"Apakah susu nya sudah habis?" Tanya Tasya lagi.


"Benar, baginda Ratu. Hamba tadi hanya membawa dua botol saja. Seperti nya karena cuaca yang agak panas, jadi pangeran lebih cepat haus dari biasanya," jawab Damsi lagi.


"Berikan Pangeran kepada ku Damsi. Biar aku menyusui nya langsung," Tasya mengeluarkan titah nya.


Segera saja, Damsi menyerahkan pangeran Hima ke pangkuan ibunda nya. Begitu baby Hima sudah berada di pangkuan Tasya, lima pelayan wanita yang tadi berdiri di setiap sisi gazebo pun langsung berdiri dempet di depan Tasya dengan posisi membelakangi nya.


Ini dilakukan untuk menutupi pemandangan Tasya yang sedang menyusui baby Hima.


Di hadapan Tasya, Daffa menatap iri pada putra nya.


"Lihat lah, Nak. Kau haus, dan ibunda mu langsung memberikan susu nya untuk mu," Daffa berkomentar.


Lebih lanjut, ia berkata lagi lewat telepati langsung ke benak Tasya.


'Bagaimana dengan ku, Dear? Aku juga seperti nya kehausan saat ini..' goda Daffa dengan wajah menyengir lebar.


Mendengar ucapan Daffa, Tasya langsung saja memelototi suami nya itu. Pandangan nya mendadak jadi garang.


'Jaga omongan mu, Raja!' tegur Tasya lewat telepati.

__ADS_1


'Siap Ratu ku yang menguasai segala..' sahut Daffa segera.


***


__ADS_2