Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu

Cinta Sang Maharani 2: Raja Dan Ratu
Raja Bahima vs Ratu Madis


__ADS_3

"Da tak mau tahu! Menghilang nya ratu Charrine akan Da anggap sebagai kesalahan mu, raja Daffa! Da akan tetap mencari ratu dan putri Da hingga Da bisa menemukan mereka lagi. Peduli setan dengan semua perjanjian Pizloff en Muah ini!" Amuk raja Elfran di ruang perundingan pada keesokan hari nya.


Ini adalah hari ketiga perundingan. Seharusnya keempat raja dan ratu akan membahas topik tentang gencatan senjata dan menjaga perdamaian di antara empat kerajaan pada hari ini.


Namun dengan situasi menghilang nya ratu Charrine, jelas saja bila raja Elfran mengamuk marah dan tak ingin melanjutkan perundingan.


"Da sudah mengerahkan seluruh kepolisian untuk menemukan keberadaan ratu Charrine. Da akan pastikan itu. Jadi tolong bersabarlah dulu, raja Elfran. Selagi menunggu, mengapa kita tidak melanjutkan perundingan ini?" Daffa mengusulkan saran yang terdengar absurd di telinga Elfran.


"Kau ini bodoh atau apa hah?! Keberadaan ratu dan putri Da jelas lebih penting di atas segala nya! Da akan menyelidiki sendiri semuanya! Siapa pun yang berada di balik ini, akan Da pastikan menyesal telah melakukan nya!" Ancam raja Elfran sebelum pergi keluar dari ruang perundingan itu.


Brak. Pintu terbanting menutup di belakang sang raja yang tengah murka itu.


Selama beberapa waktu, tak ada yang bicara dalam ruangan itu. Ketiga penguasa lain nya masih menatap tajam ke arah pintu yang terbanting menutup.


"Ternyata rumor yang beredar memang ada benar nya," ucap ratu Madis, penguasa kerajaan Enmar.


Seketika itu juga perhatian Daffa dan raja Bahima pun tertuju pada sang ratu. Hingga ratu Madis melanjutkan ucapan nya lagi.


"Ku dengar penguasa Goluth adalah seorang tiran yang mudah marah. Apalagi ini menyangkut ratu nya. Meski begitu, Da merasa ada yang aneh. Tidak kah menurut kalian Ratu Charrine menghilang begitu mudah?" Tanya ratu Madis entah kepada siapa.


"Apa maksud mu, Ratu Madis?" Tanya Daffa.


"Maksud Da adalah.. tidak kah ada pengawal yang menyertai sang ratu? Kenapa tak ada jejak sama sekali yang bisa menunjukkan keberadaan sang ratu? Seolah-olah semua ini sudah direncanakan oleh seseorang.." ucap Ratu Madis berspekulasi.


"Hati-hati dengan ucapan mu itu, Madis! Kau bisa saja menyasar ke orang yang salah!" Tegur raja Bahima pada sang ratu.


Ratu Madis menaikkan sebelah alis nya. Ia merasa tertarik dengan reaksi sang penguasa Allain tersebut.


"Kenapa? Apa kau merasa kalimat Da tertuju untuk mu, Bahima?" Tantang sang ratu.


"Hah. Pikiran mu terlalu liar, Wanita! Da heran, bagaimana bisa tahta Enmar bisa berada di tangan mu?" Ucap raja Bahima setengah mengejek.


Sang ratu terpancing emosi nya.

__ADS_1


"Apa kau bilang?! Berani nya kau meragukan kekuasaan Da?!" Amuk sang ratu.


"Tenang.. sabar lah dulu wahai saudara ku! Jangan terpancing emosi. Kita di sini untuk merevisi traktat perdamaian antar kerajaan. Jadi jangan mengalah pada emosi sesaat!" Daffa mengingatkan kedua penguasa yang berseteru itu.


Sang ratu mendengus. Begitu pun dengan raja Bahima. Kedua nya memalingkan wajah ke arah yang berbeda.


Giliran Daffa yang menghela napas letih. Dalam benak nya, ia menilai kalau perundingan kali ini sepertinya akan berlangsung cukup alot.


"Jadi, bisa kita lanjutkan perundingan ini? Kita melakukan nya bertiga saja dulu. Sementara penguasa Goluth menenangkan diri nya," imbuh Daffa kemudian.


Sang Ratu kembali duduk di kursi milik nya. Sementara raja Bahima yang sedari tadi tetap duduk, kini menegakkan posisi duduk nya.


Daffa menghela napas lega. Ia bersyukur, karena setidak nya dua penguasa lain bisa ia ajak bernegosiasi kembali.


Maka jadilah akhirnya hari ke tiga perundingan itu dilakukan oleh tiga penguasa kerajaan saja. Mereka membahas topik terkait perjanjian gencatan senjata antar negara pada hari itu.


Topik ini merevisi beberapa poin yang sudah ada di traktat yang lama. Serta menambah dan menghapuskan beberapa poin lain nya.


Perundingan terakhir ini berlangsung cukup alot. Karena di beberapa kesempatan terdapat perdebatan sengit di antara ketiga nya. Terutama adalah antara penguasa Allain (raja Bahima) dan juga penguasa Enmar (ratu Madis).


Perundingan tertunda mendekati waktu zuhur. Ketiga penguasa lalu menikmati jamuan makan siang yang telah disiapkan oleh pihak penginapan.


Tak ada yang berbicara saat perjamuan berlangsung. Masing-masing penguasa sibuk dengan pikiran nya masing-masing.


Sebenar nya Daffa telah beberapa kali mengangkat topik pembicaraan saat perjamuan berlangsung. Namun karena respon keduanya terkesan negatif, jadilah akhirnya ia memutuskan untuk ikut diam seperti kedua penguasa yang lain.


Selesai perjamuan, para penguasa kembali melanjutkan perundingan. Dan setelah perdebatan yang cukup sering di beberapa poin, akhirnya perundingan itu selesai juga sekitar dua jam berikut nya.


Sebelum berpisah, Daffa menyampaikan isi pikiran nya pada para penguasa.


"Da berharap, dengan perundingan yang sudah kita revisi bersama ini, perdamaian dan kerjasama yang baik masih akan tetap berlangsung di antara kita. Tentu nya semua ini kita lakukan demi kesejahteraan rakyat kita masing-masing, bukan?"


Ratu Madis dan raja Bahima tampak menyetujui ucapan Daffa. Sebuah anggukan pun dihadiahkan oleh taja Bahima teruntuk Daffa.

__ADS_1


"Karena itulah, kita harus tetap berpikir jernih dalam menghadapi perbedaan pendapat yang ada. Jangan sampai kita melupakan kepentingan rakyat hanya demi menuntaskan ego dan amarah diri," imbuh Daffa kembali.


"Benar sekali ucapan mu itu, raja Daffa. Da pun setuju dengan apa yang kau ucapkan," sahut sang ratu Madis.


Sementara itu raja Bahima hanya memberikan anggukan beberapa kali.


"Raja Bahima, maafkan kelancangan Da saat mengemukakan pendapat di hari ini. Seperti nya Da sedang terlalu khawatir saja. Dengan status menghilang nya ratu Charrine, Da pun jadi khawatir bilamana target berikut nya adalah Da. Bukan kah wanita sering menjadi korban dalam tindak kejahatan?" Tutur sang ratu menjelaskan.


Meskipun ratu Madis mengatakan kalau ia merasa cemas atas nasib nya, namun Daffa tak melihat kegentaran di mata sang ratu.


Daffa justru menangkap pandangan menantang yang ditunjukkan oleh ratu Madis terhadap raja Bahima.


Melihat interaksi kedua nya, Daffa jadi memiliki dugaan. Bila mungkin kedua penguasa di depan nya itu memiliki masalah pribadi di masa lampau. Sehingga kedua nya sering kali cekcok dan menyerang pendapat satu sama lain.


Tanpa sadar, Daffa pun menanyakan rasa penasaran nya itu pada sang ratu.


"Apakah kalian pernah saling dekat dengan satu sama lain?" Tanya Daffa, mengejutkan semua nya. Bahkan juga mengejutkan diri nya sendiri.


Sang ratu menaikkan sebelah alis nya pada Daffa. Hanya sebentar saja. Sebelum akhirnya pandangan nya kembali kepada raja Bahima yang masih terlihat duduk santai di atas kursi milik nya.


"Da dengan raja Bahima? Kau pasti bercanda, raja Daffa. Umur kami berbeda jauh. Jadi mana mungkin kami memiliki hubungan dekat," elak ratu Madis.


"Tapi.. Da mengenal seseorang dari kerajaan Allain dengan cukup dekat di masa lampau," imbuh sang ratu.


"Sayang nya orang itu mendadak menghilang tak ada kabar," imbuh ratu Madia kembali.


"Siapa dia, ratu? Maaf jika Da terlalu ingin tahu," imbuh Daffa terburu-buru.


"Ahh.. tak usah sungkan, Raja Daffa. Lelaki itu hanya masa lalu hamba. Seorang pria brengsek yang tak punya hati! Raja Bahima pun mengenal nya. Bukan begitu, Raja? Dia keponakan tersayang mu, bukan?" Ungkap ratu Madis setengah menuding pada raja Bahima.


Daffa tertegun. Sepertinya hubungan di antara kedua penguasa di depannya itu memang cukup rumit. Ada baik nya bila ia tak menyinggung topik ini lagi.


"Ehemm! Kalau begitu, perundingan ini kita akhiri sampai di sini dulu. Kita berjumpa besok di balai kota untuk menyaksikan pagelaran seni yang akan dipersembahkan oleh rakyat Nevarest untuk raja dan ratu sekalian," tutur Daffa.

__ADS_1


Raja Bahima dan Ratu Madis tak lagi berkata-kata. Kedua nya lalu pergi keluar terlebih dulu dari ruang perundingan itu. Meninggalkan Daffa yang tercenung memikirkan banyak hal yang baru diketahui nya di perundingan hari ini.


***


__ADS_2