
Di Goluth tersiar kabar bahwa raja Daffa tengah sekarat saat ini. Ini adalah berita yang sangat menggemparkan. Karena moril para prajurit Nevarest yang sedang merantau di medan peperangan pun jadi menurun.
Dikatakan bahwa raja Daffa sekarat setelah diserang oleh penyusup yang menyamar jadi utusan ratu Tasya. Sehingga gulungan surat yang datang bersama nya pun dicurigai sebagai aurat palsu.
Setelah diselidiki, ternyata utusan palsu tersebut telah menghadang utusan ratu Tasya yang sebenar nya di saat sang utusan masih berada di perjalanan menuju barak raja Daffa. Ini diperkuat dengan ditemukan nya sebuah mayat tak jauh dari lokasi tenda prajurit Daffa berada saat itu.
Maka bisa jadi gulungan surat yang diterima oleh raja Daffa merupakan gulungan surat yang sebenar nya. Itu hanya dijadikan sebagai alibi awal saja agar sang penyusup bisa mendapatkan kepercayaan raja Daffa untuk mendekati nya.
Tapi semua itu baru spekulasi semata. Tersiar pula isu bahwa raja Daffa telah mengumpulkan para jendral nya untuk melanjutkan misi invasi. Sementara ia mengistirahatkan diri. Dikatakan bahwa raja Daffa hendak kembali menuju pusat Nevarest.
Dan rumor yang paling santer terdengar adalah bahwa raja Daffa belum juga terbangun dari tidur nya, usai ia menerima racun dalam serangan sang penyusup.
Yang mana pun dari rumor tersebut yang benar, satu hal yang disepakati oleh semua orang adalah, bahwa penyerangan terhadap wilayah Goluth pun sempat ditunda selama beberapa waktu.
Berita tentang raja Nevarest ini juga sampai ke telinga bangsawan Bahm. Ia merasa tak nyaman dengan situasi yang terjadi saat ini. Sehingga kini, ia pun menitahkan abdi nya untuk menelusuri kebenaran cerita yang sebenar nya.
"Temukan kebenaran nya secepat mungkin! Aku khawatir, bila ini dibiarkan terus-menerus, raja Elfran akan memutuskan untuk mengambil kesempatan ini dan mengerahkan seluruh kekuatan nya untuk menyerang balik Nevarest. Ini bisa sangat gawat. Tak mungkin juga aku membiarkan kucing itu berubah menjadi singa setelah memakan kucing lain yang sedang sekarat bukan?" Sang bangsawan kembali beranalogi.
"Siap, Tuan ku!" Sahut seorang abdi Bahm.
Setelah abdi yang disuruh nya pergi, Bahm pun kembali berpikir.
"Sial benar! Jika tebakan ku tak meleset, pastilah penyusup yang menyerang raja Daffa juga kiriman dari cecunguk Goluth tersebut. Seharusnya mereka bisa bermain fair dalam peperangan ini. Jadi ketika kedua nya telah kehabisan amunisi untuk melanjutkan peperangan, saat itu lah aku akan muncul dan menguasai kedua nya sekaligus. Sayang nya cecunguk itu sepertinya sudah tak sabar untuk bisa menguasai Nevarest.."
"Kalau terus begini, aku harus bersiap-siap menguasai Nevarest terlebih dahulu sebelum keduluan raja Elfran. Cih. Padahal waktu nya belum lah tepat. Awas saja kau, Elfran. Akan kubuat perhitungan dengan mu nanti!" Bahm menggumam kan ancaman nya pada udara kosong.
Bahm lalu memanggil abdi nya yang lain.
"Sampaikan pesan ku pada Menteri Pertahanan..oh..bukan. Aku lupa. Maksud ku, sampaikan pesan ku pada perdana menteri Nevarest saat ini. Katakan pada nya bahwa dalam waktu dekat ini aku akan mengunjungi Nevarest. Siapkan tahta itu untuk segera ku duduki setiba nya aku di sana nanti," titah sang bangsawan kemudian.
Pesuruh Bahm tersebut mengiyakan perintah nya. Sebelum akhirnya pergi menghilang menuju Nevarest.
__ADS_1
"Sekarang, tinggal Golden Boy dan Pusaka waktu yang masih jadi pikiran ku. Kenapa belum ada berita tentang itu juga ya?"
Bahm pun menatap ke kejauhan. Dilihat nya sinar merah dari mentari yang mulai tenggelam dari daun jendela yang terbuka. Sang bangsawan sungguh berharap pencarian nya atas dua hal tersebut bisa segera dituntaskan oleh anak buah nya..
***
Satu minggu kemudian...
Bangsawan Bahm bertolak menuju kerajaan Nevarest. Ternyata rumor bahwa raja Daffa tengah sekarat itu sungguh benar ada nya. Karena nya, demi memanfaatkan situasi agar tak diambil kesempatan oleh raja Elfran, Bangsawan Bahm pun memutuskan untuk mengambil alih kekuasaan Nevarest lebih cepat dari yang direncanakan.
Tiga hari lalu, Alul Lazam memberikan laporan kepada nya. Bahwa tahta Nevarest telah siap untuk ia kuasai. Menerima berita tersebut, bangsawan Bahm pun jadi gembira hati.
Dan, sepekan setelah ia mendengar berita tentang raja Daffa yang sekarat, bangsawan Bahm pun akhirnya tiba juga di Nevarest. Beserta nya, ia juga membawa 250 prajurit bayangan.
Bahm sengaja tak membawa seluruh pasukan nya ke Nevarest. Toh menurut Alul Lazam, mereka hanya perlu melakukan penyerahan tahta secara simbolik saja. Jadi tak perlu bersusah payah bertempur atau apa. Karena kendali militer pun sebagian ada pada Alul Lazam.
Sementara untuk separoh nya lagi, kekuatan militer masih berada di medan peperangan sana. Di bawah pimpinan Antes, Sang Kepala Militer.
Semuanya terjadi begitu cepat. Manakala ratu Tasya masih terbaring di atas pembaringan nya dan tak sadarkan diri. Alul Lazam memperkenalkan Bangsawan Bahm sebagai sepupu jauh raja Jordan yang merantau di negeri tetangga.
Oleh sebab itu lah pangeran Himada baru akan dinaikkan menjadi putra mahkota terlebih dahulu. Selagi menunggu kembali nya sang ayah dari medan peperangan. Dan untuk sementara, setiap audiensi akan dipimpin oleh bangsawan Bahm selaku penasihat raja.
Tak ada yang berani mengajukan protes atas kejadian luar biasa ini. Karena hampir semuanya tahu bahwa protes hanya akan membuat mereka kehilangan nyawa.
...
Di ruang Balairung istana Nevarest..
Audiensi kembali diadakan di ruang balairung. Namun kini suasana audiensi terasa suram dan lebih sepi. Semua ini tak lain disebabkan oleh kehadiran sosok asing yang tiba-tiba saja menjabat kursi penting di setiap audiensi yang berlangsung akhir-akhir ini. Dia lah, bangsawan Bahm.
"Baru saja aku mendengar kabar, bahwa raja kita Yang Mulia Daffa telah wafat di perjalanan nya menuju kemari," ucap Bahm mengawali pidato nya.
__ADS_1
Sontak saja, seluruh peserta audiensi pun terlonjak kaget. Tak menyangka bahwa sang raja muda yang brilian itu akhirnya akan tumbang juga di medan peperangan. Sungguh. Ini adalah kehilangan terbesar bagi kerajaan Nevarest akhir-akhir ini.
"Ini adalah duka bagi negeri ini. Karena itu, selagi menunggu jasad Yang Mulia tiba, kerajaan ini akan mengalami masa berkabung. Bendera hitam akan dikibarkan di sepanjang jalan. Ini dilakukan untuk menghormati mendiang raja Daffa," ucap Bahm dengan raut yang tak terlihat begitu sedih.
"Selanjut nya, untuk melawan pergerakan kerajaan Goluth yang terus menantang kedamaian di negeri ini, aku menyarankan agar kita melakukan aliansi dengan penguasa kerajaan Allain. Raja Bahima."
Ruang balairung pun seketika bising oleh suara kasak-kusuk.
Bangsawan Bahm tak mempedulikan hal itu. Ia masih saja terus melanjutkan ucapan nya.
"Raja Bahima adalah seorang yang bijaksana dengan pasukan militer yang cukup berimbang dengan kita. Bila kedua pasukan militer kita bersatu melawan prajurit Goluth, sudah tentu kemenangan akan menjadi milik kita!" Seru Bahm menutup orasi nya.
Suara bising masih memenuhi seisi ruang balairung. Banyak yang sangsi dengan ucapan bangsawan Bahm. Mengingat penguasa Allain belum bisa menjelaskan keterkaitan nya saat prajurit Goluth pernah menguasai salah satu kota strategis di Nevarest.
Agak nya Bahm telah lupa. Atau memang sengaja mengabaikan fakta tersebut. Bagi nya mungkin audiensi hari ini hanyalah formalitas semata. Dan semua pendapat para menteri dan pejabat istana Nevarest tak berarti apa-apa bagi nya.
Sayang nya harapan Bahm atas kelancaran audiensi hari ini harus terusik oleh kemunculan sebuah suara.
"Jadi begitu rupa nya.. akhir nya Da mengetahui, siapa musuh yang selama ini menyelimuti negeri ini dari balik bayang. Rupa nya raja Bahima juga terkait ya.. atau, haruskah kita buka saja identitas ganda mu yang sebenar nya itu, Bangsawan Bahm..?" Ucap sebuah suara dari balik bayang di sisi kiri dinding.
Seketika itu pula perhatian semua orang di balairung pun terfokus ke arah suara tadi berasal. Dan semua nya sangat terkejut, kala mendapati sosok raja Daffa yang berdiri dengan seragam hitam hampir menutupi seluruh tubuh nya. Namun kini topeng yang menutupi wajah nya telah ia buka dan menampakkan wajah nya yang tampan.
"Yang Mulia Raja!"
"Raja Daffa!"
"Itu Raja Daffa!"
Ruang balairung tiba-tiba menjadi ramai oleh seruan para pejabat dan menteri yang menghadiri audiensi. Sementara itu yang diserukan kini berjalan santai ke tengah ruangan sambil menatap tajam pada bangsawan Bahm yang ada di atas podium.
"Kau?! Bagaimana kau bisa ada di sini?! Bukankah seharusnya kau...!!?" Bahm tak mampu melanjutkan kalimat nya.
__ADS_1
"Apa? kau mengira Da sudah mati. benar begitu, Bahm? atau juga adalah.. raja Bahima?" Daffa memberikan senyuman sinis pada lelaki angkuh di atas podium.
***