Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Alul Lazam


__ADS_3

Untuk menuju istana, Tasya, Daffa dan Zizi menyewa kuter hingga ke depan gerbang istana.


Begitu berada di depan gerbang itu, Tasya menunjukkan tanda kerajaan yang ia dapatkan dari Anna.


Tanda kerajaan itu berupa ukiran perak berbentuk persegi panjang seukuran genggaman tangan. Dalam ukiran perak itu terdapat nama lahir nya Tasya. Tasyafa Maharani.


Melihat tanda kerajaan Tasya, sang pengawal sangat terkejut. Namun pengawal itu tak berlama-lama sibuk dalam keterkejutan nya. Karena kemudian ia bergegas membuka pintu gerbang istana kerajaan.


Pengawal tadi lalu menawarkan Tasya untuk menunggu di ruang pos. Sementara ia akan melapor kepada pemimpin nya.


Tapi Tasya menolak tawaran itu. Ia tak mau jika harus menunggu lagi. Karena nya dengan serba salah, pengawal itu pun mengantarkan Tasya langsung ke paviliun utama tempat Ayah dan ibunda nya tinggal.


Menurut pengawal bernama Robus, baginda raja sudah terbaring sakit seperti baginda ratu dulu. Diduga ada upaya peracunan keluarga kerajaan. Dan disinyalir pelaku nya adalah putri sulung baginda raja sendiri. Yakni Putri Anna.


Mendengar penuturan sang pengawal, Tasya sangat terkejut. Ia bahkan langsung memarahi sang pengawal karena telah menceritakan berita tak masuk akal itu.


Tapi penjelasan Robus berikut nya lebih-lebih membuat Tasya jadi terkejut. Karena Robus bercerita kalau saat ini Putri Anna telah ditahan di ruang penjara bawah tanah untuk diinterogasi.


Mendengar fakta itu, Tasya langsung dihinggapi oleh perasaan khawatir terhadap sang kakak. Dengan langkah bergegas, ia pun menuju paviliun utama. Ia ingin tahu, bagaimana pendapat Sang ayah terhadap kejadian yang menimpa Anna.


Apakah baginda Raja benar-benar sedang sakit? Dan apakah ayah nya itu juga mengetahui kalau putri sulung nya kini sedang mendekam di balik jeruji besi?


Sebelum sampai di paviliun utama, lagi-lagi rombongan Tasya harus ditahan oleh pengawal yang lain nya. Ia lalu menunjukan tanda kerajaan milik nya lagi kepada pengawal itu. Pada akhirnya pengawal itu pun membiarkan Tasya dan rombongan nya melangkah masuk.


Tapi kemudian, sebuah suara lagi-lagi menghentikan langkah Tasya.


"Tunggu dulu! Berhenti melangkah atau aku akan membuat mu berhenti!" Ancam sebuah suara bas di belakang Tasya.


Seketika itu pula Tasya geram dan langsung menoleh ke asal suara. Tampaklah berdiri tak jauh di depan nya itu seseorang dengan sepasang mata setajam elang. Pinggiran mata lelaki itu dibubuhi celak hitam yang cukup tebal. Seolah menegaskan kepribadiannya yang keras.


Sepasang mata itu bertahan cukup lama saat bertatapan dengan Tasya. Sehingga Tasya bisa melihat kilatan rasa tak suka dari sepasang mata itu terhadap nya.


Orang itu bertubuh gempal dan tinggi. Hanya beberapa senti lebih pendek dari suami nya, Daffa.


Ia memiliki kulit sawo matang, hidung bangir, alis tebal yang saling bertaut, sepasang bibir tebal, rambut kriting, serta tanda lahir hitam sebesar telur ayam di bagian rahang kirinya.


Tasya terkesima untuk sesaat. Sekaligus juga merasa heran karena ada yang begitu berani bersikap kasar terhadap diri nya, putri di kerajaan ini.


Tapi Tasya tetap mempertahankan kontak mata di antara keduanya. Hingga akhirnya, pemilik mata tajam itu kembali bicara.

__ADS_1


"Tunjukkan tanda pengenal mu!" Titah lelaki itu.


Belum sempat Tasya menjawab, suara tangis baby Hima terdengar begitu kencang dalam ruang depan paviliun utama itu. Akhirnya Tasya sibuk menenangkan baby Hima dan mengacuhkan lelaki berpenampilan sangar itu.


Daffa lah yang kemudian memasang badan menggantikan Tasya bicara.


"Jaga ucapan mu! Yang sedang kau hadapi saat ini adalah Putri dari kerajaan ini. Putri Tasyafa Maharani!" Kecam Daffa seraya memberitahukan identitas Tasya kepada semua orang di ruangan itu.


Pupil lelaki sangar itu terlihat sedikit membesar. Tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Daffa tadi. Ia tetap saja meminta Tasya menunjukkan tanda pengenal nya.


Setelah baby Hima kembali tenang, Tasya menyerahkan nya untuk digendong oleh Zizi. Baru setelah itu ia menghadapi lelaki sangar yang seperti nya berpangkat panglima, bila dilihat dari tanda pengenal perunggu yang tersampir di pinggang nya.


"Kau panglima baru? Di mana panglima besar Anek Minang?" Tasya menanyakan panglima besar yang seingatnya menjabat sebagai panglima tertinggi di Nevarest sebelum ia pergi ke bumi.


Jawaban lelaki sangar itu sungguh mengejutkan Tasya.


"Beliau sudah mati. Mati tenggelam saat melatih inner power nya di Laut Anyelir," jawab lelaki sangar itu.


Tasya yakin, kalau ia melihat seulas senyuman tipis di wajah lelaki itu.


"Apa?! Mati?! Bagaimana mungkin! Dia adalah yang terkuat se Nevarest ini!" Sanggah Tasya tak percaya.


Anek Minang memiliki inner power mampu mengeraskan tubuh nya jadi sekuat baja. Karena itu lah seingat nya, tak ada yang pernah mengalahkan pemuda yang umur nya beberapa tahun di bawah Ayah nya itu.


Untuk sesaat, Tasya kehilangan kata-kata untuk bicara. Namun kemudian ia teringat dengan seseorang.


Terlebih dulu, Tasya menunjukkan tanda pengenal nya sebagai putri dari kerajaan ini kepada panglima itu. Setelah meneliti keaslian dari tanda pengenal itu, sang panglima lalu mengembalikan nya lagi kepada Tasya.


Dengan ekspresi enggan yang jelas terlihat, ia memberikan Tasya penghormatan yang layak diterima nya sedari tadi.


Panglima itu agak menundukkan kepala nya ke arah Tasya dan menyapa ulang diri nya.


"Salam sejahtera, Putri Tasyafa Maharani. Maafkan kelancangan hamba tadi karena tak mengenali Tuan Putri!" Ucap lelaki itu.


Tasya hampir akan mendengus, saat mendengar ucapan lelaki munafik di depan nya itu. Namun Tasya teringat dengan etiket kerajaan yang harus diperhatikan nya.


Tutur kata dan sikap yang mulia menjadi kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap anggota keluarga kerajaan. Begitulah yang diajarkan oleh bunda ratu dulu kepada nya.


Tasya memutuskan untuk memaafkan sikap lancang lelaki di depan nya itu untuk sekali ini.

__ADS_1


"Da memaafkan mu. Sekarang, Da ingin melihat baginda Raja dan juga Ratu. Da dengar mereka berdua sakit?" Tanya Tasya.


"Da" adalah panggilan seorang penguasa/yang memiliki jabatan tinggi terhadap dirinya sendiri saat ia berhadapan dengan bawahan nya.


"Maafkan hamba, Putri. Putri tak bisa menjumpai baginda raja saat ini. Sementara jika hanya baginda ratu saja yang ingin temui, itu masih bisa dilakukan," jawab panglima itu.


"Kenapa Da tak bisa menjumpai baginda Ayah?" Tasya menuntut.


Lelaki di depan nya itu tampak diam sejenak. Kedua mata nya sempat bertatapan selama dua detik dengan Tasya. Dalam koneksi yang singkat itu Tasya bisa melihat kepuasan di mata lelaki itu.


"Karena baginda raja telah menghilang sejak tiga pekan yang lalu, Putri!" Jawab panglima itu kemudian.


"?!!"


Tasya bertatapan dengan Daffa. Keduanya lalu berbincang lewat telepati. Telepati adalah inner power milik Tasya.


'Berita itu sepertinya benar, Yang! Bagaimana ini?! Apa yang sebaik nya kita lakukan?!' tanya Tasya kepada sang suami.


Daffa yang memiliki inner power mampu meng copy inner power orang lain yang baru berinteraksi dengan nya pun lalu membalas ucapan Tasya lewat telepati pula.


'Tenangkan diri mu dulu, Dear. Tanyakan keberadaan Anna kepada nya,' Daffa memberikan usul.


Seolah tercerahkan karena usulan Daffa, Tasya langsung saja menanyakan keberadaan saudari kembar nya itu kepada panglima di depan nya.


"Di mana Kak.. maksud Da, di mana Putri Anna?" Tasya sempat salah memanggil gelar sang kakak.


Kali ini, sang panglima terlihat tak suka dengan pertanyaan Tasya. Namun pada akhirnya ia tetap menjawab pertanyaan dari sang putri.


"Putri Anna ditahan dalam penjara. Karena diduga menjadi dalang di balik menghilang nya baginda raja," jawab sang panglima.


"Mustahil!" Sanggah Tasya seketika.


"Mustahil Putri Anna melakukan hal itu!"imbuh Tasya kembali.


Sang panglima kali ini memilih diam. Sehingga Tasya pun akhirnya memberikan titah kepada nya.


"Kau! Siapa namamu?!" Tanya Tasya mendesak.


"Alul Lazam, Putri," jawab panglima itu.

__ADS_1


"Antarkan Da ke tempat Putri Anna berada sekarang juga!" Titah Tasya terdengar membahana dalam ruang depan paviliun utama itu.


***


__ADS_2