
'Aro, aku butuh bantuan mu. Pergi dan selamatkan lah ratu Charrine beserta putri nya Rinaya,' titah Tasya lewat telepati.
Tanpa berpikir panjang, Aro langsung mengiyakan titah sang ratu.
"Baik, Yang Mulia Ratu! Tapi, ke mana hamba harus pergi?" Tanya Aro dengan suara vokal nya.
Sang ratu tampak ragu untuk sesaat. Namun kemudian keteguhan itu kembali terpasang di wajah nya.
'Untuk itu, aku meminta ijin mu, Ro. Nanti akan ada makhluk astral yang akan membawa mu ke tempat ratu Charrine dan putri nya berada. Aku pun tak tahu lokasi persis nya di mana. Tapi percayalah kepada Huna. Kamu bisa berkomunikasi dengan nya melalui perantaraan tubuh manusia lain. Karena Huna akan meminjam tubuh orang lain untuk berbicara dengan mu. Sejauh ini, apa kau paham?' Tanya Tasya memastikan.
Aro tercengang.
"Makhluk astral? Apa maksud Yang Mulia itu seperti.. hantu begitu? Tanya Aro berhati-hati.
Sang ratu lalu menampakkan raut menyesal. Sebelum akhirnya menjawab pertanyaan abdi setia nya itu.
'Ya. Anggaplah begitu. Tapi jangan takut! Huna ini teman astral nya Pangeran Hima. Jadi sedikit banyak nya dia bisa dibilang baik,' tutur Tasya kurang meyakinkan.
Selama beberapa saat Aro terlihat menyesal karena segera mengiyakan permintaan sang ratu untuk membantunya kali ini. Tasya menyadari itu. Karena nya ia pun buru-buru menambahkan.
'Aku pun tak bisa memastikan apakah ratu Charrine benar-benar ada di tempat yang dikatakan oleh Huna. Tapi, dengan muncul nya harapan untuk bisa menemukan ratu Goluth tersebut, aku tak bisa melepaskan kesempatan ini begitu saja bukan? Bisa jadi, bila kita menemukan ratu Goluth, maka peperangan saat ini bisa segera diakhiri. Aku tak suka dengan adanya peperangan ini. Terlalu banyak nyawa tak bersalah yang menjadi korban nya..' tutur ratu Tasya dengan pandangan menerawang.
Menatap wajah sendu sang ratu yang memikirkan rakyat dan korban peperangan, seketika itu pula keraguan di benak Aro lenyap. Ia pun meneguhkan hati nya lagi untuk mengemban tugas nya saat ini.
"Baiklah, Yang Mulia Ratu! Hamba akan melakukan nya. Jadi, apa yang harus hamba lakukan sekarang?" Tanya Aro kemudian.
Mendengar ucapan abdi nya itu, wajah Tasya pun kembali cerah.
"Kau sungguh siap untuk membantu ku kali ini, Ro?" Tanya Tasya minta diyakinkan. Kali ini ia mengucapkan nya dengan suara vokal nya.
"Hamba siap, Yang Mulia!" sahut Aro segera.
"Kalau begitu, begini rencana nya.."
Dan menit-menit berikut nya, Tasya pun menjelaskan kepada Aro rencana nya untuk menyelamatkan ratu Charrine.
'Pergi lah untuk memantau situasi nya dahulu ke tempat itu. Dan bila menurut mu kau bisa menyelamatkan nya langsung, maka bawa lah ratu Charrine dan putri nya ke tempat yang aman. Aku akan menyertakan beberapa prajurit bersama mu,' papar Tasya menjelaskan rencana nya.
"Hamba memilih untuk pergi sendiri dahulu, Yang Mulia. Bukan kah tugas hamba hanya untuk memantau situasi saja?" Tolak Aro pada rencana Tasya untuk menyertakan prajurit bersama nya.
'Jangan mengelak, Aro. Ini sudah ku rencanakan dengan baik. Akan lebih cepat bila ada prajurit lain yang akan membantu mu memantau situasi. Jadi nanti dia yang akan menyampaikan hasil pantauan kalian di tempat sang ratu disekap. Sementara kamu bisa tetap berada di sana dan memastikan keselamatan ratu Charrine?' Sang ratu menyampaikan argumentasi nya.
__ADS_1
Aro mengerjapkan mata nya beberapa kali. Ia merasa takjub dnegan kecerdasan sang ratu dalam bersiasat.
"Er.. baik lah. Jika menurut Yang Mulia itu yang terbaik," Aro mengalah pada akhirnya.
'Nanti, aku akan membawa pasukan penyelamat untuk menyusul mu. Jadi jangan bertindak gegabah sebelum bantuan datang. Mengerti?!' Tasya memberikan peringatan.
"Hamba mengerti, Yang Mulia Ratu!"
'Sekarang.. ada beberapa hal yang perlu ku jelaskan tentang teman astral kita kali ini..' imbuh Tasya membincangkan tentang Huna.
Saat perbincangan beralih tentang hantu yang akan menunjukkan jalan menuju lokasi penyelamatan ratu Charrine, seketika itu pula Aro merasa sedikit tak nyaman. Bagaimana pun juga, siapa pula yang akan merasa nyaman bila harus bekerja sama dengan hantu?
Tapi Aro menepis ketidaknyamanan yang ia rasakan. Dan pada menit-menit berikut nya, ia pun menerima tips dari sang ratu. Tentang bagaimana sang hantu yang bernama Huna itu nanti nya akan membawa ia menuju lokasi keberadaan ratu Charrine.
Selesai mendengar tips yang disampaikan oleh ratu, Aro kembali bergidik ngeri. Tak pernah terbayangkan walau sekali pun dalam hidup nya. Kalau ia harus merelakan tubuh nya dibawa pergi oleh sesosok hantu menuju tempat yang ia tak tahu ke mana nanti nya.
Setelah terdiam beberapa lama, Tasya pun kembali menanyakan kesiapan Aro dalam misi penyelamatan kali ini.
"Apa kau benar-benar siap untuk melakukan ini, Ro?" tanya Tasya dengan suara vokal nya.
Terlebih dulu Aro menenggak ludah nya sendiri untuk menepis keengganan yang tersisa di hati nya.
"Apakah hantu itu benar-benar baik, Yang Mulia Ratu?" Tanya Aro dengan pandangan takut.
Tasya menatap Aro lekat-lekat selama beberapa waktu. Baru kemudian menjawab pertanyaan dari abdi nya itu dengan sejujur-jujur nya.
"Nah. Aku sendiri sebenar nya belum pernah melihat sosok Huna. Tapi.. kau mendapat jaminan dari pangeran Hima, kalau Huna adalah hantu yang baik. Tidak kah ini cukup bagi mu?" Tanya Sang ratu dengan raut bersalah.
Hati Aro pun mencelos. Ia tak bisa berkata-kata lagi selain menganggukkan kepala nya dengan gerakan kaku
Sementara itu dalam hati nya, Aro mencoba mengumpulkan keberanian untuk bisa bekerja sama dengan rekan hantu nya pangeran Hima itu.
***
Besok pagi nya, Aro dipertemukan dengan sosok Huna yang meminjam tubuh salah seorang prajurit. Prajurit itu adalah satu dari tiga prajurit yang akan ikut bersama dengan Aro dalam misi penyelamatan ratu Charrine kali ini.
"Halo semua nya! Nama ku Huna! Senang berkenalan dnegan kalian! Ah, Bunda! Om-Om nya ganteng semua! Huna suka! Makasih ya Bunda!" Ucap prajurit yang telah dirasuki oleh spirit Huna.
Seketika itu pula Tasya, Aro dan dua prajurit lain dalam ruangan itu pun menganga keheranan. Tak menyangka dengan kalimat ajaib yang baru saja keluar dari mulut prajurit berbadan kekar itu.
Tasya pun berdeham. Dan menegur sang spirit dengan suara lembut.
__ADS_1
"Ehem! Jaga sikap mu, Huna. Sekarang, kita fokus untuk menyelamatkan Rinai. Kamu ingat kan?" Tanya sang ratu dengan raut aneh.
Jelas akan terasa aneh bila ia harus menegur seorang prajurit berbadan kekar yang saat ini sedang bergelayut manja di dekat nya bukan?
"Oke. Oke. Huna paham, Bunda. Huna akan membantu Om-om ganteng ini pergi ke tempat tinggal Rinai, kan?" Ucap prajurit itu lagi.
"Ya. Seperti yang sudah aku.. maksud ku, Bunda bilang pada mu semalam tadi di kamar Hima. Ingat ya sama janji mu semalam!" Tagih Tasya pada sang spirit.
"Iya Bunda.. siap deh!" Sahut Huna acuh tak acuh. Kali ini ia duduk di atas meja kerja sang ratu. Dengan kedua kaki yang ia ayunkan berulang kali.
Kedua prajurit lain beserta Aro memandang aneh pada rekan prajurit mereka. Namun karena ini adalah misi mereka kali ini, mereka pun tetap memfokuskan perhatian mereka kembali pada titah sang ratu.
"Sekarang, berangkat lah kalian segera. Tetap utamakan keselamatan dalam kondisi apapun jua!" Sang ratu memberikan peringatan.
"Baik, Yang Mulia Ratu!" Sahut ketiga nya berbarengan.
Sementara satu prajurit lain yang telah dirasuki oleh Huna hanya menyahut dengan suara riang, "Iya, ibunda Ratu!"
Dalam misi kali ini, Aro akan menguntit ketiga prajurit itu dari balik bayang. Sementara dua prajurit itu akan mengikuti teman nya yang telah dirasuki oleh Huna.
Meski pada awal nya keempat prajurit beserta Aro cukup terkejut dengan bentuk bantuan dari hantu yang akan menemani perjalanan misi mereka kali ini. Tapi pada akhirnya mereka cukup terbiasa juga dengan keberadaan Huna bersama mereka.
Aro pun perlahan merasa tenang. Karena seperti nya ucapan ratu Tasya ada benar nya juga. Bahwa hantu yang akan membantu mereka menuju lokasi keberadaan ratu Charrine ini adalah hantu yang baik.
Lihat saja dari tingkah prajurit yang telah dirasuki oleh Huna saat ini.
Prajurit itu berjalan sambil sesekali melompat pendek. Mulut prajurit itu tak henti mengocehkan banyak hal yang mereka lewati di perjalanan.
Memang, penampilan ketiga prajurit yang bernama Jo, Jack dan Jill itu tak lagi berseragam prajurit. Ketiga nya telah memakai pakaian rakyat biasa untuk menyamarkan misi penyelamatan yang akan mereka lakukan.
Tapi tetap saja. Pemandangan seorang lelaki dewasa yang bersikap seperti anak kecil di keramaian jalanan juga bukan pemandangan yang bisa diabaikan begitu saja bukan?
Prajurit yang dirasuki oleh spirit Huna itu menjadi pusat perhatian semua orang yang mereka lewati di jalanan.
Dari kejauhan, Aro merasa bersyukur. Karena bukan ia lah yang harus menjadi wadah bagi si hantu untuk bisa menunjukkan jalan. Tadi nya ia sudah bersiap-siap untuk dirasuki hantu. Tapi syukurlah, ia tak perlu melakukan itu ternyata.
Kini, Aro memandang iba pada prajurit yang telah dirasuki oleh spirit Huna. Prajurit itu menerima pandangan aneh dari orang-orang yang mereka lewati. Hampir semua yang melihat sikap prajurit bernama Jo itu berpikiran sama.
'Kasihan benar lelaki itu. Jiwa anak-anak nya tak berkembang bersama tubuh nya yang kekar,' pikir orang-orang semua nya.
***
__ADS_1