
"Daff! Apa yang terjadi?! Kita ada di mana sekarang?!!" Tasya bertanya dengan suara genting kepada Daffa. Ia lalu menatap takjub ke sekitar nya.
Namun, belum sempat Tasya menyelidiki di mana sebenarnya mereka berada saat ini, saat baby Hima tiba-tiba saja terbangun dan menangis se kencang- kencang nya.
Tak ayal, Tasya lalu berusaha menenangkan baby Hima dengan cara mengayun-ayunkan tubuh mungil baby nya itu. Namun baby Hima tetap saja menangis kencang.
"Sepertinya dia lapar, Dear. Susui saja dia. Lagipula, seperti nya tak ada orang yang tinggal di tempat ini," ujar Daffa yang terlihat sibuk mengamati area di sekitar mereka.
"Begitu kah? Kalau begitu, tutupi aku dulu, Yang. Aku gak mau kalau nanti ada orang tiba-tiba datang dan melihat ku saat sedang menyusui Hima," pinta Tasya kepada Daffa.
Detik berikut nya, Daffa langsung berdiri dan menutupi Tasya dan baby Hima dengan tubuh nya. Setelah itu,Tasya langsung memberikan apa yang diinginkan oleh putra nya itu.
Segera setelah Hima mencecap pu ting milik Tasya, bayi itu tak lagi rewel menangis. Ia kini sibuk menikmati makan sore nya.
"Lihat lah, Nak. Kamu membuat Ayah ikutan lapar. Bagaimana bila Ayah mencicipi pu ting satu nya lagi, Bund? Aduh!" Daffa berkelakar.
Tasya langsung mencubit pinggang Daffa dengan tangan nya yang bebas, sementara tangan satu nya menahan tubuh mungil baby Hima.
"Jangan ngaco deh, Yang! Kita lagi ada di luar ruangan ini! Kamu mau dipergoki orang sedang menyusu, hah?! Tapi Yang, memang sebenar nya kita ada di mana sih? Apa kita bisa sampai di sini karena gelang koka itu?" Tanya Tasya dengan kalimat beruntun.
"Nah. Soal itu saya juga agak lupa sih, Yang. Saya cuma ingat beberapa hal tentang gelang koka ini," ujar Daffa sambil melihat ke arah gelang koka yang masih dipegang nya.
"Apa saja yang kamu ingat, Yang?"
Kemudian Daffa tampak mengingat-ingat sesuatu. Sambil mengingat, ia lalu menjawab pertanyaan Tasya.
"Seingat saya, dalam jurnal kakek buyut ku disebutkan kalau gelang koka ini adalah kunci yang bisa mengantarkan spirit seseorang ke sebuah dimensi asing."
"Spirit? Dimensi? Maksud nya apa itu, Yang?" Tasya tampak jelas tak mengerti.
"Spirit itu maksud nya seperti ruh gitu, Yang. Sementara tubuh asli kita masih berada di tempat yang sama, spirit kita bisa pergi ke tempat yang berbeda," tutur Daffa menjelaskan.
__ADS_1
"Maksud nya dimensi itu adalah tempat yang berbeda? Beda dunia dari Nevarest berada? Atau beda juga dari tempat bumi berada, gitu, Yang?" Tanya Tasya memastikan.
"Hmm.. kira-kira seperti itu lah, Yang."
"Berarti, apa kita sekarang ada di dunia lain yang ada di balik salah satu pintu di dunia enam pintu? apa sungguh benar begitu?!" Tasya menyimpulkan.
"Entahlah, Dear. Saya juga gak tahu persis. Inti nya, di sini kita bisa bebas bicara tanpa perlu takut pada orang yang mengintai lagi. Iya kan, Yang..?" Daffa ikut menyimpulkan.
Burpp..
Sebuah suara keluar dari mulut baby Hima. Agak nya putra Tasya dan Daffa itu telah kenyang dengan makan sore nya. Kini ia kembali pulas tertidur.
Tasya lalu menegakkan posisi baby Hima. Sehingga kini kepala Hima bersandar ke bahu nya Tasya. Ini dilakukan agar apa yang diteguk oleh sang bayi tadi cepat turun ke lambung. Jadi Hima tak akan memuntahkan kembali isi perut nya.
Melihat putra nya telah kenyang, Daffa pun ikut tersenyum senang.
Setelah beberapa saat berlalu, Daffa mengulurkan tangan nya ke arah Tasya.
Tasya menyerahkan Hima dalam pangkuan tangan sang Papa. Kemudian ia membenahi resleting depan dari gaun putih yang ia kenakan. Baru setelah nya ia ikut berdiri dan melangkah bersama Daffa menuju rumah putih tersebut.
...
Setelah berada di depan rumah putih itu, Tasya lalu mengetuk pintu depan nya beberapa kali sambil mengucap salam.
Tapi setelah beberapa lama berlalu, tak ada yang menyahut ucapan salam nya itu.
Di samping Tasya, Daffa lalu mencoba membuka pintu rumah putih itu.
Sayang nya, ternyata pintu itu tak terkunci.
Dengan berhati-hati, Daffa melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Ia memberanikan diri memasuki rumah asing itu karena ia menduga kalau tak ada siapa pun yang menempati rumah ini.
Bisa jadi juga malah tak ada siapapun selain mereka bertiga (dengan baby Hima) di dunia aneh ini. Karena sedari mereka sampai di tempat ini, hanya keheningan saja yang menemani mereka.
"Yang.. apa gak sebaik nya kita menunggu di luar saja? Bagaimana jika yang punya rumah tiba-tiba datang dan menuduh kita hendak mencuri?" Tasya mengingatkan Daffa dari belakang.
"Jangan khawatir, Dear.. sepertinya tak ada siapa pun lagi yang tinggal di rumah ini."
"Begitu kah? Tapi tetap saja, Yang. Rasanya gak etis juga kan kalau.."
Ucapan Tasya terpotong oleh sebab rasa terkejut yang menyergap nya, karena melihat sesosok orang yang keluar dari salah satu ruangan.
Sosok itu adalah Jordan. Ayah Tasya, Anna dan juga Zizi.
"Ayahanda!" Panggil Tasya dengan terkejut.
Daffa pun melihat sosok Jordan yang kini berjalan mendekati mereka.
"Tasya, bukan? Akhirnya kita bisa bertemu kembali.. selamat datang, Nak.. Ayah senang bisa bertemu kembali dengan mu. Meski pun baru kenangan ini saja yang bisa bertemu dengan mu lagi, Sya.." ucap sosok Jordan di hadapan Tasya.
Tasya kehilangan kata-kata untuk bicara. Ia masih syok karena tak menyangka bisa bertemu dengan Ayah nya di tempat terasing ini.
Dengan spontan nya, Tasya langsung meraih tubuh sang Ayah. Namun, apa yang terjadi kemudian sungguh membuat nya sangat terkejut. Lebih terkejut dari saat ia datang ke tempat ini untuk pertama kali nya.
Saat Tasya berusaha meraih tubuh sang Ayah, tangan Tasya malah menembus tubuh sosok Ayah nya itu.
Jordan tampak tak menyadari apa yang dilakukan oleh Tasya barusan. Bagai sebuah film yang diputar begitu saja, Jordan lalu melanjutkan kembali perkataan nya.
"Jangan kaget saat Ayah mengatakan pada mu kalau tubuh yang kamu lihat ini hanya lah sebuah kenangan, Sya. Kenangan yang sengaja Ayah tinggalkan untuk mu di tempat ini," Tutur Jordan menjelaskan.
"Tubuh yang kamu lihat ini akan segera menghilang setelah Ayah mengatakan semua yang ingin Ayah katakan pada mu di sini, Sya. Jadi, dengarkan baik-baik ucapan Ayah ini!" Jordan memberikan peringatan kepada Tasya.
__ADS_1
***