
Pada akhirnya dengan usaha keras Anna menjelaskan situasi mereka berlima saat itu, sang pemilik rumah di mana pintu ajaib itu berada pun akhirnya tak lagi menuding mereka sebagai pencuri.
Sehingga proses persalinan Tasya bisa dilangsungkan dengan lancar, dan sedikit dramatis.
Ibu gempal yang lalu memperkenalkan diri nya dengan nama Ibu Solerin pun membantu persalinan Tasya. Persalinan yang cukup payah sebenar nya. Mengingat ini adalah persalinan dari dua bayi kembar.
Sayang nya, posisi rumah dari pasangan Bu Sole dan Pak Idham itu jauh dari pusat kota. Sehingga untuk pergi ke Unit Kesehatan akan membutuhkan waktu berhari-hari lama nya.
Akhirnya dipanggil lah seorang sesepuh desa yang biasa membantu proses persalinan di tempat itu.
Proses persalinan itu berlangsung sekitar sepuluh jam lama nya. Baru pada waktu menjelang fajar menyingsing saja bayi Tasya akhirnya terlahir.
Yang pertama lahir adalah bayi lelaki. Tangisan kencang bayi lelaki itu terdengar hingga beberapa rumah tetangga nya Bu Sole.
Tapi, hal menyedihkan terjadi pada bayi kedua Tasya. Karena ia terlahir dalam kondisi sudah meninggal.
Berita kematian bayi kedua Tasya ini menjadi sesuatu yang membuat sedih orang-orang yang mendengar nya. Terutama adalah bagi Tasya dan juga Daffa selaku orang tua dari bayi itu.
Sayang nya Tasya baru mengetahui keadaan bayi nya itu beberapa jam setelah proses persalinan. Daffa lah yang mengatakan pada istri nya itu di mana ia memakamkan sang putri. Yakni di atas sebuah bukit nan sepi yang berada tak jauh dari rumah Bu Solerina.
Tasya menangis sejadi-jadi nya. Hati nya bersedih atas kehilangan yang ia alami. Namun kesedihan itu harus ditahan oleh Tasya. Mengingat satu bayi putra nya yang masih hidup membutuhkan perhatian nya saat itu juga.
Maka dengan hati yang ditabah-tabahkan, Tasya pun melepas kepergian sang putri, lewat pohon Mamoru yang ia tanam di dekat makam sang putri.
Pohon Mamoru adalah pohon yang terkenal melambangkan cinta yang abadi. Seabadi cinta nya Tasya untuk sang putri yang bahkan tak pernah ia lihat wajah nya.
Selama satu bulan lebih Tasya dan Daffa menjadi tamu di rumah Bu Solerina. Sementara Anna dan lain nya menginap di rumah penduduk yang lain.
Di suatu kesempatan, Bu Sole menjawab pertanyaan Daffa. Saat itu Daffa bertanya dari mana ia mendapatkan pintu ajaib yang jelas baru dipasangkan di kusen salah satu ruangan di rumah Bu Sole itu? Bu Sole berkata jujur kalau suami nya lah yang mendapatkan pintu itu dari puing-puing menara di istana.
Anna, Jason, Daffa dan Zizi terkejut. Anna lalu memastikan apakah menara yang dimaksud adalah menara tempat pintu ajaib ini dulu berada?
Kali ini suami Bu Sole lah yang menjawab, "ya. Benar. Saya mengambil nya dari menara terasing itu. Menara itu baru saja dirubuhkan sekitar satu bulan yang lalu."
Pernyataan Pak Idham mengagetkan semua orang. Fakta terkait menara yang dirubuhkan itu memunculkan pertanyaan tentang siapa yang sudah menitahkan diruntuhkan nya menara itu?
Kemudian mengalirlah cerita dari mulut Pak Idham tentang desas-desus yang mengatakan bahwasanya Baginda Raja kini sedang jatuh sakit. Dan situasi di istana sedang cukup genting karena tampuk kepemimpinan yang kosong saat ini.
__ADS_1
Mendengar desas desus itu, Anna merasa kalut. Pada akhirnya setelah semalam suntuk berpikir, ia memutuskan untuk pergi menyelidiki desas desus itu langsung ke istana.
Di hari ke tujuh setelah persalinan, Anna dan Jason pun berpamitan kepada Tasya dan Daffa. Mereka berencana untuk pergi terlebih dulu ke istana.
Keduanya ingin memantau kondisi sebenar nya di istana. Karena itulah Zizi kembali tinggal bersama Tasya di rumah Bu Sole.
Zizi menempati tempat tidur bersama Bu Sole. karena Pak Sole sudah pergi bekerja kembali ke istana sebagai pekerja bangunan.
Dengan perasaan campur aduk, Tasya pun melepas kembaran nya itu pergi.
"Berhati-hati lah, Kak. Jika situasi nya buruk, sebaik nya Kakak jangan memaksakan diri. Tunggu aku hingga masa nifas ku selesai, Kak. Kami akan menyusul mu," janji Tasya kepada Anna.
Anna memeluk Tasya lama. Sebenar nya ia pun enggan untuk berpisah dengan saudari kembar nya ini. Namun dengan adanya desas-desus meresahkan terkait baginda raja (ayah Jordan), Anna jadi ingin segera pergi untuk menjumpai ayah nya.
Akan terlalu lama jika Anna harus menunggu masa nifas Tasya selesai.
Maka jadilah akhirnya di hari ke delapan setelah persalinan, Anna dan Jason pergi berdua menuju istana.
...
Di hari ke empat belas persalinan, diadakan perayaan kecil untuk memberi nama bayi putra nya Daffa dan Anna. Mereka memberinya nama Himada Malik. Baby Hima.
Baby Hima juga adalah bayi yang tampan. Terlebih lagi ia sering tersenyum pada siapa pun yang mengajak nya bicara.
Meski begitu, kadangkala Tasya masih teringat pada bayi perempuan nya yang telah wafat. Karena itu lah ia sesekali menangis diam-diam.
Suatu ketika, Daffa memergoki Tasya menangis di pertengahan malam. Lelaki itu lalu mencoba menghibur sang istri dengan kalimat-kalimat penghiburan.
"Dear, Tasy..kamu menangis lagi?" Daffa langsung membawa Tasya ke dalam pelukan nya.
Tasya yang ketahuan menangis sempat terkejut dan langsung terdiam. Namun setelah beberapa saat berada dalam pelukan Daffa, tangisan wanita itu kembali tumpah ruah jua.
Setelah puas menangis, Tasya malah dihinggapi oleh rasa malu.
"Maaf ya, Sayang. Aku jadi mewek gini. Aku juga bingung. Padahal aku udah berusaha banget untuk ikhlasin kepergian Baby Huna. Tapi.."
Baby Huna adalah nama panggilan yang disematkan Tasya dan Daffa kepada bayi mereka yang telah wafat. Nama panjang nya adalah Malika Hunaini.
__ADS_1
"Syuut.. it's okay.. menangis sesekali gak apa-apa, kok, Sayang. Saya bisa mengerti itu. Mengikhlaskan bukan berarti melarang diri dari bersedih. Bukan kah begitu, Dear?" Sahut Daffa seraya tersenyum menenangkan.
Ucapan nya itu membuat mata Tasya langsung kembali berkaca-kaca. Namun dengan sekuat tenaga Tasya menahan diri nya dari menangis lagi.
"Iya. Tapi kan bersedih berlarut-larut juga enggak diperbolehkan, Yang.." ucap Tasya dengan wajah tertunduk.
Daffa mengangkat dagu sang istri hingga kedua pasang mata mereka kembali bertatapan. Lalu secepat kilat, ia memberikan Tasya ciuman cepat.
Tasya tersentak kaget.
"Kamu kok malah main curi ciuman sih! Aku kan lagi curhat sedih-sedihan!" Protes Tasya dengan wajah bersemu merah.
Daffa memberikan Tasya senyuman jenaka nya kini. Setelah itu, ia membawa Tasya ke dalam pelukan nya lagi. Ia lalu kembali berkata.
"Gak apa-apa nyuri ciuman dari istri sendiri. Kan udah halal. Dapat pahala ibadah lagi. Iya kan?" Seloroh Daffa.
Tasya menepuk pela dada sang suami. Merasa sedikit kesal dan bingung sekaligus. Bingung karena ucapan Daffa memang ada benar nya.
"Tapi kan lihat kondisi dulu lah, Yang. Aku nya kan lagi bersedih.." Tasya tetap mengajukan protes nya pada dada bidang milik sang suami.
"Lho? Memang nya kalau lagi sedih, gak boleh ya cium-ciuman sama istri sendiri? Apa dalil nya itu?"
Daffa agak melepas pelukan nya pada Tasya. Sehingga ia bisa bertatapan langsung dengan mata istri nya itu.
"Ya adalah! Pakai dalil ku sendiri. Gimana, puas?" Tantang Tasya.
Daffa menyengir lebar. Dicubit nya hidung Tasya yang mancung dengan gerakan pelan.
"Hmm..udah lahiran, kok kamu malah jadi sama menggemaskan nya seperti Baby Hima sih, Yang? Aku padamu lah.." goda Daffa.
"Daffa! Apaan sih?!"
Dan percakapan pun kemudian berlanjut dengan aksi bercum bu di antara kedua insan itu. Hingga kedua nya kembali tidur. Dengan Daffa yang memeluk pinggang sang istri dari belakang pada akhir nya.
Begitulah cara Daffa menghibur Tasya.
Perbincangan dan perhatian adalah dua hal yang paling dibutuhkan seorang ibu yang mengalami baby blues seperti Tasya. Dan Daffa sangat memahami apa yang dibutuhkan oleh istrinya itu di masa berkabung seperti saat ini.
__ADS_1
***