
Begitu masuk, Daffa melihat telah banyak prajurit yang tergeletak di atas lantai karena serangan pedang kilau merah dari Alul Lazam. Para menteri dan pejabat pun semuanya berusaha keluar dari ruangan yang tiba-tiba berubah menjadi medan kematian tersebut.
Kemudian Daffa melihat kepala Militer nya, Antes maju untuk melawan Alul. Antes memunculkan tornado ukuran sedang dan mengarahkan nya ke arah Alul Lazam. Inner power sang kepala militer memang mampu memanipulasi kekuatan angin.
Menghadapi Antes, pergerakan Alul Lazam pun tersendat. Daffa menilai, tampak nya Antes mampu untuk mengimbangi serangan-serangan Alul Lazam.
Perhatian Daffa pun beralih ke arah lain. Yakni pada Bangsawan Bahm yang berusaha kabur lewat pintu belakang yang ada di belakang podium. Beberapa pasukan bayangan telah menghambat serangan prajurit yang hendak mengepung Bangsawan Bahm.
Daffa pun memutuskan untuk menghadapi Bangsawan Bahm. Dengan sekali gerakan, Daffa melesat pergi langsung ke depan pintu keluar yang hendak dituju oleh Bahm.
Bahm terkejut manakala ia mendapati sosok Daffa yang tiba-tiba saja menghalangi jalan keluar nya. Lelaki itu pun menggeram kesal.
"Kau selalu saja jadi pengganggu yang menyebalkan!" Geram Bahm.
"Dan kau selalu saja menjadi pengecut yang berlindung di belakang orang lain," Daffa balas meledek.
"Aku bukan pengecut!" Bahm meraung marah.
"Lalu apa nama nya kalau bukan pengecut? Di saat pasukan bayangan mu menghalau prajurit yang hendak menangkap mu, kau malah hendak diam-diam kabur?" Ledek Daffa kembali.
"Diam! Dan enyah lah!" Raung Bahm kembali.
Kemudian Bahm menendang Daffa dengan kaki nya yang telah diubah menjadi besi. Namun Daffa bisa menghindar dengan gerakan kilat nya.
Daffa lantas pindah posisi ke belakang Bahm dan melayangkan pukulan menyamping ke perut Bahm. Pukulan itu membuat Bahm merasakan nyeri yang cukup menyakitkan.
Bahm bergeser ke samping, dan kembali menendang Daffa dengan kaki besi nya. Namun Daffa kembali bergeser dua langkah ke samping kiri.
Daffa lalu meninju rahang Bahm sehingga Bahm mundur beberapa langkah ke belakang.
Pertarungan di antara an kedua nya terus berlangsung seperti itu selama beberapa waktu. Dengan Bahm yang selalu kalah lebih cepat saat menyerang Daffa.
Pada akhirnya Bahm harus mengakui kekalahan nya setelah menerima serangan Daffa untuk ke sekian kali nya. Tubuh nya terjatuh ke lantai setelah perut nya ditendang oleh Daffa dengan kencang.
Darah segar mengalir keluar dari tepi mulut Bahm. Dan ia menatap benci pada Daffa yang telah mencundangi nya dengan cukup parah. Ia merasa dada nya sudah sesak. Sehingga Bahm tak lagi mencoba bangkit berdiri.
__ADS_1
Bahm lalu melihat kepada pasukan bayangan nya yang hanya bersisa satu orang lagi saja. Dan ia menyaksikan kala abdi nya yang terakhir itu juga harus kalah oleh sabetan pedang dari salah seorang prajurit Daffa.
Bahm akhirnya harus mengakui kenyataan pahit. Bahwa ia harus kalah oleh raja Muda Nevarest tersebut.
Tak jauh dari Bahm, Alul Lazam pun terlihat kepayahan setelah dibanting berkali-kali oleh amukan tornado milik Antes. Penampilan nya berubah kacau dengan beberapa luka sayatan yang disebabkan oleh tebasan kilau merah pedang nya yang mengenai tubuh nya sendiri.
Antes selalu mampu membalikkan serangan tebasan dari Alul Lazam dengan sapuan angin ajaib nya. Sehingga serangan Alul sering nya malah kembali kepada nya kembali.
Setelah berhasil menaklukkan Alul, Antes pun segera memerintahkan prajurit nya untuk mengikat kedua tangan dan kaki sang perdana menteri.
Antes juga memerintahkan prajurit nya yang lain untuk mengikat Bahm dan pasukan bayangan nya yang masih hidup. Daffa menyaksikan semua proses penangkapan pelaku kejahatan tersebut dengan tatapan yang tenang.
"Aku akan balas kau nanti, Daffa! Lihat saja!" Ancam Bahm yang digotong dengan sebilah tombak. Di mana kedua tangan dan kaki nya telah diikat pada tombak tersebut.
"Dan kau harus bersabar menikmati sisa hidup mu di penjara bawah tanah, Bahm. Sebelum hukuman akhir mu diputuskan nanti nya," ancam balik Daffa dengan nada tenang.
***
Sepanjang sisa hari itu, Antes menangkap para antek Alul Lazam dan juga Bangsawan Bahm. Mereka semua segera menjadi penghuni penjara bawah tanah. Di mana di sana mereka di borgol dengan borgol yang mampu mengunci aliran chi dalam tubuh mereka. Jadi siapa pun mereka tak bisa menggunakan inner power milik nya untuk melarikan diri.
Kepulangan nya ke Nevarest bersama Antes dan sekian prajurit terpilih dilakukan dengan diam-diam. Bahkan Daffa sampai harus menyamar menjadi salah satu dari pasukan bayangan demi bisa menilai sendiri kekuatan musuh sebenar nya.
Dan usaha nya itu tak sia-sia. Nevarest akhirnya bisa terbebas dari musuh yang telah beberapa tahun terakhir ini menimbulkan awan bencana di istana.
Daffa lalu menginterogasi Bahm untuk mencari keberadaan raja Jordan. Sayang nya Bahm memilih untuk mengunci mulut nya rapat-rapat.
Akhirnya Daffa memutuskan untuk mengirim pasukan nya ke negeri Allain. Dengan membawa serta Bahm atau raja Bahima sebagai tawanan mereka. Ia akan mencari keberadaan raja Jordan sendiri di sana.
Akhirnya Tasya dan Daffa bisa bernapas lega karena kini Nevarest telah terbebas dari cengkeraman musuh di balik bayang. Mereka hanya tinggal menghadapi raja Elfran saja. Daffa ingin membuat perhitungan dengan raja Goluth tersebut. Karena sang raja yang telah mengirimkan pembunuh bayaran kepada nya (Daffa).
"Lalu bagaimana dengan ratu Charrine dan putri nya, Yang?" Tanya Tasya suatu ketika.
"Ada di mana mereka sekarang?" Tanya Daffa kepada Tasya.
"Aku sudah mengutus orang untuk membawa ratu dan putri nya kemari," jawab Tasya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya akan mengutus seseorang untuk memberi kabar pada raja Goluth. Bahwasanya istri dan anak nya kini berada bersama kita. Siapa tahu dengan begitu ia akan menyerah melawan kita," tutur Daffa berencana.
...
Empat hari kemudian, ratu Charrine dan putri Rinaya pun akhirnya sampai juga di kerajaan Nevarest. Ratu Charrine, aka Karina sudah tak sabar untuk bisa berjumpa dengan sahabat lama nya, Tasya.
Sayang nya Karina harus bersabar selama dua hati lagi baru ia bisa bertemu dengan Tasya. Karina tak sabar karena setiba nya di Nevarest ia harus kembali dikurung dalam ruangan yang dijaga kembali.
Merasa kesal pada Tasya, Karina pun tanpa malu-malu mulai berteriak memanggil nama sahabat nya itu. Sikap nya membuat nya dianggap gila oleh para pelayan dan penjaga istana yang melewati kediaman nya. Namun Karina tak peduli.
Karina tetap saja berteriak meracau sambil mengumpati nama sang ratu Nevarest.
"Tasya bodoh! Jahat benar kau pada sahabat mu ini! Ku kira kau masih menganggap ku sebagai sahabat! Percuma juga kau memberiku voice recorder ini! Padahal aku selalu membawa nya ke mana pun! Karena recorder ini lah yang selalu menyemangati ku dalam menjalani hati-hari!" Amuk Karina pada pintu ruangan yang telah mengurung nya.
Selama dua hari dikurung, Karina terus meneriakkan kalimat bernada serupa. Aksi nya itu sempat membuat putri nya, Rinaya sedikit cemas dengan kondisi sang Mama. Namun Karina selalu kembali bersikap normal setelah ia puas berceloteh selama beberapa menit.
Pada hari ketiga, Tasya tak sengaja melewati kediaman Karina. Dan saat itu juga ia tak sengaja mendengar celotehan Karina.
Merasa kalau ia mengenali suara tahanan kerajaan tersebut, Tasya pun langsung bertanya pada Dayang yang menyertai nya di belakang.
"Siapa yang dikurung di dalam sana?" Tanya Tasya pada abdi nya.
"Itu.. ratu Charrine, Yang Mulia Ratu. Abaikan saja beliau. Karena sejak hari pertama kedatangan nya, beliau selalu memaksa untuk bertemu dengan Yang Mulia Ratu. Mengatakan bahwa diri nya adalah sahabat lama Yang Mulia.." jawab dayang dengan suara pelan.
"Sahabat lama?" Tanya Tasya.
"Benar, Yang Mulia. Sudah. Abaikan saja. Bukan kah Yang Mulia hendak menemui Paduka Raja sekarang ini?" Sang dayang mengingatkan.
Tasya pun hendak kembali melanjutkan langkah nya. Namun ucapan ratu Charrine berikut nya telah menahan langkah Tasya kembali.
"Awas saja nanti kalau aku tahu jalan pulang ke bumi! Kau akan ku adukan pada Papi, Mami dan juga Bang Idham nanti, Tasy!" Teriak suara itu lagi.
Pada mulanya Tasya terhenyak tak mengerti dengan arti ucapan dari tahanan tersebut. Namun setelah beberapa lama Tasya tersentak kaget. Pikiran nya pun lalu mengingatkan Tasya bahwa ia mengenali nama terakhir yang disebutkan tadi.
'Bang Idham! Itu adalah kakak lelaki Karina! Jangan-jangan...??!' gumam sang ratu berasumsi.
__ADS_1
***