
Tasya pun segera berbalik dan melangkah menuju pintu di mana suara teriakan yang memanggil nama nya berasal. Jantung nya berdebum begitu kencang di setiap jejak nya dalam mendekati pintu tersebut.
Tasya lalu menitahkan pada penjaga di depan pintu untuk membuka pintu yang mereka jaga.
"Buka pintu nya!" Titah Tasya dengan suara sedikit bergetar.
Benak sang ratu dipenuhi oleh dilema kini. Mengingat jika dugaan nya benar, maka ini bisa menjadi berita yang menggembirakan sekaligus menyedihkan bagi hya.
Perlahan, pintu pun terbuka. Dan suara teriakan itu pun tak lagi terdengar. Melalui lubang yang sedikit demi sedikit membuka, Tasya lalu mendapati sosok wanita muda cantik dengan rambut ikal yang tergerai hingga sepinggang.
Wanita tersebut menggunakan gaun panjang dengan bentuk bahu baju yang agak menggelembung. Salah satu ciri mode busana wanita dari kerajaan Goluth.
Dan pintu pun akhirnya terbuka lebar. Menampakkan sosok ratu Charrine yang, dikenal juga oleh Tasya dengan nama yang lain.
"Ka..Karina? Apakah itu kamu, Rin-rin?!" Sapa ratu Tasya dengan pandangan tak percaya.
Mata Tasya seketika mengembun. Menyamai kedua manik mata Karina yang juga telah mengembun basah.
"Tentu saja, Bodoh! Dasar! Tega benar kamu, Tasy! Ngurung aku berhari-hari di kamar ini! Memang nya kamu pikir aku burung perkutut apa!" Dumel Karina dengan suara yang mulai serak.
Perlahan isak tangis pun keluar dari mulut Karina. Tasya yang tak mampu menyahuti ucapan Karina hanya mampu mendekati sahabat nya itu dalam diam.
Satu detik. Dua detik.. tiga detik..
Dan setelah sekian detik berlalu, Tasya pun akhirnya telah melewati pintu. Ia kini berdiri tepat di hadapan Karina. Kedua nya saling berpandangan dalam diam dengan hati yang sama-sama sesak karena rasa haru yang menyeruak.
Tasya lah yang pertama kali memeluk Karina.
"Rin-rin!! Kamu di sini, Rin! Kamu ada di sini!" Seru Tasya sambil memeluk Karina.
Sang ratu melepas tangis kerinduan yang ditujukan nya pada sahabat nya selama tinggal di bumi dulu. Tasya tak peduli dengan di mana dan status diri nya saat ini. Yang utama bagi nya kini adalah Karina ada bersama nya di dunia ini pada detik ini juga.
Bagi Tasya, keberadaan Karina di Nevarest adalah kegembiraan yang tak ternilai harga nya. Karena tadinya ia berpikir tak bisa bertemu kembali dengan Karina oleh sebab perbedaan dunia di antara mereka.
Tapi kini Karina ada di hadapan nya..
"Gimana bisa kamu sampai ke Nevarest, Rin? Bukan nya kamu di Manhattan ya?" Tanya Tasya setelah melepas pelukan nya pada Karina.
__ADS_1
Tasya lalu mengajak Karina untuk duduk di sofa dalam ruangan. Namun kemudian perhatian Tasya tertarik pada sosok anak perempuan yang berdiri tepat di belakang Karina.
Anak perempuan itu memandang Tasya dengan tatapan cemas dan takut.
"Siapa anak ini? Jangan bilang dia..??!" Ucapan Tasya dilanjut oleh Karina.
"Tentu saja anak cantik ini adalah anak ku, Tasy. Bukan kah dia begitu jelas mirip dengan ku?!" Sahut Karina dengan bangga nya.
Karina lalu menarik bahu Rinaya agar keluar dari persembunyian nya.
"Rinaya Sayang.. ayo kenalkan. Dia ini sahabat nya Mama. Panggil aja dia..Anteu Tasya. Ya. Panggil Anteu aja juga gak apa-apa kan, Tasy?" Ucap Karina memperkenalkan Tasya pada Rinaya.
"Ohh.. nama nya Rinaya.. ternyata dia ya yang selama ini menjadi teman nya Huna dan Hima. Aku banyak mendengar soal Rinaya dari anak-anak.." ucap Tasya sambil memberikan Rinaya senyuman ramah.
"Hay, Sayang.. panggil Anteu aja gak apa-apa. Kamu teman nya Hima dan Huna kan?" Sapa Tasya pada Rinaya.
Rinaya menoleh ke udara kosong di samping nya, sebelum akhirnya mengangguk singkat ke arah Tasya. Tasya menangkap ekspresi bingung di wajah Rinaya.
"Kata Huna, Tante gak bisa lihat dia? Huna sedih karena itu.." ucap Rinaya dengan suara pelan.
"Kamu orang tua dari hantu Huna, Tasy?maaf, Huna. Maksud Tante.. spirit Huna. Ya. Memang nya Huna itu anak kamu?" Tanya Karina yang sempat meminta maaf ke arah udara kosong yang sama seperti yang tadi dilihat oleh Rinaya.
"Soal itu.. gimana kalau kita duduk dulu?" Tasya mengajak Karina untuk menuju sofa yang ada dalam ruangan itu.
Dan selama satu jam berikut nya, cerita pun mengalir dari mulut Tasya perihal kehamilan nya, proses persalinan anak kembar nya, perjuangan nya menjadi ratu Nevarest, dan kejadian secara umum yang ia alami selama pindah ke dunia ini.
Setelah Tasya selesai bercerita, gantian Karina yang menceritakan kisah pilu nya kepada Tasya.
Bagaimana kehidupan damai nya di Manhattan tiba-tiba diusik dengan kemunculan Frans. Kemudian Frans membawa nya serta Rinaya ke dunia aneh ini. Bagaimana Karina dipaksa untuk menjadi ratu di kerajaan Goluth. Serta semua hal buruk yang dilakukan oleh Frans dan harus Karina saksikan tanpa ia kehendaki.
"Syukurlah sekarang aku bisa ketemu kamu, Tasy. Aku sudah ingin kembali ke dunia ku lagi saja. Aku kangen Mami, Papi dan juga Bang Idham. Mereka pasti sibuk khawatir mencari ku di dunia bumi," tutur Karina menutup kisah nya.
"Jadi ternyata raja Elfran itu adalah Frans?! Dasar baji..err.. maaf Rinaya. Tante salah ucap," Tasya mengoreksi ucapan nya kala melihat pandangan polos Rinaya.
"Aku gak nyangka sama sekali, Rin. Kalau raja Goluth itu sebenarnya adalah Frans. Bagaimana bisa dia tetap selamat? Bukankah seharus nya dia sudah mati tenggelam di laut bertahun-tahun yang lalu?!" Ucap Tasya dengan raut bingung.
"Gak tahu juga deh. Mungkin dia punya cadangan nyawa? Yang jelas, kamu dan Daffa harus berhati-hati menghadapi nya, Tasy. Karena Frans tiba-tiba aja punya kekuatan ajaib seperti kebanyakan orang di dunia ini. Tunggu dulu! Jangan bilang kalau kamu dan Daffa juga punya kekuatan ajaib kayak Frans?!" Karina tiba-tiba bertanya.
__ADS_1
"Memang nya Frans punya kekuatan apa, Rin?" Tanya balik Tasya.
"Ehh, beneran?! Kamu juga punya inner power gitu?! Wihh. Keren. Jadi iri. Kok aku gak punya sih?.." sesal Karina.
"Diihh.. Rin-rin.. ditanya bukan nya jawab malah melantur. Lagi pula kamu juga punya kekuatan baru kan? lha itu melihat sesuatu yang gak bisa dilihat orang pada umum nya?"
"Itu sih bukan kekuatan keren macam orang-orang lain nya. ya kali aku jadi bisa terbang atau apa gitu.." Karina berhayal.
"Mulai deh ngaco lagi! Jadi, Frans punya kekuatan apa memang nya?" Tasya mengulang kembali pertanyaan nya.
"Dia punya kekuatan bisa munculin benda apapun. Bisa cairan berwarna hitam.. bisa juga pedang hitam berkilau. Pokok nya, semua benda yang dia munculin tuh warna nya hitam! Mungkin itu disebabkan oleh hati nya yang hitam macam comberan kali ya!" Rutuk Karina asal.
"Husy! Omongan mu melantur lagi deh. Jadi, makaud kamu, frans bisa munculin benda-benda yang berwarna hitam, begitu?" Tasya menyimpulkan.
"Iya. Jadi kalian harus berhati-hati saat berhadapan dengan Frans. Dia itu licik banget! Dan jahat!" Rutuk Karina.
Tasya menoleh ke arah Rinaya. Dan ia langsung bertatapan dengan sepasang mata yang mengingatkan nya pada kedua mata Frans. Tasya pun teringat kalau Rinaya adalah hasil perbuatan Frans yang memaksakan kehendak nya pada Karina.
Merasa iba, Tasya pun mengusap kepala putei Karina tersebut sambil tersenyum. Karina menyadari arti sikap sahabat nya itu. Dan ia pun berhenti merutuki Frans lagi.
Setelah beberapa lama, Tasya kembali menyambung pembicaraan nya dengan Karina.
"Rinaya begitu mirip dengan mu, Rin.. dia memang adalah putri mu," ucap Tasya merenungkan sesuatu.
"Tentu saja. Rinaya memang putri ku seorang, Tasy.. dia hanya mempunyai aku sebagai orang tua nya. Tentang Frans, anggap saja lelaki itu hanya menyumbang ****** nya saja!" Rutuk Karina kembali.
"Iishh.. mulut mu itu memang ya!" Tasya mencubit mulut Karina.
Rinaya melihat interaksi Mama nya dengan Tante yang juga adalah ibunda dari teman spirit nya. Rinaya merasa ikut senang kala melihat Mama nya yang terlihat bahagia saat mengobrol dnegan Ibunda Huna. Walaupun ia tak mengerti juga dengan isi pembicaraan kedua wanita dewasa tersebut.
"Tapi Rin, dia tetap berhak untuk mengetahui siapa ayah nya. Jelaskan saja semuanya kepada nya nanti, bila menurut mu dia sudah aiap," tutur Tasya menasihati.
Tanpa sadar, tangan Karina meraih bahu sang putri. Dengan suara pelan, ia pun membalas nasihat Tasya kepada nya.
"Ya, Tasy. Pada waktu nya nanti, aku pun akan menceritakan nya pada Rinaya. Yang paling utama akan kuberitahu adalah bahwa ia adalah anak yang paling kucintai dengan segenap hidup ku. Terlepas dengan peristiwa apa ia bisa hadir dalam kehidupan ku. Aku mencintai nya, Tasy.." ucap Karina sambil mengusap kepala Rinaya berulang-ulang.
"Bagus.. itu baru nama nya sahabat terbaik ku yang bijaksana!" Sahut Tasya dengan senyuman tipis.
__ADS_1
***