
"Aku mau ikut!" Pinta Tasya pada pekan berikut nya.
Saat itu Tasya dan Daffa sedang berdua di dalam kamar. Daffa baru hendak pergi menuju ruang balairung untuk melakukan rapat koordinasi lagi dengan para menteri, ketika Tasya tiba-tiba saja menahan lengan nya dari beranjak pergi.
"Sudah saya katakan berapa kali, Dear.. kamu sebaik nya tetap di sini. Medan peperangan selalu menjadi area yang berbahaya. Dan saya gak mau kamu atau pun Hima dalam bahaya!" Daffa menegaskan keputusan nya lagi.
"Tapi aku gak mau jauh dari kamu, Yang. Aku takut.." ucap Tasya dengan suara lirih.
Kedua netra sang ratu menatap jubah keemasan yang dikenakan oleh Daffa. Mata nya sendu.
Daffa menghela napas. Ia pun membalikkan badan nya hingga menghadap ke arah ratu nya. Setelah itu, Daffa menarik Tasya ke dalam pelukan nya.
Di bawa nya kepala sang ratu ke dada bidang nya. Sehingga Tasya bisa merasakan debur jantung milik nya yang sebenar nya juga tak rela dengan perpisahan sementara yang akan segera mereka hadapi nanti.
Dengan suara pelan, Daffa kembali berbisik ke dekat telinga sang ratu.
"Maaf kan saya, Dear. Saya pun gak mau jauh dari kamu, sebenar nya. Tapi kamu tahu kan kondisi yang sedang kita hadapi sekarang? Kamu juga kan yang mengusulkan untuk menyerang balik kerajaan Goluth?" Tanya balik Daffa.
"Iya. Tapi kan kamu gak harus pimpin sendiri peperangan ini, Daff.. cukup kepala Militer Antes juga gak apa-apa kan..?" Mohon Tasya.
"Memang, saya gak harus ikut pergi ke medan peperangan. Tapi Dear, segala nya akan lebih mudah bila saya berada dekat dengan medan peperangan. Karena kami perlu mengatur strategi yang mungkin harus diubah sewaktu-waktu," papar Daffa menjelaskan alasan nya.
"Karena itu lah, saya mohon pengertian kamu, Dear.. tolong ijinkan saya untuk meraih kemenangan untuk Nevarest. Sementara itu, saya titipkan Hima dan Negeri ini untuk sementara di pundak kamu. Saya yakin, kamu bisa, Dear!" Ucap Daffa meyakinkan Tasya.
Tasya mengeratkan pelukan tangan nya di pinggang Daffa. Sebagai tanda keengganan nya untuk perpisahan yang akan segera terjadi ini.
Walaupun jauh dalam hati nya, Tasya pun menyadari urgensi dalam apa yang disampaikan oleh suami nya itu.
Nevarest memang membutuhkan Daffa di medan peperangan saat ini. Dan Tasya harus mengikhlaskan sang raja untuk menjemput kemenangan milik mereka. Itu berarti, ia harus menjaga tahta di istana ini untuk sementara waktu. Hingga Daffa pulang kembali ke sisi nya.
"Saya tiba-tiba jadi pingin dengar kamu bernyanyi, Dear.." ucap Daffa tiba-tiba.
Tasya mendongakkan kepala nya ke atas..
"Apaan sih? Kok tiba-tiba banget!" Rutuk Tasya, sebelum kembali menyembunyikan wajah nya ke dada bidang nya Daffa.
"Saya tiba-tiba aja jadi ingat dengan perjuangan rasulullah saw. Saat menghadapi peperangan badar, Dear. Saat itu kan jumlah musuh yang harus dihadapi oleh pasukan rasulullah saw. Melebihi jumlah pasukan nya sendiri."
"Terus?"
"Terus.. ya saya merasa tergugah aja. Dengan kekuatan sendiri yang dinilai tak seberapa, tapi beliau mampu membawa kemenangan kepada umat muslim. Hebat sekali bukan?" Tanya Daffa.
"Bi idznillah, Yang.. dengan idzin dan bantuan dari Allah juga lah yang membuat rasulullah saw. Bisa menang," imbuh Tasya menambahkan.
"Iya.. itu juga sih. Jadi, kamu mau nyanyiin sebuah lagu gak Dear buat saya? Please..?" Mohon Daffa langsung menatap mata cokelat nya Tasya.
Wajah Tasya mulai merona saat menghadapi sikap Daffa yang dibuat manis tersebut.
__ADS_1
"Kamu tuh ya! Udah jadi raja, tapi masih aja sikap nya kayak.."
"Kayak apa, Dear? Saya kan cuma mau dengerin suara kamu yang merdu aja. Sudah lama juga kan saya gak mendengar kamu bernyanyi. Terakhir kali sewaktu kita masih ada di bumi.. please.." mohon Daffa lagi.
Daffa lalu menyurukkan hidung nya di antara leher milik Tasya. Sambil mengulang-ulang satu kata yang sama dalam bisikan-bisikan mesra.
"Please..please..please.." mohon Daffa berulang-ulang.
"Ahaha!! Geli, Daff! Udah ah! Hahaha! Ampunn.. ampuu n!!" Teriak Tasya yang merasa geli dengan rayuan nya Daffa.
"Iya. Please.. kamu nyanyi dulu dong buat saya, Dear? Satu laguuu aja."
"Oke. Oke. Aku nyanyi deh! Udah ah! Jangan gelitikin leher ku terus, Yang. Geli tahu!" Tasya mengaku kalah.
Ia pun bergegas mundur untuk menjauh dari Daffa. Namun sayang, Daffa segera menahan pinggang Tasya. Sehingga sang ratu hanya bisa mundur satu langkah saja sebelum akhirnya kembali ke pelukan nya Daffa.
"Kata nya mau aku nyanyi? Gimana aku mau nyanyi kalau kamu nya peluk-peluk begini sih? Gerah, Yang.." protes Tasya.
Daffa lalu memberikan ciu man kilat ke bibir ranum milik Tasya. Sebelum akhirnya membalikkan tubuh Tasya dan membawa nya duduk di atas kasur. Posisi Tasya kini menjadi berada di atas pangkuan Daffa.
"Sudah. Sekarang, kamu bisa nyanyiin lagu buat saya kan, Dear?"
"Memang nya kamu mau aku nyanyiin lagu apa sih, Yang?" Tanya Tasya sambil menelengkan kepala nya ke samping. Menatap langsung ke mata hazel nya Daffa.
"Semusim Rindu nya Lazuli Nun. Kamu dulu sering nyanyiin lagu ini kan waktu di bumi?" Daffa mengingatkan sang ratu.
"Itu sih lagu kesukaan nya Teh Anis. Aku sih ketularan aja.." elak Tasya.
Tasya yang merasa geli pun buru-buru menghindar dan menepuk pipi Daffa.
"Ahahaha! Geli, Yang! Iihh.. Diam dulu, bisa kan?! Kalau mau aku nyanyiin, jangan usik aku dulu deh ya!" Tasya menegur Daffa.
Daffa pun menyengir dan langsung menyahut.
"Baiklah ratu.. mohon perdengarkan suara Paduka ratu yang merdu itu.." ucap Daffa sambil berkelakar.
Seulas senyum terbit dari bibir milik Tasya. Tak lama kemudian, sebuah senandung pun terlantun merdu dari mulut ranum wanita rupawan tersebut.
Judul: Semusim Rindu
By: Lazuli Nun
Berabad lalu kisah mu bermula,
Di padang tandus gersang angin sahara..
Takdir suci mu sebagai rasul, penyampai risalah-Nya..
__ADS_1
Tutur kata mu yang memikat jiwa,
Tunjukkan kami pada jalan mulia..
Kau penyempurna akhlak dan iman, sebaik-baik nya insan..
Reff:
Kukuh nya iman, ketauhidan, tak henti kau perjuang kan
Hamba pemaaf dan penebar kasih,
Kau seorang yang terpercaya..
Terpisah jarak, waktu, dan dunia,
Ku rangkai rindu milik mu yang di sana..
Dua cahaya yang kau titip kan, Ku jadikan pedoman
Shalawat, salam pun ku panjat kan...
Bagi mu Ya.. Muhammad..
...
...
Di pojok ruangan, Aro si penguntit tak bisa mencegah hati nya yang tergugah kala mendengar suara sang ratu yang bernyanyi.
Setiap kata dalam bait yang dinyanyikan sang ratu sungguh menyentuh kalbu lelaki muda itu. Telah lama rasa nya sejak terakhir kali ia mengingat Tuhan. Telah lama rasa nya ia mengingat tentang suri tauladan dalam agama nya itu. Muhammad saw.
Saat mendengar Ratu Tasya bernyanyi, entah kenapa benak Aro digempur oleh perasaan malu, rindu dan bersalah yang campur aduk menjadi satu.
Pemuda itu menyesali perbuatan nya saat ini yang menjadi penguntit bagi dua penguasa kerajaan ini, yang, setelah ia nilai lagi sebenarnya adalah penguasa yang baik.
Aro pun merasa dilema. Jika saja saat ini Deril ada bersama nya, tentu ia ingin membincangkan dilema yang dirasakan nya ini bersama rekan nya itu. Sayang nya Deril sedang pergi untuk urusan yang lain. Sejak semalam ia pergi tanpa mengatakan apapun tentang misi baru nya.
Jadilah akhirnya kini Aro tepekur sendiri dalam kabut kebimbangan yang menggerogoti pikiran nya saat ini.
'Haruskah aku meneruskan tugas ini? Harus kah aku mengikuti kata hati ku?' gumam Aro bermonolog dalam hati.
Aro lalu menatap lagi dua penguasa Nevarest yang kini sedang menatap taman Puri Anyelir dengan tatapan damai. Kedamaian yang begitu membuat iri sang penguntit untuk bisa merasakan nya juga.
***
(Catatan: lagu "Semusim Rindu" ini adalah lagu karya Mel yang memang Mel dedikasikan untuk baginda rasul saw.. lagu nya slow. Asli bikin ngantuk, kalau kata teman Mel mah. Hahaha.. smg ada kesempatan yaa untuk bisa memperdengarkan nya kepada kawan2 semua..
__ADS_1
Yuk kita sering-sering memanjatkan shalawat dan salam kepada baginda rasul Muhammad saw.. smg kelak di akhirat-Nya nanti kita bisa menerima syafaat nya. Aamiin..)
***