
"Antarkan Da ke tempat Putri Anna berada sekarang juga!" Titah Tasya pada panglima Alul Lazam.
"Tapi Putri, saat ini masih ada proses interogasi yang harus dilakukan oleh pihak intel terhadap terduga," jawab Alul Lazam.
Tasya mulai tak bisa menahan kesal saat ia melihat kilat kemenangan di mata panglima tua itu. Ia hampir saja melupakan etiket kerajaan dan melemparkan sesuatu ke arah Alul Lazam, jika saja Daffa tak mengingatkan nya lewat telepati.
'Tenanglah, Tasy.. amarah mu akan membakar dirimu sendiri. Itulah yang paling diinginkan oleh pihak musuh. Kita harus berhati-hati dalam bersikap. Karena kita belum mengetahui situasi sebenarnya di istana saat ini,' ucap Daffa lewat telepati.
Tasya mengepalkan kedua tangan nya. Berusaha meredam amarah yang sudah mencapai ubun-ubun kepala nya.
Panglima di depan nya ini sudah jelas adalah salah satu musuh yang harus dihadapi nya di istana ini. Karena nya apa yang dikatakan oleh Daffa sungguh lah benar.
Tasya harus bersikap sabar. Ia teringat dengan taktik peperangan yang pernah dipelajarinya dulu di Nevarest dari guru besar di akademi istana.
Taktik kura-kura. Perlahan-lahan saja berjalan. Namun saat ada bahaya yang mengintai, ia bisa cepat bersembunyi dalam tempurung nya atau menggigit langsung sumber bahaya itu. Ia bisa mengapung dan dianggap sekedar tempurung kosong di atas lautan. Namun bila dibutuhkan, ia pun bisa berenang cepat dengan memanfaatkan arus air laut sebagai pendorong nya.
Tasya akan menggunakan taktik ini. Jadi tahap pertama yang harus dilakukan nya adalah menyembunyikan kemampuan diri nya terlebih dulu. Sambil mengamati keadaan sebenar nya di istana.
"Da ingin bertemu dengan kakak Da. Bagaimana pun juga telah cukup lama kami tak bertemu," jawab Tasya dengan nada datar.
"Maaf bila hamba lancang. Memang nya Putri ke mana saja selama ini? Dengan kemunculan Putri yang tiba-tiba di masa-masa sulit seperti ini, akan membuat orang jadi berasumsi buruk kepada Tuan putri," imbuh Alul Lazam lagi.
'Haishh! Dia mengancam ku! Pintar benar lelaki ini bersilat lidah. Dari mana sebenar nya dia berasal? Yang pasti dia bukan penduduk asli Nevarest. Bila dilihat dari kulit nya yang kemerahan itu!' gumam Tasya dalam hati.
Daffa kembali mewakili Tasya bicara.
"Putri Tasya sempat tersesat saat mencari Putri Anna. Sayang nya saat Putri Anna berhasil kembali ke istana, Putri Tasya malah terjebak di suatu tempat," jawab Daffa membela sang istri.
"Siapa Anda?" Tanya Alul Lazam dnegan pandangan nyalang ke arah Daffa.
"Dia adalah titiang Da. Jadi jaga ucapan mu seperti saat kau berbicara kepada Da!" Tegur Tasya pada Alul.
Titiang memiliki makna "pasangan sah".
"Titiang?! Putri sudah menikah dengan orang tak dikenal ini?! Dan, apa bayi itu adalah anak dari putri dan dia?!" Tanya Alul beruntun.
Tasya menangkap kilat senang di mata seorang Alul Lazam.
__ADS_1
"Jaga bicara mu, Alul! Daffa bukanlah orang tak dikenal seperti anggapan mu itu! Dia adalah tunangan Da sedari Da masih kecil. Dan dia adalah putra sulung dari penasihat besar raja sebelum nya, Bangsawan Linsky yang terkenal. Jadi jangan sembarangan menunjukkan telunjuk mu ke arah nya!" Kecam Tasya menegur Alul Lazam.
Alul tampak tercengang selama beberapa waktu. Sepertinya ia masih tak percaya dengan identitas Daffa. Tasya bisa menebak apa yang akan diucapkan oleh lelaki itu kemudian. Sehingga ia pun buru-buru menambahkan.
"Dan jangan meminta titiang Da untuk menunjukkan tanda pengenal nya. Karena tanda pengenal nya telah lama menghilang saat dia menyelamatkan Da dari tempat Da tersesat dulu. Jika kau masih bersikeras ingin membuktikan identitas nya, kau bisa ikut dengan kami nanti ke rumah bangsawan Linsky. Di sana kau akan tahu bahwa anggapan mu yang merendahkan titiang Da itu telah merendahkan nama keluarga Linsky yang masyhur!" Ucap Tasya seraya mengancam.
Alul terlihat gentar menerima ancaman Tasya. Karena nya ia tak jadi meminta tanda pengenal Daffa lagi.
"Maafkan hamba, Bangsawan Linsky. Ketidaktahuan hamba memang seringkali memberatkan tugas hamba sebagai menteri pertahanan dan keamanan negeri, Putri," ucap Alul membanggakan gelar nya.
"Kau menteri pertahanan?!" Tasya setengah tak percaya.
'Bagaimana bisa jabatan sepenting itu bisa dimiliki oleh pihak musuh?! Bukan kah ini berarti pihak musuh telah menguasai militer negeri ini?!' gumam Tasya dengan kecemasan yang kentara dirasakan nya.
'Tasya, Dear.. kita akan mencari tahu semua kebenaran yang terjadi di Nevarest satu persatu. Tapi terlebih dulu, kita harus mengeluarkan Anna dari penjara. Kita membutuhkan banyak tangan untuk melawan semua musuh yang masih bersembunyi di balik selimut ini!' Daffa mengingatkan Tasya lewat telepati nya.
Tasya menganggukan kepala nya terhadap nasihat sang suami. Ia lalu berkata lagi pada sang menteri.
"Jika benar begitu, bukan kah itu hal yang bagus! Seorang menteri pertahanan tentunya memiliki wewenang untuk menunda interogasi terhadap Puteri Anna. Anggap saja itu sebagai titah dari Da, wahai menteri. Mengingat untuk saat ini, Da lah pemegang kekuasaan tertinggi di negeri ini!" Ujar Tasya dengan sikap anggun nan berwibawa.
"Itu.." Menteri Alul tampak enggan menjawab titah dari Tasya. Sehingga Tasya pun kembali bicara.
Alul Lazam mengamati para pengawal yamg berada di ruang paviliun itu. Ia merasa geram karena ia jelas tak bisa menentang kehendak sang putri secara terang-terangan.
Habis akal, akhirnya menteri Alul pun menjawab titah Tasya dengan setengah hati.
"Siap Putri! Hamba akan melaksanakan titah Putri Tasya!"
Mendengar itu, Tasya pun melepaskan senyum kemenangan nya pada semua orang di ruangan itu.
'Bagus, Dear! Kamu memang ratu ku yang hebat!' puji Daffa lewat telepati.
Tasya melirik pada sang suami. Dan ia melihat senyuman bangga yang dihadiahkan Daffa kepada nya. Dan itu membuat Tasya merasa bangga pada dirinya sendiri.
***
Pada akhirnya, Anna berhasil dikeluarkan dari dalam penjara bawah tanah atas perintah Tasya. Meski pun status nya kini menjadi tahanan istana, setidak nya Anna tak lagi berada dalam ruang penjara yang gelap dan pengap.
__ADS_1
Kedua kembaran itu lalu kembali bertemu di Puri Anggrek, tempat tinggal Anna sebelum ia dijebloskan ke penjara.
"Apa yang terjadi? Di mana Jason berada, Kak?" Tanya Tasya segera saat hanya ada mereka saja dalam salah satu ruang di puri Anggrek itu.
"Tahan dulu ycapan mu, Dik!" Ucap Anna terburu-buru.
Ia lalu mendekati Tasya dan membisikkan sesuatu ke telinga nya.
"Kakak khawatir ada pasukan bayangan milik musuh yang bersembunyi di ruangan ini. Jadi jangan bicara terlalu banyak dulu, Sya," bisik Anna mengingatkan.
Anna menyamarkan peringatan nya iti sambil memeluk Tasya. Tak lupa pula ia berkata dengan suara keras setelah nya. "Kakak merindukan mu, Sya.."
Terkejut dengan peringatan dari Anna, tanpa sadar Tasya melirik ke sekitar. Ia tak mendapati siapapun bisa bersembunyi di ruangan sempit ini.
Lalu kesadaran itu menghampiri Tasya.
'Apa jangan-jangan penyusup itu menggunakan inner power merubah diri hingga tak terlihat secara kasat mata?' Tasya sibuk menerka.
Merasa bingung harus berkata apa, pada akhirnya Anna lah yang memandu pembicaraan di antara mereka. Seperti nya saudari kembar nya itu sudah terbiasa dengan keberadaan penyusup yang membayangi langkah nya selama ini.
"Jason kembali ke desa guru kami.." ucap Anna menjelaskan.
"Bagaimana perjalanan mu, Sya? Apakah lancar?" Anna berbasa-basi.
"Lancar, Kak. Aku sebenar nya ingin menjadikan Bu Sole sebagai pengasuh nya Baby Hima di istana ini. Karena aku belum mengenal banyak orang juga kan di sini," tutur Tasya menyampaikan kekhawatiran nya.
Anna bisa menangkap maksud utama dari ucapan sang adik. Tentulah Tasya merasa was-was atas keselamatan baby Hima bila mereka harus tinggal di istana. Mengingat pihak musuh sudah menanamkan pengaruh nya di beberapa bagian istana ini.
"Ide yang bagus. Kirimkan saja surat perintah kepada kepala kasim. Biar ia yang akan menjemput Bu Sole ke istana," usul Anna.
Tasya menggeleng. Menyesal karena harus menolak usulan dari sang kakak.
"Gak bisa begitu, Kak. Aku sudah berjanji untuk memberikan waktu pada Bu Sole. Entah dia akan menerima atau menolak tawaran ku ini, semua nya terserah dia," ucap Tasya menjelaskan.
"Hmm.. begitu. Ah ya! Di mana keponakan ku Hima? Kakak sudah sangat merindukan nya!" Ucap Anna mengalihkan pembicaraan.
Pada akhirnya perbincangan pun terus berlanjut seputar baby Hima dan kondisi umum Nevarest saat ini.
__ADS_1
***