
Pada akhirnya, kerusakan akibat pertarungan dengan Frans tidak lah terlalu fatal. Hanya terdapat tiga bangunan rumah yang roboh dan halaman istana yang terbakar.
Sebuah gudang istana sempat terkena cipratan api naga. Namun segera bisa diatasi oleh Tasya dengan menggunakan kekuatan gelang koka milik nya.
Sepekan setelah pertempuran itu, semua nya mulai berjalan normal kembali. Delegasi dari kerajaan yang lain satu persatu datang berkunjung ke Nevarest untuk menyampaikan ucapan selamat karena telah berhasil mengalahkan raja tiran Goluth.
Bahkan tetua dari kerajaan Goluth pun ikut menyampaikan terima kasih nya pada raja Daffa karena mereka kini bisa hidup damai dalam membangun kerajaan mereka.
Spirit Huna dan Alexa pergi menghilang di hari pertempuran itu terjadi. Mereka sempat menyampaikan salam terakhir nya melalui Hima yang berusaha menahan tangis sebisa mungkin.
Satu bulan setelah pertempuran dengan Frans, Anna dan Jason menikah. Pesta meriah pun digelar besar-besaran. Pernikahan kedua nya ini sungguh tak disangka-sangka oleh siapapun yang mengenal kedua nya.
Mengingat Anna adalah seorang yang berkepribadian tenang dan cenderung pendiam. Sementara Jason adalah seorang yang ceria dan sedikit ceplas-ceplos. Sungguh perpaduan yang sangat mengejutkan.
Dua pekan berikut nya, Jason memboyong serta Anna dan juga Dion untuk pulang ke bumi. Ia bermaksud untuk menemui keluarga besar nya di bumi sebelum lanjut berkelana ke Dunia Para Naga.
Terhadap keputusan pasangan tersebut, Tasya menyampaikan protes nya.
"Kenapa harus ke dunia itu sih, Kak? Apa Jason sudah memaksa kakak untuk ikut pergi ke dunia itu?" Tasya mengutarakan protes nya.
"Keputusan ini kami buat bersama-sama, Tasy. Jadi jangan salahkan Jason. Lagipula, Kakak juga ingin mengetahui kehidupan di dunia itu. Apakah itu seperti yang sudah diceritakan oleh Eyang Rudolf dalam buku nya atau tidak," papar Anna menerangkan alasan nya pergi.
"Hh.. kalau keputusan kakak sudah bulat, Tasya hanya bisa berdoa, semoga Kakak selalu bahagia di mana pun kakak berada. Hmm.. menurut kakak, kalung kita ini bisa digunakan untuk komunikasi gak ya, setelah Kakak ada di dunia naga nanti?" Tasya sibuk menduga.
"Kita coba nanti saja ya, Tasy. Sesampainya kakak di sana. Kakak akan langsung mengontak mu menggunakan kalung ini. Semoga saja bisa ya," Anna melambungkan harapan nya.
Kedua nya lanjut berbincang untuk beberapa lama lagi. Sampai ketika waktu makan siang tiba, kedua nya pun memanggil masing-masing putra mereka (Himada dan Dion) dan juga Zizi untuk makan bersama. Sementara para suami sedang mendiskusikan sesuatu hal di ruang kantor kerajaan.
Ayah Jordan sendiri lebih sering memilih untuk makan siang di puri nya sendiri bersama ibunda Elva. Baru ketika sore hari saja lah keluarga besar itu berkumpul di kediaman Jordan dan juga Elva untuk makan malam bersama.
Kembali ke saat ini, di mana telah tersedia berbagai jenis hidangan di meja makan. Namun ketika Tasya mulai menyendokkan sup ayam ke dalam mulut nya, ratu muda Nevarest tersebut tiba-tiba saja muntah-muntah cukup parah.
Kejadian ini segera ditanggapi Anna dengan serius. Ia segera memanggil tabib istana untuk memeriksa kondisi adik kembar nya itu.
"Bagaimana kondisi ratu, Tabib?" Tanya Anna dengan cemas.
"Tenangkan diri Anda Putri Anna. Ratu Tasya tak mengalami keracunan makanan seperti yang kita khawatirkan. Karena pada kenyataan nya ratu Tasya saat ini hanya sedang berbadan dua," papar sang tabib dengan sejujur-jujur nya.
"Maksud Tabib?" Tasya mengulang tanya.
__ADS_1
"Maksud hamba adalah.. Yang Mulia Ratu saat ini sedang hamil. Usia kandungan nya masih sangat muda. Mungkin sekitar delapan atau sembilan minggu," imbuh sang tabib menjelaskan kondisi Tasya.
"Hamil? Aku hamil lagi? Kak..?"
Tasya menatap tak percaya pada sang kakak. Ia lalu bergantian memandang bingung kepada Zizi. Berharap seseorang menjelaskan dengan lebih meyakinkan bahwa ia benar sedang hamil lagi.
"Kamu hamil, Sya. Selamat ya! Daffa pasti akan sangat senang mendengar berita ini!" Ucap Anna menyelamati berita baik itu.
***
Pada akhirnya, berita tentang kehamilan kedua sang ratu pun tersebar juga ke seantero negeri. Berita ini disambut oleh seluruh penduduk Nevarest dengan penuh suka cita.
Kedamaian negeri yang selama ini diidam-idamkan oleh para penduduk telah tercipta nyata sejak masa kekuasaan raja Daffa dan ratu Tasya. Terutama sejak masa peperangan antar kerajaan itu telah berakhir beberapa bulan silam.
Kehidupan penduduk semakin terjamin. Tak ada lagi orang yang kelaparan. Tak ada lagi pengemis ataupun gelandangan. Semua orang memiliki rumah yang nyaman. Karena Raja Daffa berani menyediakan perumahan gratis bagi para penduduk nya yang belum memiliki rumah.
Kebijakan-kebijakan lain pun terbilang sangat menguntungkan rakyat. Sehingga kebahagian yang kini sedang dirasakan oleh keluarga kerajaan tersebut juga turut dirayakan oleh penduduk Nevarest seluruh nya.
Meski pun sepekan kemudian Anna akhirnya harus benar-benar pulang ke bumi, sebelum akhirnya ke dunia naga. Setidak nya Tasya tak lagi merasa terlalu bersedih. Karena ada anak dalam kandungan nya yang lebih membutuhkan perhatian nya kini.
***
"Menurut mu, anak kita nanti berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, Yang?" Tanya Tasya yang merebahkan kepala nya ke bahu Daffa.
"Hmm.. mungkin perempuan?" Terka Daffa sambil menyisiri rambut panjang Tasya dengan tangan nya.
"Kenapa kamu pikir begitu, Yang?" Tasya menatap penasaran pada sang suami.
"Karena. Akhir-akhir ini pembawaan kamu jauh lebih tenang dari sebelum nya, Dear . Kamu juga lebih kama bersolek di depan kaca," jawab Daffa lagi.
"Ah. Itu bukan nya mitos ya? Kalau ternyata nanti anak ini laki-laki gimana?" Tanya Tasya dengan nada menantang.
"Ya gak apa-apa. Bagus juga kan. Hima jadi punya teman main bola," jawab Daffa dengan santai nya.
"Terus kalau anak perempuan gimana hayo?" Tanya Tasya lagi.
"Ya bagus.. jadi nanti ada yang nemenin kamu jadi paling cantik di istana ini. Kamu bisa main kuncir-kunciran bareng kan sama anak kita nanti.." seloroh Daffa bernada gurau.
"Iishhk! Ngasal banget sih jawab nya! Yang serius dong, Yang!" Tasya mencubit pelan pinggang Daffa.
__ADS_1
"Aduh! Saya serius ini, Dear.. atau apa kamu mau saya lebih serius lagi? It's okay. Saya siap kok.."
Tiba-tiba saja Daffa bangun dan meraih tombol lampu kamar tidur. Dengan sekali tekan, lampu pun kemudian padam.
"Daffa! Kamu mau ngapain coba! Aku masih mau ngobrol panjang. Jangan ngajak tidur dulu dong!" Protes Tasya.
"Tenang Dear.. saya gak mau ngajakin tidur kok. Saya cuma mau ngajak main serius sama kamu.. gimana kalau saya meet up sama baby kita? Barangkali nanti saya dapat ilham tentang jenis kelamin anak kita ini?" Seloroh Daffa sambil mengurung tubuh sang istri dengan kedua tangan nya.
Tasya paham dengan maksud sang raja. Dengan tersipu-sipu ia pun menepuk bahu Daffa yang kini menatap nya lurus dari atas tubuh nya.
"Dasar mesum!" Tasya mengumpat pelan dengan suara berbisik.
...
Kedua mata saling beradu.
Dua hati saling menjamu.
Cinta dan rasa mengalun syahdu.
Penyatuan pun mengikat kalbu.
Malam panjang turun membayang.
Mengusir sepi pada hati yang kelam.
Pengharapan akan bahagia menjamur di hati.
Terhimpun dalam doa yang merasuki diri.
Cinta.. kasih..
Bahagia kan menjadi milik mereka yang mengenal dirinya sendiri.
Bagi mereka yang mengerti tentang makna berbagi.
Juga bagi mereka yang memahami perlunya pengorbanan dalam setiap hubungan yang terjalin suci.
***
__ADS_1
TAMAT.