
Begitu masuk, Hima langsung dihadapkan ke pemandangan dalam ruangan yang bersih. Tak ada siapa pun yang bisa ia lihat selain saudari kembar nya, Huna.
Huna tampak menunjuk ke arah dalam ruangan. Sehingga mau tak mau Hima pun mengikuti langkah nya.
"Huna, jangan lama-lama ya! Bagaimana bila Ibunda mencari kita nanti?" Hima membujuk Huna.
Huna menatap sebal ke arah Hima.
"Bunda hanya akan mencari mu, Hima. Tak ada yang akan mencari ku. Kau lupa ya? Kan cuma kamu yang bisa melihat ku!" Tutur Huna dengan raut cemberut.
Hima menunduk. Merasa tak enak karena kebenaran dalam ucapan Huna barusan.
Ia pun bingung kenapa Ibunda, ayahanda serta orang-orang di sekitar nya tak bisa melihat Huna? Sementara ia bisa melihat nya?
Setelah diingat-ingat, ia juga baru melihat Huna sejak belum lama ini. Mungkin sekitar dua atau tiga bulan yang lalu. Huna tiba-tiba saja muncul dan mengajak nya mengobrol saat ia sedang bersedih karena kehilangan Peppy, bunglon kesayangan nya yang telah mati.
Dan sejak saat itulah Huna mulai sering muncul, dan bahkan ikut menemani nya tidur setiap malam. Walaupun menurut Hima, Huna tak ikut tidur bersama nya. Hanya sekedar ikut berbaring saja di samping nya.
Meski begitu, Hima senang dengan keberadaan Huna. Apalagi saat Huna bercerita kalau ia adalah saudari kembar nya Hima. Sayang nya mereka harus terpisah sejak bayi. Dan kemunculan Huna ke sisi Hima adalah karena spirit anak perempuan itu yang merasa terpanggil ke tempat Hima berada.
Huna tadi nya bercerita kalau ia tinggal di dunia spirit. Ia diasuh oleh seorang wanita baik yang juga adalah sesosok spirit pula.
Di dunia itu Huna sama seperti semua orang. Tak ada yang mengabaikan eksistensi nya seperti yang dialaminya di dunia ini.
Huna sebenarnya ingin kembali ke dunia spirit. Tapi ia tak tahu jalan kembali ke dunia asal nya. Oleh sebab itulah ia akhirnya harus terjebak di dunia ini.
Beruntung nya ia bertemu dengan Hima. Huna mengingat siapa itu Hima. Ia tahu kalau mereka berdua terlahir kembar. Spirit Huna merasa heran karena Hima tak mengingat balik diri nya.
Mungkin karena perbedaan di antara mereka berdua lah yang membuat Hima melupakan nya. Bahwa Hima masih 'hidup'. Sementara ia sudah 'mati'.
Menyadari perbedaan di antara kedua nya, Huna sering merasa sedih. Ia sebenarnya ingin bersama dengan ibunda yang melahirkan nya bersama-sama dengan Hima.
Huna juga ingin bisa bermain dan bercanda dengan ayahanda seperti yang sering dilakukan oleh Hima bersama nya. Sayang nya, Huna tak memiliki kesempatan itu.
Seorang kakek manusia pernah mengatakan kepada Huna, bahwa sejak ia masih berada dalam kandungan ibunda Tasya, takdir telah menggariskan jalan hidup nya sampai ketika ia dilahirkan ke dunia.
Ada jalan kehidupan yang berbeda yang harus dihadapi oleh spirit anak perempuan tersebut.
Meskipun Huna tak terlalu mengerti ucapan si kakek, pada akhirnya spirit gadis itu tak lagi bersedih dan bermuram durja.
__ADS_1
Pikir Huna, seiya nya dia masih memiliki teman bicara di dunia ini. Dan itu adalah Hima, saudara kembar nya. Ditambah satu orang lagi, yaitu anak perempuan yang saat ini sedang menunggu nya di ruangan terdalam dari kamar inap ini.
"Ayo Hima! Di dalam sini! Cepat lah!" Ajak Huna bersemangat.
"Iya. Iya. Sabar Huna. Tapi janji, habis ini kita pulang ya?" Tagih Himada.
"Iya. Ayo, Hima!"
Kemudian Huna menerobos masuk ke sebuah kamar. Langsung menembus pintu tanpa membuka nya terlebih dahulu.
Hima yang merasa sedikit iri dengan kemampuan saudari nya itu hanya bisa mengusap dada nya, untuk menyabarkan diri. Ia mengingat pesan dari ibunda nya.
'bersabar lah selalu, Nak. Karena Allah senantiasa membersamai orang-orang yang sabar. Jadi kalau Hima mau disayang sama Allah, Hima harus bisa bersabar lebih lagi ya, Nak,' pesan Tasya dulu sekali.
"Huna, tunggu Hima!" Panggil Hima seraya setengah berlari mengejar Huna.
Hima lalu masuk ke bagian dalam ruangan di kamar inap tersebut. Dan begitu masuk, ia langsung bertatapan dengan sepasang mata cokelat dalam milik anak perempuan bertubuh mungil. Sedikit lebih kecil dari tubuh Hima.
"Siapa kamu?" Tanya anak perempuan itu.
"Rinai, perkenalkan. Dia ini saudara ku, Himada. Dan Hima, Rinai adalah teman baru ku. Teman baru kita juga kan!" Seru Huna memperkenalkan kedua nya.
Wajah Rinai terbilang cantik. Hima mengerti istilah cantik. Sama seperti ibunda nya, ratu Tasya yang juga terkenal sebagai ratu paling cantik yang pernah berkuasa.
Rinai pun cantik. Sama seperti saudari hantu nya, Huna. Walau antara kedua nya jelas terdapat perbedaan yang begitu nyata.
Rinai memiliki rambut panjang sepinggang yang ia kepang di bagian belakang. Warna rambut nya antara merah kecokelatan. Hima tak bisa memastikan nya dengan jelas karena jarak di antara kedua nya yang masih cukup berjauhan.
Sebuah bando berwarna ungu terpasang begitu manis di atas kepala Rinai. Dengan hiasan bunga teratai yang menempel di bagian batang bando tersebut.
Rinai mengenakan baju princess berwarna ungu pastel. Warna yang jarang Hima dapati dipakai oleh orang-orang di istana tempat tinggal nya.
Warna ungu muda itu menurut Hima terlihat bagus saat dipakai oleh Rinai. Dan dua kaki anak perempuan itu ditutupi oleh stoking panjang. Hima tak tak tahu sepanjang apa sebenarnya stoking yang Rinai kenakan. Karena panjang dress yang dikenakan Rinai mencapai betis anak perempuan itu.
Hima tahu itu stoking panjang karena ia sempat melihat bagian gaun yang dikenakan oleh Rinai sedikit tersingkap dan menampilkan betis nya yang tertutupi oleh stoking.
"Mm.. Huna, ayo kita pulang saja. Hima takut bila ibunda mencari kita. Bagaimana bila ibunda marah nanti?" Ajak pangeran Himada.
Bocah lelaki berpipi gempil itu merasa malu untuk melangkah lebih jauh ke dalam kamar itu. Tadi nya ia pikir teman baru yang dikatakan oleh Huna adalah seorang anak lelaki. Tapi ternyata tebakan nya meleset.
__ADS_1
Rinai adalah seorang anak perempuan.
Di istana, Hima tak memiliki kawan seumuran untuk diajak bermain. Baru sekitar dua tahun lagi barulah ia akan masuk ke Akademi istana untuk bersekolah. Baru saat itu lah mungkin ia akan memiliki teman bermain.
Selama ini Hima bermain sendirian. Oh, tidak. Berdua dengan Peppy, bunglon kesayangan nya. Sayang nya Peppy lalu mati. Dan Huna muncul setelah nya.
Hima jadi merasa canggung dan malu untuk berkenalan dengan Rinai.
'Mainlah dulu sebentar saja. Bukankah membosankan bila kita bermain berdua saja?' tutur Huna membujuk.
"Kalau begitu, Hima pulang lebih dulu ya!" Ucap Hima merajuk.
Ia langsung berbalik dan hendak pulang ke kamar inap nya lagi. Ketika ia mendengar suara orang lain memanggil nya. Rinai lah yang barusan memanggil Hima.
"Tunggu dulu! Hima bukan?" Panggil Rinai dengan nada mendesak.
Dengan ragu, Hima pun berbalik.
"Ya. Apa?"
"Itu.. bagaimana bisa kamu masuk ke sini? Tidak kah pintu nya dikunci?" Tanya Rinai dengan tatapan bingung.
Hima menelengkan kepala nya ke satu sisi.
"Enggak. Sekarang udah gak dikunci kok. Penjaga nya juga lagi tidur. Huna, Hima duluan pulang ya!" Seru Hima pada saudari hantu nya.
Huna mencebik kesal. Ia mendiamkan Hima seketika.
Namun lagi-lagi, langkah Hima tertahan oleh panggilan Rinai.
"Tunggu! Apa boleh.. jika aku pergi keluar juga? Aku ingin mencari Mama.." ucap Rinai dengan suara ragu.
Hima kembali berbalik dan menatap Rinai. Kali ini bukan Hima yang menjawab pertanyaan Rinai. Melainkan Huna yang tiba-tiba saja kembali bersemangat dan berkata.
"Tentu saja boleh! Ide yang bagus! Ayo kita bersama-sama mencari Mama Rinai!" Huna pun melesat pergi lebih dulu.
Meninggalkan Hima yang menatap nya keheranan. Tapi pada akhirnya Hima mengikuti langkah Huna di depan nya. Diikuti juga oleh Rinai kemudian.
Kedua anak manusia dan satu hantu itu pun berhasil keluar dari kamar itu tanpa disadari oleh sang pengawal. Lantaran pengawal yang sama masih juga pulas tertidur di depan kamar inap tersebut.
__ADS_1
***